Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Febris Sdki Slki Siki

Febris atau demam adalah istilah untuk menggambarkan kondisi peningkatan suhu  tubuh diatas normal. Febris ini sering disebabkan oleh berbagai kondisi baik fisiologis maupun patologis seperti proses peradangan, infeksi mikroorganisme, reaksi autoimun, atau proses keganasan. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan Askep febris menggunakan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Askep Febris Sdki Slki Siki
Image by Max Pixel

Asuhan Keperawatan Pasien Febris 

Pendahuluan

Suhu normal tubuh manusia adalah 37 derajat Celcius dengan variasi 0,5 derajat celcius sepanjang hari. Perubahan suhu inti terjadi secara fisiologis yang ditentukan oleh aktivitas, metabolisme, siklus tidur, dan hormonal. 

Febris atau demam adalah gangguan fisiologis dimana suhu meningkat diatas suhu normal. Peningkatan suhu tubuh dapat terjadi jika ada sumber panas baik endogen maupun eksogen yang melebihi mekanisme pembuangan. Hal ini dapat terjadi pada aktivitas atau olahraga yang berat, paparan suhu lingkungan yang panas, dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan produksi panas berlebih. Pada batas tertentu “termostat” di hipotalamus dapat beradaptasi agar suhu tubuh tetap teratur.  

Pada kondisi febris, peningkatan yang terjadi lebih dari 0.5 derajat celcius dan dikaitkan dengan adanya zat pemicu demam yang disebut pirogen.  

Berdasarkan besarnya peningkatan suhu, dengan pengukuran menggunakan termometer axila (ketiak) Reinhold Wunderlich mengkategorikan demam menjadi: demam ringan (38-38,4 derajat celcius), demam sedang (38.5-39 derajat celcius), dan demam tinggi (39.5-40 derajat Celcius).

Ambang batas untuk lansia dalam pengkategorian demam sedikit lebih rendah yang hanya berlaku untuk lansia yang relatif lemah. Manual Merck mendefinisikan febris dengan indikator pengukuran suhu oral (mulut) menjadi suhu mulut”

Menurut Harrison's Principles of Internal Medicine, seseorang dikategorikan mengalami demam atau febris jika suhu inti (rektal) > 37,5 derajat celcius, Suhu kulit (Ketiak) > 37,2 derajat celcius, suhu oral pagi hari >37,2 derajat celcius, dan suhu oral sore hari >37,7 derajat celcius.

Mengingat banyaknya faktor yang bisa mempengaruhi hasil pengukuran suhu tubuh manusia, maka penentuan kriteria yang dikatakan sebagai febris bisa bervariasi. Namun tetap dibutuhkan pelaporan dan penanganan yang tepat untuk meminimalisir dampak klinis akibat kondisi ini.

Mekanisme Febris

Respon demam adalah reaksi sistemik terhadap adanya masalah patologis pada tubuh manusia baik yang bersumber infeksi atau penyebab lainnya. Peningkatan suhu tubuh inti ini diketahui dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan sebagai mekanisme pertahanan terhadap infeksi.

Peningkatan suhu tubuh akan berdampak kepada peningkatan metabolisme. Febris atau peningkatan suhu ini ini bertindak sebagai sistem peringatan untuk mengaktifkan imunitas melalui berbagai jenis sel seperti NK Sel, sel dendritik, makrofag, limfosit T dan B, neutrofil, dan sel endotel vaskular.

Mekanisme terjadinya demam diinisiasi oleh interaksi kompleks antara sel-sel perifer yang kemudian ditransmisikan ke sentral hipotalamus yaitu area ventral medial preoptik (VMPO). Berbagai penelitian menunjukan bahwa VMPO berisi neuron yang diaktifkan oleh demam dimana secara khusus terlokalisasi di dekat organ vaskular lamina terminalis (OVLT). 

Secara seluler, demam dimediasi oleh aktivitas pirogenik prostaglandin khususnya PGE2. Sintesis PGE2 dimulai dengan perubahan fosfolipid membran menjadi asam arakidonat (AA) oleh enzim fosfolipase A2 (PLA2). PGE2 bertindak mempengaruhi neuron spesifik di dalam hipotalamus melalui reseptor EP3 yang pada akhirnya mempengaruhi termoregulasi. 

