Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Diabetes Melitus (DM) Pendekatan SDKI SLKI dan SIKI

Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pengendalian kadar glukosa darah. Pada artikel ini, Repro Note akan mengulas mengenai konsep penyakit diabetes melitus ini mulai dari tinjauan medik dan asuhan keperawatan (askep).

Askep Diabetes Melitus (DM) Pendekatan SDKI SLKI dan SIKI
Image by stanias on Pixabay 

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus (Askep DM) 

Definisi

Diabetes melitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang terjadi dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah. Diabetes melitus paling sering menyebabkan kelainan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau bahkan keduanya.

Diabetes mellitus diambil dari kata Yunani “diabetes” yang berarti menyedot-melewati dan “mellitus” yang berarti manis. Tinjauan sejarah menunjukkan bahwa istilah "diabetes" pertama kali digunakan oleh Apollonius dari Memphis sekitar 250 hingga 300 SM. 

Pada tahun 1922 Banting, Best, dan Collip memurnikan hormon insulin dari pankreas sapi di Universitas Toronto, yang mengarah pada ketersediaan pengobatan yang efektif untuk diabetes pada tahun 1922.

Klasifikasi

Sistem klasifikasi diabetes melitus (DM) termasuk unik karena temuan penelitian menunjukkan banyak perbedaan antara individu dalam setiap kategori, dan pasien bahkan dapat berpindah dari satu kategori ke kategori lain, kecuali pasien dengan diabetes tipe 1.

Diabetes melitus (DM) memiliki banyak subklasifikasi, termasuk tipe 1, tipe 2, diabetes onset dewasa muda (maturity-onset diabetes of the young/MODY), diabetes gestasional, diabetes neonatal, dan diabetes yang diinduksi steroid. 

Diabetes melitus tipe 1 dan 2 merupakan subtipe utama yang masing-masing memiliki patofisiologi, presentasi, dan tatalaksana yang berbeda, namun keduanya berpotensi mengalami hiperglikemia.

Klasifikasi utama diabetes melitus yaitu:

Diabetes melitus tipe 1

Diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun yang mempengaruhi pankreas dengan prevalensi 5% hingga 10% dari seluruh penderita diabetes. Diabetes melitus tipe 1 ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel beta penghasil insulin di pankreas dan menghancurkannya.

Penderita diabetes tipe 1 tidak bisa memproduksi insulin dan harus mendapatkan insulin melalui suntikan untuk mempertahankan kontrol gula darah dan memanfaatkan karbohidrat untuk energi.

Peningkatan gula darah akan mengakibatkan penurunan berat badan, rasa lapar dan haus yang berlebihan, dan peningkatan produksi urin.

Untuk memvalidasi diagnosis, bisa dilakukan pengujian antibodi, dimana orang dengan diabetes tipe 1 biasanya memiliki antibodi yang menghancurkan sel beta pembuat insulin tubuh.

Diabetes melitus tipe 1 ini biasanya menyerang orang yang berusia muda dan kadang  juga diistilahkan diabetes juvenil, namun bisa juga terjadi pada usia yang lebih tua. Proses kerusakan sel beta biasanya terjadi lebih cepat pada anak-anak daripada orang dewasa.

Diabetes melitus tipe 2

Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis di mana tubuh tidak mampu mengontrol kadar glukosa  dalam darah secara memadai, yang dapat menyebabkan glukosa darah menjadi  tinggi yang berbahaya atau disebut hiperglikemia. Diabetes tipe 2 ini merupakan jenis yang paling banyak terjadi dengan prevalensi sekitar 90% hingga 95% dari seluruh penderita diabetes.

Diabetes tipe 2 paling sering berkembang pada usia diatas  45 tahun, tetapi akhir-akhir ini kejadiannya meningkat pada remaja dan dewasa muda.  Penyakit ini ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (glukosa) dan peningkatan resistensi terhadap hormon insulin yang mengangkut glukosa ke dalam sel.

Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi yang muncul akibat berbagai faktor risiko. Kebanyakan pasien yang mengalami diabetes tipe 2 ini mengalami obesitas, dimana obesitas itu sendiri menyebabkan peningkatan resistensi insulin. 

Risiko diabetes melitus tipe 2  ini juga meningkat seiring bertambahnya usia, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik.

Diabetes melitus gestasional

Diabetes gestasional berkembang selama kehamilan ketika pankreas tidak dapat mengakomodasi resistensi insulin  yang umum terjadi selama kehamilan karena sekresi hormon plasenta.

Jika seseorang menderita diabetes gestasional dalam satu kehamilan, mereka mungkin akan mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya. Jenis diabetes ini biasanya muncul pada usia kehamilan antara 24 dan 28 minggu.

Orang dengan kelebihan berat badan sebelum hamil atau mereka yang memiliki diabetes dalam keluarga cenderung lebih rentan terhadap diabetes gestasional, tetapi hal ini tidak selalu terjadi. Selain itu, diabetes gestasional lebih sering terjadi pada orang yang merupakan penduduk asli Amerika, Alaska, Hispanik, Asia, dan Hitam, tetapi juga ditemukan pada mereka yang berkulit putih.

Penting untuk mengobati diabetes gestasional segera setelah didiagnosis. Menjaga gula darah dalam kisaran normal akan membantu mencegah komplikasi seperti bayi lahir terlalu besar, dan berkembang menjadi obesitas atau diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Sebagian besar kasus diabetes gestasional sembuh setelah persalinan. Tetapi banyak ahli merekomendasikan untuk tetap memeriksa kemungkinan diabetes sampai enam bulan pascapersalinan untuk menilai statusnya.

Epidemiologi

  • Diabetes mellitus saat ini merupakan salah satu penyakit yang paling umum di seluruh dunia.
  • Lebih dari 23 juta orang di Amerika Serikat menderita diabetes, namun hampir sepertiga tidak terdiagnosis.
  • Pada tahun 2030, jumlah kasus diperkirakan akan meningkat lebih dari 30 juta.
  • Diabetes terutama terjadi pada orang tua, 50% orang yang berusia diatas 65 tahun memiliki beberapa derajat intoleransi glukosa.
  • Orang yang berusia 65 tahun ke atas menyumbang 40% dari penderita diabetes.
  • Afrika-Amerika dan anggota kelompok ras dan etnis lainnya lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes.
  • Di Amerika Serikat, diabetes adalah penyebab utama amputasi non-traumatik, kebutaan pada orang dewasa usia kerja, dan penyakit ginjal stadium akhir.
  • Diabetes adalah penyebab utama ketiga kematian akibat penyakit.
  • Biaya yang terkait dengan diabetes diperkirakan hampir $ 174 miliar per tahun.

Etiologi

Penyebab pasti diabetes mellitus sebenarnya belum diketahui, namun ada faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan penyakit tersebut.

Penyebab DM Tipe 1

  • Genetika dan autoimun mungkin berperan dalam penghancuran sel beta pada DM tipe 1.
  • Faktor lingkungan. 

Penyebab DM Tipe 2

  • Berat badan yang berlebihan atau obesitas merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap DM tipe 2 karena menyebabkan resistensi insulin.
  • Kurangnya olahraga dan gaya hidup yang tidak aktif juga dapat menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.

Penyebab DM Gestasional

  • Kelebihan berat badan sebelum hamil dan menambah berat badan ekstra, membuat tubuh sulit menggunakan insulin.
  • Faktor Genetik,  Jika memiliki orang tua atau saudara kandung yang menderita DM tipe 2, kemungkinan besar terjadi kecenderungan mengalami Diabetes melitus gestasional.

Patofisiologi

Insulin disekresikan oleh sel beta di pankreas dan merupakan hormon anabolik. Ketika kita mengkonsumsi makanan, insulin memindahkan glukosa dari darah ke otot, hati, dan sel-sel lemak saat kadar insulin meningkat.

Fungsi insulin juga termasuk transportasi dan metabolisme glukosa untuk energi, stimulasi penyimpanan glukosa di hati dan otot, berfungsi sebagai sinyal hati untuk berhenti melepaskan glukosa, peningkatan penyimpanan lemak makanan di jaringan adiposa, dan percepatan transportasi asam amino ke dalam sel.

Insulin dan glukagon mempertahankan kadar glukosa yang konstan dalam darah dengan merangsang pelepasan glukosa dari hati.

Diabetes Mellitus Tipe 1

  • Diabetes melitus tipe 1 ditandai dengan kerusakan sel beta pankreas.
  • Faktor yang mendasari umum dalam perkembangan diabetes tipe 1 adalah kerentanan genetik.
  • Penghancuran sel beta menyebabkan penurunan produksi insulin, produksi glukosa yang tidak terkendali oleh hati dan hiperglikemia puasa.
  • Glukosa yang diambil dari makanan tidak dapat disimpan di hati lagi tetapi tetap berada dalam aliran darah.
  • Ginjal tidak akan menyerap kembali glukosa setelah melebihi ambang ginjal, sehingga akan muncul dalam urin dan disebut glikosuria.
  • Kehilangan cairan yang berlebihan disertai dengan ekskresi glukosa yang berlebihan dalam urin yang menyebabkan diuresis osmotik.
  • Terdapat pemecahan lemak yang menghasilkan produksi keton, produk sampingan dari pemecahan lemak.

Diabetes Melitus Tipe 2

  • Diabetes mellitus tipe 2 memiliki masalah utama resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
  • Insulin tidak dapat berikatan dengan reseptor khusus sehingga insulin menjadi kurang efektif dalam merangsang pengambilan glukosa dan mengatur pelepasan glukosa.
  • Harus ada peningkatan jumlah insulin untuk mempertahankan kadar glukosa pada tingkat normal atau sedikit meningkat.
  • Namun, ada cukup insulin untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi keton.
  • Diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol dapat menyebabkan hiperglikemik, sindrom nonketotik hiperosmolar.
  • Gejala umum yang mungkin dirasakan pasien adalah poliuria, polidipsia, polifagia, kelelahan, lekas marah, luka kulit yang sulit sembuh, atau penglihatan kabur. 

Diabetes Melitus Gestasional

  • Pada diabetes mellitus gestasional (GDM), wanita hamil mengalami berbagai tingkat intoleransi glukosa dengan awal kehamilan.
  • Sekresi hormon plasenta menyebabkan resistensi insulin, yang menyebabkan hiperglikemia.
  • Setelah melahirkan, kadar glukosa darah pada wanita dengan Diabetes melitus gestasional  biasanya kembali normal atau kemudian berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis tergantung pada tingkat hiperglikemia pasien.

Poliuria atau peningkatan buang air kecil. Poliuria terjadi karena ginjal membuang kelebihan gula dari darah, menghasilkan produksi urin yang lebih tinggi.

Polidipsia atau rasa haus yang meningkat. Polidipsia hadir karena tubuh kehilangan lebih banyak air saat poliuria terjadi, memicu peningkatan rasa haus pasien.

Polifagia atau nafsu makan meningkat. Meskipun pasien mungkin mengkonsumsi banyak makanan tetapi glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel karena resistensi insulin atau kurangnya produksi insulin.

Kelelahan dan kelemahan. Tubuh tidak menerima energi yang cukup dari makanan yang dimakan pasien.

Penglihatan tiba-tiba berubah. Tubuh menarik cairan dari mata dalam upaya untuk mengkompensasi hilangnya cairan dalam darah, yang mengakibatkan kesulitan dalam memfokuskan penglihatan.

Kesemutan atau mati rasa di tangan atau kaki. Kesemutan dan mati rasa terjadi karena penurunan glukosa dalam sel.

Kulit kering. Karena poliuria, kulit menjadi dehidrasi.

Lesi kulit atau luka yang lambat sembuhnya. Glukosa tidak bisa  masuk ke dalam sel sehingga  menumpuk di dalam pembuluh darah, menghalangi lewatnya sel darah putih yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka.

Infeksi berulang. Karena konsentrasi glukosa yang tinggi, bakteri berkembang dengan mudah.

Komplikasi

Jika diabetes melitus tidak diobati, beberapa komplikasi dapat timbul dari penyakit ini antara lain:

Hipoglikemia.

Hipoglikemia terjadi ketika glukosa darah turun menjadi kurang dari 50 sampai 60 mg/dL karena terlalu banyak insulin atau agen hipoglikemik oral, terlalu sedikit makanan, atau aktivitas fisik yang berlebihan. 

Hipoglikemia dapat terjadi secara tiba-tiba pada pasien yang dianggap hiperglikemik karena kadar glukosa darahnya dapat turun dengan cepat.

Ketoasidosis diabetik

Ketoasidosis diabetik disebabkan oleh tidak adanya atau  terlalu sedikit jumlah insulin sehingga sangat tidak memadai dan memiliki tiga ciri utama yaitu hiperglikemia, dehidrasi dan kehilangan elektrolit, serta asidosis.

Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik 

Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik adalah kondisi serius di mana hiperosmolaritas dan hiperglikemia mendominasi dan menyebabkan perubahan kesadaran  perubahan kesadaran.

Penyakit kardiovaskular

Diabetes secara dramatis meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskular seperti penyakit arteri koroner atau sindrom koroner akut Seperti Infark Miokard dan angina, stroke dan aterosklerosis. 

Kerusakan Saraf  (Neuropati) 

Kelebihan kadar gula dapat mempengaruhi dinding kapiler yang mempengaruhi saraf, terutama di kaki. Hal ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, terbakar atau nyeri yang biasanya dimulai pada ujung jari kaki atau jari tangan dan secara bertahap menyebar ke atas.

Jika tidak diobati, bisa menyebabkan kehilangan semua indra perasa pada anggota tubuh yang terkena. Kerusakan saraf yang berhubungan dengan pencernaan dapat menyebabkan masalah seperti mual muntah, diare atau sembelit. Bagi pria, hal itu dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Kerusakan ginjal (nefropati)

Diabetes dapat merusak struktur dan sistem penyaringan di ginjal. Kerusakan parah dapat menyebabkan gagal ginjal kronis yang ireversibel sehingga memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal.

Kerusakan mata (retinopati). 

Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina (diabetic retinopathy), berpotensi menyebabkan kebutaan. Diabetes juga meningkatkan risiko kondisi penglihatan serius lainnya, seperti katarak dan glaukoma.

Kerusakan kaki

Kerusakan saraf di kaki atau aliran darah yang buruk ke kaki meningkatkan risiko berbagai komplikasi kaki. Jika tidak diobati, luka dan lecet dapat menyebabkan infeksi serius, yang seringkali tidak bisa sembuh dengan baik dan menjadi jaringan mati atau gangren yang pada akhirnya mungkin memerlukan amputasi jari kaki, kaki atau tungkai.

Penyakit Alzheimer

Diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko demensia, seperti penyakit Alzheimer. Semakin buruk kontrol gula darah, semakin besar risikonya. 

Pemeriksaan Diagnostik

  • Glukosa serum: Meningkat 200-1000 mg/dL atau lebih.
  • Serum aseton (keton): Sangat positif.
  • Asam lemak: Lipid, trigliserida, dan kadar kolesterol meningkat.
  • Osmolalitas serum: Meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/L.
  • Glukagon: Peningkatan kadar dikaitkan dengan kondisi yang menghasilkan hipoglikemia aktual, kekurangan glukosa relatif atau kekurangan insulin. Oleh karena itu, glukagon dapat meningkat dengan ketoasidosisi diabetikum  berat meskipun hiperglikemia.
  • Glycosylated hemoglobin (HbA1C): Mengevaluasi kontrol glukosa selama 8-12 minggu terakhir dengan 2 minggu sebelumnya yang paling berat. Berguna dalam membedakan kontrol yang tidak memadai. Hasil yang lebih besar dari 8% menunjukkan glukosa darah rata-rata 200 mg/dL dan menandakan perlunya perubahan dalam pengobatan.
  • Insulin serum: Mungkin menurun/tidak ada (tipe 1) atau normal hingga tinggi (tipe 2), menunjukkan insufisiensi insulin/penggunaan yang tidak tepat (endogen/eksogen). Resistensi insulin dapat berkembang sekunder untuk pembentukan antibodi.
  • Natrium: Mungkin normal, meningkat, atau menurun.
  • Kalium: Normal atau meningkat (pergeseran seluler), kemudian menurun tajam.
  • Fosfor: Sering menurun.
  • Gas darah arteri (ABG): Biasanya mencerminkan pH rendah dan penurunan HCO3 (asidosis metabolik) dengan alkalosis respiratorik kompensasi.
  • CBC: Hct mungkin meningkat (dehidrasi); leukositosis menunjukkan hemokonsentrasi, respons terhadap stres atau infeksi.
  • BUN: Mungkin normal atau meningkat (dehidrasi/penurunan perfusi ginjal).
  • Amilase serum: Dapat meningkat, menunjukkan pankreatitis akut sebagai penyebab Ketoasidosisi diabetikum.
  • Tes fungsi tiroid: Peningkatan aktivitas tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan insulin.
  • Urine: Positif untuk glukosa dan keton; berat jenis dan osmolalitas dapat meningkat.
  • Kultur dan sensitivitas: Kemungkinan ISK, infeksi saluran pernapasan atau luka.

