Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Campak Pendekatan Sdki Slki Siki

Campak atau rubeola adalah infeksi virus yang sangat menular yang paling sering menyerang anak-anak namun bisa juga semua umur dan dapat membawa serta risiko kematian dan kesakitan yang signifikan. Pada tulisan ini Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan askep campak atau rubeola mulai gambaran umum sampai intervensi keperawatan menggunakan pendekatan sdki slki siki.

Tujuan:

  • Memahami gambaran umum, epidemiologi, penyebab, patofisiologi, serta tanda dan gejala campak atau rubeola
  • Memahami pemeriksaan, penatalaksanaan, dan pencegahan campak atau rubeola
  • Merumuskan diagnosa keperawatan yang sering muncul pada askep campak menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan luaran dan kriteria hasil pada askep campak menggunkan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep campak menggunakan pendekatan Siki
  • Melakukan edukasi pasien pada askep campak dan perencanaan pasien pulang
Askep Campak Sdki Slki Siki
Image by Dave Haygarth on Flickr

Konsep Medik dan Askep Campak atau Rubeola

Pendahuluan

Campak atau rubeola adalah salah satu penyakit yang sangat menular, dengan setidaknya 90% tingkat infeksi sekunder dan dapat mempengaruhi orang-orang dari segala usia, meskipun paling sering terjadi pada anak-anak.

Campak ditandai dengan demam prodromal, batuk, konjungtivitis, dan enanthem patognomonik atau bintik koplik, diikuti oleh ruam makulopapular eritematosa pada hari ketiga hingga ketujuh.

Adanya imunosupresi yang  sering mengikuti campak akut meningkatkan resiko pasien untuk mengalami  otitis media bakteri dan bronkopneumonia. Pada sekitar 0,1% kasus, campak bisa menyebabkan ensefalitis akut. Selain itu, sebuah penyakit degeneratif kronis langka yang disebut subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) bisa terjadi beberapa tahun setelah infeksi campak.

Setelah vaksin campak diperkenalkan pada tahun 1963, kejadian campak menurun secara signifikan. Namun, campak tetap menjadi penyakit umum di wilayah tertentu dan menyebabkan hampir 50% dari 1,6 juta kematian pertahun yang disebabkan oleh penyakit anak yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Insiden campak  di seluruh dunia meningkat, dengan wabah yang dilaporkan terutama pada populasi dengan tingkat vaksinasi yang rendah.

Dosis tunggal vaksin campak yang diberikan kepada anak di atas 12 bulan akan menginduksi kekebalan protektif pada 95% penerima. Karena virus campak sangat menular, populasi rentan 5% cukup untuk mempertahankan wabah berkala pada populasi yang sudah divaksinasi.

Dosis vaksin kedua, sekarang direkomendasikan untuk semua anak usia sekolah khususnya di Amerika Serikat untuk menginduksi kekebalan pada 95% dari populasi yang tidak menanggapi dosis pertama.

Mengingat penularan endemik campak dapat terjadi kembali jika kekebalan campak turun menjadi kurang dari 93-95%, upaya untuk memastikan tingkat imunisasi harus dipertahankan.

Epidemiologi

Di negara berkembang, campak menyerang 30 juta anak setiap tahun dan menyebabkan 1 juta kematian. Selain itu, campak menyebabkan 15.000-60.000 kasus kebutaan per tahun.

Pada tahun 1998, kasus campak per 100.000 total penduduk yang dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 1.6 di Amerika, 8.2 di Eropa, 11.1 di kawasan Mediterania Timur, 4.2 di Asia Tenggara, 5.0 di kawasan Pasifik Barat, dan 61,7 di Afrika. Pada tahun 2006, hanya 187 kasus yang dikonfirmasi dilaporkan di Belahan Barat terutama di Venezuela, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Antara tahun 2000 dan 2008, jumlah kasus campak di seluruh dunia yang dilaporkan ke WHO dan UNICEF menurun sebesar 67%  dari 852.937 menjadi 278.358. Selama periode 8 tahun yang sama, kematian campak global turun 78%.