Aksi PGE2 dimulai ketika adanya pirogen eksternal seperti bakteri atau virus merangsang pirogen internal antara lain IL-1, IL-6, TNF (Tumor Necrosis Factor) dan Interferon untuk mengubah set point hipotalamus melalui organo Vasculosum Lamina Terminalis (OVLT) dan meningkatkan suhu tubuh inti. 

Pirogen endogen juga bertindak untuk memicu respon imun dan inflamasi. Respon imun meliputi leukositosis, aktivasi sel T, proliferasi sel B, NK sel, dan peningkatan adhesi sel darah putih. Respon inflamasi meliputi peningkatan reaktan fase akut, peningkatan pemecahan protein otot, dan peningkatan sintesis kolagen.

Dampak Febris Terhadap Sistem Organ

Induksi febris pada manusia akan meningkatkan metabolisme tubuh, dimana setiap peningkatan suhu tubuh sebesar 1 derajat Celcius akan menyebabkan peningkatan peningkatan metabolisme sebesar 10-12,5%.

Efek metabolik yang bisa ditimbulkan oleh demam antara lain:

  • Peningkatan kebutuhan oksigen
  • Peningkatan denyut jantung
  • Peningkatan frekuensi pernapasan
  • Peningkatan penggunaan protein tubuh sebagai sumber energi
  • Metabolisme beralih dari penggunaan glukosa menjadi penggunaan produk pemecahan protein dan lemak
  • Peningkatan fungsi kekebalan tubuh
  • Peningkatan motilitas dan aktivitas sel darah putih
  • Merangsang produksi interferon dan aktivasi sel T
  • Penghambatan pertumbuhan agen mikroba tertentu

Demam yang sangat tinggi dan berlangsung lama dapat menyebabkan efek negatif ke berbagai sistem organ, antara lain:

  • Otak : Gangguan Neurologis akut dan penurunan fungsi kognitif dapat terjadi setelah febris tinggi, sekitar 50% dari penderita heat stroke mengalami kerusakan neurologis kronis. Secara khusus, sel Purkinje di korteks serebral sensitif terhadap kerusakan akibat panas, yang dapat menyebabkan disfungsi serebral yang berlangsung lama.
  • Kardiovaskular : Pada kondisi akut Pasien febris bisa mengalami hipotensi dengan curah jantung yang tinggi karena redistribusi darah dan vasokonstriksi yang diinduksi nitrit-oksida. Pada demam yang parah, pemeriksaan EKG dapat menunjukkan kelainan gelombang T, perubahan QT dan ST, dan cacat konduksi. Selain itu, kadar troponin I serum dapat meningkat secara signifikan.
  • Gastrointestinal : Pada suhu di atas suhu 40 derajat celcius bisa terjadi pengurangan aliran darah ke saluran Gastrointestinal. Selain itu, stres oksidatif, protein terdenaturasi, dan membran sel bisa mengalami kerusakan. Selain itu febris tinggi bisa meningkatkan potensi pelepasan sitokin pro-inflamasi, peradangan gastrointestinal, dan edema.
  • Hati : Febris yang tinggi dapat memicu peningkatan enzim hati (AST/ALT) pada suhu tubuh di atas 40 derajat Celcius. Pada kasus yang parah dapat menyebabkan kerusakan hepatoseluler. 
  • Ginjal : Pasien dengan suhu tubuh yang meningkat secara signifikan berisiko mengalami cedera ginjal akut (AKI). Peningkatan suhu tubuh 2 derajat Celcius dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR), dimana penurunan ini berbanding lurus dengan peningkatan suhu tubuh selanjutnya. Selain itu, keadaan hipertermia merangsang sistem renin angiotensin aldosteron (RAAS) yang menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal.
  • Hemostasis : Febris bisa menyebabkan penghambatan agregasi trombosit, perdarahan spontan, peningkatan waktu pembekuan, trombositopenia, dan peningkatan produksi degradasi fibrin plasma.

Manifestasi Klinis

Pasien dengan demam biasanya menunjukkan kulit yang hangat dan memerah, takikardia, kontraksi atau kekakuan otot, dan berkeringat di malam hari. Piloereksi dan posisi tubuh untuk meminimalkan luas permukaan yang terbuka juga terlihat. Kadang-kadang kulit atau ekstremitas terasa dingin meskipun suhu inti meningkat secara signifikan.

