bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Askep Penyakit Parkinson Sdki Slki Siki

Penyakit Parkinson merupakan gangguan yang mempengaruhi otak,  biasanya terjadi pada lansia dan membatasi kemampuan seseorang untuk bergerak. Meskipun saat ini tidak ada obatnya, perawatan efektif yang dapat membantu meredakan gejalanya. Pada tulisan ini, kami akan merangkum mengenai konsep medik dan askep parkinson menggunakan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Tujuan:

  • Memahami Definisi, epidemiologi, penyebab, serta tanda dan gejala penyakit parkinson
  • Memahami pemeriksaan dan penatalaksanaan pada pasien dengan penyakit parkinson
  • Merumuskan diagnosa keperawatan yang sering muncul pada askep parkinson menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan luaran dan intervensi keperawatan pada askep parkinson dengan menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep parkinson menggunakan pendekatan Siki

Askep Penyakit Parkinson, Teori dan Konsep
Gambar by BruceBlaus.on wikimedia.org

Konsep Medik dan Askep Penyakit Parkinson

Definisi

Penyakit Parkinson adalah gangguan degeneratif yang progresif perlahan yang ditandai dengan tremor saat istirahat, kekakuan atau rigiditas, gerakan lambat dan menurun (bradikinesia), dan akhirnya gaya berjalan dan ketidakstabilan postural.

Penyakit Parkinson yang juga dikenal sebagai shaking palsy dan paralisis agitans secara khas menimbulkan rigiditas otot progresif, akinesia, dan tremor involunter.

Penderita bisa meninggal akibat komplikasi, misalnya pneumonia aspirasi atau infeksi lainnya. Penyakit Parkinson merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling umum diderita populasi lansia.

Penyakit Parkinson mempengaruhi sekitar :

  • 0,4% orang> 40 tahun
  • 1% orang ≥ 65 tahun
  • 10% orang ≥ 80 tahun

Usia rata-rata saat onset adalah sekitar 57 tahun.

Sebagian besar kecacatan disebabkan oleh gejala nonmotorik seperti depresi, kecemasan, dan nyeri. Parkinsonisme sekunder adalah disfungsi otak yang ditandai dengan blokade dopaminergik ganglia basal dan mirip dengan penyakit Parkinson, tetapi disebabkan oleh sesuatu selain penyakit Parkinson seperti obat-obatan, penyakit serebrovaskular, trauma, perubahan postensefalitik.

Parkinsonisme atipikal mengacu pada sekelompok gangguan neurodegeneratif yang memiliki beberapa gejala yang mirip dengan penyakit Parkinson tetapi memiliki beberapa gejala klinis yang berbeda dan prognosis yang lebih buruk.

Epidemiologi

Penyakit Parkinson merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling umum, mempengaruhi sekitar 1% dari individu lansia diatas  60 tahun. Insiden penyakit Parkinson diperkirakan 4,5-21 kasus per 100.000 penduduk per tahun, dan perkiraan prevalensi berkisar antara 18 hingga 328 kasus per 100.000 penduduk.

Variasi luas dalam perkiraan insiden dan prevalensi global yang dilaporkan mungkin merupakan hasil dari sejumlah faktor, seperti cara pengumpulan data, perbedaan dalam struktur populasi dan usia harapan hidup, penentuan kasus, dan metodologi yang digunakan.

Insiden dan prevalensi penyakit Parkinson meningkat seiring bertambahnya usia, dan usia rata-rata onset adalah sekitar 60 tahun. Onset pada usia yang lebih muda dari 40 tahun relatif jarang. Penyakit Parkinson sekitar 1,5 kali lebih sering terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita.

Penyebab

Meskipun penyebab penyakit Parkinson masih belum jelas, sebagian besar kasus diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Penyebab genetik penyakit Parkinson saat ini diketahui sekitar 10% dari kasus.

Penyebab lingkungan

Faktor risiko lingkungan umumnya terkait dengan perkembangan penyakit Parkinson antara lain penggunaan pestisida, konsumsi air sumur, paparan herbisida, dan kedekatan dengan pabrik industri atau tambang.

Sebuah meta-analisis dari beberapa penelitian menemukan bahwa paparan pestisida dapat meningkatkan risiko penyakit parkinson sebanyak 80%. Paparan paraquat pembunuh gulma atau fungisida meningkatkan risiko penyakit parkinson sekitar 2 kali lipat.

Dalam studi kasus-kontrol, penyakit parkinson dikaitkan dengan paparan semua jenis pestisida, herbisida, insektisida, dan pelarut, dengan risiko mulai dari 33 - 80%. Peningkatan risiko penyakit parkinson juga dikaitkan dengan kondisi proksi paparan polutan organik, seperti pertanian, minum air sumur, dan kehidupan pedesaan. Selain itu, risiko tampaknya meningkat dengan lamanya paparan.

National Institutes of Health-AARP Diet and Health Study, serta meta-analisis studi prospektif, menemukan bahwa asupan kafein yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko penyakit Parkinson yang lebih rendah. Mekanisme biologis yang mendasari hubungan terbalik antara kafein dengan risiko penyakit Parkinson tidak dijelaskan dengan baik.

Gangguan MPTP dengan Fungsi Mitokondria

Beberapa individu diidentifikasi yang mengembangkan parkinsonisme setelah injeksimeti-fenil-tetrahidropiridin (MPTP). Pasien-pasien ini mengembangkan bradikinesia, kekakuan, dan tremor, yang selama beberapa minggu dan membaik dengan terapi penggantian dopamin. MPTP melintasi sawar darah otak dan dioksidasi menjadi MPP+ oleh monoamine oksidase (MAO)-B.

Kemiripan kimiawi antara MPTP dan beberapa herbisida dan pestisida menunjukkan bahwa racun lingkungan seperti MPTP mungkin menjadi penyebab penyakit Parkinson, tetapi tidak ada agen spesifik yang diidentifikasi. Meskipun demikian, aktivitas kompleks mitokondria I berkurang pada penyakit Parkinson, menunjukkan jalur yang sama dengan parkinsonisme yang diinduksi MPTP.

Hipotesis Oksidasi

Hipotesis oksidasi menunjukkan bahwa kerusakan radikal bebas, yang dihasilkan dari metabolisme oksidatif dopamin, berperan dalam perkembangan atau perkembangan penyakit Parkinson.

Metabolisme oksidatif dopamin mengarah pada pembentukan hidrogen peroksida. Biasanya, hidrogen peroksida dibersihkan dengan cepat oleh glutathione, tetapi jika hidrogen peroksida tidak dibersihkan secara memadai, dapat menyebabkan pembentukan radikal hidroksil yang sangat reaktif yang dapat bereaksi dengan lipid membran sel menyebabkan peroksidasi lipid dan kerusakan sel.

Pada penyakit Parkinson, tingkat glutathione menurun, menunjukkan hilangnya perlindungan terhadap pembentukan radikal bebas. Besi meningkat di substansia nigra dan dapat berfungsi sebagai sumber elektron donor, sehingga mendorong pembentukan radikal bebas.

Penyakit Parkinson dikaitkan dengan peningkatan pergantian dopamin, penurunan mekanisme perlindungan glutathione, peningkatan zat besi (molekul pro-oksidasi), dan bukti peningkatan peroksidasi lipid.

Hipotesis ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa peningkatan pergantian dopamin karena pemberian levodopa dapat meningkatkan kerusakan oksidatif dan mempercepat hilangnya neuron dopamin. Namun, tidak ada bukti yang jelas bahwa levodopa mempercepat perkembangan penyakit parkinson.

Faktor Genetik

Meskipun mekanisme mutasi genetik yang menyebabkan penyakit Parkinson tidak diketahui, bukti sampai saat ini mengarah pada mekanisme yang terkait dengan agregasi protein abnormal, degradasi protein yang dimediasi ubiquitin yang rusak, disfungsi mitokondria, dan kerusakan oksidatif.

Melanoma

Selama bertahun-tahun, terdapat spekulasi tentang hubungan antara penyakit parkinson dengan melanoma. Awalnya, ada teori bahwa obat levodopa menyebabkan peningkatan risiko kanker kulit, tetapi penelitian tidak mengkonfirmasi hal tersebut.

Namun, percobaan berikutnya sejak menemukan peningkatan risiko melanoma pada pasien dengan penyakit parkinson. Sebuah penelitian khusus yang dilakukan pada tahun 2017 menemukan bahwa pasien Parkinson memiliki sekitar 4 kali lipat peningkatan risiko memiliki melanoma yang sudah ada sebelumnya. Penelitian  lain menemukan risiko menjadi 7 kali lipat.

Diabetes Melitus

Dalam sebuah penelitian kohort, para peneliti menemukan bahwa individu dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki 32% peningkatan risiko terkena penyakit Parkinson di kemudian hari dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes.

Penelitian  ini melibatkan 2 juta orang sampel dengan diabetes melitus tipe 2 dan membandingkannya dengan kohort referensi 6.173.208 orang tanpa diabetes. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan tingkat penyakit Parkinson pada kelompok diabetes melitus tipe 2.

Tanda dan gejala

Tanda dan gejala penyakit parkinson antara lain:

  • Blefarospasma (kelopak mata benar-benar menutup)
  • Bradikinesia atau akinesia
  • Demensia
  • Meneteskan air liur
  • Disartria
  • Disfagia
  • Bunyi bernada tinggi dan monoton
  • Gemetar tersembunyi yang dimulai dari jari tangan (gemetar pill-roll unilateral)
  • Kehilangan rasa pemosisian disertai ketidakstabilan postural
  • Kehilangan kontrol postur (pasien berjalan dengan tubuh membungkuk)
  • Ekspresi wajah seperti topeng
  • Rigiditas otot
  • Krisis okulogirik (mata terus menatap ke atas, disertai gerakan tonik involunter)
  • Gemetar berkurang saat pasien melakukan gerakan bermakna dan tidur , Gemetar meningkat saat pasien stres atau resah


Pemeriksaan diagnostik

Diagnosis lebih didasarkan pada usia dan riwayat pasien dan pada gambar klinis khas daripada pengujian diagnostik khusus.

Urinanalisis bisa memperlihatkan kadar dopamine turun.

Computed tomography scan atau magnetic resonance imaging bisa dilakukan untuk menyingkirkan gangguan lain, misalnya tumor intrakranial. Penyebab gemetar lain juga harus dicegah untuk mendapatkan diagnosis yang pasti.

Penatalaksanan Parkinson

Beberapa Penatalaksanaan Parkinson yang diberikan antara lain: 

  • Levodopa bisa diberikan dalam dosis yang semakin ditingkatkan sampai gejala reda atau sampai pasien mengalami reaksi merugikan terhadapnya.
  • Karena reaksi merugikan bisa serius, levodopa umumnya diberikan dengan carbidopa (Sinemet merupakan obat kombinasi) untuk menghalangi sintesis dopamine periferal. Jika levodopa terbukti tidak efektif atau terlalu toksik, terapi obat alternatif meliputi antikolinergis misalnya trihexyphenidyl, antihistamin misalnya diphenhydramine (Benadryl), dan antivirus misalnya amantadine (Symmetrel).
  • Rasagiline (Azilect), yaitu inhibitor monoamine oksidase-B, menghalangi kerusakan dopamine dan bisa digunakan sebagai monoterapi jika penyakit masih di stadium awal dan sebagai tambahan levodopa jika penyakit sudah memasuki stadium yang lebih tinggi.
  • Selegiline (Eldepryl), yaitu inhibitor enzim, membantu memelihara dopamine dan mempertinggi efek terapeutik levodopa.
  • Penelitan pada teori tekanan oksidatif telah menimbulkan kontroversi dalam terapi obat bagi penyakit Parkinson. Walaupun secara tradisional menjadi obat pilihan pertama untuk mengelola penyakit ini, levodopa (dengan carbidopa) juga berkaitan dengan akselerasi proses penyakit. Selegliline yang diikuti levodopa (dengan carbidopa) bisa terbukti meningkatkan perlindungan.
  • Untuk mencegah kenaikan tekanan darah yang berbahaya saat meminum rasagiline atau selegiline, pasien sebaiknya menghindari makanan kaya-tiramin (serta suplemen makanan dan minuman), misalnya keju, daging yang dikeringkan dengan udara, ikan haring yang diasinkan, ekstrak ragi, anggur merah simpanan, bir dalam tong, acar kol, dan kecap. Gejala reaksi ini meliputi sakit kepala parah, pandangan kabur, sulit berpikir, sawan, nyeri dada, mual muntah tak jelas, atau gejala stroke. Pasien sebaiknya segera mencari penanganan medis jika mengalami gejala demikian.
  • Pasien bisa diberi bromocriptine (Parlodel) sebagai aditif untuk mengurangi dosis Ievodopa.
  • Inhibitor catechol-O-methyltransferase, misalnya entacapone (Comtan) dan tolcapone (Tasmar) menghalangi enzim yang memecah levodopa periferal.
  • Pembedahan saraf (neurosurgery) stereotaktis bisa diperlukan untuk meringankan gejala.
  • Stimulasi otak dalam bisa membantu meringankan gejala.
  • Terapi fisik menjaga tonus dan fungsi otot normal.
  • Terapi tambahan meliputi transplantasi sel fetal dan neurotransplantasi.

Asuhan Keperawatan 

Intervensi Keperawatan Secara Umum

Tujuan intervensi pada askep parkinson meliputi peningkatan mobilitas fungsional, mempertahankan kemandirian dalam melakukan ADL, mencapai eliminasi usus yang optimal, mencapai dan mempertahankan status nutrisi yang adekuat, mencapai komunikasi yang efektif, dan mengembangkan mekanisme koping yang positif.

Intervensi yang bisa dilakukan pada askep parkinson antara lain:

  • Pantau pengobatan secara seksama.
  • Dorong pasien mandiri. Pasien yang mengalami gemetar berlebihan bisa mendapatkan kontrol parsial tubuhnya dengan duduk di kursi dan menggunakan lengan kursi tersebut untuk menyeimbangkan dirinya. Ingat bahwa rasa letih bisa menyebabkannya lebih tergantung pada orang lain.
  • Menyusun jadwal makan di sekitar waktu efisiensi obat mencapai maksimum akan membantu meminimalkan komplikasi dun meningkatkan nutrisi yang baik.
  • Bantu pasien mengatasi masalah yang berkaitan dengan makan dan pembuangan. Sebagai contoh, jika ia sulit makan, beri suplemen makanan atau makan sedikit namun sering untuk menambah asupan kalori.
  • Jaga motilitas usus yang teratur dengan mendorong pasien minum setidaknya 2.000 ml cairan setiap hari dan mengkonsumsi banyak makanan. la mungkin memerlukan dudukan toilet yang dinaikkan untuk membantunya berpindah dari posisi berdiri ke posisi duduk.
  • Tunjukkan pada keluarga cara mencegah ulser tekanan dan kontraktur dengan pemosisian yang tepat.
  • Pada pemberian askep parkinson, Jelaskan bahwa pasien sebaiknya menghindari makanan kaya-protein (karena mengganggu reaksi levodopa), dan jelaskan mengenai tindakan pengamanan di rumah untuk mencegah kecelakaan.
  • Pada pelaksanaan askep parkinson, minta pasien dan keluarganya bersikap konsisten pada makanan yang tepat, memperhatikan pemosisian yang benar, dan melakukan strategi menelan untuk mengurangi disfagia dan menghindari aspirasi. Ajari juga keluarga cara mengkaji aspirasi.
  • Beri dukungan emosional pada pasien dan keluarganya. Sarankan mereka mendapatkan konseling dan kelompok pendukung yang tepat.

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Berdasarkan Sdki Slki Siki

1. Gangguan Mobilitas Fisik b/d Penurunan Kendali Otot (D.0054)

Luaran: Mobilitas Fisik meningkat (L.05042)

  • Pergerakan ekstremitas meningkat
  • Kekuatan Otot Meningkat
  • Rentang Gerak (ROM) meningkat
  • Gerakan tidak terkoordinasi menurun
  • Gerakan Terbatas menurun
  • Kelemahan Fisik Menurun

Intervensi Keperawatan: Dukungan Ambulasi (I.06171)

  • Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
  • Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
  • Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai ambulasi
  • Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
  • Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu Seperti tongkat, dan kruk.
  • Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika perlu
  • Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi
  • Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
  • Anjurkan melakukan ambulasi dini
  • Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan Seperti  berjalan dari tempat tidur ke kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi, sesuai toleransi

2. Defisit perawatan diri

Luaran: Perawatan Diri Meningkat (L.11103)

  • Kemampuan mandi meningkat
  • Kemampuan menggunakan pakaian meningkat
  • Kemampuan makan meningkat
  • Kemampuan ke toilet (BAB/BAK Meningkat)
  • Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat
  • Minat melakukan perawatan diri meningkat
  • Mempertahankan kebersihan diri meningat
Intervensi Keperawatan : Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
  • Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia
  • Monitor tingkat kemandirian
  • Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan
  • Sediakan lingkungan yang teraupetik
  • Siapkan keperluan pribadi
  • Dampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri
  • Fasilitasi untuk menerima keadaan ketergantungan
  • Jadwalkan rutinitas perawatan diri
  • Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

3. Defisit Nutrisi b/d Ketidakmampuan mencerna makanan dan mengabsorbsi nutrient (D.0019)

Luaran: Status Nutrisi membaik (L.03030)
  • Porsi makan yang dihabiskan meningkat
  • Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi
  • Pengetahuan tentang pilihan makanan dan minuman yang sehat meningkat
  • Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi yang tepat meningkat
  • Perasaan cepat kenyang menurun
  • Nyeri abdomen menurun
  • Berat badan dan Indeks massa tubuh (IMT) membaik
  • Frekuensi dan nafsu makan membaik
  • Tebal lipatan kulit trisep dan membran mukosa membaik
Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119)
  • Identifikasi status nutrisi
  • Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
  • Identifikasi makanan yang disukai
  • Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
  • Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
  • Monitor asupan makanan
  • Monitor berat badan
  • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
  • Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
  • Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. Piramida makanan)
  • Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
  • Berikan makan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
  • Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
  • Berikan suplemen makanan, jika perlu
  • Hentikan pemberian makan melalui selang nasigastrik jika asupan oral dapat ditoleransi
  • Anjurkan posisi duduk, jika mampu
  • Ajarkan diet yang diprogramkan
  • Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri, antiemetik), jika perlu
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

4. Risiko Konstipasi (D.0049)

Luaran: Eliminasi Fekal membaik (L.04033)
  • Kontrol pengeluaran feses meningkat
  • Keluhan defekasi lama dan sulit menurun
  • Mengejan saat defekasi menurun
  • Distensi abdome menurun
  • Nyeri dan kram abdomen menurun
  • Konsistensi feses membaik
  • Frekuensi defekasi membaik
  • peristaltik usus membaik
Intervensi Keperawatan: Pencegahan Konstipasi
  • Identifikasi factor risiko konstipasi (mis.asupan serat tidak adekuat, asupan cairan tidak adekuat, aganglionik, kelemahan otot abdomen, aktivitas fisik kurang)
  • Monitor tanda dan gejala konstipasi (mis.defekasi kurang 2 kali seminggu, defekasi lama/sulit. Feses keras, peristaltic menurun)
  • Identifikasi status kognitif untuk mengkomunikasikan kebutuhan
  • Identifikasi penggunaan obat-obatan yang menyebabkan konstipasi
  • Batasi minuman  yang mengandung kafein dan alcohol
  • Jadwalkan rutinitas BAK
  • Lakukan masase abdomen
  • Berikan terapi akupresur
  • Jelaskan penyebab dan factor risiko konstipasi
  • Anjurkan minum air putih sesuai dengan kebutuhan (1500-2000 ml/hari)
  • Anjurkan minum air putih sesuai dengan kebutuhan (1500-2000 ml/hari)
  • Anjurkan mengkonsumsi makanan berserat (25-30 gram/hari)
  • Anjurkan meningkatkan aktivitas fisik sesuai kebutuhan
  • Anjurkan berjalan 15-20 menit 1-2 kali/hari
  • Anjurkan berjongkok untk memfasilitasi proses BAB
  • Kolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu

Referensi:

  1. Matt  Vera, BSN.RN. 2019. Parkinson’s Disease Nursing Care Plans. Nurses Lab
  2. Hector A. Gonzalez-Usigli. 2020. Parkinson Disease. Centro Medico Nacional De Occidente. MSD Manual
  3. Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks
  4. Robert A Hauser. 2020. Parkinson Disease. Med Scape. https://emedicine.medscape.com/article/1831191-overview.
  5. InformedHealth.org. 2009. Parkinson’s disease: Overview. Updated 2019 Jul 4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK293713/
  6. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia edisi (SIKI) 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  8. PPNI, 2019.  Standart  Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta