Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Trauma Dada Akibat Benda Tumpul - Intervensi

Seperempat dari semua kematian akibat trauma di Amerika Serikat disebabkan oleh trauma dada. Banyak di antaranya merupakan cedera dada akibat benda tumpul, yang meliputi kontusi miokardial dan fraktur rusuk dan sternal. 

Cedera ini bisa sederhana, multipel, berpindah (displaced), atau tidak rata (Vagged). Fraktur semacam ini bisa menyebabkan komplikasi yang berpotensi fatal, misalnya hemotoraks, pneumotoraks, syok hemoragis, dan ruptur diafragmatik.  

Asuhan Keperawatan Trauma Dada
Image by Karim on wikimedia.org

Penyebab 

  • Cedera akibat ledakan 
  • Berkelahi 
  • Kecelakaan sepeda motor 
  • Olah raga 

Tanda dan gejala 

  • Ruptur diafragmatik (biasanya di sisi kiri), distres respiratorik parah 
  • Dada cambuk (keadaan saat bagian dinding dada "runtuh") : kulit memar, nyeri ekstrem, gerakan dada paradoksikal, respirasi cepat dan dangkal, takikardia, hipotensi, asidosis respiratorik, dan sianosis 
  • Hemotoraks: distres respiratorik akibat darah yang menggenang di rongga pleural, sehingga menekan paru-paru dan membatasi kapasitas respiratorik 
  • Koyak miokardial besar (bisa berakibat fatal dengan cepat) dan koyak miokardial kecil (bisa menyebabkan efusi perikardial) 
  • Pneumotoraks: dispnea parah, sianosis, agitasi, nyeri ekstrem dan emfisema subkutanus 
  • Kontusi pulmoner: hemoptisis, hipoksia, dispnea, dan kemungkinan obstruksi 
  • Fraktur rusuk: rasa perih, edema ringan di tempat fraktur, dan nyeri yang diperburuk dengan bernapas dan bergerak sehingga menyebabkan pasien mengalami hipoventilasi 
  • Fraktur sternal: nyeri dada persisten, bahkan saat pasien beristirahat
  • Pneumotoraks tensi: penyimpangan trakeai (menjauhi sisi yang diserang), sianosis, dispnea parah, bunyi napas tidak ada (di sisi yang diserang), agitasi, distensi vena jugular, dan syok; peningkatan tekanan toraks yang membahayakan jiwa, kolaps paru-paru, dan, sebagai akibatnya, pergeseran mediastinal 
  • Tanda lain: tamponade kardiak, koyak arteri pulmoner, ruptur ventrikular, dan koyak atau ruptur bronkial, trakeal, atau esofageal 

Uji diagnostik 

  • Diagnosis ditunjukkan melalui riwayat trauma yang disertai dispnea, nyeri dada, dan gejala khas lainnya. Pemeriksaan fisik dan uji diagnostik menentukan perluasan cedera. 
  • Perkusi memperlihatkan bunyi pendek dan lemah dalam hetnotoraks dan timpani dalam pneumotoraks tensi. 
  • Auskultasi bisa memperlihatkan perubahan posisi bunyi jantung yang terkencang dalam pneumotoraks tensi atau tonus jantung yang samar dalam tamponade kardiak. 
  • Sinar-X dada untuk memastikan fraktur rusuk dan sternal, pneumotoraks, dada cambuk, kontusi pulmoner, aorta yang mengalami laserasi atau ruptur, pneumotoraks tensi, ruptur diafragma, kompresi paru-paru, atau atelektasis yang disertai hemotoraks. 
  • Jika pasien mengalami kerusakan kardiak, elektrokardiografi bisa menunjukkan rintangan cabang-ikat kanan. Aritmia, keabnormalan konduksi, dan perubahan gelombang-ST bisa muncul dalam kontusi miokardial.
  • Kadar aspartat aminotransferase, alanin aminotransferase, laktat dehidrogenase, kreatinin kinase (CK) serum, dan kadar isoenzim CK-MB naik. 
  • Angiografi memperlihatkan laserasi atau ruptur aortik. 
  • Studi kontras dan scan hati dan limpa membantu mendeteksi ruptur diafragmatik. 
  • Ekokardiografi, computed tomography scan, dan scan kardiak dan paru-paru menunjukkan perluasan cedera.

