Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Pasien HIV AIDS (Respon Fisik) Pendekatan SDKI, SIKI dan SLKI

Definisi

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem pertahanan tubuh manusia dan pada akhirnya dapat menimbulkan AIDS.

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan sekumpulan gejala atau penyakit yang muncul akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia setelah terinfeksi virus HIV.

Pada kondisi normal, tubuh manusia mempunyai sistem imunitas atau kekebalan sebagai perlindungan terhadap penyakit dan  mikroorganisme yang menyerang, seperti bakteri, virus, dan jamur.

Jika mengalami AIDS, yang terjadi adalah masuknya berbagai jenis penyakit akibat sistem pertahanan tubuh yang sudah melemah atau rusak. Dimana jika tubuh dalam kondisi normal, jenis-jenis penyakit ini biasanya akan bisa di atasi oleh sistem kekebalan.
Asuhan Keperawatan HIV AIDS

Etiologi

Penyebab AIDS adalah virus HIV (Human Imunodeficiency Virus). Virus ini termaksuk dalam retrovirus anggota subfamili lentivirinae. Secara genetik HIV dibedakan menjadi 2, tetapi berhubungan secara antigen, yaitu HIV-1 dan HIV-2.

Cara kerja virus HIV adalah  menyerang limfosit CD4 yang bertugas mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis penting. Hal ini terjadi karena virus HIV mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan limfosit CD4.

Setelah memasuki tubuh, virus HIV menggunakan enzim yang di sebut reverse trancriptase untuk mentransfer informasi genetika mereka dari RNA ke DNA. Hilangnya fungsi limfosit CD4 ini akan menyebaban  gangguan kekebalan yang progresif.

Fase transmisi infeksi HIV dan AIDS yaitu:

  1.  Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala
  2.  Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flulikes illnes.
  3. Infeksi asimtomatik. Fase tanpa gejala, biasanya berlangsung antara 1 sampai 15 tahun.
  4. Supresi imun simtomatik. Dengan gejala berat badan menurun, diare, demam, rash, neuropati, keringat malam hari, dan munculnya lesi/luka di mulut. Biasanya muncul di atas 3 tahun.
  5. AIDS.  Muncul antara 1-5 tahun. Pada fase ini biasanya sudah didapatkan infeksi oportunistik yang berat.

Tanda dan Gejala

Gejala mayor:

  1. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
  2. Diare kronis tanpa ada penyebab signifikan  yang berlangsung lebih dari 1 bulan
  3. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
  4. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
  5. Demensia/ HIV ensefalopati

Gejala minor:

  1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
  2. Dermatitis generalisata
  3. Munculnya herpes zoster berulang
  4. Kandidias orofaringeal
  5. Herpes simpleks kronis progresif
  6. Limfadenopati generalisata
  7. Retinitis virus Sitomegalo

Diagnosis

Masa inkubasi virus HIV di perkiraan antara 10 minggu – 10 tahun. Berbeda dengan virus lain yang menyerang sel target dalam waktu singkat, virus HIV menyerang sel target dalam jangka  waktu lama, Supaya terjadi infeksi dan virus masuk kedalam sel yakni sel darah putih.

Infeksi HIV yang menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B, dan menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan tetapi antibodi tidak dapat membantu dalam melawan berbagai infeksi opportunistik pada AIDS. Hal ini disebabkan karena sistem imunitas tidak lagi bisa mengenali organisme dan sasaran baru untuk di eliminisasi dari tubuh akibat limfosit CD4 yang telah di hancurkan oleh virus HIV.

ASSEMENT KEPERAWATAN

  1. Riwayat : Perilaku beresiko tinggi seperti penyalah gunaan obat-obatan terutama suntik, tes HIV Positif, berganti-ganti pasangan.
  2. Penampilan umum : pucat, lemah.
  3.  Gejala subyektif : Berat Badan menurun, kehilangan nafsu makan/anoreksia, keluhan lemah dan lelah, demam terus menerus dengan atau tanpa menggigil dan keringat malam.
  4. Neurologis: Vertigo, ketidak seimbangan, gangguan reflek pupil, kaku kuduk, kejang, dan paraplegia
  5. Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidak mampu melakukan ADL.
  6. Kardiovaskuler ; takikardi, sianosis, hipotensi, edem perifer, dizziness.
  7. Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis,  SOB, menggunakan otot  Bantu pernapasan, batuk produktif atau non produktif.
  8. Pencernaan : Sering mual dan muntah, intake makanan dan minuman menurun, Diare kronis tanpa penyebab yang jelas, heptosplenomegali, perut kram, kuning.
  9. Gu : lesi atau eksudat pada genital,
  10. Integument : kering, gatal, rash atau lesi, turgor jelek, petekie positif.


Diagnosa, Luaran dan Intervensi Keperawatan

1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d proses infeksi. (D.0149)

Luaran : kontrol gejala meningkat (L.14127)

  • Kemampuan memonitor munculnya gejala sendiri meningkat
  • Kemampuan memonitor lama bertahannya gejala meningkat
  • Mendapatkan perawatan kesehatan saat gejala bahaya muncul meningkat
  • Kemampuan menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia meningkat

Intervensi : Dukungan kepatuhan program pengobatan (l12361)

  • Identifikasi kepaatuhan menjalani program pengobatan
  • Buat komitmen menjalani pengobatan program dengan baik
  • Buat jadwal pendampingan dengan keluarga untuk bergantian menemani pasien menjalani program pengobatan jika perlu
  • Anjurkan pasien untuk berkonsultasi ke pelayanan kesehatan terdekat

2. Defisit nutrisi b.d ketidakmampuan menelan makanan (D.0019)

Luaran : Status Nutrisi membaik

  • Porsi makanan yang dihabiskan, kekuatan otot pengunyah, kekuatan otot menelan meningkat
  • Perasaan cepat kenyang, nyeri abdomen, diare menurun
  • Berat badan IMT, frekuensi makan, nafsu makan, tebal lipatan kulit trisep, dan membran mukosa membaik

Intervensi : Pemantauan Nutrisi

  • Identifikasi faktor yang mempengaruhi asupan gizi ( pengetahuan, gangguan menelan dan penggunaan obat-obatan )
  • Identifikasi perubahan berat badan
  • Identifikasi kemampuan menelan
  • Monitor asupan oral
  • Monitor hasil laboratorium ( mis: albumin serum, hb)

3. Nyeri akut b.d agen pencendera fisiologis (inflamasi) (D.0022)

Luaran : Tingkat nyeri menurun ( L. 08066)

  • Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat,
  • Keluhan nyeri, meringis, kesulitan tidur, berfokus padadiri sendiri,perasaan depresi, anoreksia menurun
  • Frekuensi nasi, pola napas, nafsu makan, pola tidur membaik

Intervensi : Pemantauan nyeri(l.08242)

  • Identifikasi faktor pencetus dan pereda nyeri
  • Monitor kualitas nyeri
  • Monitor lokasi dan penyebaran nyeri
  • Monitor intensitas nyeri dengan menggunakan skala
  • Monitor durasi dan frekuensi nyeri

4. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan (D0056)

Luaran : Toleransi Aktifitas meningkat  (L.05047)

  • Frekuensi nadi, kemudahan dalam melakukan aktifitas sehari-hari, kecepatan berjalan, kekuatan tubuh bagian atas dan bawah meningkat
  • Dispnea saat aktifitas, dan setelah aktifitas, perasaan lemah menurun
  • Warna kulit, tekanan darah, frekuensi napas membaik

Intervensi : Terapi aktifitas (l05186)

  • Identifikasi defisit tingkat aktifitas
  • Identifikasi sumber daya untuk aktifitas yang diinginkan
  • Identifikasi strategi meningkatkan partisipasi  dalam aktifitas
  • Identifikasi maksa aktifitas rutin (bekerja) dan waktu luang
  • Fasilitasi fokus pada kemampuan bukan defisit yang dialami
  • Libatkan keluarga dalam aktifitas, jika perlu

5. Diare b.d proses infeksi (D.0020)

Luaran : Tingkat infeksi menurun (L.14137)

  • Kebersihan tangan, badan dan nafsu makan meningkat
  • Demam, kemerahan, nyeri menurun

Intervensi : Pengontrolan infeksi (l. 14551)

  • Identifikasi pasien –pasien yang mengalami infeksi menular
  • Terapkan kewaspadaan universal ( mis. Cuci tangan aseptik, gunakan alat pelindung diri spt masker, sarung tangan)
  • Tempatkan pada ruang isolasi untuk pasien yang mengalami penurunan imunitas
  • Berikan tanda khusus untuk mengidentifikasi pasien dengan penyakit menular


6. Gangguan integritas kulit b.d perubahan status nutrisi, penurunan mobilitas fisik (D. 0129)

Luaran : Integritas kulit meningkat (L. 14125)

Intervensi : Pelaporan status kesehatan (l. 14523)

  • Identifikasi data demografis yang penting (mis; usia, jenis kelamin)
  • Identifikasi kemampuan dalam menerapkan perawatan
  • Jelaskan riwayat kesehatan masa lalu yang relevan
  • Jelaskan dignoaia keperawatan dan medis saat ini
  • Jelaskan rencana diet, pengobatan dan latihan yang termasuk dalam program perawatan


Referensi :
Nursalam & Dian, 2013. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Salemba Medika. Jakarta
PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
PPNI, 2019.  Standart I Luaran Keperawatan Indonesia edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep
Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep Praktisi dan Dosen Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Pasien HIV AIDS (Respon Fisik) Pendekatan SDKI, SIKI dan SLKI"