Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Pada Pasien Stroke Konsep Sdki Slki dan Siki

Stroke adalah kondisi dimana terjadinya gangguan suplai darah ke salah satu bagian otak, bisa di sebabkan adanya sumbatan, atau pecahnya pembuluh darah. Penyakit Stroke dapat menyebabkan kerusakan otak yang berkepanjangan, kecacatan, atau bahkan kematian. Pada tulisan ini Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan askep Stroke menggunakan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Tujuan : 

  • Memahami Jenis, penyebab, epidemiologi, serta tanda dan gejala Stroke
  • Memahami pemeriksaan, penatalaksanaan, dan Pencegahan Stroke
  • Merumuskan Diaagnosa keperawatan pada askep Stroke menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan Luaran dan Kriteia hasil pada askep Strok dengan menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep stroke dengan menggunakan Pendekata Siki


Mengenal Penyakit Stroke Hemoragic dan Iskemik

Konsep Medik Dan Askep Stroke

Pendahuluan

Otak membutuhkan oksigen untuk bekerja dengan baik. Walaupun berat otak hanya sekitar 2% dari total berat badan, tapi otak menggunakan 20% suplai oksigen yang di hirup manusia.

Oksigen ini dibawa oleh darah melalui arteri di seluruh bagian otak. Jika terjadi sesuatu yang menghalangi aliran darah, sel saraf otak akan mati dalam beberapa menit karena tidak mendapatkan oksigen. Inilah yang terjadi pada kasus stroke.

Stroke  didefinisikan sebagai defisit neurologis mendadak dari sistem saraf pusat karena iskemia atau perdarahan. Definisi tersebut meliputi stroke iskemik (sekitar 80%), perdarahan intraserebral (15%) dan perdarahan subarachnoid (5%).

Pada stroke iskemik, neuron mulai tidak berfungsi dan defisit klinis muncul jika aliran darah arteri di jaringan otak turun di bawah tingkat kritis. Jika hipoperfusi ini cukup parah dan berlarut-larut, kematian neuron terjadi di inti daerah iskemik. Daerah sekitarnya  juga dapat berubah menjadi infark dalam beberapa menit hingga beberapa jam kecuali aliran darah dipulihkan dengan reperfusi atau sirkulasi kolateral atau perlindungan saraf yang efektif dimulai.

Perdarahan intraserebral (ICH) dan perdarahan subarachnoid (SAH) menyebabkan kerusakan jaringan oleh faktor mekanis (gangguan lokal dan pemotongan jaringan otak) serta oleh mekanisme molekuler, biokimia, dan inflamasi yang berhubungan dengan degradasi darah dan nekrosis parenkim.

Di AS, stroke adalah penyebab kematian paling umum ke-5 dan penyebab paling umum kecacatan neurologis pada orang dewasa.

Tipe Stroke

Transient Ischemic Attack (TIA)

Jika arteri yang menuju ke otak atau di dalam otak tersumbat oleh bekuan darah untuk waktu yang singkat, aliran darah ke area otak akan melambat atau berhenti sama sekali. Kekurangan darah dan oksigen ini dapat menyebabkan serangan iskemik sementara (TIA), juga disebut stroke mini.

TIA dapat menyebabkan gejala seperti mati rasa, kesulitan berbicara, dan kehilangan keseimbangan atau koordinasi. Biasanya gejala-gejala ini berlangsung untuk waktu yang sangat singkat dan kemudian sembuh. 

Walaupun TIA tidak menyebabkan kerusakan otak permanen, Serangan TIA biasanya merupakan tanda peringatan yang serius dan mendahului sekitar 15 persen dari semua kejadian stroke dan tidak boleh diabaikan.

Stroke iskemik

Stroke iskemik terjadi ketika gumpalan darah menyumbat arteri, memotong atau mempersempit aliran darah yang kaya oksigen ke sel-sel otak. Kecuali jika pembuluh darah di dekatnya dapat mengirimkan cukup darah ke daerah yang terkena, sel-sel otak akan mulai mati dan penderita stroke akan mulai mengalami masalah menggunakan bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka atau benar-benar kehilangan beberapa kemampuan.