Demam terjadi ketika pirogen endogen atau eksogen menyebabkan peningkatan set point termoregulasi tubuh. Pada hipertermia, set-point tidak berubah namun suhu tubuh menjadi meningkat secara tidak terkendali karena paparan panas eksogen atau produksi panas endogen.

Hiperpireksia adalah istilah untuk febris yang sangat tinggi lebih dari 41 C, yang dapat terjadi pada pasien dengan infeksi berat. Hiperpireksia juga dapat terlihat pada pasien dengan perdarahan SSP. Peningkatan suhu otak dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, cedera otak iskemik, eksaserbasi edema serebral, dan kematian.

Pengamatan pola demam dapat membantu dalam kondisi tertentu. Misalnya, demam yang terjadi setiap 48 - 72 jam terjadi pada jenis malaria tertentu, demam yang terjadi terutama pada malam hari adalah tipikal tuberkulosis.

Asuhan Keperawatan

Pengkajian

  • Kaji tanda-tanda Febris: Kaji tanda dan gejala febris, seperti wajah memerah, kelemahan, ruam, distres pernapasan, takikardia, malaise, sakit kepala, dan iritabilitas. kaji keluhan berkeringat, kulit panas dan kering, atau terlalu hangat.
  • Kaji tanda-tanda dehidrasi akibat febris : Identifikasi tanda-tanda dehidrasi seperti  haus, l membran mukosa kering, turgor kulit menurun, produksi urin menurun, konsentrasi urin pekat, nadi lemah dan cepat.
  • Pantau detak jantung dan tekanan darah pasien: Denyut nadi dan tekanan darah biasanya meningkat seiring dengan berkembangnya febris.
  • Identifikasi faktor pencetus febris dan kaji riwayat pasien, diagnosis, atau prosedur. Memahami perubahan suhu atau penyebab febris akan membantu memandu penatalaksanaan dan intervensi keperawatan.
  • Kaji usia dan berat badan: Pasien lansia, pasien obesitas atau pasien yang terlalu kurus meningkatkan risiko ketidakmampuan untuk mengontrol suhu tubuh. Lansia rentan terhadap febris karena perubahan fisiologis yang berkaitan dengan penuaan atau adanya penyakit kronis.
  • Ukur dan dokumentasikan suhu pasien secara teratur: Lakukan pengukuran suhu tubuh menggunakan metode, lokasi, dan perangkat pengukuran suhu yang sesuai akan membantu merumuskan intervensi keperawatan yang akurat. Gunakan dua mode pemantauan suhu jika perlu. Perhatikan bahwa perbedaan suhu antara pengukuran suhu inti dan metode lainnya.
  • Pantau masukan cairan dan haluaran urin : Jika pasien tidak sadar, tekanan vena sentral atau arteri pulmonalis harus diukur untuk memantau status cairan.

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Sdki Siki Siki

1. Hipertermia (D.0130)

Luaran: Termoregulasi Membaik (L.14134)

  • Menggigil menurun
  • Suhu tubuh membaik
  • Suhu kulit membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Manajemen Hipertermia (I.15506)

  • Identifikasi penyebab hipertermi (mis: dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator)
  • Monitor suhu tubuh
  • Monitor kadar elektrolit
  • Monitor haluaran urin
  • Monitor komplikasi akibat hipertermia
  • Sediakan lingkungan yang dingin
  • Longgarkan atau lepaskan pakaian
  • Basahi dan kipasi permukaan tubuh
  • Berikan cairan oral
  • Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hiperhidrosis (keringat berlebih)
  • Lakukan pendinginan eksternal (mis: selimut hipotermia atau kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila)
  • Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
  • Berikan oksigen, jika perlu
  • Anjurkan tirah baring
  • Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu

b. Regulasi Temperatur (I.14578)

  • Monitor suhu tubuh bayi sampai stabil (36,5 – 37,5°C)
  • Monitor suhu tubuh anak tiap 2 jam, jika perlu
  • Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan nadi
  • Monitor warna dan suhu kulit
  • Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau hipertermia
  • Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu
  • Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat
  • Bedong bayi segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas
  • Masukkan bayi BBLR ke dalam plastic segera setelah lahir (mis: bahan polyethylene, polyurethane)
  • Gunakan topi bayi untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir
  • Tempatkan bayi baru lahir di bawah radiant warmer
  • Pertahankan kelembaban inkubator 50% atau lebih untuk mengurangi kehilangan panas karena proses evaporasi
  • Atur suhu inkubator sesuai kebutuhan
  • Hangatkan terlebih dahulu bahan-bahan yang akan kontak dengan bayi (mis: selimut, kain bedongan, stetoskop)
  • Hindari meletakkan bayi di dekat jendela terbuka atau di area aliran pendingin ruangan atau kipas angin
  • Gunakan matras penghangat, selimut hangat, dan penghangat ruangan untuk menaikkan suhu tubuh, jika perlu
  • Gunakan Kasur pendingin, water circulating blankets, ice pack, atau gel pad dan intravaskular cooling catheterization untuk menurunkan suhu tubuh
  • Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan pasien
  • Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan heat stroke
  • Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena terpapar udara dingin
  • Demonstrasikan Teknik perawatan metode kanguru (PMK) untuk bayi BBLR
  • Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu

2. Termoregulasi Tidak Efektif (D.0149)

Luaran: Termoregulasi Membaik (L.14134)

  • Menggigil menurun
  • Suhu tubuh membaik
  • Suhu kulit membaik

Intervensi Keperawatan : Regulasi Temperatur (I.14578)

3. Risiko Termoregulasi Tidak Efektif (D.0148)

Luaran: Termoregulasi Membaik (L.14134)

  • Menggigil menurun
  • Suhu tubuh membaik
  • Suhu kulit membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Edukasi Pengukuran Suhu Tubuh (I.12414)

  • Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
  • Sediakan materi dan media Pendidikan Kesehatan
  • Jadwalkan Pendidikan Kesehatan sesuai kesepakatan
  • Berikan kesempatan untuk bertanya
  • Dokumentasikan hasil pengukuran suhu
  • Jelaskan prosedur pengukuran suhu tubuh
  • Anjurkan terus memegang bahu dan menahan dada saat pengukuran aksila
  • Ajarkan memilih lokasi pengukuran suhu oral atau aksila
  • Ajarkan cara meletakkan ujung termometer di bawah lidah atau di bagian tengah aksila
  • Ajarkan cara membaca hasil termometer raksa dan/atau elektronik

b. Edukasi Termoregulasi (I.12457)

  • Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
  • Sediakan materi dan media Pendidikan Kesehatan
  • Jadwalkan Pendidikan Kesehatan sesuai kesepakatan
  • Berikan kesempatan untuk bertanya
  • Ajarkan kompres hangat jika demam
  • Ajarkan cara pengukuran suhu
  • Anjurkan penggunaan pakaian yang dapat menyerap keringat
  • Anjurkan tetap memandikan pasien, jika memungkinkan
  • Anjurkan pemberian antipiretik, sesuai indikasi
  • Anjurkan menciptakan lingkungan yang nyaman
  • Anjurkan memperbanyak minum
  • Anjurkan penggunaan pakaian yang longgar
  • Anjurkan minum analgesik jika merasa pusing, sesuai indikasi
  • Anjurkan melakukan pemeriksaan darah jika demam > 3 hari


Referensi :

  1. Mackowiak PA, Chervenak FA, Gr√ľnebaum A.2021.  Defining Fever. Open Forum Infect Dis. 2021 Mar 31;8(6):ofab 161. doi: 10.1093/ofid/ofab161. PMID: 34476283; PMCID: PMC8394829.
  2. Balli S, Shumway KR, Sharan S. 2022. Physiology, Fever. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing.
  3. Matt Vera BSN, RN. 2022. Hyperthermia Nursing Care Plan. Nurses Labs.
  4. PPNI, 2017.  Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  5. PPNI, 2018.  Standar Intervensi Keperawatan Indonesia edisi (SIKI) 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  6. PPNI, 2019.  Standar  Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Ns.Radliyatul Fahmi, S.Kep
Ns.Radliyatul Fahmi, S.Kep Perawat Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat