Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Konsep Asuhan Keperawatan Batu Ginjal

Walaupun bisa berasal dari manapun di traktus kencing, kalkulus renal atau batu ginjal biasanya berkembang di pelvis atau kaliks ginjal. Pembentukan seperti ini mengikuti presipitasi substansi yang normalnya larut dalam urin seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, magnesium amonium fosfat, atau kadang-kadang urat atau sistin. 

Ukuran batu ginjal bervariasi dan bisa soliter atau multipel. batu ini bisa di pelvis renal atau masuk ke uteter dan bisa merusak parenkima renal, sedangkan batu besar menyebabkan nekrosis tekanan. Di lokasi tertentu, batu menyebabkan obstruksi, disertai hidronefrosis resultan, dan cenderung bisa kambuh.

Sekitar 1 di antara 1.000 penduduk Amerika harus dirawat di rumah sakit akibat batu ginjal. Penyakit ini lebih sering menyerang pria daripada wanita dan jarang menyerang penduduk kulit hitam dan anak-anak.

Asuhan Keperawatan Batu Ginjal
image by Jakupica on wikimedia.org

Penyebab 

  • Tidak diketahui 
  • Faktor genetik 

Faktor predisposisi 

  • Dehidrasi, akibatnya produksi urin berkurang menyebabkan substansi pembentuk batu ginjal menjadi terkonsentrasi. 
  • Infeksi di jaringan memberi tempat bagi pembentukan batu
  • Faktor metabolik, misalnya hiperparatiroidisme, asidosis tubular renal, kadar asam urat naik biasanya disertai gout, kerusakan metabolisme oksalat, kelainan genetik dalam metabolisme sistin, dan asupan vitamin D atau kalsium makanan berlebihan. 
  • Perubahan pH memberi medium yang menguntungkan untuk pembentukan batu ginjal, terutama bagijenis magnesium amonium fosfat atau batu kalsium fosfat. 
  • Stasis kencing seperti pada imobilitas akibat cedera jaringan saraf tulang belakang; bisa menyebabkan obstruksi yang bisa membentuk batu ginjal. 

Tanda dan gejala 

  • Distensi abdominal 
  • Anuria (jarang terjadi) 
  • Nyeri di sisi tubuh, punggung, atau abdomen, tergantung pada lokasi batu
  • Hematuria 
  • Piuria 

Uji diagnostik 

  • Radiografi ginjal ureter kandung kemih memperlihatkan sebagian besar batu renal.
  • Urografi ekskretori, pielografi retrograd, computed tomography scan abdominal, atau magnetic resonance imaging abdominal atau ginjal bisa memperlihatkan tumor atau obstruksi ureter. Uji-uji ini membantu memastikan diagnosis dan menentukan ukuran dan lokasi batu.
  • Analisis batu ginjal menunjukkan konten mineral.
  • Ultrasonografi ginjal, yang merupakan uji non-invasif, non-toksik, dan mudah dilakukan, bisa membantu mendeteksi perubahan obstruktif, misalnya hidronefrosis unilateral atau bilateral. 
  • Kultur urin pada spesimen yang diambil saat pasien kencing bisa mengindikasikan infeksi traktus kencing. 
  • Kumpulan urin selama 24 jam dievaluasi untuk melihat kadar kalsium oksalat, fosforus, dan ekskresi asam urat; tiga kumpulan terpisah, bersama sampel darah, diperlukan untuk pengujian akurat. 
  • Kadar kalsium dan fosforus darah berangkai membantu mendeteksi hiperparatitiroidisme dan menunjukkan kenaikan kadar kalsium dalam proporsi protein serum berkadar normal. 
  • Kadar protein darah mengukur kadar kalsium bebas yang tidak terikat pada protein. 
  • Kenaikan kadar asam urat darah bisa mengindikasikan gout sebagai penyebab. 

