Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Memahami Gejala Batuk Mulai Dari Penyebab Hingga Penanganan

Batuk adalah pengeluaran udara yang kuat secara tiba-tiba dari paru-paru. Keluhan batuk merupakan salah satu  alasan  umum  untuk mengunjungi dokter atau pelayanan kesehatan. Fungsi batuk adalah untuk membersihkan saluran pernafasan dan melindungi paru-paru dari partikel yang terhirup. Batuk bisa terjadi secara sengaja atau refleks secara spontan  di luar kesadaran.

Batuk sangat bervariasi antara batuk kering tidak berdahak (tidak produktif)  atau batuk  produktif mengeluarkan dahak atau  pada kondisi tertentu bisa bercampur darah. Dahak adalah campuran lendir, kotoran, dan sel yang dikeluarkan oleh paru-paru. Bisa  bening, kuning, hijau, atau bercampur darah.

Batuk sangat keras dapat membuat otot tulang rawan tegang dan bisa  menyebabkan nyeri di dada, terutama saat bernapas, bergerak, atau batuk lagi.  Batuk biasanya sangat mengganggu, terutama jika terjadi malam hari saat  tidur. 

Batuk
Foto by AndrewLozovyi on: depositphotos

Penyebab

Batuk terjadi saat saluran udara teriritasi.  Menurut kejadiannya,  batuk dikategorikan sebagai batuk akut yang berlangsung kurang dari 3 minggu atau batuk kronis (lebih dari 3 minggu). 

Penyebab batuk akut :

  • Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) seperti  bronkitis akut
  • Sekresi  postnasal (sekresi dari hidung  yang turun ke tenggorokan, atau faring)
  • Kambuhnya penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
  • Radang paru-paru
  • Adanya benda asing yang terhirup

Penyebab Batuk Kronik:

  • Bronkitis kronis
  • Bekas Iritasi saluran napas setelah infeksi saluran pernapasan sembuh (juga dikenal sebagai batuk pasca infeksi)
  • Refluks gastroesofagus
  • Kanker paru-paru
  • Tuberkulosis
  • Infeksi jamur pada paru-paru

Evaluasi

Pada penderita batuk, gejala dan karakteristik tertentu yang perlu menjadi perhatian, dimana penderitanya harus segera ke dokter atau pelayanan kesehatan antara lain:

  • Sesak napas
  • Batuk darah
  • Penurunan berat badan
  • Demam yang berlangsung lebih lama dari sekitar 1 minggu
  • Faktor risiko seperti terkena tuberkulosis, mengalami infeksi HIV, atau mengonsumsi kortikosteroid atau obat lain yang menekan sistem kekebalan tubuh
  • Faktor risiko infeksi HIV, seperti  penggunaan narkoba jalanan melalui suntikan
  • Orang yang memiliki tanda-tanda diatas harus segera menemui dokter 

Pemeriksaan

Dokter atau petugas kesehatan  akan  mengajukan pertanyaan tentang gejala dan riwayat medis. Kemudian akan dilakukan pemeriksaan fisik. Hal  yang ditemukan selama wawancara dan pemeriksaan fisik akan menunjukkan penyebab batuk dan pemeriksaan penunjuang yang perlu dilakukan  selanjutnya.

Jenis pemeriksaan penunjang tergantung pada apa yang ditemukan dokter selama anamnesis dan pemeriksaan fisik. Beberapa pemeriksaan penunjang diagnostik yang sering dilakukan antara lain:

  • Pengukuran kadar oksigen dalam darah (oksimetri)
  • Rontgen dada
  • Tes kulit
  • Computed tomography (CT Scan) dada 
  • Pemeriksaan kultur sampel dahak untuk tuberkulosis 
  • Pemeriksaan darah 
  • Penatalaksanaan
  • Rontgen dada
  • Tes fungsi paru untuk memeriksa asma
  • CT dari sinus untuk memeriksa kelainan sinus

Pengobatan

Cara terbaik untuk mengobati batuk adalah dengan mengobati kelainan yang mendasarinya. Misalnya, antibiotik dapat digunakan untuk pneumonia, dan inhaler yang mengandung obat yang memperlebar saluran udara (bronkodilator) atau kortikosteroid dapat digunakan untuk COPD atau asma. 

Umumnya, karena batuk berperan penting dalam mengeluarkan dahak dan membersihkan saluran udara, batuk tidak boleh ditekan. Namun, jika batuk parah, mengganggu tidur, atau memiliki penyebab tertentu, maka akan diresepkan obat penekan batuk.

Beberapa jenis obat yang digunakan untuk batuk antara lain:

Obat Penekan batuk (antitusif)

Golongan opioid menekan refleks batuk karena mengurangi respons pusat batuk di otak. Kodein adalah opioid yang paling sering digunakan untuk batuk. Kodein dan penekan batuk opioid lainnya dapat menyebabkan mual, muntah, dan sembelit serta dapat membuat ketagihan. 

Golongan opoid juga dapat menyebabkan kantuk, terutama bila seseorang memakai obat lain yang mengurangi konsentrasi seperti alkohol, sedatif, alat bantu tidur, antidepresan, atau antihistamin tertentu. Oleh karena itu  opioid tidak selalu aman, dan dokter biasanya menyimpannya untuk situasi khusus, seperti batuk yang terus berlanjut meskipun ada pengobatan lain. Golongan ini juga hanya bisa dibeli dengan resep dokter.

Dekstrometorfan juga juga menekan pusat batuk di otak. Dekstrometorfan adalah bahan aktif dalam beberapa obat batuk yang dijual bebas (OTC) dan obat keras. Dekstromethopan tidak membuat ketagihan bila digunakan dengan benar.  Namun seringkali disalahgunakan oleh masyarakat, terutama remaja, karena dalam dosis yang tinggi menyebabkan euforia. Overdosis menyebabkan halusinasi, agitasi, dan terkadang koma. 

Ekspektoran

Beberapa dokter merekomendasikan ekspektoran atau kadang-kadang disebut mukolitik.  Obat ini bekerja untuk membantu mengeluarkan  lendir dengan membuat sekresi bronkus lebih encer. Ekspektoran yang paling umum digunakan adalah sediaan yang dijual bebas yang mengandung guaifenesin.

Selain itu, menghirup larutan garam  atau menghirup asetilsistein hingga beberapa hari terkadang membantu mengencerkan lendir yang terlalu kental dan mengganggu.

Antihistamin

Antihistamin berefek mengeringkan saluran pernapasan, memiliki manfaat dalam mengobati batuk yang  disebabkan oleh alergi yang melibatkan hidung dan tenggorokan.  Tapi jika  batuk disebabkan hal  lain seperti bronkitis,  pemberian antihistamin bisa berbahaya karena sekresi pernafasan menebal dan membuatnya sulit untuk dikeluarkan.

Dekongestan seperti fenilefrin  yang meredakan hidung tersumbat hanya berguna untuk meredakan batuk yang disebabkan oleh postnasal drip.

Perawatan lainnya seperti pemberian obat melalui uap (nebulizer)  juga  dapat mengurangi batuk. 

Kesimpulan

Batuk adalah usaha tubuh secara fisiologis untuk membersihkan saluran pernafasan dan melindungi paru-paru dari partikel yang terhirup.

Sebagian besar batuk disebabkan oleh infeksi pernafasan ringan atau postnasal drip.

Batuk Perlu diwaspadai dan harus segera ke dokter atau pelayanan kesehatan jika disertai sesak napas, batuk darah, penurunan berat badan, demam yang berlangsung lebih dari 1 minggu, dan faktor risiko infeksi HIV atau tuberkulosis.

Obat-obatan penekan batuk dan ekspektoran  hanya digunakan untuk mengobati batuk jika  benar-benar diperlukan,  dan harus berdasarkan pertimbangan serta resep dokter.


Referensi:

  1. Rebecca Dezube. 2020. Cough In Adults. Johns Hopkins University. MSD Manual Consumer Version.
  2. Nayana Ambardekar. 2020. Why You Cough. Web MD

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Memahami Gejala Batuk Mulai Dari Penyebab Hingga Penanganan"