bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Askep Epilepsi Sdki Slki Siki

Epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf pusat dimana aktivitas otak tidak normal sehingga menyebabkan kejang, perilaku tidak normal, atau terjadinya kehilangan kesadaran. Epilepsi bisa mengenai siapa saja baik pada pria atau wanita tanpa melihat latar belakang etnis, ras, dan usia. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep penyakit dan askep epilepsi menggunakan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Tujuan

  • Memahami konsep penyakit epilepsi meliputi epidemiologi, penyebab, tanda gejala, patofisiologi, pemeriksaan, dan penatalaksanaannya
  • Mengidentifikasi masalah dan diagnosa keperawatan pada askep epilepsi menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan luaran serta kriteria hasil pada askep Epilepsi menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep epilepsi menggunakan pendekatan Siki
Askep Epilepsi Sdki Slki Siki
 Image by Nick Youngson CC BY-SA 3.0 Pix4free.org

Konsep Medik dan Askep Epilepsi

Pendahuluan

Epilepsi adalah gangguan otak yang ditandai dengan kejang berulang tanpa alasan atau tanpa provokasi. Epilepsi seringkali bersifat idiopatik, tetapi berbagai gangguan otak seperti malformasi, stroke, dan tumor, dapat menyebabkan epilepsi simptomatik.

Pada epilepsi, otak atau beberapa bagian otak terlalu aktif dan mengirimkan sinyal dalam jumlah yang banyak dan menyebabkan kejang. Kejang bisa hanya berupa kedutan pada beberapa otot namun bisa juga menyebabkan seluruh tubuh bergetar tak terkendali dan mengakibatkan hilangnya kesadaran.

Kejang adalah manifestasi dari pelepasan hipereksitasi abnormal dari neuron kortikal. Tanda atau gejala klinis kejang tergantung pada lokasi pelepasan epileptik di korteks serebral dan luas serta pola penyebaran pelepasan epileptik di otak. 

Epilepsi dapat muncul pada usia berapa pun. Sebagian orang sudah mengalami kejang pertama di masa kanak-kanak, dan sebagian mengalami kejang pertama di usia yang lebih tua. 

Epidemiologi

Epilepsi menyumbang proporsi yang signifikan dari beban penyakit dunia, diperkirakan mempengaruhi sekitar 50 juta orang di seluruh dunia. Perkiraan proporsi populasi umum dengan epilepsi aktif yaitu kejang berkelanjutan atau dengan kebutuhan pengobatan pada waktu tertentu adalah antara 4 -10 orang per 1000 penduduk.

Secara global, diperkirakan 5 juta orang didiagnosis dengan epilepsi setiap tahun. Di negara-negara maju diperkirakan ada 49 per 100.000 orang yang didiagnosis menderita epilepsi setiap tahun. Sedangkan di negara-negara berkembang angka ini bisa mencapai 139 per 100.000. Hampir 80% penderita epilepsi tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Sedangkan di Indonesia data mengenai epidemiologi epilepsi masih terbatas. Estimasi jumlah pasien epilepsi di indonesia sekitar 1,5 juta orang dengan prevalensi 0.5-0.6% dari penduduk. 

Epilepsi dapat muncul pada hampir semua rentang usia. Sebagian besar orang yang menderita epilepsi sudah mengembangkannya di masa kanak-kanak. Sebagian kecil berkembang di usia paruh baya antara usia 40 dan 59 tahun, dan meningkat lagi pada orang berusia 60 tahun ke atas.

Penyebab dan Faktor Resiko

Otak terdiri dari milyaran sel saraf (neuron) dan terbagi dari beberapa area yang bertanggung jawab untuk hal yang berbeda beda seperti gerakan, ucapan, persepsi, dan perasaan. Sel-sel saraf berkomunikasi satu sama lain menggunakan sinyal listrik dan kimia. Saat terjadi serangan epilepsi, interaksi antara sel-sel saraf inilah yang mengalami gangguan semetara waktu.

Akibatnya,pada  area otak tertentu atau pada semua area menjadi terlalu aktif dan mengeluarkan sinyal dalam jumlah berlebihan dan menimbulkan efek berupa kejang di seluruh tubuh.

Pada sebagian besar kasus, penyebab pasti epilepsi tidak diketahui. Penyebab yang teridentifikasi cenderung bervariasi sesuai usia pasien. Beberapa penyebab yang teridentifikasi antara lain:

Trauma kepala adalah penyebab utama pada anak-anak dan dewasa muda. Sedangkan Stroke dan tumor lebih sering terjadi pada usia paruh baya dan lansia.   Dimana pada lansia juga terkait dengan penyakit Alzheimer dan kondisi degeneratif lainnya.

Kontribusi genetik untuk epilepsi dan gangguan kejang tidak sepenuhnya dipahami, tetapi pada saat ini berbagai gen telah terbukti menyebabkan atau mempengaruhi individu terkait dengan berbagai jenis gangguan kejang. 

Dalam banyak kasus, kejang adalah bagian dari sindrom yang mungkin juga mencakup cacat intelektual, malformasi otak tertentu, atau sejumlah anomali kongenital.

Kejang epilepsi dapat sangat bervariasi dari orang ke orang. Beberapa hanya berlangsung beberapa detik dan bahkan tidak diperhatikan, beberapa hanya mempengaruhi satu lengan atau satu kaki, sedangkan yang lain mempengaruhi seluruh tubuh. Terkadang orang menjadi tidak sadar, terkadang mereka hanya absen secara mental untuk sementara waktu, dan terkadang mereka tetap sadar sepenuhnya.

Tanda Dan Gejala

Kejang epilepsi biasanya tidak berlangsung dalam durasi yang lama. Jika kejang berlangsung lebih dari lima menit, itu disebut sebagai "status epileptikus." Kondisi ini adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan dan pertolongan segera menggunakan obat-obatan. 

Terdapat dua kategori utama kejang dalam epilepsi yaitu kejang umum dan kejang parsial (fokal).

Kejang umum (General)

Kejang umum mempengaruhi biasanya mempengaruhi seluruh otak, namun tidak selalu lebih buruk dibandingkan dengan kejang kejang parsial. Kejang umum terjadi diseluruh tubuh dan lebih cenderung menyebabkan hilangnya kesadaran.

Beberapa jenis kejang umum antara lain :

  • Kejang tonik: ditandai dengan lengan dan kaki menjadi kejang dan kaku. Kejang semacam ini biasanya terjadi dalam durasi yang cepat dan tidak selalu mempengaruhi keadaan kesadaran.
  • Kejang atonik (drop attacks): Pada kejang atonik otot-otot di salah satu bagian tubuh tiba-tiba menjadi lemas. Akibatnya, dagu mungkin jatuh ke arah dada, atau kaki mungkin menjadi lemas. Kejang atonik bisa menghilangkan kesadaran dan membuat pasien terjatuh.
  • Kejang klonik: Kejang terjadi pada kelompok otot besar misalnya di lengan atau kaki dengan gejala tersentak dalam ritme yang lambat. Kejang klonik biasanya disertai dengan hilangnya kesadaran.
  • Kejang mioklonik: Kejang terjadi pada kelompok otot tertentu pada individu ditandai dengan otot berkedut dengan cepat. Kondisi ini biasanya tidak mempengaruhi tingkat kesadaran.
  • Kejang tonik-klonik (kejang grand mal): Seluruh tubuh menjadi kejang dan berkedut, dan menjadi tidak sadar.

Kejang Parsial (Fokal)

Kejang parsial terjadi hanya di salah satu bagian otak dan gejala yang muncul tergantung pada area mana yang dipersarafi oleh bagian otak tersebut, seperti kedutan pada lengan jika yang terkena adalah area motorik, gangguan sensasi jika yang terkena adalah bagian saraf sensorik. 

Saat seseorang mengalami kejang parsial, mereka biasanya akan mengalami sensasi abnormal, kehilangan kesadaran, gangguan pendengaran, penglihatan, atau penciuman.

Gejala lain yang bisa muncul antara lain merasa pusing, merasa cemas atau berhalusinasi. Tanda yang tampak pada pasien bisa berupa meringis, terbata-bata, berjalan-jalan tanpa tujuan atau mengutak-atik sesuatu. 

Kejang parsial dapat disertai dengan kedutan atau kejang, Terkadang mempengaruhi tingkat  kesadaran atau kemampuan untuk berkonsentrasi. Kejang parsial dapat menyebar ke seluruh bagian otak dan menimbulkan kejang umum.

Efek Serangan Epilepsi

Diperlukan waktu beberapa saat untuk pulih dari serangan epilepsi terutama jika kondisinya parah. Sebagian orang mengalami kelelahan dan kadang tertidur selama beberapa jam setelah serangan epilepsi. Sebagian yang lain merasa normal kembali setelah beberapa menit dan dapat kembali bekerja atau beraktivitas sekolah.

Kemungkinan cedera saat terjadi serangan epilepsi sangat besar.,terutama jika mengalami kejang umum,di mana seluruh tubuh kejang dan bergetar tak terkendali. Pasien seperti ini bisa jatuh dan bisa melukai diri sendiri.

Ketakutan mengalami kejang lagi bisa sangat berdampak negatif, terutama jika kejangnya sering terjadi. Epilepsi juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami depresi.

Kejang epilepsi tidak menyebabkan kerusakan permanen pada otak atau mengakibatkan cacat mental. Kejang yang sering dan parah selama bertahun-tahun dapat membuat pasien lebih pelupa dan kurang bisa berkonsentrasi.

Pengaruh epilepsi terhadap harapan hidup pasien sangat tergantung pada apa yang menyebabkan epilepsi tersebut. Jika disebabkan oleh kondisi medis lain pasien epilepsi cenderung memiliki harapan hidup yang lebih pendek, tetapi hal ini  sering kali disebabkan oleh penyakit yang mendasarinya, bukan epilepsi. 

Epilepsi dapat menyebabkan kematian dalam situasi berikut ini:

  • Jika pasien mengalami kecelakaan karena kejang dan mengakibatkan cedera yang mengancam jiwa.
  • Jika kejang yang terjadi parah dan berlangsung lama (status epilepticus) menyebabkan otak kurang mendapatkan oksigen, dan menyebabkan gagal jantung dan paru-paru.
  • Kematian mendadak dan tak terduga pada epilepsi atau sudden Unexpected death in epilepsy (SUDEP), namun kondisi ini sangat jarang terjadi.

Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang

Diagnosa Epilepsi biasanya ditegakkan jika:

  • Setidaknya dua kejang telah terjadi,
  • Terdapat periode kejang setidaknya dalam 24 jam 
  • Tidak ada yang menunjukkan bahwa kejang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang lain.
  • Epilepsi juga dapat didiagnosis jika risiko kejang kedua jauh lebih tinggi setelah kejang pertama.

Riwayat kesehatan juga penting untuk membuat diagnosis, seperti kapan dan dalam keadaan apa kejang terjadi.

Kejang epilepsi memiliki banyak penyebab, dan beberapa sindrom epilepsi menunjukkan kelainan histopatologis yang spesifik. Beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan antara lain:

  • Pemeriksaan prolaktin : American Academy of Neurology (AAN) merekomendasikan pemeriksaan  prolaktin serum, diukur dalam kondisi klinis yang sesuai pada 10-20 menit setelah kejadian kejang sebagai pemeriksaan tambahan yang berguna untuk membedakan kejang umum tonik-klonik atau parsial kompleks dengan kejang non epilepsi psikogenik pada orang dewasa dan orang tua. 
  • Pemeriksaan neuroimaging : Pemeriksaan neuroimaging, seperti magnetic resonance imaging (MRI) otak atau computed tomography (CT) scan kepala dapat menunjukkan kelainan struktural yang bisa menjadi penyebab kejang.
  • Elektroensefalografi : Pelepasan epileptiform interiktal atau kelainan fokal pada elektroensefalografi (EEG) memperkuat diagnosis kejang epilepsi dan dapat membantu dalam menentukan prognosis.
  • Pungsi lumbal : Untuk mendeteksi cairan serebrospinal (CSF) abnormal, tanda-tanda infeksi atau perdarahan seperti perdarahan subarachnoid, subdural.

Penatalaksanaan

Tujuan pengobatan pada pasien dengan kejang epilepsi adalah untuk mencapai status bebas kejang tanpa efek samping. Terapi pasien pada pasien epilepsi mencakup:

  • Monoterapi: Monoterapi diinginkan karena mengurangi kemungkinan efek samping dan menghindari interaksi obat. Monoterapi biasanya lebih murah daripada politerapi, karena banyak obat antikonvulsan yang memiliki sifat penginduksi enzim hati yang menurunkan tingkat serum obat jika pemberiannya bersamaan, sehingga diperlukan peningkatan dosis obat tersebut.
  • Terapi antikonvulsan : Pengobatan utama kejang adalah pemberian obat antikonvulsan. Jenis obat yang dipilih tergantung pada diagnosis sindrom epilepsi. Karena respons terhadap antikonvulsan bervariasi dan spesifik pada sindrom yang berbeda. Setelah seseorang bebas kejang selama biasanya 2-5 tahun, dapat dipertimbangkan untuk penghentian pemberian obat antikonvulsan pada pasien tersebut. Sebagian pasien sindrom epilepsi di masa kanak-kanak tidak perlu menggunakan antikonvulsan setelah dewasa.
  • Stimulasi saraf vagal:  Stimulasi saraf vagal adalah teknik paliatif yang melibatkan implantasi bedah untuk pemasangan perangkat stimulasi. Metode ini disetujui FDA untuk mengobati epilepsi onset fokal refrakter pada pasien dengan usia diatas 12 tahun.
  • Implan Neurostimulator: Merupakan perangkat yang ditanamkan ke dalam tengkorak, mendeteksi dan merekam pola elektrokortikografis lalu mengirimkan rangkaian arus pendek untuk mengurangi pelepasan sinyal di otak.
  • Modifikasi dan pembatasan aktivitas: Masalah utama bagi pasien dengan kejang adalah ketidakpastian kejang berikutnya. Dokter harus mendiskusikan jenis pencegahan kejang berikut dengan pasien yang mengalami serangan epilepsi atau serangan kejang mendadak lainnya. Beberapa aktivitas harus dibatasi seperti mengemudi, mendaki, bekerja dengan api,  memasak, menggunakan alat-alat listrik dan peralatan berbahaya lainnya, mandi tanpa pengawasan, dan berenang.

Asuhan Keperawatan

Pengkajian Keperawatan 

  • Riwayat: Diagnosa keperawatan kejang epilepsi dibuat dengan menganalisis riwayat klinis rinci pasien dan dengan melakukan pemeriksaan tambahan untuk konfirmasi. Seseorang yang telah mengamati kejadian berulang pasien atau orang terdekat adalah sumber informasi terbaik untuk memberikan riwayat yang akurat. Pasien juga bisa dijadikan sumber informasi untuk memberikan perincian tentang aura, kondisi kesadaran, dan keadaan pasca iktal.
  • Pemeriksaan fisik: Pemeriksaan fisik membantu dalam diagnosis sindrom epilepsi spesifik. Temuan abnormal seperti kelainan dermatologis misalnya, sindrom neurokutaneus seperti Sturge-Weber, tuberous sclerosis, dan lain-lain. Pasien yang selama bertahun-tahun mengalami kejang tonik-klonik umum yang sulit diatasi kemungkinan besar menderita cedera atau bekas cedera.

Tujuan keperawatan 

Tujuan utama Intervensi keperawatan pada kejang epilepsi antara lain:

  • Pasien dan keluarga mengungkapkan pemahaman tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kemungkinan trauma dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki situasi.
  • Pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi tindakan yang harus diambil ketika kejang terjadi.
  • Pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi dan memperbaiki faktor risiko potensial yang berasal dari lingkungan.
  • Pasien dan keluarga dapat menunjukkan perilaku, perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor risiko dan melindungi diri dari cedera.
  • Pasien dan keluarga dapat memodifikasi lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
  • Pasien dan keluarga dapat mempertahankan rejimen pengobatan untuk mengontrol atau menghilangkan aktivitas kejang
  • Pasien dan keluarga dapat mengenali kebutuhan akan bantuan untuk mencegah kecelakaan atau cedera.
  • Pasien dapat mempertahankan pola pernapasan yang efektif dengan paten jalan napas atau aspirasi dapat dicegah.
  • Pasien dan keluarga dapat  menunjukkan perilaku untuk mengembalikan harga diri yang positif.
  • Pasien dan keluarga dapat berpartisipasi dalam rejimen pengobatan atau kegiatan untuk memperbaiki faktor-faktor yang memicu krisis.
  • Pasien dan keluarga dapat mengungkapkan pemahaman gangguan dan berbagai rangsangan yang dapat meningkatkan aktivitas kejang.