Penanganan 

  • Penanganan biasanya melibatkan pengaliran batu renal secara alamiah melalui hidrasi yang kuat karena 90% dari batu berdiameter kurang dari 5 mm bisa keluar dengan hidrasi. 
  • Terapi antimikrobial organisme yang terkultur bervariasi digunakan untuk menangani infeksi. 
  • Analgesik, misalnya meperidine (Demerol) atau morfin, bisa diberikan untuk mengatasi nyeri. 
  • Diuretik bisa diberikan sesuai perintah untuk mencegah stasis kencing dan pembentukan batu lebih jauh. (Thiazide mengurangi ekskresi kalsium ke dalam urin.)
  • Pencegahan pembentukan batu ginjal meliputi makanan rendah-kalsium, seringkali dikombinasikan dengan cholestyramine pengikat-oksalat, untuk mengatasi hiperkalsiuria absorptif; paratiroidektomi untuk mengatasi hiperparatiroidisme; dan allopurinol (Zyloprim) dan alkalinisasi kencing untuk mengatasi batu asam urat.
  • Batu ginjal bisa dibuang melalui pembedahan jika batu terlalu besar untuk dialirkan secara alamiah. 
  • Litotripsi ultrasonik perkutaneus dan litotripsi gelombang-kejut ekstrakorporeal bisa menghancurkan batu menjadi fragmen-fragmen sehingga bisa dibuang melalui pengisapan atau pengaliran alamiah. 
  • Tindakan pencegahan meliputi hidrasi, lekas bergerak, pemosisian kembali, dan latihan bagi pasien yang tidak bisa bergerak atau pasien yang tidak cukup bergerak. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Teruslah mencatat pH urin selama 24 sampai 48 jam dengan kertas pH nitrazine, saring urin dengan kain kasa atau penyaring teh, dan simpan semua material padat yang didapat untuk analisis yang bisa membantu diagnosis. 
  • Jika memungkinkan, dorong pasien berjalan agar batu bisa mengalir secara spontan. Untuk mencegah terbentuknya batu di kemudian hari, cukupi asupan cairan untuk mempertahankan output urin sebanyak 3 sampai 4 L/hari (urin sebaiknya sangat cair dan tidak berwarna). Lakukan tindakan pencegahan pada pasien yang memiliki riwayat penyakit kardiak karena ia mungkin tidak bisa menoleransi cairan sebanyak itu. 
  • Beri jus buah, terutama jus cranberry, untuk membantu mengasamkan urin. Jika pasien tidak bisa minum cairan dalam jumlah yang dibutuhkan, suplemen cairan I.V. bisa diberikan. Catat asupan, output, dan berat badan setiap hari untuk mengkaji status cairan dan fungsi ginjal.
  • Tekankan pentingnya makanan yang tepat dan mematuhi terapi obat. Sebagai contoh, jika batu pasien disebabkan oleh kondisi hiperuremik, beri tahu ia atau siapa pun yang menyiapkan makanannya mengenai makanan mana yang kaya purine. 
  • Beri keyakinan pada pasien jika ia memerlukan pembedahan. Pasien cenderung takut, terutama jika pembedahan dilakukan untuk mengambil ginjal, jadi tekankan padanya bahwa tubuh bisa beradaptasi dengan baik jika hanya punya satu ginjal. Jika ia akan menjalani insisi abdomen atau bagian samping tubuh, ajari ia cara berlatih bernapas-dalam dan batuk. 
  • Lakukan perawatan pada kateter tertanam untuk kencing atau pipa nefrostomi setelah pembedahan. Darah bisa mengalir melalui kateter. Periksa pembalut secara teratur untuk melihat adakah drainase darah, dan cari tahu seberapa banyak darah yang mungkin mengalir. Secara saksama, lihat adakah tanda dugaan hemoragi (misalnya drainase  berlebihan dan denyut nadi meningkat). Gunakan teknik steril saat mengganti pembalut. 
  • Lihat adalah tanda dan gejala infeksi (misalnya demam dan menggigil semakin parah) dan beri antibiotik sesuai resep. 
  • Dorong pasien berganti posisi dan bergerak sesegera mungkin untuk mencegah pneumonia. Minta pasien memegang bantal kecil di tempat operasi untuk membelat insisi, sehingga bisa mempermudah berlatih bernapas-dalam dan batuk dan menggunakan spirometer insentif.


Sumber:

Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Unduh Makalah mengenai konsep Asuhan Keperawatan Pada Pada Pasien Dengan Batu Ginjal Melaui Tombol Download dinbawah


Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Konsep Asuhan Keperawatan Batu Ginjal "