Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Mengenal Aterosklerosis, Penyebab, Tanda Gejala, dan Pencegahan

Aterosklerosis adalah suatu kondisi terjadinya  pengendapan lemak seperti ateroma atau plak aterosklerotik  di dinding pembuluh darah arteri yang menyebabkan aliran darah berkurang atau tersumbat.

Penyumbatan pembuluh darah akibat aterosklerosis merupakan penyebab umum serangan jantung dan stroke. Seringkali, gejala pertama adalah nyeri atau kram pada saat aliran darah tidak dapat memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen. Aterosklerosis dapat memengaruhi arteri berukuran sedang dan besar di otak, jantung, ginjal, organ vital lainnya, dan kaki.

Untuk mencegah aterosklerosis, orang harus berhenti dari kebiasaan merkok, memperbaiki pola makan, berolahraga secara teratur, menjaga tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar gula darah.

Aterosklerosis
Gambar by.OpenStax College from: wikimedia.org

Di Amerika Serikat dan sebagian besar negara maju lainnya, aterosklerosis adalah penyebab utama penyakit dan kematian. Pada tahun 2016, penyakit kardiovaskular, seperti arteri koroner  dan stroke, menyebabkan hampir 18  juta kematian di seluruh dunia, sehungga bisa disimpulakan  aterosklerosis sebagai penyebab utama kematian di seluruh dunia.

Penyebab

Perkembangan aterosklerosis merupakan peristiwa berulang dari  cedera halus pada lapisan dalam arteri (endotel), melalui berbagai mekanisme, anatara lain:

  • Tekanan fisik akibat aliran darah yang bergejolak seperti yang terjadi percabangan arteri, terutama pada orang yang memiliki tekanan darah tinggi.
  • Stres inflamasi yang melibatkan sistem kekebalan 
  • Kelainan kimiawi pada aliran darah seperti  tingginya kadar kolesterol dan tingginya kadar  gula darah pada pasien diabetes melitus
  • Infeksi beberapa bakteri atau virus seperti Chlamydia pneumoniae atau cytomegalovirus  juga dapat meningkatkan peradangan pada lapisan dalam arteri (endotel) dan menyebabkan aterosklerosis.

Aterosklerosis dimulai ketika dinding arteri yang terluka menciptakan sinyal kimiawi yang menyebabkan beberapa jenis sel darah putih (monosit dan sel T)  menempel pada dinding arteri tersebut.  Selanjutnya diikuti  mengumpunya kolesterol dan bahan lemak lainnya dan memicu pertumbuhan sel otot polos di dinding arteri. Mereka menumpuk dan membentuk endapan yang tidak rata (ateroma, juga disebut plak) dan seiring waktu, kalsium juga ikut  menumpuk.

Plak yang  tumbuh secara bertahap menyebabkannya arteri menyempit bahkan tersumbat. Sehingga  jaringan yang disuplai oleh arteri mungkin tidak menerima cukup darah dan oksigen. Plak dapat terlepas atau pecah  aliran darah dan  memicu pembentukan gumpalan darah. Jika tersangkut, gumpalan darah ini tiba-tiba dapat menyumbat semua aliran darah  yang merupakan penyebab utama serangan jantung atau stroke..

Faktor risiko Aterosklerosis yang tidak dapat diubah  antara lain:

Memiliki riwayat keluarga aterosklerosis dini 

Usia lanjut

Jenis kelamin 

Beberapa faktor risiko  aterisklerosis yang dapat diubah antara lain:

1. Kebiasaan Merokok 

Salah satu faktor risiko terpenting yang dapat dimodifikasi adalah merokok. Risiko seorang prokok mengembangkan beberapa bentuk aterosklerosis seperti penyakit arteri koroner secara langsung berkaitan dengan jumlah yang dihisap setiap hari. Risiko serangan jantung meningkat tiga kali lipat pada pria dan enam kali lipat pada wanita yang merokok 20 batang atau lebih per hari dibandingkan dengan bukan prokok. Pada orang yang sudah memiliki risiko tinggi penyakit jantung, merokok  sangat berbahaya.

Penggunaan tebakau menurunkan tingkat kolesterol high density lipoprotein  (HDL)  yang disebut  kolesterol "baik",  dan meningkatkan tingkat kolesterol low density lipoprotein (LDL)  yang disebut  kolesterol "jahat".  Merokok meningkatkan kadar karbon monoksida dalam darah, yang dapat meningkatkan risiko cedera pada lapisan dinding arteri. 

Selain itu, penggunaan tembakau meningkatkan kecenderungan darah untuk menggumpal  dengan membuat trombosit menjadi lebih lengket), sehingga meningkatkan risiko penyakit arteri perifer, penyakit arteri koroner, stroke

2. Kadar kolesterol

Kadar kolesterol LDL yang tinggi merupakan faktor risiko penting lainnya yang dapat dimodifikasi. Pola makan yang tinggi lemak jenuhnya  menyebabkan kadar kolesterol LDL meningkat. 

Kadar kolesterol juga meningkat seiring bertambahnya usia dan biasanya lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita, meskipun level tersebut meningkat pada wanita setelah menopause.

Menurunkan kadar kolesterol LDL yang tinggi melalui penggunaan obat-obatan dapat secara signifikan menurunkan risiko serangan jantung, stroke, dan kematian. Banyak jenis obat penurun lipid yang tersedia. Statin adalah tipe yang paling umum.

Tidak semua kadar kolesterol tinggi meningkatkan risiko aterosklerosis. Kadar kolesterol HDL  atau yang di kenal dengan kolesterol “baik”  yang tinggi menurunkan risiko aterosklerosis.

Tingkat kolesterol total yang diinginkan, yang meliputi kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida, adalah 140 hingga 200 mg / dL. Risiko serangan jantung lebih dari dua kali lipat saat kadar kolesterol total mendekati 300 mg / dL. Risiko menurun bila kadar kolesterol LDL di bawah 130 mg / dL), dan kadar kolesterol HDL di atas 40 mg / dL.

3. Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko serangan jantung dan stroke yang disebabkan oleh aterosklerosis. Risiko penyakit kardiovaskular mulai meningkat bila tekanan darah berada di atas 110/75 mm Hg. 

Mengurangi tekanan darah tinggi jelas menurunkan risiko. Dokter biasanya berusaha mencapai tekanan darah kurang dari 140/90 mm Hg, dan seringkali kurang dari 130/80 mm Hg pada orang yang berisiko penyakit kardiovaskular, seperti penderita diabetes atau penyakit ginjal.

4. Diabetes Mellitus

Orang yang mengidap diabetes melitus cenderung mengembangkan penyakit yang menyerang arteri kecil, seperti yang ada di mata, saraf, dan ginjal, yang menyebabkan kehilangan penglihatan, kerusakan saraf, dan penyakit ginjal kronis. 

Orang dengan diabetes juga cenderung mengembangkan aterosklerosis di arteri besar. Aterosklerosis cenderung berkembang pada usia yang lebih dini dan lebih luas daripada pada orang yang tidak menderita diabetes

Risiko terjadinya aterosklerosis adalah 2 hingga 6 kali lebih tinggi untuk penderita diabetes, terutama wanita. Wanita yang mengidap diabetes, beresiko mengalami  aterosklerosis sebelum menopause. Orang yang mengidap diabetes memiliki risiko kematian yang sama dengan orang yang pernah mengalami serangan jantung sebelumnya.

5. Kegemukan

Obesitas, terutama obesitas abdominal (truncal), meningkatkan risiko penyakit arteri koroner. Obesitas juga meningkatkan faktor risiko lain untuk aterosklerosis seperti  tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, dan kadar kolesterol tinggi. Menurunkan berat badan mengurangi risiko semua gangguan ini.

Baca Juga: Metode Diit Pada Obesitas

6. Kurangnya aktifitas Fisik

Ketidakaktifan fisik tampaknya meningkatkan risiko penyakit arteri koroner, dan banyak bukti menunjukkan bahwa olahraga teratur bahkan sampai tingkat sedang dapat mengurangi risiko ini dan menurunkan mortalitas. 

Olahraga juga dapat membantu memodifikasi faktor risiko lain untuk aterosklerosis   dengan menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol dan dengan membantu menurunkan berat badan dan mengurangi resistensi insulin.

7. Diet

Ada bukti substansial bahwa konsumsi sayur dan buah secara teratur dapat menurunkan risiko penyakit arteri koroner. Buah dan sayuran bermanfaat karena zat  yang dikandungnya, dan orang yang makan banyak buah dan sayuran juga makan lebih sedikit lemak jenuh dan lebih cenderung mengonsumsi serat dan vitamin. 

Zat Fitokimia didalam buah dan sayur tertentu yang disebut flavonoid  bersifat  protektif terhadap tubuh. Konsentrasi tinggi dalam anggur merah dapat membantu menjelaskan mengapa orang Prancis memiliki insiden penyakit arteri koroner yang relatif rendah, meskipun mereka menggunakan tmmbakau dan mengonsumsi lebih banyak lemak daripada orang Amerika. Tetapi tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa makan makanan kaya flavonoid atau menggunakan suplemen sebagai pengganti makanan mencegah aterosklerosis.

Tanda dan Gejala

Gejala tergantung pada

Lokasi arteri yang terkena

Apakah arteri yang terkena secara bertahap menyempit atau tiba-tiba tersumbat

Gejala penyempitan bertahap

Dengan penyempitan bertahap, aterosklerosis biasanya tidak menimbulkan gejala sampai bagian dalam arteri menyempit lebih dari 70%. Gejala pertama dari arteri yang menyempit mungkin berupa nyeri atau kram pada saat aliran darah tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen  jaringan. 

Misalnya selama berolahraga, seseorang mungkin merasakan nyeri dada atau ketidaknyamanan karena suplai oksigen ke jantung tidak mencukupi. Nyeri dada (angina) ini hilang dalam beberapa menit setelah orang tersebut berhenti beraktivitas. 

Saat berjalan, seseorang mungkin merasakan kram kaki (klaudikasio intermiten) karena suplai oksigen ke otot kaki tidak mencukupi. Jika arteri yang memasok satu atau kedua ginjal menyempit, gagal ginjal atau tekanan darah tinggi yang berbahaya dapat terjadi.

Gejala penyumbatan arteri mendadak

Jika arteri yang memasok jantung (arteri koroner) tersumbat secara tiba-tiba, serangan jantung dapat terjadi. Penyumbatan di arteri yang memasok otak bisa menyebabkan stroke. Penyumbatan arteri di kaki dapat menyebabkan gangren pada jari kaki, kaki, atau tungkai.

Diagnosis

  • Tes darah untuk mencari faktor risiko aterosklerosis
  • Tes pencitraan untuk mencari plak berbahaya
  • Bagaimana aterosklerosis didiagnosis tergantung pada apakah orang tersebut mengalami gejala atau tidak.

Orang dengan gejala

Orang yang memiliki gejala yang menunjukkan arteri tersumbat harus menjalani tes untuk mencari lokasi dan luasnya penyumbatan. Tes yang berbeda digunakan tergantung pada organ mana yang terkena. Misalnya, jika dicurigai adanya penyumbatan arteri di jantung, maka akan dilakukan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG), tes darah untuk zat penanda jantung yang menunjukkan kerusakan jantung, dan terkadang tes stres atau kateterisasi jantung.

Selain itu akan dilakukan pengujian  faktor risiko tertentu pada orang yang mengalami penyumbatan aterosklerotik. Misalnya,pengukuran  kadar glukosa, kolesterol, dan trigliserida dalam darah. 

Orang tanpa gejala (skrining)

Pada orang yang memiliki faktor risiko aterosklerosis tetapi tanpa gejala, akan dilakukan tes darah untuk mengukur kadar glukosa, kolesterol, dan trigliserida dalam darah. Tes ini dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan rutin tahunan pada orang dewasa.

Pencegahan dan penanganan

  • Perubahan gaya hidup untuk mengurangi risiko komplikasi
  • Obat-obatan

Untuk membantu mencegah aterosklerosis, beberap hal yang perlu dilakukan antara lain:

  • Makan makanan yang sehat
  • Olahraga
  • Menurunkan berat badan
  • Hentikan penggunaan tmbakau
  • Menurunkan kadar kolesterol LDL
  • Mengontrol tekanan darah
  • Menurunkan kadar glukosa darah
  • Terkadang, minum obat seperti statin

Komplikasi aterosklerosis

Ketika aterosklerosis menjadi cukup parah sehingga menyebabkan komplikasi, komplikasinya sendiri harus ditangani. Komplikasi yang sering terjadi antara lain:

  • Angina
  • Serangan jantung atau infark
  • Irama jantung yang tidak normal atau aritmia
  • Penyakit ginjal kronis
  • Stroke
  • Kram kaki (klaudikasio intermiten)
  • Ganggren


Referensi:

George Thanassoulis & Mehdi Afsar. 2019. Atherosclerosis. McGill University & University of Toronto. MSD Manual 

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Mengenal Aterosklerosis, Penyebab, Tanda Gejala, dan Pencegahan"