Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Penyakit Parkinson - Intervensi

Penyakit Parkinson adalah gangguan degeneratif yang progresif perlahan yang ditandai dengan tremor saat istirahat, kekakuan (rigiditas), gerakan lambat dan menurun (bradikinesia), dan akhirnya gaya berjalan dan ketidakstabilan postural.

Penyakit Parkinson yang juga dikenal sebagai shaking palsy dan paralisis agitans secara khas menimbulkan rigiditas otot progresif, akinesia, dan tremor involunter.

Penderita bisa meninggal akibat komplikasi, misalnya pneumonia aspirasi atau infeksi lainnya. Penyakit Parkinson merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling umum diderita populasi lansia

Asuhan Keperawatan Parkinson
Gambar by BruceBlaus.on wikimedia.org

Penyakit Parkinson mempengaruhi sekitar :

  • 0,4% orang> 40 tahun
  • 1% orang ≥ 65 tahun
  • 10% orang ≥ 80 tahun
  • Usia rata-rata saat onset adalah sekitar 57 tahun.

Sebagian besar kecacatan disebabkan oleh gejala nonmotorik seperti depresi, kecemasan, dan nyeri. Parkinsonisme sekunder adalah disfungsi otak yang ditandai dengan blokade dopaminergik ganglia basal dan mirip dengan penyakit Parkinson, tetapi disebabkan oleh sesuatu selain penyakit Parkinson seperti obat-obatan, penyakit serebrovaskular, trauma, perubahan postensefalitik.

Parkinsonisme atipikal mengacu pada sekelompok gangguan neurodegeneratif yang memiliki beberapa gejala yang mirip dengan penyakit Parkinson tetapi memiliki beberapa gejala klinis yang berbeda dan prognosis yang lebih buruk.

Penyebab 

  • Tidak diketahui 
  • Kemungkinan disebabkan oleh paparan toksin (misalnya debu mangan dan karbonmonoksida, yang menghancurkan sel dalam substantia nigra). 

Tanda dan gejala 

  • Blefarospasma (kelopak mata benar-benar menutup) 
  • Bradikinesia atau akinesia 
  • Meneteskan air liur 
  • Disartria 
  • Disfagia 
  • Bunyi bernada tinggi dan monoton 
  • Gemetar tersembunyi yang dimulai dari jari tangan (gemetar pill-roll unilateral) 
  • Kehilangan rasa pemosisian disertai ketidakstabilan postural 
  • Kehilangan kontrol postur (pasien berjalan dengan tubuh membungkuk) 
  • Ekspresi wajah seperti topeng 
  • Rigiditas otot 
  • Krisis okulogirik (mata terus menatap ke atas, disertai gerakan tonik involunter) 
  • Gemetar berkurang saat pasien melakukan gerakan bermakna dan tidur , Gemetar meningkat saat pasien stres atau resah 

Uji diagnostik 

Diagnosis lebih didasarkan pada usia dan riwayat pasien dan pada gambar klinis khas daripada pengujian diagnostik khusus. 

Urinanalisis bisa memperlihatkan kadar dopamine turun. 

Computed tomography scan atau magnetic resonance imaging bisa dilakukan untuk menyingkirkan gangguan lain, misalnya tumor intrakranial. Penyebab gemetar lain juga harus dicegah untuk mendapatkan diagnosis yang pasti. 

Penanganan 

  • Levodopa bisa diberikan dalam dosis yang semakin ditingkatkan sampai gejala reda atau sampai pasien mengalami reaksi merugikan terhadapnya. 
  • Karena reaksi merugikan bisa serius, levodopa umumnya diberikan dengan carbidopa (Sinemet merupakan obat kombinasi) untuk menghalangi sintesis dopamine periferal. Jika levodopa terbukti tidak efektif atau terlalu toksik, terapi obat alternatif meliputi antikolinergis misalnya trihexyphenidyl, antihistamin misalnya diphenhydramine (Benadryl), dan antivirus misalnya amantadine (Symmetrel). 
  • Rasagiline (Azilect), yaitu inhibitor monoamine oksidase-B, menghalangi kerusakan dopamine dan bisa digunakan sebagai monoterapi jika penyakit masih di stadium awal dan sebagai tambahan levodopa jika penyakit sudah memasuki stadium yang lebih tinggi. 
  • Selegiline (Eldepryl), yaitu inhibitor enzim, membantu memelihara dopamine dan mempertinggi efek terapeutik levodopa. 
  • Penelitan pada teori tekanan oksidatif telah menimbulkan kontroversi dalam terapi obat bagi penyakit Parkinson. Walaupun secara tradisional menjadi obat pilihan pertama untuk mengelola penyakit ini, levodopa (dengan carbidopa) juga berkaitan dengan akselerasi proses penyakit. Selegliline yang diikuti levodopa (dengan carbidopa) bisa terbukti meningkatkan perlindungan. 
  • Untuk mencegah kenaikan tekanan darah yang berbahaya saat meminum rasagiline atau selegiline, pasien sebaiknya menghindari makanan kaya-tiramin (serta suplemen makanan dan minuman), misalnya keju, daging yang dikeringkan dengan udara, ikan haring yang diasinkan, ekstrak ragi, anggur merah simpanan, bir dalam tong, acar kol, dan kecap. Gejala reaksi ini meliputi sakit kepala parah, pandangan kabur, sulit berpikir, sawan, nyeri dada, mual atau muntah tak jelas, atau gejala stroke. Pasien sebaiknya segera mencari penanganan medis jika mengalami gejala demikian. 
  • Pasien bisa diberi bromocriptine (Parlodel) sebagai aditif untuk mengurangi dosis Ievodopa. 
  • Inhibitor catechol-O-methyltransferase, misalnya entacapone (Comtan) dan tolcapone (Tasmar) menghalangi enzim yang memecah levodopa periferal. 
  • Pembedahan saraf (neurosurgery) stereotaktis bisa diperlukan untuk meringankan gejala. 
  • Stimulasi otak dalam bisa membantu meringankan gejala. 
  • Terapi fisik menjaga tonus dan fungsi otot normal. 
  • Terapi tambahan meliputi transplantasi sel fetal dan neurotransplantasi. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Pantau pengobatan secara saksama. 
  • Dorong pasien mandiri. Pasien yang mengalami gemetar berlebihan bisa mendapatkan kontrol parsial tubuhnya dengan duduk di kursi dan menggunakan lengan kursi tersebut untuk menyeimbangkan dirinya. Ingat bahwa rasa letih bisa menyebabkannya lebih tergantung pada orang lain. 
  • Menyusun jadwal makan di sekitar waktu efisiensi obat mencapai maksimum akan membantu meminimalkan komplikasi dun meningkatkan nutrisi yang baik. 
  • Bantu pasien mengatasi masalah yang berkaitan dengan makan dan pembuangan. Sebagai contoh, jika ia sulit makan, beri suplemen makanan atau makan sedikit namun sering untuk menambah asupan kalori. 
  • Bantu melaksanakan rutinitas usus yang teratur dengan mendorong pasien minum setidaknya 2.000 ml cairan setiap hari dan mengkonsumsi banyak makanan. la mungkin memerlukan dudukan toilet yang dinaikkan untuk membantunya berpindah dari posisi berdiri ke posisi duduk. 
  • Tunjukkan pada keluarga cara mencegah ulser tekanan dan kontraktur dengan pemosisian yang tepat. 
  • Jelaskan bahwa pasien sebaiknya menghindari makanan kaya-protein (karena mengganggu tindakan levodopa), dan jelaskan mengenai tindakan pengamanan di rumah untuk mencegah kecelakaan. 
  • Minta pasien dan keluarganya berstkap konsisten pada makanan yang tepat, memperhatikan pemosisian yang benar, dan melakukan strategi menelan untuk mengurangi disfagia dan menghindari aspirasi. Ajari juga keluarga cara mengkaji aspirasi. 
  • Beri dukungan emosional pada pasien dan keluarganya. Sarankan mereka mendapatkan konseling dan kelompok pendukung yang tepat. 


Referensi:

  1. Matt  Vera, BSN.RN. 2019. Parkinson’s Disease Nursing Care Plans. Nurses Lab
  2. Hector A. Gonzalez-Usigli. 2020. Parkinson Disease. Centro Medico Nacional De Occidente. MSD Manual
  3. Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Penyakit Parkinson - Intervensi"