Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Kronis

Walaupun biasanya diakibatkan oleh hilangnya fungsi ginjal secara perlahan-lahan dan progresif, gagal ginjal kronis kadang-kadang disebabkan oleh penyakit serangan mendadak yang berkembang cepat. Beberapa gejala berkembang setelah lebih dari 75% filtrasi glomerular hilang, kemudian parenkima normal sisanya mengalami deteriorasi, dan gejala juga semakin memburuk seiring menurunnya fungsi ginjal. 

Gagal ginjal kronis bisa berkembang melalui stadium-stadium berikut ini: 

  • Cadangan ginjal berkurang, tingkat filtrasi glomerular (glomerular filtration rate - GFR) sebesar 45% sampai 50% dari normal. 
  • Insufisiensi ginjal (GFR sebesar 20% sampai 35% dari normal) 
  • Gagal ginjal (GFR sebesar 20% sampai 25% dari normal) 
  • Penyakit ginjal stadium akhir (GFR kurang dari 20% dari normal). 
Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Kronis
image by https://www.scientificanimations.com on wikimedia.org

Jika gagal ginjal kronis tidak diperiksa, toksin uremik akan terakumulasi dan menyebabkan perubahan yang bisa berakibat fatal di semua sistem organ utama. Dialisis pemeliharaan atau transplantasi ginjal bisa memperpanjang hidup jika pasien bisa menoleransinya.

Penyebab 

  • Gagal ginjal akut yang tidak bisa merespons penanganan 
  • Penyakit glomerular kronis, misalnya glomerulonefritis 
  • Penyakit endokrin, misalnya neuropati diabetik 
  • Terapi obat nefrotoksik, misalnya terapi aminoglikosida jangka-panjang 
  • Proses obstruktif, misalnya kalkulus 
  • Penyakit vaskular, misalnya nefrosklerosis renal atau hipertensi 

Tanda dan gejala 

a. Kardiovaskular 

  • Kardiomiopati 
  • Hipertensi dan aritmia, termasuk takikardia, atau fibrilasi ventrikular yang bisa membahayakan jiwa 
  • Efusi perikardial (dan kemungkinan tamponade kardiak) 
  • Edema periferal 

b. Kutaneus 

  • Rambut kering dan rapuh yang bisa berubah warna dan rontok dengan mudah 
  • Ekimosis Kulit pucat, berwarna perunggu kekuningan, kering, dan bersisik 
  • Petekia 
  • Purpura 
  • Gatal parah 
  • Kuku jari tipis dan rapuh dengan garis khas 
  • Beku uremik (paling sering muncul pada pasien yang sakit kritis atau memasuki stadium akhir) 

c. Perubahan endokrin 

  • Amenorea dan mens berhenti (pada wanita) 
  • Kerusakan metabolisme karbohidrat (menyebabkan kenaikan kadar glukosa darah yang mirip dengan yang ditemukan dalam diabetes melitus) 
  • Impotensi dan produksi sperma berkurang (pada pria) 
  • Sekresi aldosterone meningkat (berkaitan dengan meningkatnya produksi renin) 
  • Pertumbuhan kerdil (pada anak-anak) (bahkan jika kadar hormon pertumbuhan meningkat) 

d. Gastrointestinal 

  • Inflamasi dan ulserasi mukosa GI yang menyebabkan stomatistis, ulserasi dan pendarahan gusi dan kemungkinan parotitis, esofagitis, gastritis, ulser duodenal, lesi di usus kecil dan besar, kolitis uremik, pankreatitis, dan proktitis 
  • Rasa seperti logam di dalam mulut 
  • Fetor uremik (bau amonia pada napas) 

e. Perubahan hematopoietik 

  • Anemia 
  • Kehilangan darah akibat dialisis dan pendarahan GI 
  • Waktu bertahan hidup sel darah merah (red blood count — RBC) berkurang 
  • Pendarahan yang semakin parah dan gangguan penggumpalan, yang ditunjukkan oleh purpura, hemoragi dari orifikum tubuh, mudah memar, ekimosis, dan petekia 
  • Trombositopenia ringan 
  • Kelainan keping darah

f. Neurologis 

  • Apati 
  • Koma 
  • Konfusi 
  • Rasa kantuk 
  • Perubahan EEC yang mengindikasikan ensefalopati metabolik 
  • Iritabilitas 
  • Otot kram dan kejang 
  • Sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome), salah satu gejala pertama dari neuropati periferal; akhirnya berkembang menjadi parestesia dan disfungsi saraf motorik (biasanya foot drop bilateral) kecuali dilakukan dialisis 
  • Sawan 
  • Jangkauan memori dan perhatian memendek 

g. Renal dan urologis 

  • Output urin berkurang; urin sangat encer dan mengandung warna lain dan kristal 
  • Kelebihan cairan dan asidosis metabolik 
  • Awalnya hipotensi, mulut kering, kekencangan kulit hilang, tidak bergairah, letih, dan mual; kemudian timbul rasa kantuk dan konfusi 
  • Iritabilitas otot dan kemudian otot melemah saat kadar kalium naik 
  • Retensi dan kelebihan natrium 

h. Respiratorik 

  • Dispnea akibat gagal jantung 
  • Respirasi Kussmaul akibat asidosis 
  • Gesekan friksi dan efusi pleural 
  • Nyeri pleuritik 
  • Edema pulmoner 
  • Aktivitas makrofag pulmoner berkurang disertai peningkatan suseptibilitas terhadap infeksi 
  • Pleuritis uremik dan paru-paru uremik (atau pneumonia uremik) 

i. Perubahan skeletal 

  • Kalsifikasi arterial, yang bisa menyebabkan penyakit arteri koroner 
  • Ketidakseimbangan kalsium-fosforus, yang menyebabkan nyeri otot dan tulang, demineralisasi skeletal, fraktur patologis, dan kalsifikasi di otak, mata, gusi, sendi, miokardium, dan pembuluh darah 
  • Osteodistrofi renal (riket renal) pada anak-anak 

Uji diagnostik 

  • Pada pemeriksaan darah menunjukkan :
    • Kenaikan kadar BUN dan kreatinin
    • Kadar pH dan bikarbonat turun
    • Kadar hemoglobik (Hb) dan hematokrit (HCT) rendah. 
  • Uji pembersihan kreatinin menunjukkan deteriorasi perlahan-lahan pada fungsi ginjal. 
  • Biopsi ginjal memungkinkan identifikasi histologis pada patologi mendasar.
  • Sinar-X pada ginjal atau abdomen, computed tomography scan pada ginjal, magnetic resonance imaging, atau ultrasonografi menunjukkan ukuran ginjal mengecil. 
  • Gravitasi khusus urin menjadi tepat pada 1,010; urinanalisis bisa menunjukkan proteinuria, glikosuria, eritrosit, leukosit, dan warna lain, tergantung pada penyebabnya. 
  • Studi Sinar-X meliputi radiografi ginjal-ureter-kandung kemih, urografi ekskretorik, nefrotomografi, scan renal, dan arteriografi renal. 

Penanganan 

  • Makanan rendah-protein menurunkan kadar produk akhir metabolisme protein, yang tidak bisa dierkskresi oleh ginjal. Pasien yang menjalani dialisis peritoneal terus-menerus sebaiknya mengkonsumsi makanan kaya-protein. 
  • Makanan kayakalori mencegah ketoasidosis dan keseimbangan nitrogen negatif yang menyebabkan katabolisme dan atrofi otot. Makanan sebaiknya tidak mengandung natrium dan kalium.
  • Keseimbangan cairan yang terjaga akan membutuhkan pemantauan secara saksama pada tanda vital, perubahan berat badan, dan volume urin pasien. 
  • Diuretik lingkaran, misalnya furosemide (Lasix) jika ginjal masih bisa sedikit berfungsi dan pembatasan cairan bisa mengurangi retensi cairan. 
  • Glikosida kardiak, misalnya digoxin (Lanoxin), bisa digunakan untuk memobilisasi edema cairan.
  • Inhibitor enzim pengkonversi angiotensin bisa diberikan untuk menurunkan tekanan darah dan edema yang berkaitan.
  • Antiemetik yang diminum sebelum makan bisa meringankan mual dan muntah, famotidine (Pepcid), omeprazole (Prilosec), atau ranitidine (Zantac) bisa mengurangi iritasi gastrik.
  • Methylcellulose (Citrucel) atau docusate (Colace) bisa membantu mencegah konstipasi.
  • Anemia memerlukan suplemen zat besi dan folat, anemia parah memerlukan infusi kumpulan sel beku dan segar atau kumpulan sel yang telah dicuci. Akan tetapi, transfusi untuk meringankan anemia hanya bersifat sementara.
  • Eritroprotein sintetik (epoetin alfa) bisa digunakan untuk menstimulasi divisi dan diferensiasi sel dalam sumsum tulang untuk memproduksi RBC. Terapi androgen (testosteron atau nandrolone [Bolandione]) bisa meningkatkan produksi RBC.
  • Antipruritik, misalnya trimeprazine atau diphenhydramine (Benadryl), meringankan gatal; jeli aluminium hidroksida menurunkan kadar fosfat serum. 
  • Pasien bisa memanfaatkan suplemen vitamin (terutama vitamin B dan vitamin D) dan asam amino esensial.
  • Secara saksama, pantau kadar kalium serum untuk mendeteksi hiperkalemia. 
  • Penanganan darurat untuk hiperkalemia parah meliputi terapi dialisis dan pemberian glukosa hipertonik 50% secara I.V., insulin teratur, glukonat kalsium I.V., dan resin pertukaran kation misalnya-natrium polystyrene sulfonat (Kayexalate). 
  • Tamponade kardiak yang disebabkan oleh efusi perikardial bisa membutuhkan pembukaan atau pembedahan perikardial darurat.
  • Hemodialisis atau dialisis peritoneal (terutama dialisis peritoneal ambulatorik secara kontinu dan dialisis peritoneal secara kontinu) bisa membantu mengontrol sebagian besar manifestasi penyakit ginjal stadium-akhir. (Lihat Dialisis peritoneal ambulatori secara kontinu.)
  • Transplantasi ginjal berguna untuk penderita penyakit ginjal stadium-akhir.

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Rawat kulit pasien dengan baik. Mandikan pasien setiap hari, menggunakan sabun berlemak-tinggi, mandi oatmeal, dan losion kulit untuk meringankan pruritus. Lakukan perawatan perineal dengan baik, menggunakan sabun ringan dan air Seringkati balikkanlah tubuh pasien, dan gunakan matras beraliran-udara agar kulitnya tidak rusak.
  • Bersihkan mulut pasien dengan baik Seringkali sikatlah gigi pasien dengan sikat gigi lembut atau aplikator berujung-spon. 
  • Beri pasien makanan dalam jumlah sedikit namun lezat dan bernutrisi; cobalah menyediakan makanan favorit pasien namun masih dalam batas aturan makanan. Usahakan memberi asupan makanan kaya-kalori. Minta pasien rawat jalan menghindari makanan kaya-natrium, kaya-protein, dan kaya-kalium.
  • Minta pasien mematuhi batasan cairan dan protein. Untuk mencegah konstipasi, tekankan pentingnya Iatihan dan kecukupan serat makanan.
  • Lihat apakah terjadi hiperkalemia, yang diindikasikan dengan kram di kaki dan abdomen, serta diare. Jika kadar kalium naik, lihat adakah iritabilitas otot dan denyut nadi melemah. Pantau hasil elektrokardiogram untuk melihat adakah indikasi hiperkalemia—gelombang T tinggi dan berpuncak; kompleks QRS melebar; interval PR memanjang; dan gelombang P hilang.
  • Secara saksama, kajilah status hidrasi pasien. Periksa adakah distensi vena jugular, dan lakukan auskultasi paru-paru untuk melihat adakah dedas. Secara saksama, ukur asupan dan output setiap hari, termasuk semua drainase, vomitus, diare, dan darah yang hilang. catat berat badan setiap hari, pasien haus atau tidak, keringat aksilari, kekeringan lidah, hipertensi, dan edema periferal. 
  • Pantau adakah komplikasi tulang dan sendi. Cegah fraktur patologis dengan membalikkan badannya secara hati-hati dan memastikan keamanannya.Jika pasien harus berbaring di ranjang, lakukan latihan jangkauan-pergerakan pasif.
  • Minta pasien bernapas-dalam dan batuk untuk mencegah kongesti pulmonaru. Seringkali dengarkan adakah dedas, ronki, dan berkurangnya bunyi napas. Waspadai tanda dan gejala edema pulmoner, misalnya dispnea gelisah, dan dedas. Beri diuretik dan medikasi lain sesuai resep. 
  • Secara saksama, Iakukan obeservasi dan dokumentasikan aktivitas sawan. Lakukan infusi natrium bikarbonat jika terjadi asidosis dan sedatif atau antikonvulsan jika terjadi sawan. Beri bantalan pada palang samping ranjang, dan sediakan selalu alat jalan napas oral dan pengisap di samping ranjang. Kaji status neurologis pasien secara periodik, dan periksa adakah tanda Chvostek dan Trosseau, yang merupakan indikasi kadar kalsium serum rendah. 
  • Lakukan observasi pada pasien untuk melihat adakah tanda pendarahan. Lihat adakah pendarahan yang berlangsung lama di tempat pungsi dan di tempat pengkajian vaskular yang digunakan untuk hemodialisis. Pantau kadar Hb dan HCT, dan periksa adakah darah di tinja, urin, dan vomitus. 
  • Lihat adakah tanda perikarditis, misalnya gesekan friksi perikardial dan nyeri dada. Lihat juga apakah gesekan friksi hilang, disertai penurunan tekanan darah sebesar 15 sampai 20 mm Hg saat inspirasi (denyut nadi paradoksikal)—tanda awal dari tamponade perikardial. 
  • Secara saksama, susun jadwal pemberian medikasi. Beri pasien zat besi sebelum makan, aluminium hidroksida setelah makan, dan antiemetik, bila perlu, 30 menit sebelum makan.Beri juga antihipertensif sesuai resep. 
  • Gunakan emolien untuk meringankan area perianal sebelum instilasi natrium polystyrene sulfonat secara rektal, jika diberikan. Pastikan enema natrium polystyrene sulfonat dikeluarkan; jika tidak, enema natrium polystyrene sulfonat akan menyebabkan konstipasi dan tidak akan menurunkan kadar kalium. 
  • Siapkan pasien dengan menjelaskan prosedur secara menyeluruh jika ia harus menjalani dialisis. Pastikan ia memahami cara melindungi dan merawat shunt arterlovenosa, fistula, dan akses vaskular lainnya. (Lihat Merawat pasien yang harus menjalani hemodialisis.)


Sumber:

Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Kronis"