Terdapat tiga jenis stroke iskemik yang dikategorikan berdasarkan penyebab spesifiknya:

Stroke Iskemik Embolik 

Stroke iskemik embolik terjadi karena gumpalan darah atau fragmen plak terbentuk di suatu tempat di tubuh biasanya arteri jantung atau leher dan bergerak melalui aliran darah ke otak. Begitu berada di otak, gumpalan itu menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan stroke.

Stroke Iskemik Trombotik

Stroke iskemik trombotik terjadi akibat gumpalan darah menghalangi arteri yang memasok darah ke otak. Gumpalan darah dapat mengganggu aliran darah dan menyebabkan stroke. Ini biasa terjadi pada arteri yang rusak oleh arteriosklerosis.

Hipoperfusi Sistemik 

Hipofusi sistemik berarti aliran darah rendah dan terjadi karena kegagalan peredaran darah yang disebabkan oleh kegagalan aksi pemompaan jantung (serangan jantung) sehingga terlalu sedikit darah yang mencapai otak.

Stroke Hemoragik

Stroke Hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak yang menumpahkan darah ke jaringan otak. Tekanan darah tinggi dan aneurisma otak keduanya dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi lemah dan mungkin menyebabkan jenis stroke hemoragik ini.

Biasanya tingkat kematian lebih tinggi dan prognosis keseluruhan lebih buruk bagi mereka yang mengalami stroke hemoragik, dan orang yang mengalami stroke hemoragik biasanya berusia lebih muda.

Stroke hemoragik sering dimanifestasikan dengan sakit kepala yang sangat parah, leher kaku, ketidakmampuan untuk mentolerir cahaya terang (fotofobia), mual dan muntah dan gejalanya biasanya muncul tiba-tiba.

Terdapat dua jenis stroke hemoragik yang dikategorikan berdasarkan penyebab spesifiknya yaitu:

Perdarahan intraserebral 

Merupakan jenis stroke hemoragik yang terjadi ketika pembuluh darah pecah berdarah jauh ke dalam jaringan otak. Hipertensi adalah penyebab paling umum dari jenis stroke ini. Pendarahan menyebabkan sel-sel otak mati, dan bagian otak tersebut tidak lagi berfungsi dengan baik.

Perdarahan Subarachnoid 

Merupkan pecahnya pembuluh darah di dekat permukaan otak dan darah mengalir ke area antara otak dan tengkorak. Pendarahan ini dapat meningkatkan tekanan di otak, melukai sel-sel otak. Jenis stroke ini memiliki banyak kemungkinan penyebab, tetapi biasanya merupakan akibat dari aneurisma yang pecah atau malformasi arteriovenosa, atau AVM.

Epidemiologi

Prevalensi kejadian penyakit stroke di perkirakan Sekitar 1 dari 1.000 orang, dengan peningkatan resiko. Seiring bertambahnya usia, Sekitar 20 dari 1.000 orang berusia di atas 85 tahun terpengaruh.

Sebagian besar orang bisa selamat dari penyakit stroke. Tetapi pasca kejadian serangan tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan di bagian tubuh tertentu atau masalah berbagai masalah fungsional seperti kemampuan berbicara.

Gejala seperti kelumpuhan bisa membaik seiring waktu, tetapi bisa juga permanen seumur hidup. Oleh karena itu, masalah psikologis seperti depresi tidak jarang terjadi pada pasien dengan penyakit stroke.

Orang-orang yang pernah mengalami serangan stroke juga berisiko lebih besar mengalami stroke lagi dimasa yang akan datang. Sekitar 40 dari 100 orang yang selamat dari stroke mengalami serangan stroke kembali dalam waktu sepuluh tahun.

Tanda dan Gejala Stroke

Tanda-tanda umum mengalami penyakit stroke adalah kelemahan mendadak, mati rasa, kelumpuhan, gangguan bicara atau pelo, kesulitan melihat, pusing, dan sakit kepala.

Kelumpuhan biasanya terjadi pada satu sisi tubuh, tidak mampu menggerakan kaki atau lengan. Bisa juga muncul mual atau muntah.

Untuk memudahkan identifikasi kondisi stroke bisa menggunakan metode “F-A-S-T”.

  • F (Face Dropping) : Wajah terkulai, tampak tidak normal pada salah satu sisi atau tidak simetris, merasa baal dan hilang sensasi.
  • A (Arm Weaknes) : Kelemahan tangan. Pasien tidak bisa mengangkat sebelah tangannya. Cara sederhana mintalah untuk mengangkat kedua tangannya keatas. Jika salah satu susah di angkat atau bisa diangkat tapi tertinggal dan tidak bisa selevel atau sejajar dengan tangan yang lain.
  • S (Speech Difficulty): Kesulitan berbicara. Pasien tiba-tiba tidak bisa bicara, kesulitan mengucapkan kata-kata dan atau pembicaraannya sulit dimengerti.
  • T (Time To Call 911) : Saatnya memanggil bantuan. Jika menemukan 3 gejala diatas segera panggil ambulan atau bawa ke unit gawat darurat terdekat.

Penyebab Stroke

Penyebab umum serangan penyakit stroke adalah adanya gumpalan yang menyumbat pembuluh darah otak. Gumpalan bisa terbentuk di otak sendiri, misalnya akibat adanya perubahan pada dinding arteri.

Gumpalan bisa juga terbentuk di bagian tubuh lain lalu terbawa ke otak oleh aliran darah, kemudian menyumbat pada salah satu area di otak. Stroke jenis ini disebut stroke iskemik.

Penyebab kedua  penyakit stroke adalah adanya pendarahan di otak, yaitu pecahnya pembuluh darah sehingga darah menyebar dan menumpuk di jaringan otak. Stroke jenis ini disebut stroke hemoragic.

Faktor Resiko

Siapapun dan usia berapapun memiliki resiko terkena penyakit stroke, namun terjadi peningkatan resiko seiring pertambahan usia. Semakin tua usia, maka resiko terkena stroke semakin tinggi.

Beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terkena serangan stroke antar lain:

Pernah mengalami TIA (Transient Iskemic Attack)

Pernah mengalami TIA (Transient Iskemic Attack) juga dikenal dengan “stroke ringan”. Jika pernah mengalami serangan TIA, maka meningkatkan resiko terkena penyakit stroke di kemudian hari.

Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyebab utama penyakit stroke hemoragic. Hal ini terjadi ketika tekanan darah terlalu tinggi dan menyebabkan pecahnya pembuluh darah arteri yang terdapat di jaringan otak.

Tekanan darah tinggi seringkali tidak bergejala. Oleh sebab itu periksalah tekanan darah secara rutin. Jika ada gejala, mintalah advis dari tenaga kesehatan mengenai cara untuk mengontrol tekanan darah, baik dengan perubahan gaya hidup atau penggunaan obat-obatan.

Kolesterol tinggi

Kelebihan kadar kolesterol di dalam tubuh akan menempel dan menumpuk di dinding pembuluh darah. Penumpukan ini menyebabkan penyempitan pembuluh darah, yang akan meningkatkan resiko penyumbatan atau pecahnya pembuluh. Jika yang terkena adalah pembuluh darah arteri otak, maka akan menjadi penyakit stroke.

Penyakit Jantung

Gangguan jantung secara umum akan meningkatkan resiko penyakit stroke. Seperti penyakit jantung koroner, cacat katup jantung, dan gangguan irama jantung dapat mempengaruhi suplai darah dan menganggu oksigen ke otak.

Pada kasus jantung koroner, penyempitan atau penyumbatan pada arteri koronaria akan menyebabkan kematian jaringan otot jantung (Infark), akhirnya akan mempengaruhi kemampuannya untuk memompa darah.

Diabetes

Pada diabetes melitus terjadi penumpukan gula pada pembuluh darah. Kadar gula yang menumpuk menyebabkan kemampuan darah untuk mengikat oksigen berkurang. Tekanan darah tinggi juga umum terjadi pada penderita diabetes, yang merupakan penyebab utama peningkatan resiko stroke.

Anemia Sel Sabit

Penyakit anemia sel sabit merupakan kelainan darah yang terkait dengan stroke iskemik. Terutama menyerang anak-anak kulit hitam dan hispanik. 

Penyakit ini menyebabkan sejumlah sel darah merah membentuk bulan sabit yang tidak normal. Stroke bisa terjadi jika sel sabit tersangkut di pembuluh darah otak dan menghalangi aliran darah.

Diagnosa

Stroke merupakan keadaan "darurat medik". Jika ada orang di curigai mengalami stroke, segera telpon ambulan atau bawa secepatnya ke Unit Gawat Darurat terdekat.

Pemeriksaan menyeluruh akan dilakukan di Rumah Sakit, pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan, MRI dan pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan.


Pengobatan Stroke

Pengobatan tahap awal bertujuan untuk menyelamatkan nyawa pasien dan meminimalkan kerusakan tubuh yang terjadi. 

Jenis pengobatan yang diberikan tergantung dari jenis stroke yang dialami, apakah akibat gumpalan darah (iskemia) atau pecahnya pembuluh darah otak (hemoragic).

Jika disebabkan penyumbatan, maka tindakan yang dilakukan adalah membuka sumbatan itu atau memecahkannya menggunakan obat atau kateter.

Jika stroke yang di alami adalah akibat pecahnya pembuluh darah, maka Dokter akan melakukan tindakan pengobatan untuk menghentikan pendarahan tersebut dengan cepat. Kadang juga melalui tindakan operasi.

Observasi dan Perawatan lebih lanjut akan dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan stroke, jenis efek yang ditimbulkan, dan hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Rehabilitasi

Setelah proses penyembuhan, tahap selanjutnya adalah mengembalikan kemampuan mobilitas, kekuatan otot, kemampuan berbicara, dan kemandirian pasien. Termasuk mengembalikan keseimbangan emosional dan psikologis pasien. Tahap ini dinamakan tahap rehabilitasi.

Ada berbagai program rehabilitasi yang dilaksanakan oleh rumah sakit untuk pasien pasca stroke. Seperti terapi wicara, fisioterapi, dan pelatihan kebugaran. Program ini bertujuan untuk meminimalkan kecacatan fisik akibat serangan yang pernah dialami.

Terapi okupasi dilaksanakan untuk melatih kemandirian kembali dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik mungkin agar mengurangi keterbatasan fisik pasca serangan.

Pencegahan Stroke

Mengelola resiko stroke dan menjalani gaya hidup sehat dapat membantu mencegah terjadinya serangan stroke.

Di kutip dari Harvard Health publishing, Hal yang bisa dilakukan untuk mencegah stroke antara lain:

  • Kendalikan tekanan darah. Jika memungkinkan, pertahankan tekanan darah kurang dari 120/80.
  • Kurangi kadar garam dalam makanan tidak lebih dari 1,5 gram/hari (sekitar setengah sendok teh).
  • Kurang konsumsi lemak jenuh dan Tingkatkan konsumsi lemak tak jenuh. Tingkatkan konsumsi buah dan sayur.
  • Lakukan olahraga yang teratur dan terukur sesuai usia. Olahraga rutin akan membantu menstabilkan tekanan darah dan menjaga berat badan tetap ideal
  • Kurangi atau hentikan kebiasaan konsumsi minuman beralkohol.
  • Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami fibrilasi atrium. Biasanya di tandai dengan jantung berdebar dan sesak nafas. Segera temui dokter untuk penanganan lebih lanjut.
  • Tangani diabetes dan kendalikan kadar gula darah.
  • Berhentilah merokok. Kebiasaan merokok mempercepat pembentukan gumpalan darah dan meningkatkan penumpukan plak di arteri.

Asuhan Keperawatan (Askep Stroke) SDKI SLKI dan SIKI

Diagnosa, Luaran dan Intervensi Keperawatan.

1. Resiko Perfusi serebral tidak Efektif b/d Embolisme atau stenosis karotis (D.0017)

Luaran: Perfusi Serebral Meningkat (L.02014)
  • Tingkat kesadaran dan kognitif meningkat
  • Tekanan intrakranial menurun
  • Sakit Kepala, gelisah, kecemasan, dan agitasi menurun
  • Nilai rata-rata tekanan darah membaik
  • Kesadaran dan refleks saraf membaik
Intervensi
a. Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial (I. 06198)
  • Identifikasi penyebab peningkatan TIK seperti Lesi, gangguan metabolisme, dan edema serebral.
  • Monitor tanda/gejala peningkatan TIK seperti Tekanan darah meningkat, tekanan nadi melebar, bradikardia, pola napas ireguler, kesadaran menurun
  • Monitor MAP (Mean Arterial Pressure)
  • Monitor CVP (Central Venous Pressure), jika perlu
  • Monitor PAWP, jika perlu
  • Monitor PAP, jika perlu
  • Monitor ICP (Intra Cranial Pressure), jika tersedia
  • Monitor CPP (Cerebral Perfusion Pressure)
  • Monitor gelombang ICP
  • Monitor status pernapasan
  • Monitor intake dan output cairan
  • Monitor cairan serebro-spinalis (mis. Warna, konsistensi)
  • Minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang tenang
  • Berikan posisi semi fowler
  • Hindari maneuver Valsava
  • Cegah terjadinya kejang
  • Hindari penggunaan PEEP
  • Hindari pemberian cairan IV hipotonik
  • Atur ventilator agar PaCO2 optimal
  • Pertahankan suhu tubuh normal
  • Kolaborasi pemberian sedasi dan antikonvulsan, jika perlu
  • Kolaborasi pemberian diuretic osmosis, jika perlu
  • Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu
b. Pemantauan Tekanan Intrakranial (I.06198)
  • Observasi penyebab peningkatan TIK (mis. Lesi menempati ruang, gangguan metabolism, edema sereblal, peningkatan tekanan vena, obstruksi aliran cairan serebrospinal, hipertensi intracranial idiopatik)
  • Monitor peningkatan TD
  • Monitor pelebaran tekanan nadi (selish Tekanan Darah Sisitolik dan Diastolik)
  • Monitor penurunan frekuensi jantung
  • Monitor ireguleritas irama jantung
  • Monitor penurunan tingkat kesadaran
  • Monitor perlambatan atau ketidaksimetrisan respon pupil
  • Monitor kadar CO2 dan pertahankan dalm rentang yang diindikasikan
  • Monitor tekanan perfusi serebral
  • Monitor jumlah, kecepatan, dan karakteristik drainase cairan serebrospinal
  • Monitor efek stimulus lingkungan terhadap TIK
  • Ambil sampel drainase cairan serebrospinal
  • Kalibrasi transduser
  • Pertahankan sterilitas system pemantauan
  • Pertahankan posisi kepala dan leher netral
  • Bilas sitem pemantauan, jika perlu
  • Atur interval pemantauan sesuai kondisi pasien
  • Dokumentasikan hasil pemantauan
  • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
  • Informasikan hasil pemantauan, jika Perlu

2. Gangguan Mobilitas Fisik b/d Gangguan neuromuskuler (D.0054)

Luaran: Mobilitas Fisik meningkat (L.05042)
  • Pergerakan ekstremitas meningkat
  • Kekuatan Otot Meningkat
  • Rentang Gerak (ROM) meningkat
  • Gerakan tidak terkoordinasi menurun
  • Gerakan Terbatas menurun
  • Kelemahan Fisik Menurun
Intervensi: Dukungan Ambulasi (I.06171)
  • Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
  • Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
  • Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai ambulasi
  • Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
  • Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu Seperti tongkat, dan kruk.
  • Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika perlu
  • Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi
  • Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
  • Anjurkan melakukan ambulasi dini
  • Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan Seperti  berjalan dari tempat tidur ke kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi, sesuai toleransi.

3. Defisit Perawatan Diri b/d Gangguan neuromuskular (D.0109)

Luaran: Perawatan Diri Meningkat (L.11103)
  • Kemampuan mandi meningkat
  • Kemampuan menggunakan pakaian meningkat
  • Kemampuan makan meningkat
  • Kemampuan ke toilet (BAB/BAK Meningkat)
  • Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat
  • Minat melakukan perawatan diri meningkat
  • Mempertahankan kebersihan diri meningat
Intervensi :
  • Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia
  • Monitor tingkat kemandirian
  • Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan
  • Sediakan lingkungan yang teraupetik
  • Siapkan keperluan pribadi
  • Dampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri
  • Fasilitasi untuk menerima keadaan ketergantungan
  • Jadwalkan rutinitas perawatan diri
  • Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

