Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Leukimia Akut - Intervensi

Leukemia akut merupakan proliferasi ganas prekursor sel darah putih (white blood cell — WBC) di sumsum tulang atau nodus limfa dan akumulasinya di darah periferal, sumsum tulang, dan jaringan tubuh. 

Bentuk yang paling umum adalah leukemia limfoblastik akut (acute lymphoblastic (lymphocytic) leukemia - ALL), yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal prekursor limfosit (limfoblas). Leukemia mieloblastik akut (acute myeloblastic leukemia - AML), yaitu kondisi saat prekursor mieloid (mieloblas) terakumulasi dengan cepat. Dan leukemia monoblastik (monosilik) akut (acute monoblastic (monocytic) leukemia) atau tipe Schiliing, yang ditandai dengan bertambahnya prekursor monosit (monoblas) secara nyata. Jenis lain meliputi leukemia mielomonositik akut dan eritroleukemia akut. 

Jika tidak ditangani, leukemia bisa fatal, biasanya akibat komplikasi yang disebabkan oleh infiltrasi sel leukemik sumsum tulang atau organ vital. Jika ditangani, prognosisnya bervariasi. 

Asuhan Keperawatan Leukimia Akut
by James Grellier o wikimedia.org

Jika ALL ditangani, tingkat remisinya adalah 90% dari pasien anak-anak (rata-rata waktu bertahan hidup adalah 5 tahun) dan 60% dari pasien orang dewasa (rata-rata waktu bertahan hidup adalah 1 sampai 2 tahun). Anak-anak yang berusia 2 sampai 8 tahun memiliki tingkat bertahan hidup terbaik (sekitar 50%) dengan terapi intensif. 

Penderita AML memiliki rata-rata waktu bertahan hidup hanya 1 tahun setelah didiagnosis, walaupun ditangani secara agresif. Tingkat remisi leukemia monoblastik akut adalah 50% pada anak-anak dan berlangsung selama 2 sampai 10 bulan jika ditangani, dan orang dewasa hanya bisa bertahan hidup selama 1 tahun setelah diagnosis, walaupun ditangani. 

Leukemia akut lebih sering menyerang pria daripada wanita, orang kulit putih (terutama keturunan Yahudi), anak-anak berusia 2 sampai 5 tahun (80% dari semua leukemia di kelompok-usia ini adalah ALL), dan orang yang tinggal di kota dan area industri. Pada anak-anak, leukemia akut merupakan bentuk kanker yang paling umum. 

Penyebab Patogenesis 

  • Akumulasi WBC yang tidak matang dan tidak berfungsi di jaringan tempat asalnya (limfosit di jaringan limfa, granulosit di sumsum tulang) 
  • Infiltrasi jaringan tersebut ke dalam aliran darah dan jaringan lain, sehingga menyebabkan malfungsi akibat gangguan atau hemoragi. 

Faktor predisposisi 

  • Kombinasi virus (sisa virus telah ditemukan di sel leukemik) 
  • Paparan radiasi dan zat klmiawi tertentu 
  • Faktor genetik dan imunologis 

Tanda dan gejala 

  • Pendarahan abdominal 
  • Pembesaran hati atau limpa 
  • Pembesaran nodus limfa 
  • Tidak enak badan 
  • Berkeringat di malam hari 
  • Pucat 
  • Palpitasi 
  • Demam tinggi yang menyerang mendadak 
  • Desir ejeksi sistolik 
  • Takikardia 

Uji diagnostik 

  • Aspirasi sumsum tulang yang menunjukkan proliferasi WBC tidak matang memastikan leukemia akut.
  • Aspirasi yang kering atau bebas sel leukemik pada pasien yang menunjukkan tanda dan gejala khas membutuhkan biopsi sumsum tulang, biasanya tulang belakang iliak superior posterior. 
  • Jumlah darah menunjukkan trombositopenia dan neutropenia.Jumlah leukosit yang berbeda menentukan tipe sel. 
  • Pungsi lumbar mendeteksi keterlibatan meningeal.

Penanganan 

  • Kemoterapi sistemik bertujuan pada eradikasi sel leukemik dan memicu remisi. Kemoterapi bervariasi menurut tipe leukemia: 
    • Leukemia meningeal—instilasi intratekal methotrexate (Trexall) atau cytarabine (Depocyt) dengan radiasi kranial. 
    • ALL—vincristine, prednisone, methotrexate (Trexall), 6-mercaptopurine (Purinethol), dan cyclophosphamide (Cytoxan) digunakan.Terapi intratekal mungkin dibutuhkan.Terapi radiasi diberikan untuk infiltrasi testikular.
    • AML—kombinasi daunorubicin (Cerubidine) dan cytrabine (Depocyt) digunakan untuk pengobatan. Jika obat-obat ini tidak bisa memicu remisi, penanganan melibatkan beberapa atau semua obat berikut: kombinasi cyclophosphamide, vincristine, prednisone, atau methotrexate; cytarabine dosis-tinggi saja atau dengan obat lain; amsacrine; etoposide (Vepesid); dan 5-azacytidine (Vidaza) dan mitoxantrone (Novantrone). 
    • Leukemia monoblastik akut—cytarabine dan thioguanie dengan daunorubicin atau doxorubicin (Rubex) digunakan. 

  • Transplan sumsum tulang atau sel induk bisa dilakukan.

  • Penanganan juga bisa meliputi antibiotik, obat antifungal, atau obat antivirus dan injeksi granulosit untuk mengontrol infeksi. 

  • Transfusi keping darah (untuk mencegah pendarahan) dan transfusi sel darah merah (untuk mencegah anemia) juga bisa diberikan. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Tingkatkan kenyamanan dengan meminimalkan efek merugikan dari kemoterapi, memelihara vena, mengelola komplikasi, dan memberikan pengajaran dan dukungan psikologis. Karena banyak pasien yang masih kanak-kanak, pekalah terutama pada kebutuhan emosionalnya dan kebutuhan keluarganya.

Sebelum penanganan 

  • Jelaskan rangkaian penyakit, penanganan, dan efek merugikan dari obat yang diberikan.
  • Ajari pasien dan keluarganya cara mengenali infeksi (demam, menggigil, batuk, sakit tenggorokan) dan pendarahan abdominal (memar, petekia) dan cara menghentikan pendarahan ini (menekan dan mengompreskan es di area yang sakit). 
  • Tingkatkan nutrisi yang baik. Jelaskan bahwa kemoterapi bisa menyebabkan berat badan turun dan anoreksia, jadi minta pasien mengkonsumsi makanan dan minuman kaya-kalori dan kaya-protein. Akan tetapi, obat kemoterapeutik dan prednisone bisa menyebabkan berat badan naik, jadi konseling dan pengajaran mengenai makanan perlu diberikan.
  • Bantu pasien menjalani rehabilitasi saat remisi.

Untuk perawatan suportif 

  • Lihat adakah tanda dan gejala leukemia meningeal (konfusi, letargi, sakit kepala). Jika ada, cari tahu cara mengelola perawatan setelah kemoterapi intratekal. Setelah instilasi semacam ini, tempatkan pasien di posisi Trendelenburg selama 30 menit. Beri pasien banyak cairan, dan jaga ia berada pada posisi telentang selama 4 sampai 6 jam. 
  • Seringkali periksalah adakah pendarahan di tempat pungsi lumbar.
  • Jika pasien menjalani radiasi kranial, beri tahu ia mengenai efek merugikan yang bisa muncul dan lakukan apa yang Anda mampu untuk meminimalkannya. 
  • Cegah hiperurisemia, yang bisa disebabkan oleh lisis sel leukemik terpicu-kemoterapi. Beri pasien cairan sebanyak sekitar 2 qt (2 L) setiap hari, dan beri acetazolamide (Diamox), tablet natrium bikarbonat, dan allopurinol (Zyloprim). Seringkali periksalah pH (seharusnya pH lebih dari 7,5). Lihat adakah ruam atau reaksi hipersensitivitas lain terhadap allopurinol. 
  • Jika pasien diberi daunorubicin atau doxorubicin, lihat adakah tanda awal dari kardiotoksisitas, misalnya aritmia dan tanda gagal jantung.
  • Kontrol infeksi dengan menempatkan pasien di kamar pribadi dan menentukan isolasi reversi, bila perlu.(Manfaat dari isolasi reversi ini masih kontroversial.) Koordinasikan perawatan pasien sehingga ia tidak melakukan kontak dengan staf yang juga merawat pasien yang terkena infeksi atau penyakit menular. Jangan menggunakan kateter tertanam untuk kencing dan memberi injeksi I.M. karena cara-cara tersebut bisa menyebabkan infeksi. Lakukan screening pada staf dan pembesuk untuk mencegah penyakit menular, dan lihat adakah tanda infeksi.
  • Rawat kulit pasien secara menyeluruh dengan menjaga kulit dan area perianal tetap bersih, mengoleskan losion atau krim lembut untuk mencegah kulit kering dan pecah-pecah, dan secara menyeluruh membersihkan kulit sebelum semua prosedur kulit invasif dilakukan. Lakukan teknik aseptik dengan ketat dan gunakan jarum vena kulit kepala logam (jarum kupu-kupu logam) jika menggunakan saluran I.V. Jika pasien diberi nutrisi parenteral total, rawat kateter subklavian dengan teliti.
  • Pantau suhu tubuh pasien tiap jam. Pasien yang suhu tubuhnya melebihi 101° F (38,3° C) dan mengalami penurunan jumlah WBC sebaiknya menjalani terapi antibiotik yang tepat. 
  • Lihat adakah pendarahan. Jika ya, kompres dengan es dan beri tekanan, dan angkat ekstremitas pasien. Jangan memberi injeksi 1.M., aspirin, dan obat yang mengandung aspirin. Jangan pula mengukur suhu pasien secara rektal, dan melakukan pemeriksaan rectal digital.
  • Cegah konstipasi dengan meenjaga kecukupan hidrasi, memberi makanan kaya-residu, pelunak tinja, dan laksatif ringan dan dengan mendorong pasien berjalan-jalan.
  • Kontrol ulserasi mulut dengan sering memeriksa adakah ulser dan pembengkakan gusi yang terlihat dan dengan sering merawat mulut dan memberi pembilas yang mengandung garam.
  • Minta pasien menggunakan sikat gigi lembut dan tidak mengkonsumsi makanan panas dan berbumbu dan tidak menggunakan pencuci mulut yang dijual bebas secara berlebihan. Periksa juga area rektal setiap hari untuk melihat adakah indurasi, pembengkakan, eritema, diskolorasi kulit, atau drainase.
  • Minimalkan stres dengan memberi pasien atmosfer yang tenang dan sunyi serta kondusif untuk beristirahat dan bersantai. Berikaplah fleksibel, terutama pada anak-anak, dalam merawat pasien dan menentukan jam-jam besuk untuk meningkatkan interaksi maksimum dengan keluarga dan teman dan untuk memberi pasien waktu untuk bersekolah dan bermain.
  • Bagi pasien yang sukar disembuhkan dengan kemoterapi dan penyakitnya memasuki fase terminal, perawatan suportif bertujuan untuk memberikan kenyamanan; mengelola nyeri, demam, dan pendarahan; dan mendukung pasien dan keluarga. Beri kesempatan pasien mendapatkan konseling keagamaan. Diskusikan pilihan perawatan di rumah atau di tempat peristirahatan. Kelompok pendukung, misalnya Himpunan Kanker Amerika, juga bisa membantu.


Referensi:

  1. Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.
  2. Carol S Viele. 2003. Diagnosi, Treatment, And Nursing Care Of Acute Leukimia. Pubmed.gov

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Leukimia Akut - Intervensi"