Penatalaksanaan

Manajemen Nutrisi

  • Perencanaan makan, dan pengendalian berat badan adalah dasar dari manajemen diabetes.
  • Konsultasikan dengan profesional atau ahli diet terdaftar yang memahami manajemen diabetes melitus.
  • Perawat dan anggota tim perawatan kesehatan lainnya harus memiliki pengetahuan tentang terapi nutrisi dan mendukung pasien yang perlu menerapkan perubahan nutrisi dan gaya hidup.
  • Penurunan berat badan adalah pengobatan utama untuk pasien obesitas dengan diabetes tipe 2.
  • Penurunan berat badan sekecil 5% sampai 10% dari total berat badan dapat secara signifikan meningkatkan kadar glukosa darah.
  • Pendidikan diet, terapi perilaku, dukungan kelompok, dan konseling gizi berkelanjutan harus didorong.
  • Rencana makan harus mempertimbangkan preferensi makanan pasien, gaya hidup, waktu makan yang biasa, dan latar belakang etnis dan budaya.
  • Untuk membantu mencegah reaksi hipoglikemik dan mempertahankan kontrol glukosa darah secara keseluruhan, harus ada konsistensi dalam perkiraan interval antara waktu makan dengan penambahan makanan ringan sesuai kebutuhan.
  • Riwayat diet pasien harus ditinjau secara menyeluruh untuk mengidentifikasi kebiasaan makan dan gaya hidupnya.
  • Pendidikan kesehatan harus mencakup pentingnya kebiasaan makan yang konsisten, hubungan makanan dan insulin, dan penyediaan rencana makan individual.
  • Perawat memainkan peran penting dalam mengkomunikasikan informasi terkait dengan ahli gizi dan memperkuat pasien untuk pemahaman yang lebih baik.
  • Penggunaan pemanis buatan dapat diterima, dan ada dua jenis pemanis: nutritive dan nonnutritive.
  • Olahraga menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot-otot tubuh dan dengan meningkatkan pemanfaatan insulin. 
  • Seseorang dengan diabetes harus berolahraga secara rutin dan dijadwalkan secara teratur. Disarankan untuk meningkatkan periode latihan secara perlahan dan bertahap.

Farmakologis

  • insulin eksogen. Pada diabetes tipe 1, insulin eksogen harus diberikan seumur hidup karena tubuh kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin.
  • insulin pada diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 2, insulin mungkin diperlukan dalam jangka panjang untuk mengontrol kadar glukosa jika perencanaan makan dan agen oral tidak efektif.
  • Self-Monitoring Glukosa Darah (SMBG)
  • Agen antidiabetik oral untuk pasien yang mengalami diabetes tipe 2 yang tidak dapat diobati dengan manajemen nutrisi dan olahraga saja.
  • Agen antidiabetes oral antara lain sulfonilurea, biguanida, inhibitor alfa-glukosidase, tiazolidinedion, dan dipeptidil-peptidase-4.

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus (Askep DM) SDKI SLKI dan SIKI

Pengkajian

Dalam melaksanakan askep Diabetes melitus (DM), beberapa hal yang harus dikaji oleh perawat antara lain:

  • Kaji riwayat pasien untuk menentukan ada tidaknya diabetes, penilaian riwayat gejala yang berhubungan dengan diagnosis diabetes, hasil pemantauan glukosa darah, kepatuhan terhadap diet yang ditentukan, farmakologis, dan rejimen olahraga, gaya hidup pasien, faktor budaya, psikososial, dan ekonomi, dan efek diabetes pada status fungsional harus dilakukan.
  • Kaji pemeriksaani fisik, Kaji tekanan darah pasien sambil duduk dan berdiri untuk mendeteksi perubahan ortostatik.
  • Kaji indeks massa tubuh dan ketajaman visual pasien.
  • Lakukan pemeriksaan kaki, kulit, sistem saraf dan mulut.
  • Pemeriksaan laboratorium. HgbA1C, glukosa darah puasa, profil lipid, tes mikroalbuminuria, kadar kreatinin serum, urinalisis, dan EKG harus diminta dan dilakukan.

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan

1. Ketidakstabilan Kadar Gula Darah b/d Disfungsi pankreas / Resistensi Insulin(D.0027)

Luaran: Kestabilan kadar Glukosa darah meningkat (L.03022)

  • Koordinasi dan kesadaran meningkat
  • Mengantuk, pusing, dan lelah/lesu menurun
  • Keluhan lapar menurun
  • Gemetar dan berkeringat menurun
  • Mulut kering dan rasa haus menurun
  • Kadar glukosa dalam darah membaik
  • Kadar glukosa dalam urin membaik
  • Jumlah urine membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Manajemen Hiperglikemia (I.03115)

  • Identifkasi kemungkinan penyebab hiperglikemia
  • Identifikasi situasi yang menyebabkan kebutuhan insulin meningkat 
  • Monitor kadar glukosa darah, jika perlu
  • Monitor tanda dan gejala hiperglikemia seperti  poliuri, polidipsia, polifagia, kelemahan, malaise, pandangan kabur, sakit kepala
  • Monitor intake dan output cairan
  • Monitor keton urine, kadar analisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi
  • Berikan asupan cairan oral
  • Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap ada atau memburuk
  • Fasilitasi ambulasi jika ada hipotensi ortostatik
  • Anjurkan olahraga saat kadar glukosa darah lebih dari 250 mg/dL
  • Anjurkan monitor kadar glukosa darah secara mandiri
  • Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga
  • Ajarkan indikasi dan pentingnya pengujian keton urine, jika perlu
  • Ajarkan pengelolaan diabetes melitus seperti  penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan professional kesehatan
  • Kolaborasi pemberian insulin, jika perlu
  • Kolaborasi pemberian cairan IV, jika perlu
  • Kolaborasipemberian kalium, jika perlu

b. Manajemen Hipoglikemia (I.03113)

  • Identifkasi tanda dan gejala hipoglikemia
  • Identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemia
  • Berikan karbohidrat sederhana, jika perlu
  • Batasi glucagon, jika perlu
  • Berikan karbohidrat kompleks dan protein sesuai diet
  • Pertahankan kepatenan jalan nafas
  • Pertahankan akses IV, jika perlu
  • Hubungi layanan medis, jika perlu
  • Anjurkan membawa karbohidrat sederhana setiap saat
  • Anjurkan memakai identitas darurat yang tepat
  • Anjurkan monitor kadar glukosa darah
  • Anjurkan berdiskusi dengan tim perawatan diabetes tentang penyesuaian program pengobatan
  • Jelaskan interaksi antara diet, insulin/agen oral, dan olahraga
  • Anjurkan pengelolaan hipoglikemia (tanda dan gejala, faktor risiko dan pengobatan hipoglikemia)
  • Ajarkan perawatan mandiri untuk mencegah hipoglikemia (mis. mengurangi insulin atau agen oral dan/atau meningkatkan asupan makanan untuk berolahraga
  • Kolaborasi pemberian dextros, jika perlu
  • Kolaborasi pemberian glucagon, jika perlu

2. Risiko Infeksi b/d Penyakit Kronis (Diabetes Melitus) (D.0142)

Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)

  • Kebersihan tangan dan badan meningkat
  • Demam, kemerahan, nyeri, dan bengkak menurun
  • Periode malaise menurun
  • Periode menggigil, letargi, dan ganggauan kognitif menurun
  • Kadar sel darah putih membaik

Intervensi Keperawatan: Pencegahan Infeksi (I.14539)

  • Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
  • Batasi jumlah pengunjung
  • Berikan perawatan kulit pada daerah edema
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
  • Pertahankan teknik aseptik pada psien beresiko tinggi
  • Jelaskan tanda dan gejala infeksi
  • Ajarkan cara memeriksa luka
  • Kolaborasi pemberian imunisasi jika perlu

3. Perfusi Perifer Tidak Efektif b/d Hiperglikemia (D.0009)

Luaran: Perfusi Perifer meningkat (L.02011b)

  • Denyut nadi perifer meningkat
  • Penyembuhan luka dan sensasi meningkat
  • Warna kulit pucat menurun
  • Edema perifer menurun
  • Parastesia menurun
  • Kelemahan dan kram otot menurun
  • Bruit femoralis menurun
  • Nekrosis menurun
  • Pengisian kapiler membaik
  • Tekanan darah membaik
  • Indeks ankle-brachial membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Perawatan Sirkulasi (I.02079)

  • Periksa sirkulasi perifer(mis. Nadi perifer, edema, pengisian kalpiler, warna, suhu, angkle brachial index)
  • Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi (mis. Diabetes, perokok, orang tua, hipertensi dan kadar kolesterol tinggi)
  • Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas
  • Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area keterbatasan perfusi
  • Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas pada keterbatasan perfusi
  • Hindari penekanan dan pemasangan torniquet pada area yang cidera
  • Lakukan pencegahan infeksi
  • Lakukan perawatan kaki dan kuku
  • Lakukan hidrasi
  • Anjurkan berhenti merokok
  • Anjurkan berolahraga rutin
  • Anjurkan mengecek air mandi untuk menghindari kulit terbakar
  • Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah, antikoagulan, dan penurun kolesterol, jika perlu
  • Anjurkan minum obat pengontrol tekakan darah secara teratur
  • Anjurkan menghindari penggunaan obat penyekat beta
  • Ajurkan melahkukan perawatan kulit yang tepat(mis. Melembabkan kulit kering pada kaki)
  • Anjurkan program rehabilitasi vaskuler
  • Anjurkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi( mis. Rendah lemak jenuh, minyak ikan, omega3)
  • Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan( mis. Rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak sembuh, hilangnya rasa)

b. Manajemen Sensasi Perifer (I.06195)

  • Identifikasi penyebab perubahan sensasi
  • Identifikasi penggunaan alat pengikat, prostesis, sepatu, dan pakaian
  • Periksa perbedaan sensasi tajam atau tumpul
  • Periksa perbedaan sensasi panas atau dingin
  • Periksa kemampuan mengidentifikasi lokasi dan tekstur benda
  • Monitor terjadinya parestesia, jika perlu
  • Monitor perubahan kulit
  • Monitor adanya tromboflebitis dan tromboemboli vena
  • Hindari pemakaian benda-benda yang berlebihan suhunya (terlalu panas atau dingin)
  • Anjurkan penggunaan termometer untuk menguji suhu air
  • Anjurkan penggunaan sarung tangan termal saat memasak
  • Anjurkan memakai sepatu lembut dan bertumit rendah
  • Kolaborasi pemberian analgesik, jika perlu
  • Kolaborasi pemberian kortikosteroid, jika perlu

4. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi (D.0111)

Luaran : Tingkat pengetahuan membaik ( L.12111)

  • Perilaku klien sesuai dengan yang di anjuran meningkat
  • Minat klien dalam belajar meningkat
  • Kemampuan klien menjelaskan pengetahuan tentang penyakitnya meningkat
  • Kemampuan klien menggambarkan
  • pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan penyakitnya meningkat
  • Perilaku sesuai dengan pengetahuannya meningkat
  • Pertanyaan tentang penyakitnya menurun
  • Persepsi keliru tentang penyakitnya menurun
  • Perilaku kllien membaik

Intervensi : edukasi kesehatan (l.12383)

  • Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
  • Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
  • Berikan kesempatan untuk bertanya
  • Jelaskan klien tentang penyakitnya
  • Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
  • Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat

Referensi:

  1. Barbie Cervoni. 2021. What Is Diabetes Mellitus. Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/diabetes-mellitus-overview-5074551
  2. Stephen L.Pohl et.al. 1984. Diabetes Mellitus: an Overview. Behavioral medicine update: a publication of the Society of Behavioral Medicine 6(1):3-7 DOI:10.1093/abm/6.1.3
  3. Marianne Belleza RN. 2020. Diabetes Mellitus Nursing Care Management.  Nurses Labs.
  4. Amit Sapra & Priyanka Bhadari. 2021. Diabetes Mellitus. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551501/
  5. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)  edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  6. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2019.  Standart I Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)  edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Askep Diabetes Melitus (DM) Pendekatan SDKI SLKI dan SIKI"