Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Radang Panggul Atau Pelvic Inflamatory Disease (PID) - Intervensi

Radang Panggul atau pelvic inflammatoty disease (PID) merupakan infeksi apa pun yang akut, subakut, rekuren, atau kronis di oviduk dan ovarium, dengan melibatkan jaringan yang berdekatan. 

Radang panggul  meliputi inflamasi serviks (servisitis), uterus (endometritis), tuba falopi (salpingitis), dan ovarium (ooforitis), yang bisa meluas ke jaringan ikat yang terletak antara ligamen luas (parametritis). 

Bakteri paling umum yang ditemukan dalam mukus servikal adalah stafilokokus, streptokokus, difteroid, klamidiae, dan koliforms, termasuk Pseudomonas dan Eschericbta coli. 

Infeksi uterin bisa disebabkan oleh satu atau beberapa dari organisme tersebut atau bisa mengikuti multiplikasi bakteri yang normalnya tidak patogenik dalam lingkungan endometrial yang berubah. 

Asuhan Keperawatan radang Panggul
Gambar by BruceBlaus. on wikimedia.org

Diagnosis dan penanganan dini mencegah kerusakan sistem reproduksi. Radang panggul yang tidak ditangani bisa menyebabkan infertilitas dan mengakibatkan septikemia, emboli pulmoner, dan syok yang berpotensi fatal. 

Penyebab 

Infeksi oleh organisme aerobik atau anaerobik (Neisseria gonorrboeae) 

Faktor Resiko :

  • Aborsi 
  • Tuba falopi yang terinfeksi kronis 
  • Divertikulitis kolon sigmoid 
  • Infeksi saat atau setelah kehamilan 
  • Pemasukan alat intrauterin 
  • Abses pelvis 
  • Pembedahan pelvis 
  • Ruptur apendiks 
  • Transfer mukus servikal yang terkontaminasi ke dalam rongga endometrial dengan instrumentasi 
  • Insuflasi tubal 
  • Penggunaan kuret biopsi atau kateter irigasi 

Tanda dan gejala 

  • Nyeri ekstrem saat pergerakan serviks atau palpasi adneksa  
  • Nyeri abdominal bawah 
  • Demam tingkat-rendah 
  • Tidak enak badan (terutama jika penyakit disebabkan oleh gonorea) 
  • Keluaran vaginal purulen yang sangat banyak 

Uji diagnostik 

  • Pewarnaan Gram pada sekresi dari endoserviks, pengujian kultur dan sensitivitas membantu pemilihan antibiotik yang sesuai. Sekresi uretral dan rektal juga bisa dijadikan kultur. 
  • Ultrasonografi, magnetic resonance imaging, atau computed tomography scan digunakan untuk mengidentifikasi gumpalan adneksal atau uterin. 
  • Kuldosentesis dilakukan untuk mendapatkan cairan atau pus peritoneal untuk pengujian kultur dan sensitivitas. 
  • Protein C-reaktif, yaitu tes darah untuk mendeteksi inflamasi, sangat sensitif dalam mendeteksi PID dan membantu diagnosis. 

Penanganan 

  • Terapi antibiotik dilakukan setelah spesimen kultur didapatkan dan dievaluasi kembali jika hasil uji laboratoris telah tersedia, biasanya setelah 24 sampai 48 jam. 

  • Penanganan bagi pasien rawat jalan meliputi cefotriaxone (Rocephin) masing-masing aturan dosis diberikan dengan doksisiklin (Vibramycin) selama 14 hari. Penanganan bagi pasien rawat inap adalah doksisiklin saja atau kombinasi clindamycin dan gentamycin. 

  • Abses pelvis membutuhkan drainase. 
  • Abses yang mengalami ruptur bisa membahayakan jiwa. Jika komplikasi ini terjadi, pasien bisa memerlukan histerektomi abdominal total dengan salpingo-ooforektomi bilateral. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Setelah menetapkan bahwa pasien tidak memiliki alergi obat, beri antibiotik dan analgesik seperlunya. 
  • Jika pasien demam, pantau asupan dan output cairan untuk melihat adakah tanda dehidrasi. 
  • Lihat adakah rigiditas dan distensi abdominal, yang kemungkinan merupakan tanda peritonitis yang berkembang. 
  • Seringkali lakukan perawatan perineal jika ada drainase vaginal. 
  • Untuk mencegah rekurensi, jelaskan sifat dan keseriusan PID, dan dorong pasien mematuhi aturan penanganan. 
  • Tekankan pentingnya pemeriksaan untuk pasangan pasien dan bila perlu tangani ia jika ia menderita infeksi. 
  • Karena PID bisa menyebabkan hubungan intim terasa menyakitkan, sarankan pasien berkonsultasi dengan praktisinya mengenai aktivitas hubungan intim. 
  • Untuk mencegah infeksi akibat prosedur ginekologis minor, misalnya dilatasi dan kuretase, minta pasien segera melaporkan demam, peningkatan keluaran vaginal, atau nyeri apa pun. Setelah prosedur semacam ini, minta ia tidak melakukan douching dan tidak berhubungan intim selama setidaknya 7 hari. 


Referensi:

  1. Valencia Higuera &Deborah Weatherspoon RN. 2019. Pelvic Inflamatory Disease (PID).Health Line
  2. Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Radang Panggul Atau Pelvic Inflamatory Disease (PID) - Intervensi"