Sejak tahun 2008 perancis mengalami wabah campak dan selama periode yang sama, wabah juga telah terjadi di 46 negara di Wilayah Afrika. Di seluruh dunia, kasus campak yang paling banyak dilaporkan berasal dari Afrika.

Meskipun campak secara historis merupakan penyakit masa kanak-kanak, infeksi dapat terjadi pada individu yang tidak divaksinasi atau divaksinasi sebagian dari segala usia atau pada mereka yang kekebalannya terganggu.

Anak-anak kecil yang tidak divaksinasi berada pada risiko tertinggi. Tingkat serangan spesifik usia mungkin tertinggi pada bayi di bawah 12 bulan, anak usia sekolah, atau dewasa muda tergantung pada kondisi imunisasi l dan kejadian penyakit. Komplikasi seperti otitis media, bronkopneumonia, laringotrakeobronkitis  dan diare lebih sering terjadi pada anak kecil.

Dari 66 kasus campak yang dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun 2005, 10,6% terjadi pada bayi, 6,1%  pada anak-anak berusia 1-4 tahun, 50% pada usia  5-19 tahun, 10,6%  pada orang dewasa berusia 20-34 tahun, dan 22,7%  pada usia lebih dari 35 tahun.

Di negara-negara berpenduduk padat dan terbelakang, campak paling sering terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun.

Terkait jenis kelamin, Laki-laki dan perempuan yang tidak divaksinasi sama-sama rentan terhadap infeksi virus campak. Kelebihan kematian setelah campak akut telah diamati di antara perempuan di segala usia, tetapi paling  tampak pada remaja dan dewasa muda.

Sedangkan terkait dengan res, tidak terdapat perbedaan yang signifikan dimana campak mempengaruhi setiap orang dari semua jenis ras.

Penyebab

Campak adalah virus dengan RNA polaritas negatif yang tidak tersegmentasi, anggota dari famili Paramyxoviridae, dan genus morbillivirus. Virus ini Ini berisi sekitar 15.894 nukleotida, mengkodekan delapan protein virus dalam enam gen yaitu nukleoprotein (H), fosfoprotein (P), matriks (M), protein fusi (F), hemagglutinin (H), dan polimerase (L)] serta memiliki RNA polimerase terikat RNA.

Glikoprotein HN memiliki aktivitas neuraminidase dan hemaglutinasi di berbagai tempat pada molekul yang sama, yang menjelaskan absorpsi dan lisis reseptor inang.

Glikoprotein fusi bertanggung jawab untuk penetrasi virus ke dalam sel inang, karena merangsang fusi membran virus dan seluler. Matriks membentuk dasar dari lapisan lipid. Gen P mengkode mRNA untuk protein C dan V, dan protein ini terlibat dalam regulasi respon imun sel inang.

Faktor risiko infeksi virus campak meliputi:

  • Anak-anak dengan imunodefisiensi karena HIV AIDS, leukemia, agen alkilasi, atau terapi kortikosteroid, terlepas dari status imunisasi
  • Bepergian ke daerah endemik campak atau kontak dengan pelancong ke daerah endemis
  • Bayi yang kehilangan antibodi pasif sebelum usia imunisasi rutin

Faktor risiko campak parah dan komplikasinya adalah sebagai berikut:

  • Malnutrisi
  • Defisiensi imun
  • Kehamilan
  • Kekurangan vitamin A

Patofisiologi

Virus yang terhirup dari droplet saat terpapar awalnya akan menginfeksi limfosit saluran pernapasan, sel dendritik,dan makrofag alveolar. Kemudian menyebar ke jaringan limfoid yang berdekatan lalu menyebar ke seluruh aliran darah yang mengakibatkan viremia dimana selanjutnya menyebar ke organ yang lebih jauh.

Virus yang berada di sel dendritik dan limfosit mentransfer dirinya ke sel epitel saluran pernapasan dan dikeluarkan sebagai droplet selama batuk dan bersin, menginfeksi orang lain dan melanjutkan siklus.

Peradangan awal menyebabkan konjungtivitis, hidung berair dan batuk atau 3 C (cough, coryza, conjunctivitis) . Munculnya demam bertepatan dengan perkembangan viremia. Ruam kulit terjadi setelah penyebaran dan disebabkan oleh infiltrat perivaskular dan limfosit.

Selama fase prodromal, virus campak menekan imunitas pejamu dengan menekan produksi interferon melalui protein nonstrukturalnya yaitu  V dan C. Replikasi virus yang meningkat kemudian memicu respons imunologis humoral dan seluler.

Respon humoral awal terdiri dari produksi antibodi IgM, yang dapat dideteksi 3 hingga 4 hari setelah ruam muncul dan dapat bertahan selama 6 hingga 8 minggu. Selanjutnya, antibodi IgG diproduksi, terutama melawan nukleoprotein virus.

Respon imun seluler sangat penting untuk pemulihan seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan kadar interferon-gamma plasma yang bergantung pada Th1 selama fase akut, dan peningkatan selanjutnya dari kadar interleukin 4, interleukin 10, dan interleukin 13.

Biopsi kelenjar getah bening akan menunjukkan karakteristik sel raksasa Warthin-Finkeldey atau limfosit yang menyatu dengan latar belakang hiperplasia parakortikal.

Virus campak diketahui menginduksi imunosupresi yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Hal ini menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi bakteri sekunder dan lainnya.

Mekanisme yang menyebabkan fenomena ini tidak jelas, dihipotesiskan bahwa infeksi campak menginduksi proliferasi limfosit spesifik campak yang menggantikan sel memori yang telah terbentuk sebelumnya yang menyebabkan "amnesia imun".Hal ini menyebabkan peningkatan kerentanan pejamu terhadap infeksi sekunder, yang menyebabkan sebagian besar morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan campak.

Tanda dan Gejala

Dari mulai terinfeksi,  masa inkubasi dari paparan hingga timbulnya gejala campak berkisar antara 7 sampai 14 hari dengan rata-rata 10-12 hari. Pasien menular dari 1-2 hari sebelum timbulnya gejala.

Pada anak-anak juga menular selama periode 3-5 hari sebelum munculnya ruam sampai 4 hari setelah timbulnya ruam. Sedangkan individu dengan immunocompromised dapat menular selama durasi penyakit.

Tanda pertama campak biasanya demam tinggi mencapai 40o C yang biasanya berlangsung 4-7 hari. Fase prodromal ini ditandai dengan malaise, demam, anoreksia, dan trias klasik yaitu Conjungtivitis Cough atau batuk, dan coryza (3C). Gejala terkait lainnya yang mungkin muncul adalah  fotofobia, edema periorbital, dan mialgia.

Enanthem umumnya muncul 2-4 hari setelah timbulnya prodromal dan berlangsung 3-5 hari. Bintik-bintik kecil atau Koplik spot dapat terlihat pada pipi selama tahap awal ini.

Eksantema biasanya muncul 1-2 hari setelah munculnya bintik Koplik dan bisa disertai dengan pruritus ringan. Rata-rata ruam berkembang sekitar 14 hari setelah terpapar, mulai dari wajah dan leher bagian atas dan menyebar ke ekstremitas. Namun pada pasien dengan immunocompromised mungkin tidak mengalami ruam.

Seluruh perjalanan campak tanpa komplikasi, dari prodromal lanjut hingga resolusi demam dan ruam adalah 7-10 hari. Batuk mungkin merupakan gejala terakhir yang muncul.

Pada campak atipikal dengan onset akut, bisa muncul demam tinggi, sakit kepala, sakit perut, dan mialgia. Ruam mungkin minimal pada anak-anak dengan campak namun pernah menerima vaksin. Selain itu, mereka mungkin tidak mengalami satu atau lebih trias klasik  yaitu  batuk, coryza, atau konjungtivitis. Manifestasi klinis campak yang  bisa muncul namun tidak umum antara lain pneumonia, otitis media, miokarditis, perikarditis, dan ensefalitis.

Pemeriksaan Diagnostik

Diagnosis campak didasarkan pada tiga komponen, yaitu  manifestasi klinis, epidemiologi, dan pemeriksaan laboratorium,  bergantung pada kecurigaan klinis yang tinggi, terutama ketika mengevaluasi anak-anak dengan penyakit demam dan ruam makulopapular.

Hitung darah lengkap dapat menunjukkan leukopenia, terutama limfopenia, dan trombositopenia. Kelainan elektrolit dapat dideteksi pada anak-anak dengan asupan yang buruk atau diare.

Pemeriksaan serologis dengan pengukuran imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM) spesifik, teknik biologi molekuler dengan aplikasi PCR, dan isolasi virus untuk konfirmasi diagnostik.

Antibodi IgM spesifik campak pada infeksi primer yang merupakan konfirmasi penyakit, dideteksi sejak hari ketiga ruam dan tetap positif selama 30 hingga 60 hari. Untuk evaluasi IgG biasanya didapatkan  lebih dari empat kali lipat peningkatan antibodi antara fase akut dan pemulihan penyakit.

RNA campak dapat dideteksi dengan PCR dari swab faring atau nasofaring atau sampel urin. Tes ini mengkonfirmasi penyakit dan memungkinkan genotipe agen penyebab.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan atau pengobatan campak pada dasarnya lebih keada perawatan suportif dengan pemeliharaan hidrasi yang baik dan penggantian cairan yang hilang melalui diare atau muntah. Rehidrasi intravena (IV) mungkin diperlukan jika dehidrasi parah.

Suplementasi vitamin A, terutama pada anak-anak dan pasien dengan tanda klinis defisiensi vitamin A harus dipertimbangkan. Profilaksis pasca pajanan harus dipertimbangkan pada kontak yang tidak divaksinasi, dan  pelacakan kontak yang tepat waktu harus menjadi prioritas.

Perawatan Suportif

Perawatan suportif biasanya diperlukan untuk semua pasien dengan campak . Rawat inap dapat diindikasikan untuk pengobatan komplikasi campak seperti  superinfeksi bakteri, pneumonia, dehidrasi, dan croup.

Infeksi sekunder seperti otitis media atau pneumonia bakterial harus diobati dengan antibiotik. Pasien dengan komplikasi infeksi berat misalnya ensefalomielitis harus dirawat untuk observasi dan pemberian antibiotik yang sesuai dengan kondisi klinis mereka.

Pada kondisi tertentu rehidrasi IV diperlukan seperti pasien yang mengalami demam  tinggin dan akibatnya dapat mengalami dehidrasi. Untuk penatalaksanaan demam sendiri yaitu dengan  pemberian antipiretik.

Terapi Antiviral

Virus campak rentan terhadap ribavirin in vitro. Meskipun ribavirin baik IV atau aerosol telah digunakan untuk mengobati pasien dewasa immunocompromised yang terkena dampak parah campak akut atau subakut sclerosing panencephalitis (SSPE), ribavirin tidak disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) AS, dan penggunaan tersebut dianggap masih eksperimental.

Suplementasi Vitamin A

Suplemen vitamin A telah dikaitkan dengan pengurangan morbiditas dan mortalitas campak sekitar 50% dan tampaknya membantu mencegah kerusakan mata dan kebutaan.

Karena kekurangan vitamin A dikaitkan dengan penyakit campak yang parah,  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan semua anak yang didiagnosis menderita campak harus menerima suplementasi vitamin A terlepas dari negara tempat tinggal mereka. Dosis pemberian disesuaikan dengan usia yaitu:

  • Bayi di bawah 6 bulan : 50.000 IU/hari PO untuk 2 dosis
  • Usia 6-11 bulan : 100.000 IU/hari PO untuk 2 dosis
  • Lebih dari 1 tahun : 000 IU/hari PO untuk 2 dosis
  • Anak-anak dengan tanda-tanda klinis defisiensi vitamin A : 2 dosis pertama sesuai usia, kemudian dosis spesifik ketiga diberikan 2-4 minggu kemudian.

Profilaksis pasca pajanan

Profilaksis pasca pajanan harus dipertimbangkan pada kontak yang tidak divaksinasi. Pencegahan atau modifikasi campak pada individu rentan yang terpapar melibatkan pemberian vaksin virus campak atau human immunoglobulin (Ig).

Vaksin virus campak

Di Amerika Serikat, vaksin virus campak secara rutin diberikan bersama dengan vaksin gondong dan rubella dalam bentuk vaksin MMR. Vaksin ini bersifat preventif jika diberikan dalam waktu 3 hari setelah terpapar.

Kontraindikasi vaksin antara lain imunodefisiensi, kanker seperti leukemia dan limfoma, tuberkulosis aktif yang tidak diobati,  dan terapi dengan imunosupresan. Infeksi HIV hanya merupakan kontraindikasi dengan adanya imunosupresi berat yaitu jumlah CD4 lebih rendah dari 15%.

Vaksin harus ditunda sampai setelah melahirkan pada pasien hamil dan setidaknya selama 5 bulan pada siapa saja yang telah menerima antibodi dalam plasma, darah lengkap, dan  imunoglobulin apa pun.

Imunoglobulin

Imunoglobulin manusia mencegah atau memodifikasi penyakit pada kontak yang rentan jika diberikan dalam waktu 6 hari setelah terpapar.Imunoglobulin diberikan kepada:

  • Pasien yang mengalami immunocompromised
  • Bayi berusia 6 bulan hingga 1 tahun
  • Bayi di bawah 6 bulan yang lahir dari ibu tanpa kekebalan campak
  • Wanita hamil

Pada kontak yang vaksinnya harus ditunda misalnya dan  pasien hamil. Imunoglobulin dengan dosis 0,25 mL/kg  dan tidak melebihi 15 mL, harus diberikan secara intramuskular (IM) segera setelah terpapar, dan vaksin campak harus diberikan 6 bulan kemudian . Pasien immunocompromised terpajan dengan kontraindikasi vaksinasi harus menerima Ig manusia 0,5 mL/kg dan tidak melebihi 15 mL secara  IM.

Asuhan Keperawatan (Askep Campak) Sdki Slki Siki

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan

1. Hipertemia (D.0130)

Luaran: Termoregulasi membaik (L.14134)

  • Menggigil dan kulit merah menurun
  • Kejang menurun
  • Akrosianosis, piloreksi, vasokonstriksi perifer dan pucat menurun
  • Takikardi, takipnea, dasar kuku sianotik, dan hipoksia menurun
  • Suhu tubuh dan suhu kulit membaik
  • Pengisian kapiler membaik
  • Ventilasi membaik
  • Tekanan darah membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Manajemen hipertermia (I.15506)

  • Identifkasi penyebab hipertermi (mis. dehidrasi terpapar lingkungan panas penggunaan incubator)
  • Monitor suhu tubuh
  • Monitor kadar elektrolit
  • Monitor haluaran urine
  • Sediakan lingkungan yang dingin
  • Longgarkan atau lepaskan pakaian
  • Basahi dan kipasi permukaan tubuh
  • Berikan cairan oral
  • Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hiperhidrosis (keringat berlebih)
  • Lakukan pendinginan eksternal (mis. selimut hipotermia atau kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen,aksila)
  • Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
  • Batasi oksigen, jika perlu
  • Anjurkan tirah baring
  • Kolaborasi cairan dan elektrolit intravena, jika perlu

b. Regulasi Temperatur (I.14578)

  • Monitor suhu bayi sampai stabil ( 36.5 C -37.5 C)
  • Monitor suhu tubuh anak tiap 2 jam, jika perlu
  • Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan nadi
  • Monitor warna dan suhu kulit
  • Monitor dan catat  tanda dan gejala hipotermia dan hipertermia
  • Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu
  • Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat
  • Bedong bayi segera setelah lahir, untuk mencegah kehilangan panas
  • Masukkan bayi BBLR ke dalam plastic segera setelah lahir ( mis. bahan polyethylene, poly urethane)
  • Gunakan topi bayi untuk memcegah kehilangan panas pada bayi baru lahir
  • Tempatkan bayi baru lahir di bawah radiant warmer
  • Pertahankan kelembaban incubator 50 % atau lebih untuk mengurangi kehilangan panas Karena proses evaporasi
  • Atur suhu incubator sesuai kebutuhan
  • Hangatkan terlebih dahulu bhan-bahan yang akan kontak dengan bayi (mis. seelimut,kain bedongan,stetoskop)
  • Hindari meletakkan bayi di dekat jendela terbuka atau di area aliran pendingin ruangan atau kipas angin
  • Gunakan matras penghangat, selimut hangat dan penghangat ruangan, untuk menaikkan suhu tubuh, jika perlu
  • Gunakan kasur pendingin, water circulating blanket, ice pack atau jellpad dan intravascular cooling catherization untuk menurunkan suhu
  • Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan pasien
  • Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion,heat stroke
  • Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena terpapar udara dingin
  • Demonstrasikan teknik perawatan metode kangguru (PMK) untuk bayi BBLR
  • Kolaborasi pemberian antipiretik jika perlu

