bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Memahami Bagaimana Cara Vaksin Bekerja

Vaksin bekerja dengan cara melatih sistem kekebalan manusia untuk mengenali dan melawan mikro organisme yang bersifat patogen, dalam hal ini termasuk virus dan bakteri. Proses ini terjasi dengan pembentukan sel memori yang dapat memicu pertahanan tubuh jika mikroorganisme patogen tersebut kembali menyerang tubuh.

Dengan menyesuaikan pertahanan kekebalan tubuh sendiri, vaksin memberikan perlindungan terhadap banyak penyakit menular, baik dengan memblokirnya sepenuhnya atau mengurangi keparahan gejalanya.

Vaksin dibuat dengan tujuan menghilangkan berbagai penyakit menular seperti cacar, difteri, dan polio.

Dalam sejarah kesehatan modern, vaksin digambarkan sebagai pencapaian terbesar dalam program  kesehatan masyarakat.

Memahami Bagaimana Cara Vaksin Bekerja
Image by Wilfried Pohnke from Pixabay

Bagaimana Sistem Kekebalan Bekerja..?

Sistem kekebalan tubuh memiliki beberapa lapis  garis pertahanan untuk membantu melindungi terhadap penyakit dan melawan infeksi. Secara umum sistem kekebalan tubuh diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu: 

1. Imunitas bawaan

Imunitas bawaan adalah bagian dari sistem kekebalan yang dimiliki oleh tubuh sejak lahir. Sistem imun bawaan melindungi tubuh dan merupakan  pertahanan garis depan melawan penyakit. 

Sistem imun bawaan terdiri dari sel-sel yang segera diaktifkan setelah patogen muncul. Sel-sel ini tidak mengenali jenis  patogen tertentu, tapi akan bertindak secara umum memusnahkan segala jenis patogen yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi tubuh .

Sistem pertahanan bawaan mencakup sel darah putih yang dikenal sebagai makrofag  dan sel dendritik. Sel dendritik khususnya, bertanggung jawab untuk memicu sistem kekebalan dalam pertahanan tahap berikutnya.

2. Imunitas Adaptif

Imunitas adaptif  dikenal sebagai kekebalan yang didapat, sistem kekebalan adaptif merespons patogen yang ditangkap oleh sistem pertahanan bawaan. 

Setelah teridentifikasi sebagai patogen, sistem kekebalan menghasilkan protein spesifik penyakit disebut antibodi yang akan menyerang patogen atau mengerahkan  sel lain seperti limfosit sel B atau sel T untuk pertahanan tubuh.

Antibodi dirancang  untuk mengenali penyerang berdasarkan protein spesifik pada permukaannya yang dikenal sebagai antigen. Antigen ini berfungsi untuk membedakan satu jenis patogen dengan patogen yang lain.

Setelah infeksi dikendalikan, sistem kekebalan meninggalkan sel B memori dan sel T untuk bertindak sebagai penjaga terhadap serangan penyakit ini di masa depan. 

Beberapa di antaranya akan bertahan dalam jangka waktu  yang lama, namun beberapa jenis bisa berkurang seiring waktu dan mulai kehilangan sel memori.

Cara Kerja Vaksin

Vaksinasi dilakukan sebagai metode  pengenalan mikrooganisme patogen agar memicu respons spesifik tubuh terhadap penyakit tersebut. 

Intinya, vaksin memicu tubuh agar berespon seperti sedang diserang, untuk membangkitkan sistem pertahanan adaptif dan membentuk sel memori.

Vaksin biasanya menggunakan mikroorganisme patogen yang mati atau dilemahkan, bagian tertentu dari mikroorganisme patogen, atau zat yang diproduksi oleh mikroorganisme patogen tersebut.

Teknologi terbaru juga telah memungkinkan pembuatan vaksin baru yang tidak melibatkan bagian mana pun dari mikroorganisme patogen itu sendiri, melainkan mengirimkan kode genetik ke sel dan berperan sebagai antigen yang memacu respons imun. Teknologi baru ini digunakan untuk membuat vaksin yang digunakan untuk memerangi COVID-19.

Ada juga vaksin terapeutik yang mengaktifkan sistem kekebalan untuk membantu mengobati penyakit tertentu. Saat ini terdapat  tiga vaksin terapeutik yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) AS yang dapat digunakan dalam pengobatan kanker prostat, kanker kandung kemih invasif, dan melanoma onkolitik. 

Lainnya saat ini sedang dieksplorasi untuk mengobati infeksi virus seperti hepatitis B, hepatitis C, HIV, dan human papillomavirus (HPV).

Jenis-Jenis Vaksin

Meskipun tujuan semua vaksinasi adalah sama yaitu untuk memicu respons imun spesifik antigen, namun tidak semua vaksin bekerja dengan cara yang sama.

Terdapat  lima kategori vaksin yang saat ini digunakan  antara lain:

1. Vaksin dari mikroorganisme hidup yang dilemahkan

Vaksin jenis ini menggunakan virus atau bakteri hidup utuh yang telah dilemahkan  agar tidak berbahaya bagi orang dengan sistem kekebalan yang sehat.

Setelah dimasukkan ke dalam tubuh, virus atau bakteri yang dilemahkan akan  memicu respons imun yang paling dekat dengan infeksi alami. Karena itu, vaksin hidup yang dilemahkan cenderung lebih tahan lama dibandingkan jenis vaksin lainnya.

Vaksin hidup yang dilemahkan dapat mencegah penyakit seperti:

  • Influenza 
  • Campak
  • Penyakit gondok
  • Rotavirus
  • Rubella (campak Jerman)
  • Varisela (cacar air)
  • Demam kuning

Terlepas dari kemanjuran vaksin hidup yang dilemahkan, jenis ini umumnya tidak direkomendasikan untuk orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Ini termasuk penerima transplantasi organ dan orang dengan HIV.

2. Vaksin dari Mikroorganisme yang dimatikan (Tidak Aktif)

Jenis Vaksin ini  juga dikenal sebagai vaksin mati total, menggunakan virus utuh yang sudah mati. Meskipun virus tidak dapat bereplikasi, tubuh akan tetap menganggapnya berbahaya dan meluncurkan respons spesifik antigen

Vaksin yang tidak aktif digunakan untuk mencegah penyakit berikut:

  • Hepatitis A
  • Influenza, khususnya suntikan flu.
  • Polio
  • Rabies

3. Vaksin Subunit

Vaksin subunit hanya menggunakan bagian organela mikroorganisme  atau sedikit protein untuk memicu respons imun. Karena mereka tidak menggunakan seluruh virus atau bakteri, efek sampingnya tidak seperti pada vaksin hidup. Dengan demikian, beberapa dosis biasanya diperlukan agar vaksin menjadi efektif

Yang termasuk dalam jenis vaksin ini juga adalah vaksin konjugasi di mana fragmen antigenik melekat pada molekul gula yang disebut polisakarida.

Penyakit yang dicegah dengan vaksin subunit meliputi:

  • Hepatitis B
  • Haemophilus influenzae tipe b (Hib)
  • Virus papiloma manusia (HPV)
  • Pertusis (batuk rejan)
  • Penyakit pneumokokus
  • Penyakit meningokokus

4. Vaksin Toksoid

Terkadang perlidungan untuk tubuh bukan hanya dipperlukan untuk mikrooganisme patogen saja, melainkan juga racun yang dihasilkan patogen saat berada di dalam tubuh.

Vaksin toksoid menggunakan versi toksin yang dilemahkan yang disebut toksoid, untuk membantu tubuh belajar mengenali dan melawan zat-zat ini sebelum menyebabkan kerusakan.

Vaksin toksoid yang dilisensikan untuk digunakan termasuk yang mencegah:

  • Difteri
  • Tetanus 


5. Vaksin mRNA

Vaksin mRNA yang lebih baru menggunakan messenger RNA (mRNA) yang mengirimkan kode genetik ke sel. 

Di dalam pengkodean terdapat instruksi tentang cara "membangun" antigen spesifik penyakit yang disebut protein spike. mRNA terbungkus dalam cangkang lipid lemak. Setelah pengkodean disampaikan, mRNA dihancurkan oleh sel.

Metode inilah yang sebagian besar di gunakan untuk pembuatan vaksin  COVID-19 yang saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan. 

Keamanan Vaksin

Terlepas dari klaim dan pro kontra masyarakat mengenai vaksin,  dapat disimpulkan bahwa pemberian vaksin sangat aman, kecuali dalam kasus tertentu. 

Sepanjang proses pembuatan dan pengembangan, berbagai rangkaian tes yang sangat ketat harus dilalui vaksin sebelum sampai ke apotek atau diberikan ke pasien.

Sebelum dilisensikan, produsen menjalani fase penelitian klinis yang dipantau secara ketat untuk memastikan apakah kandidat vaksin mereka efektif dan aman. Hal ini biasanya memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan tidak kurang dari 15.000 peserta uji coba

Bahkan setelah vaksin disetujui, akan terus dipantau keamanan dan kemanjurannya, memungkinkan Badan yang berwenang untuk menyesuaikan rekomendasinya sesuai kebutuhan. Terdapat sistem pelaporan yang digunakan untuk melacak reaksi vaksin yang merugikan .

Herd Immunity

Vaksinasi akan melindungi seseorang secara individu, namun pada akhirnya akan melindungi secara kelompok dengan terbentuknya kekebalan kelompok atau yang dikenal dengan Herd Immunity.

Sederhananya, semakin banyak orang dalam suatu komunitas yang divaksinasi terhadap penyakit menular, semakin sedikit yang rentan terhadap penyakit tersebut dan kemungkinan menyebarkannya.

Ketika vaksinasi yang diberikan cukup, masyarakat secara keseluruhan dapat terlindungi dari penyakit, bahkan mereka yang belum terinfeksi. Inilah yang disebut Herd Immunity. 

Pada kasus  COVID-19, penelitian awal menunjukkan bahwa sekitar 70% atau lebih populasi perlu divaksinasi agar kekebalan kelompok berkembang.

Kekebalan kelompok inilah yang mendorong pemerintah berjibaku untuk terus berusaha maksimal meningkatkan cakupan vaksinasi. 

Meski begitu, herd immunity bukanlah kondisi yang tetap. Jika rekomendasi vaksin tidak dipatuhi, suatu penyakit dapat muncul kembali dan menyebar ke seluruh populasi lagi.

Seperti yang terlihat pada campak, penyakit yang dinyatakan telah dieliminasi di Amerika Serikat pada tahun 2000 tetapi penyakit yang muncul kembali karena penurunan tingkat vaksinasi di antara anak-anak. 

Akhir Kata

Hampir semua  bukti klinis menunjukkan bahwa manfaat vaksinasi jauh lebih besar daripada risiko potensial yang mungkin muncul.

Sehingga tidak ada alasan untuk takut, menunda, atau menolak melakukan vaksinasi. Apalagi saat ini pemerintah telah menyediakan pelayanan vaksin pada hampir semua lini pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas sampai rumah sakit rujukan.

Segera daftarkan diri anda, keluarga, dan orang-orang terdekat. Sebagai bentuk partisipasi aktif  dan ikhtiar nyata dalam upaya melindungi diri, keluarga, dan masyarakat dari pandemi covid 19 ini. 


Referensi:

  1. Robyn Correll MPH. 2021. How Do Vaccine Work, Exactly. Verywell Health
  2. CDC. 2018. Understanding How Vaccine Work
  3. Randolph HE et.al. 2020. Herd Immunity: Understanding Covid-19. Immunity. Doi.10.1016/j.immuni.2020.
  4. Vaccine.gov.2020. Vaccine types.