Fokus Intervensi Keperawatan

Fokus Intervensi keperawatan pada gangguan kejang epilepsi meliputi:

Mencegah trauma atau cedera

Ajarkan cara untuk menentukan tanda-tanda awal akan terjadinya kejang dan cara merawat pasien selama serta setelah serangan kejang. Hindari penggunaan termometer yang dapat menyebabkan cedera, gunakan termometer timpani bila perlu untuk mengukur suhu. 

Pertahankan tirah baring yang ketat jika tanda-tanda prodromal atau aura muncul. Miringkan kepala ke samping dan lakukan suction untuk membersihkan jalan nafas sesuai indikasi. Berikan bantalan kepala yang sesuai, letakkan di area yang empuk, atau bantu ke lantai jika turun dari tempat tidur. Jangan mencoba untuk menahan aktivitas kejang.

Jaga kebersihan jalan napas

Pertahankan dalam posisi berbaring, permukaan rata, miringkan kepala ke salah satu sisi selama terjadinya kejang. Longgarkan pakaian dari leher atau dada dan daerah perut, lakukan suctioning sesuai kebutuhan; awasi oksigen tambahan atau ventilasi sesuai kebutuhan pasca iktal.

Meningkatkan harga diri pasien

Identifikasi situasi individu yang berhubungan dengan harga diri rendah, hindari perilaku untuk melindungi pasien secara berlebihan, dorong pasien melakukan kegiatan dengan tetap dipantau dan diawasi, membantu pasien menyadari bahwa perasaan sedih normal tapi ingatkan bahwa rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri tidak membantu.

Pendidikan kesehatan tentang penyakit. 

Identifikasi patologi dan prognosis kondisi pasien dan kebutuhan untuk perawatan berkelanjutan sesuai indikasi. Diskusikan faktor pemicu khusus pasien seperti lampu berkedip, hiperventilasi, suara keras, video game, atau menonton TV. 

Mengajarkan dan menanamkan pentingnya kebersihan mulut yang baik dan perawatan gigi yang teratur. Kaji ulang regimen pengobatan, perlunya minum obat sesuai resep, dan tidak menghentikan terapi tanpa pengawasan dokter. dan perawat.

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Sdki Slki Siki

1. Risiko Cedera(D.0136)

Luaran : Tingkat Cedera Menurun (L.14136)

  • Toleransi aktivitas meningkat
  • Kejadian cedera luka / lecet menurun
  • Gangguan mobilitas menurun
  • Gangguan Kognitif menurun
  • Ekspresi wajah kesakitan menurun
  • Tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi nafas, dan denyut jantung membaik
  • Pola istirahat tidur membaik

Intervensi :

a. Manajemen Keselamatan Lingkungan (L.14513)

  • Identifikasi kebutuhan keselamatan
  • Monitor perubahan status keselamatan lingkungan
  • Hilangkan bahaya keselamatan, Jika memungkinkan
  • Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan risiko
  • Sediakan alat bantu keamanan lingkungan (mis. Pegangan tangan)
  • Gunakan perangkat pelindung (mis. Rel samping, pintu terkunci, pagar)

b. Pencegahan Cedera (I.14537)

  • Identifikasi area lingkungan yang berpotensi menyebabkan cedera
  • Identifikasi obat yang berpotensi menyebabkan cedera
  • Sediakan pencahayaan yang memadai
  • Gunakan lampu tidur selama jam tidur
  • Gunakan alas lantai jika beresiko mengalami cedera serius
  • Sediakan alas kaki anti slip
  • Sediakan pispot atau urinal untuk eliminasi di tempat tidur jika perlu
  • Pastikan barang-barang pribadi mudah dijangkau
  • Pastikan bel dan panggilan telepon mudah dijangkau
  • Pastikan tempat tidur di posisi terendah saat digunakan
  • Gunakan pengaman tempat tidur sesuai dengan kebijakan fasilitas pelayanan kesehatan
  • Diskusikan mengenai latihan atau terapi fisik yang diperlukan
  • Diskusikan mengenai alat bantu mobilitas yang sesuai
  • Diskusikan bersama anggota keluarga yang dapat mendampingi pasien
  • Tingkatkan frekuensi observasi dan pengawasan pasien
  • Anjurkan berganti posisi secara perlahan dan duduk beberapa menit sebelum berdiri

2. Pola Nafas Tidak Efektif (D.0005)

Luaran : Pola Nafas Membaik (L.01004)

  • Ventilasi semenit meningkat
  • Kapasitas vital meningkat
  • Diameter toraks anterior posterior meningkat
  • Tekanan ekspirasi meningkat
  • Tekanan Inspirasi meningkat
  • Dispnea menurun
  • Penggunaan otot bantu napas menurun
  • Pemanjangan fase ekspirasi menurun
  • Ortopnea menurun
  • Pernapasan Pursed-tip menurun
  • Pernapasan Cuping Hidung menurun
  • Frekuensi nafas membaik
  • Ekskursi dada menurun

Intervensi Keperawatan

a. Pemantauan Respirasi (I.01014)

  • Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas
  • Monitor pola nafas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, Kusmaul, Cheyne-Stokes, Biot, ataksik
  • Monitor kemampuan batuk efektif
  • Monitor adanya produksi sputum
  • Monitor adanya sumbatan jalan napas
  • Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
  • Auskultasi bunyi napas
  • Monitor saturasi oksigen
  • Monitor nilai AGD
  • Monitor hasil x-ray toraks
  • Atur interval waktu pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
  • Dokumentasikan hasil pemantauan
  • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
  • Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

b. Manajemen jalan Nafas (I. 01011)

  • Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
  • Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi, wheezing, ronki kering)
  • Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
  • Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-thrust jika curiga trauma cervical)
  • Posisikan semi-Fowler atau Fowler
  • Berikan minum hangat
  • Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
  • Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
  • Lakukan hiperoksigenasi sebelum
  • Pengisapan endotrakeal
  • Keluarkan sumbatan benda padat dengan forcep McGill
  • Berikan oksigen, jika perlu
  • Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi.
  • Ajarkan teknik batuk efektif
  • Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.

3. Defisit Pengetahuan (D.0111)

Luaran: Tingkat pengetahuan (L.12111)

  • Perilaku sesuai anjuran meningkat
  • Verbalisasi minat dalam belajar meningkat
  • Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat
  • Kemampuan menggambarkan pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan topik meningkat
  • Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
  • Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
  • Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
  • Perilaku membaik

Intervensi Keperawatan: Edukasi kesehatan

  • Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
  • Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
  • Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan 
  • Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
  • Berikan kesempatan untuk bertanya
  • Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
  • Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
  • Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

4. Risiko Harga Diri Rendah Situasional (D.0102)

Luaran: Harga diri meningkat diberi (L.09069)

  • Penilaian diri positif meningkat
  • Perasaan memiliki kelebihan atau kemampuan positif meningkat
  • Penerimaan penilaian positif terhadap diri sendiri meningkat
  • Minat mencoba hal baru meningkat
  • Berjalan menampakkan wajah meningkat
  • Postur tubuh menampakkan wajah meningkat
  • Perasaan malu menurun
  • Perasaan bersalah menurun
  • Perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun
  • Meremehkan kemampuan mengatasi masalah menurun

Intervensi Keperawatan:

a. Dukungan Penampilan Peran (I 13478)

  • Identifikasi berbagai peran dan periode transisi sesuai tingkat perkembangan
  • Identifikasi peran yang ada dalam keluarga
  • Identifikasi adanya peran yang tidak terpenuhi
  • Fasilitasi adaptasi peran keluarga terhadap perubahan peran yang tidak diinginkan
  • Fasilitasi bermain peran dalam mengantisipasi reaksi orang lain terhadap perilaku
  • Fasilitasi diskusi perubahan peran anak terhadap bayi baru lahir, jika perlu
  • Fasilitasi diskusi tentang peran orang tua, jika perlu
  • Fasilitasi diskusi tentang adaptasi peran saat anak meninggalkan rumah, jika perlu
  • Fasilitasi diskusi harapan dengan keluarga dan peran timbal balik
  • Diskusikan perilaku yang dibutuhkan untuk pengembangan peran
  • Diskusikan perubahan peran yang diperlukan akibat penyakit atau ketidakmampuan
  • Diskusikan perubahan peran dalam menerima ketergantungan orang tua
  • Diskusikan strategi positif untuk mengelola perubahan peran
  • Ajarkan perilaku baru yang dibutuhkan oleh pasien/orang tua untuk memenuhi peran
  • Rujuk dalam kelompok untuk mempelajari peran baru

b. Promosi Harga Diri (I.09308)

  • Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia terhadap harga diri
  • Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri
  • Monitor tingkat harga diri setiap waktu, sesuai kebutuhan
  • Motivasi terlibat dalam verbalisasi positif untuk diri sendiri
  • Motivasi menerima tantangan atau hal baru
  • Diskusikan pernyataan tentang harga diri
  • Diskusikan kepercayaan terhadap penilaian diri
  • Diskusikan pengalaman yang meningkatkan harga diri
  • Diskusikan persepsi negatif diri
  • Diskusikan alasan mengkritik diri atau rasa bersalah
  • Diskusikan penetapan tujuan realistis untuk mencapai harga diri yang lebih tinggi
  • Diskusikan Bersama keluarga untuk menetapkan harapan dan Batasan yang jelas
  • Berikan umpan balik positif atas peningkatan mencapai tujuan
  • Fasilitasi lingkungan dan aktivitas yang meningkatkan diri
  • Jelaskan kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan konsep positif diri pasien
  • Anjurkan mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki
  • Anjurkan mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain
  • Anjurkan membuka diri terhadap kritik negatif
  • Anjurkan mengevaluasi perilaku
  • Ajarkan cara mengatasi bullying
  • Latih peningkatan tanggung jawab untuk diri sendiri
  • Latih pernyataan/kemampuan positif diri
  • Latih cara berpikir dan berperilaku positif
  • Latih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani situasi

c. Promosi Kesadaran Diri (I.09311)

  • Identifikasi keadaan emosional saat ini
  • Identifikasi respons yang ditunjukkan berbagai situasi
  • Diskusikan nilai-nilai yang berkontribusi terhadap konsep diri
  • Diskusikan tentang pikiran, perilaku, atau respons terhadap kondisi
  • Diskusikan dampak penyakit pada konsep diri
  • Ungkapkan penyangkalan tentang kenyataan
  • Motivasi dalam meningkatkan kemampuan belajar
  • Anjurkan mengenali pikiran dan perasaan tentang diri
  • Anjurkan menyadari bahwa setiap orang unik
  • Anjurkan mengungkapkan perasaan (mis: marah atau depresi)
  • Anjurkan meminta bantuan orang lain, sesuai kebutuhan
  • Anjurkan mengubah pandangan diri sebagai korban
  • Anjurkan mengidentifikasi perasaan bersalah
  • Anjurkan mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
  • Anjurkan mengevaluasi Kembali persepsi negatif tentang diri
  • Anjurkan dalam mengekspresikan diri dengan kelompok sebaya
  • Ajarkan cara membuat prioritas hidup
  • Latih kemampuan positif diri yang dimiliki

Referensi:

  1. Bola Adamolekun MD. 2022. Seizure Disorders. MSD Manual Professional Version.
  2. David Y Ko, MD. 2022. Epilepsy and Seizures. Medscape Emedicine.
  3. Informed Health. 2019. Epilepsy Overview. Cologne Germany : IQWiG. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK343313/
  4. RS Panti Rapih. 2021. Purple Day, Hapus Stigma Negatif Tentang Epilepsi. https://pantirapih.or.id/rspr/tag/hari-epilepsi-sedunia. Diakses: 18 Oktober 2022.
  5. Sarmast ST, et al. 2020. Current Classification of Seizures and Epilepsies: Scope, Limitations and Recommendations for Future Action. Cureus. 20;12(9):e10549. doi: 10.7759/cureus.10549. PMID: 33101797; PMCID: PMC7575300.
  6. PPNI. 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI. 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  8. PPNI. 2019.  Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  9. WHO. 2022. Epilepsy. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/epilepsy. Diakses: 18 Oktober 2022.