bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Konsep Medik dan Askep Pankreatitis

Pankreatitis adalah peradangan ataun inflamasi pankreas yang muncul dalam bentuk akut dan kronis. Pankreas adalah kelenjar di belakang lambung dan dekat dengan duodenumyang berfungsi mengeluarkan cairan pencernaan, atau enzim, ke dalam duodenum.  Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan Askep Pankreatitis baik akut maupun kronis mencakup definisi sampai intervensi keperawatan yang bisa dilakukan.

Tujuan :

  • Memahami definisi, epidemiologi, penyebab serta tanda dan gejala pada pasien pankreatitis
  • Memahami pemeriksaan, komplikasi, dan penatalaksanaan pada pasien pankreatitis
  • Memahami masalah keperawatan yang sering muncul pada askep pankreatitis
  • Memahami Intervensi keperawatan pada askep pankreatitis baik akut maupun kronik
  • Melakukan evaluasi dan edukasi pasien pada askep pankreatitis baik akut maupun kronik  

Asuhan Keperawatan Pada Pankreatitis - Intervensi
Image by https://www.scientificanimations.com on wikimedia.org

Konsep Medik dan Askep pankreatitis

Pendahuluan

Pada kondisi normal, pankreas akan mensekresikan enzim pencernaan dan akan aktif saat mencapai usus kecil. Tetapi ketika pankreas meradang, enzim enzim tersebut  menyerang dan merusak jaringan yang memproduksinya.

Pankreatitis bisa bersifat akut atau kronis, dimana kondisi ini bisa menjadi  serius dan dapat menyebabkan komplikasi. Pada kasus yang parah, perdarahan, infeksi, dan kerusakan jaringan permanen dapat terjadi.

Pankreatitis akut adalah respons akut terhadap cedera pankreas, sedangkan pankreatitis kronis dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada struktur juga fungsi endokrin dan eksokrin pankreas.

Pankreatitis akut adalah peradangan pankreas yang terjadi secara tiba-tiba dan biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan pengobatan.

Pankreatitis akut dapat menjadi penyakit yang mengancam jiwa dengan komplikasi yang parah. Setiap tahun, sekitar 210.000 orang di Amerika Serikat dirawat di rumah sakit dengan pankreatitis akut.

Sedangkan pankreatitis kronis adalah peradangan pankreas yang tidak sembuh-sembuh atau membaik serta menyebabkan kerusakan permanen. Pankreatitis kronis terjadi ketika enzim pencernaan menyerang pankreas dan jaringan di sekitarnya, menyebabkan nyeri. Pankreatitis kronis sering berkembang pada orang yang berusia antara 30 dan 40 tahun.

Penyebab paling umum dari pankreatitis kronis adalah penggunaan alkohol berat selama bertahun tahun. Bentuk kronis pankreatitis dapat dipicu oleh satu serangan akut yang merusak saluran pankreas. Saluran yang rusak menyebabkan pankreas menjadi meradang, jaringan parut berkembang dan pankreas perlahan-lahan menjadi rusak.

Epidemiologi

Di seluruh dunia, insiden pankreatitis akut berkisar antara 5 dan 80 per 100.000 penduduk, dengan insiden tertinggi tercatat di Amerika Serikat dan Finlandia. Di Luneburg Jerman, insiden pankreatitis akut adalah 17,5 kasus per 100.000 orang. Di Finlandia, insidennya adalah 73,4 kasus per 100.000 orang. Tingkat kejadian serupa telah dilaporkan di Australia. Insiden penyakit di luar Amerika Utara, Eropa, dan Australia kurang diketahui.

Di Eropa dan negara maju lainnya, seperti Hong Kong, lebih banyak pasien cenderung menderita pankreatitis batu empedu, sedangkan di Amerika Serikat, pankreatitis alkoholik adalah yang paling banyak.

Usia rata-rata saat onset tergantung pada etiologi, dan jumlah rawat inap meningkat seiring bertambahnya usia.

Terakit jenis kelamin, umumnya pankreatitis akut lebih sering menyerang pria daripada wanita. Pada pria, etiologi lebih sering berhubungan dengan alkohol. Sedangkan pada wanita, lebih sering berhubungan dengan penyakit saluran empedu. Untuk pankreatitis idiopatik, sampai saat ini tidak memiliki predileksi yang jelas untuk kedua jenis kelamin.

Terkait ras, tingkat rawat inap pasien dengan pankreatitis akut per 100.000 penduduk adalah 3 kali lebih tinggi pada kulit hitam daripada kulit putih. Perbedaan ras ini lebih menonjol pada laki-laki daripada perempuan.

Risiko untuk ras Afrika Amerika berusia 35-64 tahun adalah 10 kali lebih tinggi daripada kelompok lain. Ras Afrika Amerika juga berada pada risiko yang lebih tinggi daripada kulit putih dalam kelompok usia yang sama.

Insiden tahunan pankreatitis akut pada penduduk asli Amerika adalah 4 per 100.000,  pada orang kulit putih, 5,7 per 100.000, dan pada orang kulit hitam mencapai 20,7 per 100.000 penduduk.

Pankreatitis kronis memiliki tingkat kejadian tahunan 5 sampai 12 per 100.000 orang. Prevalensi pankreatitis kronis adalah 50 per 100.000 orang. Kelompok usia yang paling umum adalah 30 hingga 40 tahun, dan lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita.

Penyebab

Dua penyebab paling umum dari pankreatitis akut adalah batu empedu sekitar 35% - 40% kasus dan penggunaan alkohol yaitu sekitar 30% kasus, namun beberapa etiologi lain juga sudah teridentifikasi.

Sedangkan sekitar 10-30% kasus penyebabnya tidak diketahui, meskipun penelitian menunjukkan bahwa sekitar 70% kasus pankreatitis idiopatik merupakan akibat sekunder dari mikrolitiasis bilier.

Beberapa hal yang juga teridentifikasi sebagai etiologi pankreatitis yaitu:

  • Autoimun
  • Hipertrigliseridemia
  • Post-endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP)
  • Faktor genetik: mutasi pada PRSS1, mutasi pada gen CFTR dan SPINK1
  • Cedera saluran pankreas
  • Obat-obatan

Obat-obatan yang terkait dengan pankreatitis akut adalah azathioprine, 6-mercaptopurine, didanosine, asam valproat, ACE Inhibitor, dan mesalamine.

Walaupun jarang, beberapa hal lain yang bisa menjadi penyebab yaitu mikrolitiasis, obstruksi bilier, hiperkalsemia, infeksi gondong, coxsackievirus, hepatitis B, cytomegalovirus, racun tertentu, iskemia pankreas yang disebabkan penyakit vaskular, kelainan anatomi seperti kista choledochal, dan penyebab idiopatik.

American College of Gastroenterology merekomendasikan pemeriksaan kadar trigliserida pada pasien yang tidak memiliki bukti batu empedu dan tidak memiliki riwayat penggunaan alkohol yang signifikan. Kadar trigliserida harus dipertimbangkan sebagai penyebab jika lebih besar dari 1000 mg/dl.

Untuk pasien dengan usia lebih dari 40 tahun, pertimbangan kemungkinan adanya  tumor pankreas sebagai penyebab pankreatitis. Selain itu, pemeriksaan genetik dapat dipertimbangkan untuk pasien yang berusia kurang dari 30 tahun jika mereka memiliki riwayat keluarga dengan gangguan pankreas dan tidak ada penyebab pankreatitis lainnya yang teridentifikasi.

Penyebab paling umum dari pankreatitis kronis adalah penyalahgunaan Alkohol. Kebiasaan merokok juga merupakan faktor risiko yang penting.

Beberapa penyebab pankreatitis kronis yang lain meliputi pankreatitis tropis, pankreatitis idiopatik, obstruksi duktusakibat pankreas divisum, pseudokista, batu, tumor, dan trauma, mutasi pada gen cystic fibrosis, pankreatitis herediter dan penyakit sistemik seperti lupus eritematosus sistemik (SLE).

Patofisiologi

Patogenesis pankreatitis akut dapat terjadi melalui mekanisme saluran pankreas dan cedera. Pada pankreatitis akut, enzim pencernaan di dalam pankreas tidak disekresikan dengan benar, dan ini menyebabkan autofagi dan peradangan pankreas.

Alkohol dapat menyebabkan pankreatitis akut melalui toksisitas langsung dan proses imunologis. Batu empedu dapat menyebabkan obstruksi sementara saluran pankreas, dan ini juga diyakini sebagai mekanisme pankreatitis yang diinduksi ERCP.

Pankreatitis kronis dapat terjadi dengan serangan akut berulang yang menyebabkan infiltrat inflamasi dan fibrosis di dalam pankreas. Seiring waktu, hal ini akan menyebabkan insufisiensi pankreas.

Karakterisasi histopatologi pankreatitis akut tergantung pada tingkat keparahan penyakit, khususnya ada atau tidaknya nekrosis.

kondisi ini dapat diklasifikasikan sebagai:

  • Pankreatitis interstisial atau edematous
  • Pankreatitis hemoragik-nekrotikans

Pada pankreatitis akut pankreas dapat mengalami edema, nekrotik dan dikelilingi oleh lemak. Pada pankreatitis akut, nekrosis lemak terjadi minimal. Sedangkan pada pankreatitis kronis, terjadi nekrosis lemak dan hal ini terkait dengan kerusakan parenkim dan perdarahan fokal.

Pankreatitis kronis ditandai dengan infiltrat mononuklear dan fibrosis.

Tanda dan gejala

Gejala utama pankreatitis akut adalah nyeri perut yang bersifat tumpul dan menetap. Biasanya rasa nyeri tiba-tiba muncul dan secara bertahap meningkat sampai mencapai rasa sakit yang konstan. Lokasi nyeri paling sering di area perut bagian atas yaitu di daerah epigastrium, dan menyebar langsung melalui perut ke belakang di sekitar setengah kasus.

Keluhan lainnya yang sering muncul adalah mual muntah, anoreksia dan diare. Keluhan nyeri dan ketidaknyamanan pasien sering membaik dengan posisi duduk dan membungkuk ke depan. Namun, perbaikan ini biasanya bersifat sementara, durasi nyeri bervariasi tetapi biasanya berlangsung lebih dari satu hari.

Tanyakan kepada pasien tentang riwayat operasi atau prosedur invasif lainnya seperti  endoskopik retrograde cholangiopancreatography (ERCP), Juga riwayat keluarga dengan hipertrigliseridemia.

Pemeriksaan fisik, beberapa tanda yang sering ditemukan sesuai tingkat keparahan penyakit antara lain:

  • Takikardia
  • Nyeri peru
  • Distensi
  • Penurunan bising usus
  • Ikterik

Beberapa pasien mengalami dispnea yang mungkin disebabkan oleh iritasi diafragma akibat peradangan

Efusi pleura atau kondisi yang lebih serius, seperti sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS)

Dalam kasus yang parah bisa terjadi  ketidakstabilan hemodinamik dan hematemesis melena . Selain itu, pasien dengan pankreatitis akut berat sering pucat, mengeluarkan keringat, dan lesu

Kadang-kadang, kejang otot dapat terjadi sebagai dampak sekunder dari hipokalsemia

Beberapa temuan fisik yang tidak umum dikaitkan dengan pankreatitis nekrotikans berat yaitu:

  • Tanda Cullen:  perubahan warna kebiruan di sekitar umbilikus akibat hemoperitoneum
  • Tanda Grey-Turner, yaitu  perubahan warna coklat kemerahan di sepanjang panggul akibat pembedahan daerah retroperitoneal. Pasien mungkin memiliki eritema kemerahan di panggul akibat eksudat pankreas ekstravasasi
  • Nodul kulit eritematosa,  dapat terjadi akibat nekrosis lemak subkutan, biasanya tidak lebih dari 1 cm dan terletak di permukaan kulit ekstensor.Selain itu, poliartritis kadang-kadang juga muncul.
  • Sedangkan pada Pankreatitis kronis keluhan yang sering muncul adalah nyeri perut, mual, dan muntah..

Pemeriksaan  diagnostik

  • Kenaikan kadar amilase serum secara dramatis—banyak pasien mengalami kenaikan lebih dari 500 unit/L—memastikan pankreatitis; kadar amilase kembali normal dalam 48 sampai 72 jam setelah serangan pankreatitis. Kenaikan kadar amilase serum secara persisten bisa mengindikasikan nekrosis pankreatik, pseudokista, atau abses.
  • Kenaikan kadar amilase secara dramatis juga bisa ditemukan dalam urin, asites, atau cairan pleural.
  • Adanya kenaikan kadar lipase serum yang lebih lambat daripada kadar amilase.
  • Studi laboratoris suportif meliputi peningkatan jumlah sel darah putih dan kadar bilirubin serum.
  • Uji glukosa darah dan urin bisa memperlihatkan glukosuria dan hiperglikemia selintas.
  • Computed tomograpby scan abdomen yang disertai kontras merupakan uji paling sensitif dan non-invasif yang digunakan untuk memastikan diagnosis pankreatitis.
  • Ultrasound abdomen dan magnetic resonance imaging abdomen bisa menunjukkan inflamasi pankreatik.
  • Sinar-X dada dan abdomen membedakan pankreatitis dengan penyakit lain yang menimbulkan gejala yang hampir sama dan mendeteksi efusi pleural.
  • Angiopankreatografi retrograd endoskopik menunjukkan anatomi pankreas, dan digunakan untuk membedakan pankreatitis dengan gangguan lain, misalnya kanker pankreatik.

Penatalaksanaan

  • Penanganan darurat pada syok (yang merupakan penyebab kematian paling umum dalam pankreatitis stadium-awal) terdiri dari penggantian elektrolit dan protein I.V. secara saksama. Asidosis metabolik yang muncul mengikuti hipovolemia dan kerusakan perfusi selular membutuhkan penggantian volume cairan secara saksama.
  • Pipa nasogastrik dimasukkan untuk mengatasi distensi abdominal.
  • Antikolinergis bisa diberikan untuk mengurangi stimulasi vagal, menurunkan motilitas GI, dan menghambat sekresi enzim pankreatik.
  • Meperidine (Demerol) bisa diberikan untuk meringankan nyeri abdominal. (Obat ini menyebabkan spasma di ampula Vater yang lebih ringan daripada yang disebabkan oteh opiate, misalnya morfin.)
  • Diazepam bisa diberikan untuk mengatasi resah dan agitasi.
  • Antibiotik diberikan untuk menangani infeksi bakteri.
  • Antagonis histamin, misalnya cimetidine (Tagamet) atau ranitidine (Zantac), diberikan untuk mengurangi produksi asam hidroklorik.
  • Hipokalemia, hipokalsemia, hemoragi, dan kuagulopati ditangani dengan produk penggantian yang sesuai, misalnya kalium klorida, kalsium glukonat atau klorida I.V., sel darah merah, dan plasma beku segar.
  • Hiperglikemia dan glikosuria ditangani dengan titrasi glukosa dan insulin secara saksama.
  • Penanganan pada kondisi penyebab bisa mencegah serangan rekuren.
  • Nantinya, jika pasien tidak bisa melanjutkan makan secara oral, ia bisa membutuhkan nutrisi parenteral total atau makan secara enteral dan non-stimulatif.
  • Pankreatitis nekrotik membutuhkan debridement (pengelupasan jaringan) (biasanya dalam interval 24 sampai 48 jam) jaringan yang tidak hidup lagi dan drainase eksternal.

Asuhan Keperawatan

Intervensi Keperawatan

  • Pankreatitis merupakan keadaan darurat yang membahayakan jiwa. Lakukan perawatan suportif, dan teruslah memantau pasien.
  • Pantau tanda vital pasien dan tekanan arteri pulmoner secara saksama.
  • Pantau asupan cairan dan output dan kadar elektrolit pasien.
  • Kaji adakah dedas, ronki, bunyi napas melemah, atau gagal respiratorik pada pasien.
  • Lihat adakah tanda defisiensi kalsium, misalnya tetani, spasma karpopedal, kram, dan sawan.
  • Kadar kalsium serum turun jika pasien mengalami pankreatitis akut, yang bisa disebabkan oleh nekrosis lemak, yang mengakibatkan pengikatan kalsium dengan asam lemak bebas. Kekejangan otot, gemetar, dan iritabilitas merupakan tanda kadar kalsium turun.
  • Beri analgesik seperlunya untuk meringankan nyeri dan keresahan pasien.
  • Lihat adakah reaksi merugikan terhadap antibiotik: nefrotoksisitas jika pasien diberi aminoglikosida, enterokolitis pseudomembranosa jika pasien diberi clindamycin, dan diskrasia darah jika pasien diberi chloramphenicol.
  • Pantau adakah komplikasi akibat nutrisi parenteral total, misalnya sepsis, hipokalemia, overhidrasi, dan asidosis metabolik.
  • Lihat adakah tanda sepsis, misalnya demam, ketidakteraturan kardiak, perubahan dalam ukuran gas darah arterial, dan respirasi dalam.

Referensi:

  1. Mohyuddin N, Morrissey S. 2021. Pancreatitis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538337/
  2. Shelton C, LaRusch J, Whitcomb DC. 2020. Pancreatitis Overview. In: Adam MP, Ardinger HH, Pagon RA, et al., editors. GeneReviews®  Seattle (WA): University of Washington, Seattle; 1993-2022. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK190101/
  3. Erica Roth. 2019. Everything You Need To Know about Pancreatitis. Health Line. https://www.healthline.com/health/pancreatitis
  4. Jeffrey C F Tang MD. 2021. Acute Pancreatitis. Med Scape. Emedicine. https://emedicine.medscape.com/article/181364-overview
  5. Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis. 2011. Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks