Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Leukimia Limfoblastik Akut

Leukemia adalah keganasan hematologi yang timbul dari proliferasi disfungsional dari leukosit yang sedang berkembang. Leukimia diklasifikasikan menjadi 4 tipe utama yaitu Leukimia Limfoblastik akut (LLA), Leukimia Myelogenous akut (AML - LMA), Leukimia Limfosistik Kronis (CLL - LLC), dan Leukimia Myeloid kronis (CML). Pada tulisan ini akan dibahas lebih mendalam tentang leukimia limfoblastik akut, terutama terkait konsep medis dan askep. 

Askep Leukimia Limfoblastik Akut
Image by James Grellier o wikimedia.org

Askep Leukimia Limfoblastik Akut, Konsep Teori 

Definisi

Leukemia limfoblastik akut atau leukemia limfositik akut (ALL atau LLA) adalah penyakit ganas  sumsum tulang di mana prekursor limfoid awal berproliferasi dan menggantikan sel hematopoietik normal sumsum. Leukimia Limfoblastik akut adalah jenis kanker dan leukemia yang paling umum pada anak-anak.

Bentuk yang paling umum adalah leukemia limfoblastik akut (LLA), yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal prekursor limfosit (limfoblas). Jika tidak ditangani, leukemia bisa fatal, biasanya akibat komplikasi yang disebabkan oleh infiltrasi sel leukemik sumsum tulang atau organ vital. Jika ditangani, prognosisnya bervariasi.

Jika LLA ditangani, tingkat remisinya adalah 90% dari pasien anak-anak  dengan rata-rata waktu bertahan hidup adalah 5 tahun dan 60% dari pasien dewasa dengan rata-rata waktu bertahan hidup adalah 1 sampai 2 tahun. Anak-anak yang berusia 2 sampai 8 tahun memiliki tingkat bertahan hidup terbaik yaitu sekitar 50% dengan terapi intensif.

Penyebab

Sebuah tinjauan genetika, biologi sel, imunologi, dan epidemiologi leukemia anak oleh Greaves menyimpulkan bahwa prekursor sel B leukemia limfoblastik akut (LLA) memiliki penyebab multifaktorial dengan mutasi genetik dan paparan infeksi memainkan peran peran yang menonjol.

Tahap  pertama terjadi di dalam rahim, ketika pembentukan gen fusi atau hiperdiploidi menghasilkan klon pra-leukemik tersembunyi. Tahap kedua adalah perolehan perubahan genetik sekunder pascakelahiran yang mendorong konversi menjadi gejala leukemia yang nyata. Hanya 1% dari anak-anak yang lahir dengan pra-leukemik berkembang menjadi leukemia.

Analisis database Surveillance, Epidemiology and End Results (SEER) menunjukkan bahwa kejadian leukimia limfoblastik akut lebih tinggi pada pasien dengan riwayat limfoma Hodgkin, kanker paru-paru, dan kanker ovarium sebelumnya.

Faktor predisposisi terjadinya leukimia limfoblastik akut (LLA) antara lain:

  • Kombinasi virus (sisa virus telah ditemukan di sel leukemik)
  • Paparan radiasi dan zat klmiawi tertentu
  • Faktor genetik dan imunologis

Tanda dan gejala

Pasien dengan leukemia limfoblastik akut (LLA) biasanya datang dengan tanda dan gejala yang berhubungan dengan infiltrasi langsung sumsum atau organ lain oleh sel leukemia, atau dengan tanda dan gejala yang berhubungan dengan penurunan produksi elemen sumsum tulang.

Demam adalah salah satu tanda leukimia limfoblastik akut yang paling umum, pasien sering mengalami demam tanpa bukti adanya infeksi lain. Namun, pada pasien leukimia limfoblastik akut, harus diasumsikan bahwa semua demam berasal dari infeksi sampai terbukti sebaliknya. Pada pasien leukimia limfoblastik akut, kegagalan untuk mengobati infeksi dengan segera dan agresif dapat berakibat fatal.

Pasien dengan Leukimia limfoblastik akut sering mengalami penurunan jumlah neutrofil, terlepas dari apakah jumlah sel darah putih total mereka rendah, normal, atau meningkat. Akibatnya, orang-orang ini berada pada peningkatan risiko infeksi.

Prevalensi dan keparahan infeksi berkorelasi terbalik dengan jumlah neutrofil absolut (ANC), yang didefinisikan sebagai jumlah neutrofil matur ditambah pita per unit volume. Infeksi sering terjadi bila jumlah neutrofil absolut kurang dari 500/µL, dan khususnya parah bila kurang dari 100/µL.

Gejala anemia sering terjadi seperti kelelahan, pusing, palpitasi, dan dispnea bahkan pada aktivitas ringan.

Pasien juga bisa mengalami perdarahan, yang dapat disebabkan oleh trombositopenia karena penggantian sumsum. Selain itu, sekitar 10% pasien dengan leukimia limfoblastik akut memiliki koagulasi intravaskular diseminata (DIC) dan bisa menimbulkan hemoragik atau trombotik.

Bisa muncul limfadenopati terutama mereka dengan T-sel LLA, diikuti dengan gejala yang berhubungan dengan massa mediastinum yang besar, seperti sesak napas.

Infiltrasi sumsum tulang oleh sejumlah besar sel leukemia sering bermanifestasi sebagai nyeri tulang yang bisa parah dan sering dengan distribusi atipikal.

Sekitar 10-20% penderita Leukimia limfoblastik akut mengeluhkan rasa penuh di kuadran kiri atas dan rasa cepat kenyang karena splenomegali.

Walaupun jarang, pasien mungkin datang dengan gejala leukostasis seperti gangguan pernapasan, perubahan status mental karena adanya sejumlah besar limfoblas di sirkulasi perifer. Kadang-kadang, pasien mengalami ruam akibat infiltrasi kulit dengan sel leukemia.

Uji Diagnostik

Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lainnya yang sering digunakan dalam pemeriksaan leukimia limfoblastik akut antara lain:

  • Hitung darah lengkap dengan diferensial
  • Pemeriksaan koagulasi antara lain produk PT, PTT, fibrinogen dan fibrin split
  • Apusan darah tepi
  • Profil kimia antara lain laktat dehidrogenase, asam urat, studi fungsi hati, dan BUN/kreatinin
  • Kultur yang sesuai, khususnya kultur darah pada pasien dengan demam atau tanda infeksi lainnya
  • Rontgen dada
  • Computed tomography, seperti yang ditunjukkan oleh gejala
  • Pemindaian akuisisi multi-gated atau ekokardiogram
  • Elektrokardiografi
  • Pungsi lumbal (terutama pada anak-anak)
  • Aspirasi dan biopsi sumsum tulang untuk memastikan leukemia.
Pemeriksaan sumsum tulang mencakup:

  • Histologi
  • Imunohistokimia/flow cytometry
  • Sitogenetika
  • Hibridisasi fluoresensi in situ
  • Reaksi berantai polimerase

Penanganan

Secara umum, empat komponen pengobatan leukimia limfoblastik akut adalah induksi, konsolidasi, pemeliharaan, dan profilaksis sistem saraf pusat (SSP).

Pasien dengan leukimia limfoblastik akut memerlukan rawat inap di rumah sakit untuk kemoterapi induksi, dan mereka memerlukan rawat inap kembali untuk kemoterapi konsolidasi atau untuk pengobatan efek toksik kemoterapi. Intervensi bedah mungkin diperlukan untuk penempatan kateter vena sentral, seperti triple lumen, Broviac, atau kateter Hickman.

Pengobatan Leukimia limfoblastik akut dikelompokkan berdasarkan usia pasien apakah anak, remaja atau dewasa. Pengobatan Leukimia limfoblastik akut antara lain:

  • Kemoterapi induksi (misalnya, rejimen standar 4 atau 5 obat, ALL-2, atau hiper-CVAD)
  • Kemoterapi konsolidasi
  • Kemoterapi pemeliharaan
  • Inhibitor tirosin kinase untuk penyakit Philadelphia kromosom-positif (Ph +)
  • Rituximab untuk pasien CD20-positif (terutama mereka yang <60 tahun)
  • Kemoterapi intratekal untuk profilaksis sistem saraf pusat (SSP)
  • Transplantasi sel induk
  • Perawatan suportif seperti transfusi darah, antibiotik, faktor pertumbuhan

Intervensi Asuhan Keperawatan (Askep)

Intervensi asuhan keperawatan atau askep leukimia limfoblastik akut antara lain:

Tingkatkan kenyamanan dengan meminimalkan efek merugikan dari kemoterapi, memelihara vena, mengelola komplikasi, dan memberikan pengajaran dan dukungan psikologis. Karena banyak pasien yang masih kanak-kanak, penuhilah kebutuhan emosionalnya dan kebutuhan keluarganya.

Sebelum penanganan

Beberapa intervensi askep leukimia limfoblastik akut sebelum kemoterapi antara lain:

  • Jelaskan rangkaian penyakit, penanganan, dan efek merugikan dari obat yang diberikan.
  • Ajari pasien dan keluarganya cara mengenali infeksi (demam, menggigil, batuk, sakit tenggorokan) dan pendarahan abdominal (memar, petekia) dan cara menghentikan pendarahan ini (menekan dan mengompreskan es di area yang sakit).
  • Tingkatkan nutrisi yang baik. Jelaskan bahwa kemoterapi bisa menyebabkan berat badan turun, mual muntah dan anoreksia, jadi minta pasien mengkonsumsi makanan dan minuman kaya-kalori dan kaya-protein. Akan tetapi, obat kemoterapeutik dan prednisone bisa menyebabkan berat badan naik, jadi konseling dan pengajaran mengenai makanan perlu diberikan.
  • Bantu pasien menjalani rehabilitasi saat remisi.

Untuk perawatan suportif

Untuk mendukung proses perawatan, beberap intervensi askep leukimia limfoblastik akut yang bisa diberikan antara lain:

  • Lihat adakah tanda dan gejala leukemia meningeal (konfusi, letargi, sakit kepala). Jika ada, cari tahu cara mengelola perawatan setelah kemoterapi intratekal. Setelah instilasi semacam ini, tempatkan pasien di posisi Trendelenburg selama 30 menit. Beri pasien banyak cairan, dan jaga ia berada pada posisi telentang selama 4 sampai 6 jam.
  • Periksalah secara rutin adakah pendarahan di tempat pungsi lumbar.
  • Jika pasien menjalani radiasi kranial, beri tahu ia mengenai efek merugikan yang bisa muncul dan lakukan apa yang Anda mampu untuk meminimalkannya.
  • Cegah hiperurisemia, yang bisa disebabkan oleh lisis sel leukemik terpicu-kemoterapi. Beri pasien cairan sebanyak sekitar 2 qt (2 L) setiap hari, dan beri acetazolamide (Diamox), tablet natrium bikarbonat, dan allopurinol (Zyloprim). Seringkali periksalah pH (seharusnya pH lebih dari 7,5). Lihat adakah ruam atau reaksi hipersensitivitas lain terhadap allopurinol.
  • Jika pasien diberi daunorubicin atau doxorubicin, lihat adakah tanda awal dari kardiotoksisitas, misalnya aritmia dan tanda gagal jantung.
  • Kontrol infeksi dengan menempatkan pasien di kamar pribadi dan menentukan isolasi reversi, bila perlu.(Manfaat dari isolasi reversi ini masih kontroversial.) Koordinasikan perawatan pasien sehingga ia tidak melakukan kontak dengan staf yang juga merawat pasien yang terkena infeksi atau penyakit menular. Jangan menggunakan kateter tertanam untuk kencing dan memberi injeksi I.M. karena cara-cara tersebut bisa menyebabkan infeksi. Lakukan screening pada staf dan pembesuk untuk mencegah penyakit menular, dan lihat adakah tanda infeksi.
  • Rawat kulit pasien secara menyeluruh dengan menjaga kulit dan area perianal tetap bersih, mengoleskan losion atau krim lembut untuk mencegah kulit kering dan pecah-pecah, dan secara menyeluruh membersihkan kulit sebelum semua prosedur kulit invasif dilakukan. Lakukan teknik aseptik dengan ketat dan gunakan jarum vena kulit kepala logam (jarum kupu-kupu logam) jika menggunakan saluran I.V. Jika pasien diberi nutrisi parenteral total, rawat kateter subklavian dengan teliti.
  • Pantau suhu tubuh pasien tiap jam. Pasien yang suhu tubuhnya melebihi 101° F (38,3° C) dan mengalami penurunan jumlah WBC sebaiknya menjalani terapi antibiotik yang tepat.
  • Lihat adakah pendarahan. Jika ya, kompres dengan es dan beri tekanan, dan angkat ekstremitas pasien. Jangan memberi injeksi 1.M., aspirin, dan obat yang mengandung aspirin. Jangan pula mengukur suhu pasien secara rektal, dan melakukan pemeriksaan rectal digital.
  • Cegah konstipasi dengan meenjaga kecukupan hidrasi, memberi makanan kaya-residu, pelunak tinja, dan laksatif ringan dan dengan mendorong pasien berjalan-jalan.
  • Kontrol ulserasi mulut dengan sering memeriksa adakah ulser dan pembengkakan gusi yang terlihat dan dengan sering merawat mulut dan memberi pembilas yang mengandung garam.
  • Minta pasien menggunakan sikat gigi lembut dan tidak mengkonsumsi makanan panas dan berbumbu dan tidak menggunakan pencuci mulut yang dijual bebas secara berlebihan. Periksa juga area rektal setiap hari untuk melihat adakah indurasi, pembengkakan, eritema, diskolorasi kulit, atau drainase.
  • Minimalkan stres dan kecemasan dengan memberi pasien atmosfer yang tenang dan sunyi serta kondusif untuk beristirahat dan bersantai. Berikaplah fleksibel, terutama pada anak-anak, dalam merawat pasien dan menentukan jam-jam besuk untuk meningkatkan interaksi maksimum dengan keluarga dan teman dan untuk memberi pasien waktu untuk bersekolah dan bermain.
  • Bagi pasien yang sukar disembuhkan dengan kemoterapi dan penyakitnya memasuki fase terminal, perawatan suportif bertujuan untuk memberikan kenyamanan; mengelola nyeri, demam, dan pendarahan; dan mendukung pasien dan keluarga. Beri kesempatan pasien mendapatkan konseling keagamaan. Diskusikan pilihan perawatan di rumah atau di tempat peristirahatan. Kelompok pendukung, misalnya Himpunan Kanker Amerika, juga bisa membantu.

Referensi:

  1. Lyengar V, Shimanovsky A. 2021. Leukemia. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/ books/ NBK560490/
  2. Karen Seiter. 2021. Acute Lymphoblastic Leukimia (ALL). Med Scape. https://emedicine.medscape.com/article/207631-overview.
  3. Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.
  4. Carol S Viele. 2003. Diagnosis, Treatment, And Nursing Care Of Acute Leukimia. Pubmed.gov. Semin Oncol Nurs. May; 19(2):98-108.  doi: 10.1016/s0749-2081(03)00006-8.
  5. Terwilliger, T & Abdul-Hay, M. 2017. Acute lymphoblastic leukemia: a comprehensive review and 2017 update. Blood cancer journal, 7(6), e577. https://doi.org/10.1038/bcj.2017.53

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Askep Leukimia Limfoblastik Akut"