Penanganan 

  • Laserasi atau ruptur aorta hampir selalu berakibat fatal dengan   cepat. Dalam kasus langka, kondisi ini bisa dialami pasien 24 jam setelah ia terkena cedera dada akibat benda tumpul. 
  • Jaga kepatenan jalan napas dan Iakukan oksigenasi; bersiaplah melakukan intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanis. Jika pasien mengalami pendarahan yang sangat banyak atau hemopneumotoraks, lakukan intubasi. 
  • Jika pasien mengalami pneumotoraks tensi, jarum tulang belakang atau jarum 14G sampai 16G harus dimasukkan ke dalam ruang interkostal kedua di garis midklavikular, diikuti pemasukan pipa dada untuk menormalkan tekanan dan mengekspansi paru-paru kembali. Beri oksigen dalam tekanan positif, bersama dengan cairan I.V. 
  • Jika pasien mengalami pneumotoraks, pipa dada bisa ditempatkan secara anterior terhadap garis midaksilari di ruang interkostal kelima, untuk mengaspirasi udara sebanyak mungkin dari rongga pleural dan untuk mengekspansi paru-paru kembali. 
  • Jika pasien mengalami dada cambuk, tempatkan ia dalam posisi semi-Fowler dan beri ia oksigen dalam tingkat aliran tinggi dan tekanan positif. 
  • Pasien yang mengalami hemotoraks akan memerlukan pemasukan pipa dada di ruang interkostal kelima atau keenam secara anterior terhadap garis midaksilari untuk membuang darah. Tangani syok dengan larutan Ringer terlaktasi atau larutan-garam normal yang diinfusikan secara I.V. Beri sel darah merah kemasan jika darah yang hilang lebih banyak dari 1.500 ml atau jika volume darah sirkulasi yang hilang melebihi 30%. Autotransfusi merupakan pilihan penanganan. Beri oksigen. 
  • Untuk fraktur rusuk sederhana, beri analgesik ringan, minta pasien beristirahat di ranjang, dan kompreskan panas. Untuk fraktur yang lebih parah, perintang saraf interkostal bisa diperlukan. Dapatkan sinar-X sebelum dan setelah perintangan untuk menyingkirkan pneumotoraks. 
  • Untuk kontusi pulmoner, beri koloid dalam jumlah terbatas (misalnya, albumin rendah-garam, darah utuh, atau plasma) untuk menggantikan volume dan mempertahankan tekanan onkotik. Beri analgesik dan diuretik bila perlu. Penggunaan steroid masih kontroversial. 
  • Jika diduga ada kerusakan kardiak, perawatan intensif secara saksama atau telemetri bisa mendeteksi aritmia dan mencegah syok kardiogenik. Minta pasien beristirahat di ranjang dalam posisi semi-Fowler (kecuali jika pasien membutuhkan posisi syok); beri oksigen, analgesik, dan obat suportif lain seperlunya untuk mengontrol gagal jantung atau aritmia supraventrikular. 
  • Tamponade kardiak membutuhkan perikardiosentesis. Pada pokoknya, lakukan perawatan dengan cara yang sama bagi pasien yang menderita infarksi miokardial. 
  • Jika pasien mengalami ruptur miokardial, perforasi septal, atau laserasi kardiak lainnya, perbaikan segera dengan pembedahan wajib dilakukan; luka ventrikular yang tidak terlalu parah membutuhkan penggunaan kateter digital atau balon; luka atrial membutuhkan kateter apitan atau balon. 
  • Jika pasien yang mengalami ruptur atau laserasi aortik masih sadar saat sampai di rumah sakit, ia harus segera menjalani pembedahan, yang menggunakan graf sintetik atau anastomosis untuk memperbaiki kerusakan. Beri cairan I.V. dalam volume besar (larutan Ringer yang terlaktasi atau larutan garam normal) dan darah utuh, bersama oksigen dalam tingkat aliran yang sangat tinggi; kemudian segera pindahkan pasien ke ruang operasi. 
  • Jika pasien mengalami ruptur diafragmatik, masukkan pipa nasogastrik untuk meringankan kompresi lambung secara temporer, dan siapkan pasien untuk menjalani pembedahan perbaikan. 

Intervensi Dalam Asuhan Keperawatan 

  • Periksa semua denyut nadi dan tingkat kesadaran. Lakukan evaluasi pada warna dan suhu kulit, kedalaman respirasi, penggunaan otot asesori, dan panjang inhalasi yang diperbandingkan dengan ekshalasi. 
  • Periksa oksimetri denyut nadi untuk melihat kecukupan oksigenasi. Pantau nilai gas darah arterial untuk memastikan kecukupan ventilasi; lakukan terapi oksigen, pertahankan ventilasi mekanis, dan lakukan perawatan pipa dada. 
  • Lakukan observasi pada posisi trakeal. Lihat adakah distensi vena jugular dan gerakan dada paradoksikal. Dengarkan bunyi jantung dan napas secara saksama; lakukan palpasi untuk melihat adakah emfisema subkutaneus (krepitasi) dan kurangnya integritas struktural di rusuk. 
  • Minta pasien menunjuk lokasi nyeri dan tanya apakah ia memiliki masalah pernapasan, kecuali jika ia mengalami dispnea parah. 
  • Untuk mencegah atelektasis, minta pasien melakukan spirometri insentif, bernapas-dalam, batuk, dan membelat. Seringkali balikkan tubuh pasien dan dorong ia batuk dan bernapas-dalam. 
  • Seringkali lakukanlah pengisapan pasien, jika diindikasikan. 
  • Pantau dan dokumentasikan tanda vital, darah yang hilang, dan asupan dan output. 
  • Cedera dada akibat benda tumpul membutuhkan pengkajian fisik dengan segera, pengontrolan pendarahan, penjagaan kepatenan jalan napas, ventilasi yang cukup, dan keseimbangan cairan dan elektrolit. 
  • Lihat adakah penurunan tekanan darah, percepatan denyut nadi, dan hemoragi—semuanya membutuhkan torakotomi untuk mengehentikan pendarahan. 
  • Beri cairan dan transfusi I.V.; pantau adakah efek pada pasien (tanda vital, pemantauan hemodinamik) dan kaji hasil laboratoris.
  • Lihat adakah komplikasi; bersiaplah untuk pembedahan jika diindikasikan. 
  • Beri sedasi yang cukup untuk nyeri dan pantau adakah efeknya. 


Referensi:

  1. James F Veronesi. 2004. Trauma Nursing. Blunt Chest Injuries. Pub Med. 
  2. Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Trauma Dada Akibat Benda Tumpul - Intervensi"