4. Gangguan Komunikasi Verbal b/d Penurunan Sirkulasi Serebral (D.0119)

Luaran: Komunikasi Verbal meningkat (L.13118)
  • Kemampuan berbicara meningkat
  • Kemampuan mendengar meningkat
  • Kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat
  • Kontak Mata meningkat
  • Pelo dan gagap menurun
  • Respon perilaku meningkat
  • Pemahaman komunikasi meningkat
Intervensi: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492)
  • Monitor kecepatan, tekanan, kuantitas, volume dasn diksi bicara
  • Monitor proses kognitif, anatomis, dan fisiologis yang berkaitan dengan bicara
  • Monitor frustrasi, marah, depresi atau hal lain yang menganggu bicara
  • Identifikasi prilaku emosional dan fisik sebagai bentuk komunikasi
  • Gunakan metode Komunikasi alternative (mis: menulis, berkedip, papan Komunikasi dengan gambar dan huruf, isyarat tangan, dan computer)
  • Sesuaikan gaya Komunikasi dengan kebutuhan (mis: berdiri di depan pasien, dengarkan dengan seksama, tunjukkan satu gagasan atau pemikiran sekaligus, bicaralah dengan perlahan sambil menghindari teriakan, gunakan Komunikasi tertulis, atau meminta bantuan keluarga untuk memahami ucapan pasien.
  • Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bantuan
  • Ulangi apa yang disampaikan pasien
  • Berikan dukungan psikologis
  • Gunakan juru bicara, jika perlu
  • Anjurkan berbicara perlahan
  • Ajarkan pasien dan keluarga proses kognitif, anatomis dan fisiologis yang berhubungan dengan kemampuan berbicara
  • Rujuk ke ahli patologi bicara atau terapis

5. Gangguan Menelan b/d gangguan serebrovaskuler (D.0063)

Luaran: Status Menelan Membaik
  • Mempertahankan makanan dimulut meningkat
  • Refleks menelan meningkat
  • Kemampuan mengosongkan mulut meningkat
  • Kemampuan mengunyah meningkat
  • Usaha menelan meningkat
  • Pembentukan bolus meningkat
  • Frekwensi tersedak menurun
  • Batuk, muntah, refluks lambung dan regurgitasi menurun
  • Produksi saliva, penerimaan makanan dan kualitas suara membaik
Intervensi
a. Dukungan Perawatan Diri: Makan/minum (I.11351)
  • Identifikasi diet yang dianjurkan
  • Monitor kemampuan menelan
  • Monitor status hidrasi pasien, jika perlu
  • Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama makan
  • Atur posisi yang nyaman untuk makan/minum
  • Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
  • Letakkan makanan di sisi mata yang sehat
  • Sediakan sedotan untuk minum, sesuai kebutuhan
  • Siapkan makanan dengan suhu yang meningkatkan nafsu makan
  • Sediakan makanan dan minuman yang disukai
  • Berikan bantuan saat makan/minum sesuai tingkat kemandirian, jika perlu
  • Motivasi untuk makan di ruang makan, jika tersedia
  • Jelaskan posisi makan pada pasien yang mengalami gangguan penglihatan dengan menggunakan arah jarum jam (mis. sayur di jam 12, rendang di jam 3)
  • Kolaborasi pemberian obat  sesuai indikasi
b. Pencegahan Aspirasi (I.01018)
  • Monitor tingkat kesadaran, batuk, muntah dan kemampuan menelan
  • Monitor status pernapasan
  • Monitor bunyi napas, terutama setelah makan/minum
  • Periksa residu gaster sebelum memberi asupan oral
  • Periksa kepatenan selang nasogastrik sebelum memberi asupan oral
  • Posisikan semi fowler (30-45 derajat)
  • Pertahankan posisi semi fowler (30-45 derajat) pada pasien tidak sadar
  • Pertahankan kepatenan jalan napas (mis. Teknik head tilt chin lift, jaw thrust, in line)
  • Pertahankan perkembangan balon endotracheal tube (ETT)
  • Lakukan penghisapan jalan napas, jika produksi sekret meningkat
  • Sediakan suction diruangan
  • Hindari memberi makan melalui selang gastrointestinal, jika residu banyak
  • Berikan makanan dengan ukuran kecil atau lunak
  • Berikan obat oral dalam bentuk cair
  • Anjurkan makan secara perlahan
  • Ajarkan strategi mencegah aspirasi
  • Ajarkan teknik mengunyah atau menelan, jika perlu

Referensi

  1. Ji Y. Chong. 2020. Overview of Stroke. MSD Manual Professional Version. https://www.msdmanuals.com/professional/neurologic-disorders/stroke/overview-of-stroke
  2. Claudia Chaves. 2020. Stroke. Verywell Health.
  3. InformedHealth. 2017. Stroke: Overview. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279214/
  4. https://www.health.harvard.edu/womens-health/8-things-you-can-do-to-prevent-a-stroke
  5. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  6. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2019.  Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Askep Pada Pasien Stroke Konsep Sdki Slki dan Siki"