Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Memahami Gangguan Kecemasan atau Axiety Disorder

Gangguan kecemasan dan perasaan cemas adalah dua hal yang berbeda. Banyak orang mengalami cemas ketika menghadapi situasi tertentu yang membuat stres, namun selama hal tersebut masih bisa dikendalikan dan tidak sampai mengganggu kehidupan sehari hari, maka kecemasan tersebut masih kategori normal.

Kecemasan adalah perasaan gugup, gelisah, atau khawatir yang biasanya terjadi tanpa adanya ancaman yang akan segera terjadi. Ini berbeda dari rasa takut, yang merupakan respons alami tubuh terhadap bahaya langsung.

Kecemasan adalah bagian dari reaksi alami tubuh terhadap stres, sehingga kadang-kadang dapat membantu, membuat lebih waspada dan siap beraksi.

Namun ketika perasaan cemas atau gugup menjadi berlebihan, sulit dikendalikan, atau sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, hal inilah yang disebut sebagai gangguan kecemasan.

Gangguan Kecemasan

Menurut American Psychiatric Association, gangguan kecemasan adalah jenis gangguan kejiwaan yang umum terjadi. Banyak pasien yang mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan dengan gangguan kecemasan mengalami gejala fisik yang berhubungan dengan kecemasan tersebut.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Kelima (DSM-5), gangguan kecemasan termasuk gangguan yang memiliki ciri ketakutan dan kecemasan yang berlebihan serta gangguan perilaku terkait.

Secara umum seseorang bisa dikategorikan mengalami gangguan kecemasan  jika:

  • Tidak proporsional dengan situasi yang terjadi
  • Tidak proporsional dengan usia
  • Mengganggu kehidupan sehari-hari
  • Menghambat kemampuan untuk berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari

Epidemiologi

Gangguan kecemasan adalah jenis gangguan kejiwaan yang paling umum di negara maju seperti Amerika Serikat. Prevalensi gangguan kecemasan seumur hidup pada orang dewasa Amerika adalah 28,8%.

Menurut hasil penelitian Epidemiological Catchment Area (ECA) dan studi National Comorbidity Survey (NCS), perkiraan tingkat prevalensi gangguan kecemasan individu adalah 2,3-2,7% untuk gangguan panik, 4,1-6,6% untuk gangguan kecemasan umum, dan 2,6-13,3% untuk fobia sosial.

Prevalensi gangguan kecemasan spesifik tampaknya bervariasi antar negara dan budaya. Prevalensi rata-rata gangguan kecemasan sosial di Eropa adalah 2,3%.

Studi ECA tidak menemukan perbedaan tingkat gangguan panik di antara populasi kulit putih, Afrika-Amerika, atau Hispanik di Amerika Serikat.

Rasio gangguan kecemasan pada wanita dan pria adalah adalah 3:2. Kebanyakan gangguan kecemasan dimulai pada masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa awal.  Kebanyakan fobia sosial dimulai sebelum usia 20 tahun dengan usia rata-rata saat onset penyakit, 16 tahun.

Agoraphobia biasanya dimulai pada masa remaja akhir hingga awal masa dewasa dengan usia rata-rata saat onset penyakit, 29 tahun.

Jenis dan Penyebab Gangguan Kecemasan

Gangguan Kecemasan Umum

Gangguan kecemasan umum adalah Kekhawatiran dan ketegangan terus menerus yang berkelanjutan,  dapat disertai dengan gejala fisik, seperti gelisah, merasa gelisah atau mudah lelah, sulit berkonsentrasi, ketegangan otot atau masalah tidur. Kekhawatiran berfokus pada hal keseharian seperti pekerjaan, kesehatan, dan lain-lain.

Faktor genetik dan  lingkungan seperti trauma anak usia dini juga dapat berkontribusi pada risiko gangguan kecemasan di kemudian hari.

Perdebatan apakah gen atau lingkungan yang dominan dalam gangguan kecemasan telah mengerucut pada konklusi bahwa interaksi antara kedua faktor inilah yang lebih menentukan secara signifikan.

Sebagian besar gangguan kecemasan yang muncul adalah gangguan psikiatri fungsional. Teori psikodinamika menjelaskan kecemasan sebagai konflik antara id dan ego. Dorongan agresif dan impulsif mungkin dialami sebagai hal yang tidak dapat diterima yang mengakibatkan represi. Dorongan-dorongan yang ditekan ini dapat menerobos represi, menghasilkan kecemasan otomatis.

Pasien dengan gangguan kecemasan cenderung membayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi dan menghindari situasi yang mereka anggap berbahaya, seperti keramaian, ketinggian, atau interaksi sosial.

Gangguan Panik

Gejala inti dari gangguan panik adalah serangan panik berulang, kombinasi yang luar biasa dari tekanan fisik dan psikologis. 

Selama serangan panik, beberapa gejala ini:

  • Palpitasi, jantung berdebar atau detak jantung yang cepat
  • Berkeringat
  • Gemetar
  • Perasaan sesak napas atau sensasi tercekik
  • Sakit dada
  • Merasa pusing atau pingsan
  • Perasaan tersedak
  • Mati rasa atau kesemutan
  • Menggigil atau hot flashes
  • Mual atau sakit perut

Serangan panik dapat terjadi dengan gangguan mental lainnya seperti depresi atau PTSD.

Penyebab Gangguan panik tampaknya merupakan disfungsi neurokimia yang diturunkan secara genetik yang mungkin melibatkan ketidakseimbangan otonom, penurunan GABA-ergic, polimorfisme alel dari gen katekol-O-metiltransferase (COMT), peningkatan fungsi reseptor adenosin, peningkatan kortisol,  berkurangnya fungsi reseptor benzodiazepin, gangguan pada gen serotonin, serotonin transporter (5-HTTLPR), dan promotor (SLC6A4), norepinefrin, dopamin, kolesistokinin, dan interleukin-1-beta.

Pemicu panik dapat mencakup hal-hal berikut:

  • Cedera (misalnya, kecelakaan, operasi)
  • Penyakit
  • Konflik atau kehilangan interpersonal
  • Penggunaan majuana (dapat dikaitkan dengan serangan panik, mungkin karena menahan napas)
  • Penggunaan obat-obatan yang bersifat stimulan
  • Kondisi dan situasi tertentu, seperti toko dan transportasi umum (terutama pada pasien dengan agorafobia)
  • Sertraline dapat menyebabkan kepanikan pada pasien yang sebelumnya tanpa gejala.

Dalam setting eksperimental, gejala gangguan panik dapat timbul pada orang dengan dengan hiperventilasi, inhalasi karbon dioksida, konsumsi kafein, atau infus intravena natrium laktat hipertonik atau salin hipertonik, cholecystokinin, isoproterenol, flumazenil, atau naltrexone.

Gangguan kecemasan sosial (fobia sosial)

Seseorang dengan gangguan kecemasan sosial memiliki kecemasan dan ketidak nyamanan yang signifikan dalam interaksi sosial. Orang dengan gangguan ini akan mencoba untuk menghindari situasi atau menanggungnya dengan sangat cemas.

Faktor genetik tampaknya berperan sebagai penyebab fobia sosial. Berdasarkan penelitian keluarga dan kembar, risiko fobia sosial tampaknya juga bisa diturunkan.

Fobia sosial dapat diprakarsai oleh pengalaman sosial yang traumatis misalnya, rasa malu atau oleh defisit keterampilan sosial yang menghasilkan pengalaman negatif yang berulang.

Hipotesa terakhir mengarah bahwa fobia sosial tampaknya merupakan interaksi antara faktor biologis, genetik dan peristiwa lingkungan.

Seorang psikoanalis kemungkinan akan mengkonseptualisasikan kecemasan sosial sebagai gejala konflik yang lebih dalam-misalnya, harga diri rendah atau konflik yang belum terselesaikan dengan objek internal.

Bahkan jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan di sebagian besar pertemuan sosial, respons penghindaran telah dikaitkan dengan situasi ini.

Fobia spesifik

Fobia adalah ketakutan terhadap hal tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya. Ketakutan ini menyebabkan penderitaan sedemikian rupa sehingga beberapa orang berusaha keras untuk menghindari apa yang mereka takuti. Contohnya adalah berbicara di depan umum, takut terbang atau takut laba-laba.

Faktor genetik tampaknya juga berperan dalam fobia spesifik misalnya, pada fobia darah. Risiko fobia semacam itu juga tampaknya diturunkan. Selain itu, fobia spesifik dapat diperoleh dengan pengkondisian, pemodelan, atau pengalaman traumatis.

Agorafobia

Agoraphobia adalah ketakutan berada dalam situasi tertentu. Ketakutan biasanya tidak sesuai dengan situasi sebenarnya dan bisa berlangsung selama enam bulan atau lebih serta menyebabkan masalah dalam fungsi kehidupan sehari hari.

Seseorang dengan agorafobia akan mengalami ketakutan dalam situasi berikut:

  • Menggunakan transportasi umum
  • Berada di ruang terbuka
  • Berada di tempat tertutup

  • Berdiri dalam antrian 

  • Berada di keramaian

  • Berada di luar rumah sendirian

Penyebab Agorafobia mungkin merupakan hasil dari serangan panik yang berulang dan tidak terduga, yang, pada gilirannya, mungkin terkait dengan distorsi kognitif, respons terkondisi, dan/atau kelainan pada neurotransmisi noradrenergik, serotonergik, atau terkait GABA.

Patofisiologi

Sirkuit otak dan area tubuh yang terkait dengan gangguan kecemasan mulai dipahami dengan perkembangan pencitraan fungsional dan struktural. Amigdala otak teridentifikasi sebagai kunci dalam memodulasi ketakutan dan kecemasan.

Pasien dengan gangguan kecemasan sering menunjukkan respons amigdala yang meningkat terhadap isyarat kecemasan. Amigdala dan struktur sistem limbik lainnya terhubung ke daerah korteks prefrontalis.

Abnormalitas aktivasi prefrontal-limbic telah terbukti berbalik dengan respon klinis terhadap intervensi psikologis atau farmakologis.

Gamma Aminobutirat (GABA), norepineprin, serotonin, noepineprin dan peptida lain seperti CRF di duga terlibat sebagai mediator gangguan kecemasan. Pada segmen perifer, sistem saraf otonom terutama sistem saraf simpatis, memediasi munculnya gejala.

Pemindaian Positron Emission Tomography (PET) telah menunjukkan peningkatan aliran di daerah parahippocampal kanan dan mengurangi pengikatan reseptor serotonin tipe 1A di cingulate anterior, posterior dan raphe pasien dengan gangguan panik.

Pemeriksaan CSF dalam penelitian menunjukkan peningkatan kadar orexin, juga dikenal sebagai hypocretin, yang dianggap memainkan peran penting dalam patogenesis panik.

Perawatan dan Manajemen Gangguan Kecemasan

Perawatan biasanya terdiri dari kombinasi farmakoterapi dan psikoterapi. Agen antidepresan adalah obat pilihan dalam pengobatan gangguan kecemasan.

Kelompok pendukung secara langsung atau online dapat memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan strategi mengatasi gangguan kecemasan tersebut.

Hindari kafein, yang dapat memperburuk gejala, dan tanyakan kepada dokter tentang obat yang perlu di konsumsi untyk menurunkan gejala gangguan kecemasan .

Terapi perilaku dan CBT telah menunjukkan kemanjuran. Komputerisasi CBT (Fear Fighter) telah direkomendasikan untuk panik dan fobia oleh National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE).

Terapi psikodinamik atau terapi berorientasi wawasan jarang diindikasikan sebagai pengobatan eksklusif untuk fobia dan sekarang sebagian besar digunakan untuk kasus gangguan fobia yang tumpang tindih dengan gangguan kepribadian.

Psikoterapi interpersonal (IPT) juga telah menunjukkan beberapa kemanjuran. Delapan percobaan meneliti penggunaan IPT untuk gangguan kecemasan dan menemukan efek yang besar dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Pada tahun 2019, FDA menyetujui stimulator elektroterapi kranial (CES) untuk pengobatan kecemasan, depresi, dan insomnia. Perangkat resep memberikan pulsa mikro arus listrik di seluruh otak, yang dalam uji klinis menyebabkan penurunan tingkat kecemasan, insomnia, dan suasana hati yang tertekan. Ini adalah CES pertama yang terintegrasi dengan peredam bising, headphone berkemampuan Bluetooth, dan CES pertama yang dikelola melalui aplikasi.

 
Referensi :
  1. Lindsey Konkel. 2021. What Is Anxiety ? Cause, Diagnosis, Treatment, and Prevention. https://www.everydayhealth.com/anxiety/guide/
  2. American Psychiatric Association. https://www.psychiatry.org/patients-families/anxiety-disorders/what-are-anxiety-disorders
  3. Nita V Bhatt MD. Anxiety Disorder. Med Scape. https://emedicine.medscape.com/article/286227-overview.
  4. Stein MB, Stein DJ. Social anxiety disorder. Lancet. 2008 Mar 29. 371(9618):1115-25. [Medline].
  5. Eeton CP, Kolos AC, Walkup JT. Pediatric generalized anxiety disorder: epidemiology, diagnosis, and management. Paediatr Drugs. 2009. 11(3):171-83. [Medline].

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Memahami Gangguan Kecemasan atau Axiety Disorder"