2. Risiko Infeksi (D.0142)

Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)

  • Kebersihan tangan dan badan meningkat
  • Demam, kemerahan, nyeri, dan bengkak menurun
  • Periode malaise menurun
  • Periode menggigil, letargi, dan ganggauan kognitif menurun
  • Kadar sel darah putih membaik

Intervensi Keperawatan: Pencegahan Infeksi (I.14539)

  • Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
  • Batasi jumlah pengunjung
  • Berikan perawatan kulit pada daerah edema
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
  • Pertahankan teknik aseptik pada psien beresiko tinggi
  • Jelaskan tanda dan gejala infeksi
  • Ajarkan cara memeriksa luka

3. Gangguan Citra tubuh  (D.0083)

Luaran: Harapan Meningkat (L.09068)

  • Keterlibatan dalam aktivitas perawatan meningkat
  • Selera makan meningkat
  • Inisiatif meningkat
  • Minat komunikasi verbal meningkat
  • Verbalisasi keputusasaan menurun
  • Perilaku pasif menurun
  • Afek datar menurun
  • Pola tidur membaik

Intervensi Keperawatan: Promosi Citra Tubuh (I.09305)

  • Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan
  • Identifikasi budaya, agama, jenis kelamin, dan umur terkait citra tubuh
  • Identifikasi perubahan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi sosial
  • Monitor frekuensi pernyataan kritik tehadap diri sendiri
  • Monitor apakah pasien bisa melihat bagian tubuh yang berubah
  • Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya
  • Diskusikan perbedaan penampilan fisik terhadap harga diri
  • Diskusikan kondisi stres yang mempengaruhi citra tubuh (mis.luka, penyakit, pembedahan)
  • Diskusikan cara mengembangkan harapan citra tubuh secara realistis
  • Diskusikan persepsi pasien dan keluarga tentang perubahan citra tubuh
  • Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan citra tubuh
  • Anjurkan mengungkapkan gambaran diri terhadap citra tubuh
  • Anjurkan menggunakan alat bantu
  • Latih fungsi tubuh yang dimiliki
  • Latih peningkatan penampilan diri (mis. berdandan)
  • Latih pengungkapan kemampuan diri kepada orang lain maupun kelompok

4. Defisit Pengetahuan (D.0111)

Luaran: Tingkat Pengetahuan Membaik (L.12111)

  • Perilaku sesuai anjuran meningkat
  • Verbalisasi minat dalam belajar meningkat
  • Kemampuan menjelaskan tentang usatu topik meningkat
  • Kemampuan menggambarkan pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan topik meningkat
  • Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
  • Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
  • Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
  • Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat menurun
  • Perilaku membaik

Intervensi Keperawatan: Edukasi Kesehatan

  • Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
  • Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku perilaku hidup bersih dan sehat
  • Sediaakan materi dan media pendidikan kesehatan
  • Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
  • Berikan kesempatan untuk bertanya
  • Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
  • Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
  • Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

Referensi:

  1. Krawiec C, Hinson JW. 2022.  Rubeola (Measles). Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557716/
  2. Kondamudi NP, Waymack JR. 2022. Measles. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448068/
  3. Selina SP Chen. 2019. Measles. Med Scape Emedicine. https://emedicine.medscape.com/article/966220-overview.
  4. Marianne Belleza RN. 2021. Measles (Rubeola) Nursing Care Management. Nurses Labs.
  5. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  6. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2019.  Standart  Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Ns. Zul Hendry, M.Kep
Ns. Zul Hendry, M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram