bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Jenis dan Metode Diet Pada Obesitas

Diet pada obesitas merupakan langkah penting untuk menurunkan berat badan, walaupun masih banyak faktor lain yang mempengaruhi berat badan. 

Hal ini dapat dipahami bahwa orang obesitas lebih mudah mengurangi asupan makanan dibandingkan meningkatkan aktivitas fisik. 

Pada dasarnya metoda diet untuk obesitas meliputi penurunan kalori dan keseimbangan komposisi makronutrien.

Jenis dan Metode Diet Pada Obesitas

Jenis dan Metode Diet Obesitas 

1. Diet Defisit Seimbang (Balanced Deficit Diets) 

Diet defisit seimbang merupakan jenis diet obesitas dengan mengkonsumsi makanan yang terdiri dari bahan makanan dan nutrisi yang seimbang, sama seperti yang direkomendasikan untuk populasi umum untuk menjaga kesehatan. 

Komposisi makronutriennya meliputi rendah lemak (<30% kalori total), tinggi karbohidrat (>55% kalori total), cukup protein (10-15% kalori total), dan tinggi serat (25-30 g/hari). 

Metoda diet defisit seimbang mudah diterapkan karena hanya mengurangi porsi yang tercantum dalam piramida makanan. Metoda diet ini mudah dilakukan oleh siapa saja oleh karena hanya diperlukan sedikit perubahan kebiasaan makan, dimana pada dasarnya hanya mengurangi sumber gula dan lemak.

Namun kekurangan metoda ini, penurunan berat badan yang diharapkan berjalan relatif lambat. Dengan asupan 1500-1800 kkal per hari hanya mampu menurunkan berat badan kurang dari 0,5 kg per minggu pada perempuan dan 0,5-1,0 kg per minggu pada laki-laki.6,7 

2. Diet Rendah Lemak (Low Fat Diets) 

Diet rendah lemak merupakan salah satu metode diet obesitas yang umum direkomendasikan  oleh karena diketahui bahwa lemak mengandung tinggi energi, rasanya yang enak, dan tingkat konsumsi lemak cenderung tinggi terutama pada negara berkembang dimana prevalensi obesitas cenderung tinggi. 

Metode Diet obesitas rendah lemak hanya fokus pada pembatasan asupan lemak, bukan pembatasan asupan kalori. Jenis diet ini memiliki kandungan kalori lebih rendah dibandingkan diet tinggi lemak.

Jumlah makanan yang dikonsumsi tetap sesuai dengan kebiasaan sehari-hari, hal ini didasarkan pada dalam jangka pendek rasa kenyang dipengaruhi oleh jumlah makanan dibandingkan dengan kandungan energi dalam makanan. 

Mengganti asupan lemak (9 kkal/g) dengan karbohidrat atau protein (4 kkal/g) diketahui dapat menurunkan kalori, namun penambahan serat dan air juga memiliki efek yang sama. Serat dan air dapat menambah berat makanan tanpa menambah jumlah kalori. 

Diet rendah lemak juga mengandung tinggi serat yang juga diketahui menimbulkan rasa kenyang. Hasil penelitian mendapatkan diet ini dapat menurunkan rerata berat badan 5,4 kg dalam 12 bulan dan 3,6 kg dalam tiga tahun. 

Penelitian lainnya mendapatkan penurunan kejadian diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi selama tiga tahun pengamatan. 

3. Diet Rendah Kalori (Low Calorie Diets) 

Metode Diet obesitas rendah kalori merekomendasikan asupan kalori hanya 1000-1500 kkal per hari. Hasil penelitian mengenai diet rendah kalori dibandingkan diet rendah lemak selama pengamatan enam bulan didapatkan bahwa diet rendah kalori lebih baik dibandingkan diet rendah lemak dengan perbedaan penurunan berat badan 1,1 kg dalam 12 bulan dan 3,7 kg dalam 18 bulan pengamatan walaupun tidak berbeda secara signifikan. 

Hasil penelitian lainnya diet rendah kalori dengan asupan lemak cukup lebih baik dibandingkan asupan lemak terbatas dan didapatkan perbedaan penurunan berat badan sampai 14 kg selama 14 bulan. 

4. Diet Pengganti Makan Utama (Meal Replacement Diet) 

Diet Obesitas pengganti makan utama merupakan salah satu bentuk diet rendah kalori dengan mengganti satu atau dua kalori makan utama dengan makanan atau minuman yang mengandung rendah kalori dan umumnya mengandung protein tinggi dengan karbohidrat dan lemak minimal. 

Bahan diet pengganti makan utama sudah banyak tersedia, dan hal ini dapat mengubah pola diet dan kebiasaan makan seseorang sehingga saat ini menjadi populer pada orang yang sedang menurunkan berat badan. 

Di Amerika, didapatkan 15% perempuan dan 13% laki-laki yang sedang menurunkan berat badan dengan metoda diet pengganti makan utama.

Hasil meta analisis mendapatkan diet pengganti makan utama apabila dikonsumsi satu kali sehari maka didapatkan penurunan berat badan 2,5 kg dalam tiga bulan dibandingkan diet rendah kalori biasa.

Penelitian lainnya mendapatkan bahwa dengan diet pengganti makan utama dapat menurunkan berat badan lebih besar dibandingkan diet rendah kalori biasa yang diamati selama empat tahun. 

Pada penelitian Look AHEAD mengenai penurunan berat badan dengan perubahan gaya hidup meliputi diet pengganti makan utama didapatkan 8,6% penurunan berat badan selama 12 bulan pada orang obesitas. 

Kandungan protein tinggi pada diet pengganti makan utama akan menurunkan 10,7% berat badan pada orang obes selama 12 bulan pengamatan. 

5. Diet Sangat Rendah Kalori (Very Low Calorie Diets) 

Mekanisme kerja diet obesitas sangat rendah kalori ini sebenarnya hampir sama dengan diet rendah kalori, perbedaanya hanya pada jumlah asupan kalori 300-800 kkal per hari. 

Biasanya bentuk diet berupa minuman atau makanan terutama protein (70-100 g per hari) untuk menjaga massa otot seperti ikan, daging kurus. Metoda diet ini aman jika diikuti dengan suplemen vitamin dan mineral. 

Hasil meta analisis mengenai perbandingan penurunan berat badan pada diet rendah kalori dengan diet sangat rendah kalori didapatkan perbedaan penurunan berat badan sangat sedikit dalam jangka waktu lama (2-5 tahun). 

Penelitian lainnya membandingkan diet rendah kalori dengan diet sangat rendah kalori selama empat tahun didapatkan penurunan berat badan masing-masing 6,3 kg pada diet rendah kalori dan7,6 kg pada diet sangat rendah kalori. 

6. Diet Rendah Karbohidrat (Carbohydrate Restricted Diets) 

Saat ini terdapat dua metode diet obesitas karbohidrat terbatas. Salah satunya dengan mengganti sebagian karbohidrat dengan tinggi protein dan rendah lemak, sedangkan metoda lainnya mengganti semua karbohidrat dengan protein dan lemak (diet ketogenik). 

Jenis diet obesitas rendah karbohidrat dan tinggi protein (diet Atkins) terdiri dari dua fase yaitu fase stimulasi penurunan berat badan dimana asupan karbohidrat sangat dibatasi hanya 20 g per hari sedangkan asupan protein dan lemak tidak dibatasi. 

Hal ini harus diperhatikan karena asupan lemak jenuh yang tinggi dan kekurangan serat, vitamin dan mineral justru meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Selain itu, asupan rendah karbohidrat (< 100 g per hari untuk metabolisme otak) memicu ketosis. 

Diet obesitas dengan metode rendah karbohidrat dan tinggi protein efektif menstimulasi penurunan berat badan dalam jangka waktu pendek dan harus dalam pengawasan tenaga medis, namun setelah berat badan tercapai asupan lemak jenuh harus dikurangi dan meningkatkan asupan sayur dan buah.

Keberhasilan diet karbohidrat terbatas berdasarkan perubahan rasa kenyang akibat asupan protein yang meningkat dibandingkan makronutrien lainnya, yang sebaliknya protein justru hanya sedikit meningkatkan efek termogenesis. Selanjutnya, diet karbohidrat sangat terbatas (misalnya diet Atkins) tampaknya sangat sederhana dan mudah dilakukan. 

Efek ketosis yang terjadi akibat asupan karbohidrat yang sangat rendah tampaknya sedikit terjadi. Penelitian pada orang obesitas yang dirawat mengenai diet ketogenik tampaknya dapat menurunkan selera makan dan menurunkan 10% asupan makanan dibandingkan diet karbohidrat sedang dan protein tinggi.

7. Diet Rendah Indeks Glikemik (Low Glycemic Index Diets) 

Indeks glikemik adalah perubahan kadar glukosa darah setelah mengkonsumsi karbohidrat (50 g) dan dibandingkan dengan konsumsi glukosa atau roti tawar putih sebagai standar. 

Awalnya indeks glikemik dipakai sebagai penuntun asupan makanan bagi diabetes melitus, namun saat ini dipakai sebagai terapi obesitas. 

Hal ini didasarkan pada makanan dengan indeks glikemik tinggi akan menstimulasi pelepasan insulin dengan cepat dan banyak, sehingga terjadi penurunan kadar glukosa darah dengan cepat sampai pada kadar glukosa sebelum makan. 

Selanjutnya, hal ini menimbulkan rasa lapar yang lebih cepat dibandingkan makanan dengan indeks glikemik rendah. Rasa lapar yang tidak terkontrol akan meningkatkan asupan kalori dan juga berat badan. 

Hasil meta analisis mengenai diet rendah indeks glikemik (hanya mengubah jenis karbohidrat) dan diet rendah glikemik load (mengubah jenis dan jumlah karbohidrat) setelah pengamatan selama enam bulan didapatkan penurunan berat badan pada kedua diet ini sebesar 1,1 kg dan penurunan kolesterol LDL  dibandingkan diet tinggi indeks glikemik atau glikemik load. 

Namun hasil meta analisis ini belum mendapatkan hasil perbandingan diet rendah indeks glikemik, diet rendah karbohidrat (diet ketogenik dan non ketogenik) dan diet tinggi protein apakah sama dengan diet rendah glikemik.