Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Konsep Dasar Infeksi Dari Definisi sampai Pengendalian

Menurut potter dan Perry, Infeksi adalah proses invasi oleh mikroorganisme dan berploriferasi didalam tubuh manusia yang meneybabkan kondisi sakit.

Menutut linda Tietjen, Infeksi adalah peristiwa masuk dan penggandaan mikroorganisme di dalam tubuh penjamu.

Menurut utama, Infeksi adalah suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat dirumah sakit dan mulai menunjukan suatu gejala selama seseorang tersebut dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial.

Menurut kozier, infeksi adalah invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berpoliferasi dalam jaringan tubuh.

Dari berbagai definisi tentang infeksi diatas dapat disimpulkan bahwa infeksi adalah peristiwa masuknya mikroorganisme kedalam tubuh penjamu yang dpat menyebabkan sakit, patogen mengganggu fungsi normal tubuh dan dapat berakibat luka kronis, gangren, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. 

Tanda – tanda Infeksi

Tanda infeksi lokal meliputi:

a. Kemerahan (rubor)

Pada daerah yang mengalami infeksi akan terlihat kemerahan (rubor)

b. Panas (Kalor)

Panas atau kalor hanya terjadi pada permukaan tubuh

c. Nyeri Atau Sakit (Dolor)

Terjadi rangsangan pada ujung syaraf akibat perubahan PH Lokal atau konsentrasi ion-ion tertentu

d. Pembengkakan (Tumor)

Terjadi karena adanya pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan interstisial

e. Perubahan fungsi atau keterbatasan Anggota Gerak (Fungsio Laesa)

Tanda-tanda infeksi sistemik meliputi:
  • Demam
  • Malaise
  • Anoreksia
  • Mual dan Muntah
  • Sakit Kepala
  • Diare

Rantai Proses Infeksi

1. Agen Infeksius (Mikroorganisme)

Kemampuan Mikroorganisme untuk menimbulkan infeksi tergantung anatara lain pada jumlah mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh. Potensi mikroorganisme tersebut menyebabkan penyakit atau patogenisitas, kemampuan mikroorganisme masuk kedalam hospes, kerentanan hospes dan kemampuan mikroorganisme untuk hidup didalam tubuh hospes.

2. Sumber Infeksi (Reservoir)

Reservoir merupakan habitat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme yang antara lain dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan setempat.

3. Pintu keluar (Portal Of Exit)

  • Saluran pernafasan, yaitu hidung atau mulut (pada saat bersin, batuk, bernafas, atau bicara).
  • Saluran pencernaan, yaitu mulut (melalui saliiva atau muntahan) dan anus (melalui feses).
  • Saluran perkemihan misalnya melalui meatus uretra
  • Saluran Reproduksi, seperti meatus uretra (melalui semen atau urin)
  • Darah dan luka terbuka, area tusukan jarum dan setiap kerusakan pada permukaan kulit yang utuh atau membran mukosa

4. Metode Penyebaran

a. Penyebaran Langsung

Pada penyebaran secara langsung, mikroorganisme berpindah dari satu individu ke individu lain.

b. Penyebaran tak langsung

Penyebaran melalui media. Media yang dapat dijadikan sarana atau perantara masuknya mikroorganisme ke dalam hospes yang rentan antara lain makanan, minuman, pakaian, peralatan makan dan minum, peralatan masak serta peralatan bedah.

Penyebaran melalui vektor. Vektor adalah makhluk hidup misalnya serangga dan mamalia yang dapat berperan sebagai perantara penyebaran mikroorganisme. Contohnya: penyebaran penyakit malaria oleh plasmodium melalui gigitan nyamuk anopheles.

c. Penyebaran melalui Udara

Penyebaran melalui udara ini umumnya dapat ditemukan pada penyebaran penyakit yang mengenai sistem pernafasan, misalnya penyakit influenza.

5. Pintu Masuk

Pintu masuk merupakan tempat masuknya mikroorganisme kedalam tubuh hospes. Umumnya, mikroorganisme masuk kedalam tubuh hospes melaui jalur sang sama seperti reservoir, misalnya saluran pernafasan, pencernaan, reproduksi, dan lain lain.

6. Hospes Yang Rentan

Hospes adalah individu tempat mikroorganisme berkembang. Individu yang rentan beresiko mengalami infeksi.

Proses Infeksi

Infeksi terbagi 2 (dua), yaitu bisa bersifat lokal atau setempat dan bisa bersifat sistemik atau mengenai seluruh tubuh dan dapat menjadi fatal. Proses infeksi dapat dibagi menjadi empat tahap yaitu sebagai berikut:

1. Tahap Inkubasi

Merupakan periode sejak masuknya mikroorganisme patogen kedalam tubuh hingga munculnya gejala. Waktu yang dibutuhkan pada fase ini berbeda-beda.

2. Tahap Prodormal

Merupakan periode dari munculnya gejala umum hingga munculnya gejala spesifik. Pada tahap ini individu sangat infeksius, yaitu mudah menularkan untuk menyebarkan mikroorganisme patogen kepada orang lain.

3. Tahap Sakit

Merupakan periode yang datandai dengan perkembangan gejala spesifik yang dapat menimbulkan manifestasi pada organ yang terinfeksi dan seluruh bagian tubuh.

4. Tahap Konvalensi

Merupakan periode mulai dari penurunan gejala hingga individu sehat kembali. Waktu yang dibutuhkan pada setiap individu berbeda-beda.

Mekanisme Pertahanan tubuh terhadap Infeksi

Sistem Pertahanan Tubuh Non-Spesifik

1. Barier Anatomis

Contohnya adalah kulit dan membran mukosa. Keduanya merupakan garis pertahanan pertama terhadap mikroorganisme.

2. Barier Fisiologis

Contohnya adalah sekresi normal yang bersifat asam pada kulit yang dapat mencegah perkembangan mikroorganisme lainnya.

3. Respon Inflamasi

Bersifat lokal dan dicirikan dengan lima tanda, yaitu nyeri, bengkak, kemerahan, panas, dan kerusakan fungsi pada bagian tersebut.

Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik

1. Imunitas Humoral

Imunitas diperantarai oleh antibodi yang dihasilkan oleh sel limfosit B (Sel-B). Imunitas ini dapat dibagi menjadi dua jenis yaituimunitas aktif dan imunitas pasif. 

2. Imunitas Seluler

Imunitas selular adalah imunitas yang melibatkan sel limfosit T (Sel-T). Pada saat terdapat antigen didalam tubuh manusia, jarigan limfosit melepaskan sejumlah besar sel-T teraktifasi kedalam sistem limfatik yang kemudian akan dilepaskan ke sirkulasi umum. Sel-T dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:
  • Sel-T pembantu (T Helper), berfungsi membantu dan mengendalikan komponen respon imun spesifik lainnya, fungsi utamanya adalah mengaktifkan sel-B dan Sel-T pembunuh (T-Killer).
  • Sel T pembunuh (Killer T Cell), berfungsi menyerang sel tubuh yang terinfeksi oleh patogen

Infeksi Nosokomial

Infeksi Nososkomial merupakan infeksi yang sering terjadi di rumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari fasilitas rumah sakit atau sistem pelayanan kesehatan, pasien, petugas kesehatan, pengunjung, atau sumber lain.
Sumber penyebab terjadinya infeksi nosokomial antara lain sebagai berikut:

1. Pasien

Pasien merupakan sumber pertama yang dapat menyebarkan kuman penyebab infeksi ke pasien lain, petugas kesehatan, pengunjung atau benda serta alat-alat lain yang terdapat di rumah sakit.

2. Petugas Kesehatan

Petugas kesehatan dapat terkontaminasi kuman penyebab infeksi dari salah satu pasien dan menyebarkan ke orang lain serta alat-alat rumah sakit.

3. Pengunjung

Pengunjung dapat menyebarkan kuman penyebab infeksi yang didapat dari luar rumah sakit atau sebaliknya.

4. Sumber lain

Sumber lain yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial meliputi kondisi kebersihan lingkungan rumah sakit, kebersihan dan kesterilan peralatan rumah sakit, serta kebersihan peralatan yang dibawa pasien atau pengunjung.

Standar Pengendalian Infeksi

1. Asepsis

Asepsis medis bertujuan untuk mengurangi jumlah mikroorganisme dan mencegah penyebarannya. Asepsis ini dilakukan dengan mencuci, merebus, mengisolasi, dan membersihkan peralatan dari debu. Asepsis bedah bertujuan untuk menjaga semua objek agar bebas dari mikroorganisme. Asepsis ini dilakukan dengan menerapkan teknik sterilisasi.

2. Desinfeksi

Desinfeksi adalah tindakan membunuh mikroorganisme patogen atau apatogen, tetapi tidak membunuh spora yang terdapat dalam alat-alat perawatan atau permukaan jaringan.

3. Sterilisasi

Melakukan sterilisasi perlu diperhatikan hal-hal berikut:
  • Sterilisator (alat sterilisasi) harus dalam keadaan siap pakai
  • Peralatan yang akan disterilkan harus dalam keadaan bersih dan masih berfungsi
  • Peralatan yang akan disterilkan harus dibungkus dan diberi label dengan jelas yang mencantumkan nama, jenis peralatan, jumlah dan tanggal disterilkan
  • Peralatana harus ditata dengan baik agar semua bagian alat dapat disterilkan
  • Tidak boleh menambahkan peralatan lain kedalam sterilisator sebelum waktu sterilisasi selesai
  • Peralatan yang sudah disterilkan harus dipindahkan dengan menggunakan korentang steril
  • Saat mendinginkan peralatan yang sudah disterilkan, janganlah membuka bungkusnya. Apabila bungkusnya terbuka maka alat tersebut harus disterilkan lagi.

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Konsep Dasar Infeksi Dari Definisi sampai Pengendalian"