Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Hipotensi Pendekatan Sdki Slki dan Siki

Hipotensi atau tekanan darah rendah adalah penurunan tekanan darah sistemik di bawah nilai normal dan menimbulkan beberapa gejala. Seseorang dikategorikan hipotensi jika pada pemeriksaaan didapatkan tekanan darah dibawah 90/60 mmhg dan menimbulkan gejala seperti pusing, pingsan, penglihatan kabur, atau kelelahan. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan Askep Hipotensi dengan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Tujuan

  • Memahami Homeostasis tekanan darah terkait pembuluh darah, curah jantung, volume, dan posisi tubuh
  • Memahami penyebab, tanda gejala, dan diagnosis hipotensi
  • Memahami penatalaksanaan hipotensi baik farmakologis, diet, dan perubahan gaya hidup
  • Merumuskan diagnosa keperawatan pada askep hipotensi dengan pendekatan Sdki
  • Merumuskan luaran keperawatan dan Kriteria hasil pada askep hipotensi menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep hipotensi dengan pendekatan Sdki


Memahami Hipotensi Atau Tekanan Darah Rendah
Picture by.https://www.myupchar.com/en from wikimedia.org

Konsep Medik dan Askep Hipotensi

Pendahuluan

Hipotensi dikenal juga sebagai tekanan darah rendah terjadi ketika darah mengalir melalui pembuluh  dengan tekanan yang lebih rendah dari biasanya. Sedangkan tekanan darah sendiri didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong dinding arteri saat dipompa oleh jantung.

Meskipun tidak ada nilai standar yang baku, tekanan darah kurang dari 90/60 bisa dianggap sebagai hipotensi. Hipotensi adalah kondisi yang kadang kurang disadari, karena kadang tanpa gejala.

Biasanya, tubuh menjaga tekanan darah agar tetap stabil dalam batas tertentu. Ketika tekanan darah terlalu tinggi atau hipertensi, organ dan pembuluh darah bisa rusak atau pecah sehingga menimbulkan perdarahan dan komplikasi lainnya.

Ketika tekanan darah terlalu rendah atau hipotensi, oksigen dan nutrisi yang yang diterima sel bisa berkurang. Selain itu produk limbah metabolisme tubuh juga  tidak bisa dibuang baik.

Tekanan darah rendah juga dapat mengancam nyawa karena dapat menyebabkan syok, dimana organ tubuh rusak karena kurangnya aliran darah.

Homeostatis Tekanan Darah

Tubuh manusia, khususnya jantung dan pembuluh darah memiliki beberapa cara untuk mengembalikan tekanan darah menjadi normal setelah meningkat atau menurun selama aktivitas normal, antara lain:

Mengubah diameter arteriol dan vena

Jaringan otot polos di dalam dinding arteriol memungkinkan pembuluh darah ini melebar (vasodilatasi) atau menyempit (vasokonstriksi).  Semakin sempit arteriol maka  semakin besar resistensi mereka terhadap aliran darah dan semakin tinggi tekanan darahnya.

Penyempitan arteriol meningkatkan tekanan darah karena lebih banyak tekanan diperlukan untuk memaksa darah melewati ruang yang lebih sempit. Sebaliknya, pelebaran arteriol mengurangi resistensi terhadap aliran darah, sehingga menurunkan tekanan darah. 

Tingkat penyempitan atau pelebaran arteriol dipengaruhi oleh:

  • Saraf yang berkontraksi dengan otot polos di arteriol, sehingga mengurangi diameternya
  • Hormon tertentu
  • Obat-obatan tertentu

Vena juga berperan dalam mengontrol tekanan darah, meskipun pengaruhnya terhadap tekanan darah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan arteriol. Pembuluh darah membesar dan mengerut untuk mengubah seberapa banyak darah yang dapat ditampungnya.

Ketika vena mengerut, kapasitasnya untuk menahan darah berkurang sehingga memungkinkan lebih banyak darah kembali ke jantung untuk dipompa ke arteri. Akibatnya tekanan darah meningkat.

Sebaliknya, ketika pembuluh darah membesar, kapasitasnya untuk menahan darah meningkat, sehingga lebih sedikit darah yang kembali ke jantung. Akibatnya tekanan darah menurun.

Perubahan Curah Jantung

Semakin banyak darah yang dipompa dari jantung per menit atau semakin besar curah jantung,  maka semakin tinggi tekanan darah. Jumlah darah yang dipompa selama setiap detak jantung dapat dipengaruhi oleh:

  • Seberapa cepat jantungnya berdetak
  • Betapa kuatnya jantung berkontraksi
  • Berapa banyak darah yang masuk ke jantung dari vena
  • Tekanan di arteri yang harus dipompa oleh jantung
  • Seberapa baik katup jantung mengeluarkan darah dan mencegah aliran balik darah

Perubahan Volume darah

Semakin tinggi volume darah di arteri, semakin tinggi tekanan darahnya. Volume darah di arteri dipengaruhi oleh:

  • Berapa banyak cairan di dalam tubuh (hidrasi)
  • Apakah arteri yang sangat kecil mengeluarkan cairan, jika kadar protein dalam darah sangat rendah atau ada kerusakan pada dinding bagian dalam arteri, cairan akan bocor darinya ke jaringan.
  • Berapa banyak cairan yang dikeluarkan ginjal dari darah untuk dikeluarkan melalui urin
  • Obat-obatan tertentu, terutama diuretik.

Perubahan Posisi Tubuh

Tekanan darah dapat bervariasi di seluruh tubuh karena aksi langsung gravitasi. Ketika seseorang berdiri, tekanan darah di kaki lebih tinggi daripada di kepala, seperti tekanan air di dasar kolam lebih tinggi daripada di atas. Saat seseorang berbaring, tekanan darah di seluruh tubuh cenderung lebih seimbang.

Ketika seseorang berdiri, darah dari pembuluh darah di kaki lebih sulit untuk kembali ke jantung. Akibatnya  jantung memiliki lebih sedikit darah untuk dipompa dan tekanan darah bisa turun sementara.

Ketika seseorang duduk atau berbaring, darah dapat lebih mudah kembali ke jantung, dan curah jantung serta tekanan darah dapat meningkat. Mengangkat kaki di atas ketinggian jantung dapat meningkatkan kembalinya darah ke jantung, yang meningkatkan curah jantung dan meningkatkan tekanan darah.

Penyebab Hipotensi

Penyebab Umum

Tiga jenis utama hipotensi adalah hipotensi ortostatik, hipotensi yang dimediasi saraf, dan hipotensi berat yang terkait dengan syok. Masing-masing memiliki penyebab yang berbeda.

Hipotensi Ortostatik

Hipotensi ortostatik kadang-kadang juga disebut sebagai hipotensi postural. Hipotensi ini terjadi ketika tekanan darah turun dengan cepat selama perubahan posisi tubuh, biasanya ketika berubah dari duduk ke berdiri. Kondisi ini  menyebabkan tanda-tanda klasik seperti pusing, penglihatan kabur, dan pingsan.

Biasanya, reseptor saraf memberi sinyal ketika seseorang sedang bergerak merubah posisi. Sistem saraf pusat merespons dengan memberi sinyal otot-otot di dinding arteri untuk berkontraksi dan meningkatkan tekanan darah, serta memberi sinyal ke jantung untuk berdetak lebih cepat sehingga mencegah darah berkumpul di bagian bawah tubuh.

Dalam hipotensi ortostatik proses ini tidak terjadi sebagaimana mestinya, sehingga terjadi pengumpulan darah di area bawah tubuh yang mengakibatkan lebih sedikit darah yang mencapai otak dan menimbulkan keluhan pusing  pusing.

Hipotensi ortostatik sering terjadi pada:

  • Kehamilan
  • Dehidrasi (yang dapat disebabkan oleh keringat, kurang minum, muntah, atau diare)
  • Kondisi jantung
  • Gangguan tiroid
  • Hipoglikemia
  • Emboli paru

  • Gangguan sistem saraf seperti penyakit Parkinson, demensia, sindrom Guillain-BarrĂ©, dan neuropati

Hipotensi ortostatik juga bisa merupakan efek samping dari obat-obatan tertentu, seperti diuretik atau obat hipertensi  lainnya, seperti beta blocker. Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati disfungsi ereksi dan gangguan kejiwaan tertentu juga dapat menyebabkan hipotensi.

Hipotensi Neural

Masalah dengan sistem saraf terutama gangguan sistem saraf otonom seperti postural orthostatic tachycardia syndrome (POTS) dan sinkop vasovagal dapat menyebabkan tekanan darah rendah setelah lama berdiri.  Stres emosional juga bisa menjadi pemicu hipotensi yang dimediasi saraf.

Dalam kondisi ini, terdapat gangguan pensinyalan antara otak dan jantung, dimana system saraf mengirimkan sinyal palsu bahwa tekanan darah dalam kondisi tinggi. Sehingga menyebabkan jantung melambat sebagai usaha untuk menurunkan tekanan darah lebih jauh.

Neuropati otonom dan neuropati perifer, yang ditandai dengan kerusakan saraf dapat disebabkan oleh penyakit seperti diabetes melitus, juga mempengaruhi pengaturan tekanan darah.

Hipotensi Berat Terkait Syok

Beberapa penyebab hipotensi berat pada syok juga dapat menyebabkan hipotensi ortostatik, penurunan tekanan darah jauh lebih parah dan lebih sulit untuk kembali normal.

Penyebab syok hipotensi meliputi:

  • Kehilangan darah yang banyak (internal atau eksternal)
  • Syok septik dari infeksi atau racun
  • Kehilangan cairan yang parah akibat diare, luka bakar, atau penggunaan diuretik yang berlebihan
  • Syok kardiogenik karena serangan jantung, aritmia, atau emboli paru
  • Syok vasodilatasi terlihat pada cedera kepala, gagal hati, keracunan, atau anafilaksis.

Penyebab Genetika

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti di Howard Hughes Medical Institute menemukan bahwa sebagian kecil dari populasi memiliki mutasi gen yang tidak hanya menurunkan tekanan darah tetapi juga menurunkan risiko penyakit jantung, penyakit ginjal, dan stroke.

Sebuah penelitian tahun 2012 melihat varian gen yang terkait dengan tekanan darah dan tidak menemukan pengaruhnya terhadap insidensi hipotensi ortostatik.

Sementara hipotensi ortostatik lebih sering muncul pada orang yang memiliki hubungan darah, namun belum bias dikaitkan dengan pola pewarisan genetik tertentu.

Penyebab Kardiovaskular

Tekanan darah juga dipengaruhi oleh fungsi atau struktur jantung. Hal ini dapat menyebabkan hipotensi ortostatik atau dalam kasus yang parah syok kardiogenik. Berikut adalah beberapa masalah jantung yang memengaruhi tekanan darah:

  • Masalah jantung yang menyebabkan detak jantung rendah
  • Masalah jantung yang mengakibatkan kekuatan jantung berkurang
  • Penurunan jumlah darah yang dipasok ke tubuh
  • Penumpukan plak di arteri yang dapat mengurangi aliran darah ke jantung dan otak

Faktor Gaya Hidup

Tekanan darah juga dapat dipengaruhi oleh faktor gaya hidup seperti  diet, olahraga, dan usia. Beberapa faktor risiko tambahan untuk kejadian hipotensi antara lain:

  • Kekurangan zat gizi esensial, seperti asam folat atau zat besi, dapat menyebabkan jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin menurun, yang mengakibatkan anemia.
  • Perubahan gula darah, seperti yang disebabkan oleh diabetes melitus.
  • Kebiasaan makan, beberapa pasien lansia terutama mereka yang memiliki tekanan darah tinggi dapat mengalami hipotensi postprandial, di mana tekanan darah turun tiba-tiba setelah makan besar.
Pastikan untuk minum air dalam jumlah yang cukup saat berolahraga untuk mencegah dehidrasi, dan untuk menjaga tekanan darah agar tetap stabil.

Tanda Gejala

Ketika tekanan darah terlalu rendah, organ pertama yang mengalami kerusakan biasanya adalah otak. Otak malfungsi lebih dulu karena terletak di bagian atas tubuh dan aliran darah harus melawan gravitasi untuk mencapai otak.

Akibatnya, kebanyakan orang dengan tekanan darah rendah merasa pusing, terutama saat mereka berdiri, bahkan mungkin pingsan. Selain itu, pingsan dapat menyebabkan cedera serius di kepala atau bagian tubuh lainnya.

Tekanan darah rendah terkadang menyebabkan sesak napas atau nyeri dada karena suplai darah yang tidak memadai ke otot jantung. Yang paling parah, semua organ mulai tidak berfungsi jika tekanan darah menjadi cukup rendah dan tetap rendah. Kondisi ini disebut syok.

Gangguan yang menyebabkan tekanan darah rendah dapat menghasilkan banyak gejala lain, yang bukan disebabkan oleh tekanan darah rendah itu sendiri. Misalnya, infeksi dapat menyebabkan demam.

Beberapa gejala muncul saat tubuh berusaha meningkatkan tekanan darah yang rendah. Misalnya, saat arteriol menyempit, aliran darah ke kulit, kaki, dan tangan berkurang. Area ini bisa menjadi dingin dan membiru. Ketika jantung berdetak lebih cepat dan lebih kuat, seseorang mungkin merasakan palpitasi.

Pemeriksaan

Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan darah dilakukan untuk memeriksa kadar gula dan jumlah sel darah untuk menentukan apakah hipotensi disebabkan hipoglikemia atau anemia.

Manuver Valsalva

Manuver Valsava adalah tes sederhana untuk  membantu mengevaluasi jika ada masalah dengan sistem saraf otonom, bagian dari sistem saraf  yang mengatur detak jantung  dan bagaimana pembuluh darah mengembang dan menyempit.

Tilt Table Test

Tes ini dilakukan untuk memastikan penyebab hipotensi yang tidak dapat dijelaskan. Pasien akan ditempatkan di atas meja yang memiliki kemampuan untuk berubah posisi dari berbaring ke posisi tegak dengan sangat cepat. Reaksi tubuh saat beralih di antara dua posisi ini akan dipantau dengan elektrokardiogram.

Elektrokardiogram

EKG digunakan untuk memeriksa masalah jantung yang dapat menyebabkan tekanan darah turun. Elektrokardiogram (EKG) merekam aktivitas listrik jantung dan mampu mendeteksi kelainan struktur, ketidakteraturan irama jantung, kecepatan, dan masalah suplai darah.

Ekokardiogram

Ekokardiogram menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi mendapatkan gambar jantung  dan biliknya. Gambar menunjukkan bagaimana jantung terlihat, ukurannya dan seberapa baik memompa darah.

Tes stres

Pemeriksa akan menginstruksikan pasien untuk berolahraga atau akan diberikan obat untuk membuat jantung memompa lebih cepat. Kemudian aktivitas jantung akan diukur dan direkam dengan elektrokardiogram, ekokardiogram, atau pemindaian PET (positron emission tomography).

Penatalaksanaan

Pengobatan Rumahan dan Gaya Hidup

  • Membuat perubahan gaya hidup tertentu  dan mengembangkan kebiasaan baru dapat membantu meningkatkan tekanan darah ke tingkat yang normal.  Beberapa hal yang bias dilakukan antara lain:
  • Hindari perubahan posisi dari tidur, duduk atau berdiri dengan cepat, lakukan secara perlahan. Cobalah gerakan kaki sedikit sebelum duduk atau berdiri agar darah mengalir.
  • Hindari berdiri untuk waktu yang lama jika memungkinkan, Hal Ini sangat penting jika memiliki hipotensi yang dimediasi saraf.
  • Hindari menyilangkan kaki saat duduk.
  • Stoking akan memberikan tekanan pada kaki, membantu darah bersirkulasi lebih baik. Namun sebelum menggunakannya sebagai alternative perawatan, konsultasilah ke petugas kesehatan terlebih dahulu.

Diet

  • Membatasi asupan makanan tertentu  yang membuat tekanan darah turun.
  • Minum air yang banyak
  • Minumlah cairan yang mengandung nutrisi bermanfaat seperti natrium
  • Batasi atau hentikan asupan alkohol sepenuhnya
  • Tingkatkan asupan garam, namun konsultasikanlah ke petugas kesehatan seberapa besar konsumsinya  harus ditingkatkan.
  • Jika mengalami hipotensi postprandial, cobalah makan dengan porsi makanan yang lebih kecil dan rendah karbohidrat.

Pemantauan di Rumah

  • Jika memungkinkan, belilah alat pengukur tekanan darah dan pelajarilah  cara menggunakannya. Ini akan membantu agar bisa melakukan pengukuran tekanan darah secara mandiri dirumah.
  • Sehingga bisa mengetahui kapan harus mencoba menaikkan tekanan darah atau kapan harus mencari bantuan tenaga kesehatan.

Farmakologi

  • Beberapa jenis obat yang sering digunakan untuk mengobati hipotensi antara lain fludrocortisone dan midodrine.
  • Fludrocortisone bekerja dengan meningkatkan kadar natrium  dan volume darah dalam tubuh. Sedangkan Midodrine bekerja dengan mengencangkan pembuluh darah yang akan berefek  meningkatkan tekanan darah.
  • Midodrine biasanya hanya digunakan pada pasien yang memiliki tekanan darah rendah ortostatik kronis.
  • Jika mengalami hipotensi parah yang terkait dengan syok, obat-obatan seperti epinefrin dan norepinefrin  dapat diberikan secara intravena.

Asuhan Keperawatan

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Sdki Slki Siki

1. Penurunan Curah jantung (D.0008)

Luaran: Curah jantung meningkat (L.0200)

  • Kekuatan nadi perifer meningkat
  • Cardiac index (CI), Left ventrikular stroke work indekx(LVSWI), stroke volume indekx (SVI meningkat)
  • Gambaran ecg aritmia, sianosis, palpitasi, lelah, edema, distensi vena jugularis, dispnea, bradikardi, takikardia, batuk, paroxysmal nocturnal menurun.
  • Tekanan darah,capillary refill time (CRT),central venous pressure (CVP)membaik.
Intervensi Keperawatan: Perawatan jantung
  • Identifikasi tanda/gejala primer Penurunan curah jantung (meliputi dispenea, kelelahan, adema ortopnea paroxysmal nocturnal dyspenea, peningkatan CPV)
  • Identifikasi tanda /gejala sekunder penurunan curah jantung (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali ditensi vena jugularis, palpitasi, ronkhi basah, oliguria, batuk, kulit pucat)
  • Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik, jika perlu)
  • Monitor intake dan output cairan
  • Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama
  • Monitor saturasi oksigen
  • Monitor keluhan nyeri dada (mis. Intensitas, lokasi, radiasi, durasi, presivitasi yang mengurangi nyeri)
  • Monitor EKG 12 sadapoan
  • Monitor aritmia (kelainan irama dan frekwensi)
  • Monitor nilai laboratorium jantung (mis. Elektrolit, enzim jantung, BNP, Ntpro-BNP)
  • Monitor fungsi alat pacu jantung
  • Periksa tekanan darah dan frekwensi nadisebelum dan sesudah aktifitas
  • Periksa tekanan darah dan frekwensi nadi sebelum pemberian obat (mis. Betablocker, ACEinhibitor, calcium channel blocker, digoksin)
  • Posisikan pasien semi-fowler atau fowler dengan kaki kebawah atau posisi nyaman
  • Berikan diet jantung yang sesuai (mis. Batasi asupan kafein, natrium, kolestrol, dan makanan tinggi lemak)
  • Gunakan stocking elastis atau pneumatik intermiten, sesuai indikasi
  • Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi hidup sehat
  • Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres, jika perlu
  • Berikan dukungan emosional dan spiritual
  • Berikan oksigen untuk memepertahankan saturasi oksigen >94%
  • Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi
  • Anjurkan beraktivitas fisik secara bertahap
  • Anjurkan berhenti merokok
  • Ajarkan pasien dan keluarga mengukur berat badan harian
  • Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output cairan harian
  • Kolaborasi pemberian antiaritmia, jika perlu
  • Rujuk ke program rehabilitasi jantung

2. Hipovolemia (D.0023)

Luaran: Status Cairan Membaik (L.03028)
  • Kekuatan nadi, turgor kulit, output urine, dan pengisian vena meningkat
  • Ortopnea, dispnea, dan paroxymal nocturnal dyspnea (PND) menurun
  • Perasaan lemah, keluhan haus, dan konsentrasi urin menurun
  • Frekwensi nadi, tekanan darah, dan tekanan nadi membaik
  • Membran mukosa, kadar Hb, dan kadar Ht membaik
  • Intake cairan, status mental, dan suhu tubuh membaik
Intervensi Keperawatan:

a. Manajemen Hipovolemia (I.03116)

  • Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit,turgor kulit menurun, membrane mukosa kering, volume urine menurun, hematokrit meningkat, haus dan lemah)
  • Monitor intake dan output cairan
  • Hitung kebutuhan cairan
  • Berikan posisi modified trendelenburg
  • Berikan asupan cairan oral
  • Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
  • Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak
  • Kolaborasi pemberian cairan IV issotonis (mis. cairan NaCl, RL)
  • Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (mis. glukosa 2,5%, NaCl 0,4%)
  • Kolaborasi pemberian cairan koloid (mis. albumin, plasmanate)
  • Kolaborasi pemberian produk darah
b. Pemantauan Cairan (.03121)
  • Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
  • Monitor frekuensi nafas
  • Monitor tekanan darah
  • Monitor berat badan
  • Monitor waktu pengisian kapiler
  • Monitor elastisitas atau turgor kulit
  • Monitor jumlah, waktu dan berat jenis urine
  • Monitor kadar albumin dan protein total
  • Monitor hasil pemeriksaan serum (mis. Osmolaritas serum, hematocrit, natrium, kalium, BUN)
  • Identifikasi tanda-tanda hipovolemia (mis. Frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membrane mukosa kering, volume urine menurun, hematocrit meningkat, haus, lemah, konsentrasi urine meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkat)
  • Identifikasi tanda-tanda hypervolemia mis. Dyspnea, edema perifer, edema anasarka, JVP meningkat, CVP meningkat, refleks hepatojogular positif, berat badan menurun dalam waktu singkat)
  • Identifikasi factor resiko ketidakseimbangan cairan (mis. Prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan pankreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)
  • Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
  • Dokumentasi hasil pemantauan
  • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
  • Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

3. Resiko Jatuh (D.0143)

Luaran: Tingkat jatuh menurun (L.14138)
  • Jatuh saat berdiri menurun
  • Jatuh saat duduk menurun
  • Jatuh saat berjalan menurun
  • Jatuh saat dipindahkan menurun
  • Jatuh saat dikamar mandi menurun
  • Jatuh saat membungkuk menurun
Intervensi Keperawatan: Pencegahan Jatuh (I.14540)
  • Identifikasi faktor resiko jatuh
  • Identifikasi resiko jatuh setidaknya sekali setiap shift atau sesuai dengan kebijakan institusi
  • Identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan resiko jatuh (misalnya lantai licin, penerangan kurang)
  • Hitung risiko jatuh dengan menggunakan skala (Misalnya Fall Morse Scale, Humpty Dumpty Scale) Jika perlu
  • Monitor kemampuan berpindah dari tempat tidur kek kursi roda dan sebaliknya
  • Orientasikan ruangan pada psien dan keluarga
  • Pastikan roda tempat tidur dan kursi roda selalu dalam keadaan terkunci
  • Pasang Handrail tempat tidur
  • Tempatkan pasien beresiko tinggi dekat dengan pantauan perawat atau nuurse station
  • Atur tempat tidur mekanis pada posisi terendah
  • Gunakan alat bantu berjalan
  • Dekatkan bel pemanggil dalam jangkauan pasien
  • Anjurkan memanggil perawat jika membutuhkan bantuan untuk berpindah
  • Anjurkan menggunakan alas kaki yang tidak licin
  • Anjurkan berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan tubuh
  • Anjurkan melebarkan kaki untuk meningkatkan keseimbangan saat berdiri

4. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)

Luaran: Perfusi Perifer Meningkat (L.02011)
  • Denyut nadi perifer meningkat
  • Sensasi meningkat
  • Kelemahan otot menurun
  • Pengisian kapiler membaik
  • Akral membaik
  • Turgor kulit Membaik
  • Tekanan darah dan tekanan arteri rata-rata membaik
  • Indeks Ankle-brachial membaik

Intervensi Keperawatan: Perawatan Sirkulasi (I.02079)

  • Periksa sirkulasi perifer seperti Nadi perifer, pengisian kalpiler, warna, suhu, dan angkle brachial index.
  • Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi
  • Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas
  • Lakukan hidrasi
  • Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan
Referensi
  1. Levi D.Procter. 2020. Low Blood Pressure (Hypotension). Virginia Commonwealth University. MSD Manual
  2. Sharma S, Hashmi MF, Bhattacharya PT.2021.  Hypotension. Treasure Island (FL). StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499961/
  3. Craig O Weber. 2021. Causes and Risk Factor of Low Blood Pressure. Verywell Health.
  4. NHS UK. 2020. Low Blood Pressure (Hypotension). https://www.nhs.uk/conditions/low-blood-pressure-hypotension/
  5. Tolu Ajiboye. 2021. How Low Blood Pressure Is Treated. Verrywell Health.
  6. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  8. PPNI, 2019.  Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Ns. Zul Hendry, M.Kep
Ns. Zul Hendry, M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram