Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Penyakit Infeksi Pes

Pes adalah infeksi bakteri serius yang bisa mematikan. Pes juga dikenal sebagai black death dan merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh Yersinia pestis (sebelumnya disebut Pasteurella pestis), basilus gram-negatif non-motil dan non-sporulasi. 

Pes muncul dalam beberapa bentuk antara lain Pes bubonik adalah bentuk yang paling umum dan menyebabkan pembengkakan supuratif (bubo) khas pada kelenjar limfa, dari sinilah bentuk infeksi ini dinamai. Bentuk kedua adalah pes septisemik, yaitu bentuk sistemik yang parah dan cepat. bentuk ketiga yaitu pes pneumonik, yang bisa primer maupun mengikuti dua bentuk lain. 

Jika tidak ditangani, tingkat mortalitas pada pest bubonik adalah 60% dan pada septisemik dan pneumonik mendekati 100%. Jika ditangani, tingkat mortalitasnya sekitar 18%, sebagian besar kematian disebabkan oleh keterlambatan penenganan penanganan. Faktor lain meliputi usia dan kondisi fisik pasien. 

picture by CDC on https://www.cdc.gov

Penyebab 

  • Gigitan kutu dari inang hewan pengerat yang terinfeksi (tikus, tupai, anjing padang rumput, atau kelinci) 
  • Memegang hewan yang terinfeksi atau jaringannya 
  • Bisa berkembang ke bentuk pneumonik sekunder yang sangat menular dan ditularkan oleh tetesan kecil respiratorik yang terkontaminasi 
  • Inhalasi Y. pestis dalam laboratorium (terutama bentuk pneumonik) 

Tanda dan gejala 

a. Pes bubonik 

Bentuk yang lebih ringan 

  • Tidak enak badan 
  • Nyeri atau perih di nodus limfa regional 
  • Kerusakan nodus limfa (aksilari atau inguinal) yang akhirnya mengakibatkan bubo yang menyakitkan, terinflamasi, dan bisa supuratif 
  • Area hemoragis bisa menjadi nekrotik dan terlihat gelap (karena itu, penyakit ini dinamai "black death") 

Bentuk parah yang berkembang cepat 

  • Nyeri abdominals 
  • Menggigil 
  • Kolaps sirkulatorik 
  • Konstipasi yang diikuti diare (sering berdarah) 
  • Serangan diam-diam, bisa berkembang cepat dan pasien bisa sekarat dalam waktu beberapa jam 
  • Mialgia 
  • Petekia 
  • Prostrasi 
  • Bentuk dramatis yang berkembang cepat 
  • Gelisah, disorientasi, delirium 
  • Kulit berburik 
  • Berjalan dengan terhuyung-huyung 
  • Demam tinggi mendadak dengan suhu 103° sampai 106° F (39,4° sampai 41,1° C) 
  • Toksemia  

b. Pest septisemik 

  • Toksisitas 
  • Hiperpireksia 
  • Sawan 
  • Prostrasi 
  • Syok 
  • Koagulasi intravaskular terdiseminasi (disseminated intravascular coagulation - DIC) 
  • Efusi peritoneal atau pleural 
  • Meningitis
  • Pasien bisa mencapai tahap terminal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat 

c. Pes pneumonik 

Primer 

  • Prostrasi akut 
  • Distres respiratorik 
  • Kematian biasanya dalam waktu 2 sampai 3 hari setelah serangan Demam tinggi 
  • Menggigil 
  • Sakit kepala parah 
  • Takikardia 
  • Takipnea 
  • Dispnea 
  • Batuk produktif (pertama-tama mengeluarkan sputum mukoid, kemudian batuk berbusa merah muda atau merah) 

Sekunder 

  • Batuk yang menghasilkan sputurn berdarah dan merupakan sinyal komplikasi perluasan pulmoner bentuk bubonik.

Uji diagnostik 

  • Bubo khas dan riwayat paparan hewan pengerat dengan kuat menunjukkan pes bubonik. Pulasan berwarna dan kultur Yersinia pestis (didapat dari sedikit cairan yang diaspirasi dari lesi kulit) memastikan diagnosis. 
  • Pemeriksaan postmortem hamster yang diinokulasi dengan sampel darah atau drainase purulen akan mengisolasi organisme. 
  • Jumlah sel darah putih di atas 20.000/jul disertai meningkatnya leukosit polimorfonuklear dan reaksi hemoaglutinasi (kenaikan titer antibodi) merupakan temuan laboratoris dalam pes bubonik. 
  • Pulasan berwarna dan kultur darah yang mengandung Y.pestis bersifat diagnostik dalam pes septisema. 
  • Diagnosis pes pneumonik membutuhkan sinar-X dada untuk menunjukkan pneumonia fulminan dan pulasan berwarna dan kultur sputum untuk mengidentifikasi Y.pestis. 
  • Uji diagnostik yang cepat untuk pes bubonik dan pneumonik menggunakan antibodi monoklonal untuk antigen F Yersinia pestis dan memiliki sensitivitas sebesar 100%, dan  hasilnya keluar dalam waktu 15 menit serta bisa hidup selama 21 hari pada suhu 60° F (15,6° C). 

Penanganan 

  • Streptomisin merupakan agens yang telah terbukti paling efektif dalam menangani Y. pestis.Obat efektif lainnya meliputi gentamicin, doksisiklin, dan chloramphenicol.
  • Manajemen suportif bertujuan mengontrol demam, syok, dan sawan dan untuk mempertahankan keseimbangan cairan. 
  • Glukokortikoid digunakan untuk melawan toksemia dan syok yang membahayakan jiwa. 
  • Diazepam (Valium) bisa digunakan untuk mengurangi kegelisahan.
  • Heparin diberikan untuk menangani DIC. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Pastikan pasien diisolasi dengan ketat, sampai setidaknya 48 jam setelah ia mulai menjalani terapi antimikrobial, jika ia tidak menunjukkan gejala respiratorik. 
  • Gunakan insektisida yang disetujui untuk membersihkan kutu dari tubuh dan pakaian pasien. Secara hati-hati, buang pembalut dan sprei, feses, dan sputum yang kotor. Jika pasien menderita pes pneumonik, kenakan pakaian pelindung, masker, dan sarung tangan. 

  • Gunakan Sarung tangan karet untuk perlindungan dari eksudat, keluaran purulen, dan spesimen laboratoris. Untuk mendapatkan informasi lanjutan, berkonsultasilah dengan kantor kontrol infeksi Anda. 

  • Gunakan kompres panas dan lembab pada bubo. Bubo tidak boleh dieksisi atau didrainase karena bisa menyebarkan infeksi.
  • Jika pes septisemik menyebabkan nekrosis jaringan periferal, beri bantalan di palang samping ranjang dan jangan menggunakan pembatas atau papan lengan agar pasien tidak mengalami mencegah cedera lebih jauh pada jaringan nekrotik.
  • Dapatkan riwayat kontak pasien sehingga mereka bisa dikarantina selama 6 hari untuk diobservasi.  Beri tetrasiklin profilaktik sesuai perintah.
  • Laporkan dugaan kasus pes pada departemen kesehatan publik lokal sehingga mereka bisa mengidentifikasi sumber infeksi.
  • Untuk membantu mencegah pes, cegah kontak dengan hewan liar (terutama hewan yang sakit atau mati), dan dukung program yang bertujuan mengurangi populasi serangga dan hewan pengerat. Walaupun imunisasi berefek selintas, rekomendasikan imunisasi dengan vaksin pes untuk orang yang bepergian ke area endemik maupun yang tinggal di area semacam itu.


Referensi:

  1. Daniel Murrell MD. 2018. The Plague. Health Line
  2. Pub Med.gov. 1994. Nurses's role in meeting the scourge of plague. Nurs J India.

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Penyakit Infeksi Pes"