Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Dispepsia Pendekatan Sdki Slki dan Siki

Dispepsia adalah istilah umum yang menggambarkan rasa sakit atau ketidaknyamanan yang berpusat di perut bagian atas, seringkali setelah makan. Dispepsia bukanlah penyakit tetapi sekelompok gejala yang muncul pada saluran pencernaan bagian atas. Pada artikel ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan asuhan keperawatan atau askep dispepsia menggunakan pendekatan sdki, slki dan siki.

Tujuan:

  • Memahami definisi, etiologi, dan tanda gejala yang muncul pada dispepsia
  • Memahami pemeriksaan dan penatalaksanaan medik dispepsia
  • Merumuskan diagnosa keperawatan pada askep dispepsia menggunakan pendekatan sdki
  • Merumuskan luaran dan kriteria hasil pada askep dispepsia menggunakan pendekatan slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep dispepsia dengan pendekatan siki.
Askep Dispepsia Pendekatan Sdki Slki dan Siki
Image by Nick Youngson on picpedia.org

Konsep Medik dan Asuhan Keperawatan (Askep) Dispepsia

Definisi

Dispepsia adalah istilah luas yang digunakan untuk menggambarkan berbagai keluhan yang berkaitan dengan perut dan bagian atas saluran pencernaan. Gejala gangguan pencernaan ini mungkin ringan atau cukup parah. Gejala dispepsia bisa berupa rasa kembung, gas, bersendawa, sakit perut, dan ketidaknyamanan di perut bagian atas terutama setelah makan.

Bentuk paling umum dari gangguan pencernaan ini disebut dispepsia fungsional. Istilah ini digunakan ketika tidak ada penyebab mendasar yang jelas untuk gejala dispepsia yang dalami. Gejala gangguan pencernaan umum dapat terjadi pada banyak penyakit sistem pencernaan serius lainnya seperti kanker perut, penyakit refluks gastroesofagus atau GERD, sindrom iritasi usus besar, atau bahkan penyakit hati.

Dispepsia mempengaruhi kualitas hidup dan biaya perawatan kesehatan, terutama pada dispepsia yang disebabkan oleh kondisi mendasar yang kronis atau parah. 

Beberapa penelitian menunjukkan dispepsia terjadi pada lebih dari 20% populasi, tetapi sebagian tidak melakukan pengobatan. 

Penyebab

Penyebab terjadinya dispepsia bisa beragam, antara lain:

Pola Makan dan Jenis Makanan yang di Konsumsi

Makan terburu buru, makan terlalu banyak, makan makanan yang pedas dan makanan berminyak dalam jumlah besar bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya dispepsia. Mengkonsumsi terlalu banyak kafein, alkohol, coklat atau minuman berkarbonasi juga bisa menjadi penyebab terjadinya dispepsia.

Dalam kasus ini, untuk mengatasinya cukup dengan mengubah pola makan atau mengubah kebiasaan gaya hidup untuk mengubah frekuensi dan ukuran makanan.

Stres Emosional

Stres emosional, kecemasan berlebihan dan trauma emosional yang belum terselesaikan juga bisa menjadi  penyebab munculnya dispepsia. Dalam situasi ini, tekanan emosional atau mental yang berkelanjutan dapat menyebabkan tubuh mengeluarkan lebih banyak asam lambung dan pepsin, yang pada akhirnya menyebabkan iritasi pada lapisan lambung dan pembentukan tukak lambung. 

Tekanan mental ini dapat berhubungan dengan uang, tekanan hubungan seperti kehilangan hubungan yang signifikan atau pernikahan, dan trauma emosional dari berbagai jenis penyebab.

Obat Obatan

Obat-obatan seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan kortikosteroid juga meningkatkan jumlah asam di perut dan menjadi penyebab dispepsia. 

Efek samping yang tidak diinginkan ini pada akhirnya dapat menyebabkan iritasi dan nyeri pada saluran pencernaan. Penggunaan obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas dalam jangka panjang seperti ibuprofen sering kali tidak disarankan karena alasan ini.

Helicobacter Pylori

Helicobacter pylori adalah infeksi bakteri yang merupakan salah satu penyebab paling umum timbulnya iritasi lambung dan saluran cerna bagian atas. Bakteri ini akan meningkatkan jumlah pepsin dan asam lambung , yang mengakibatkan ketidaknyamanan dan potensi kerusakan pada lapisan lambung.

Kerusakan ini dapat menyebabkan gastritis, suatu kondisi dimana lapisan lambung menjadi meradang dan dapat menjadi rusak. Jika kondisi ini tidak diobati terlalu lama bisa memicu peningkatan risiko kanker perut.

Penyakit Lain

Terkadang kondisi tertentu atau penyakit lain bisa menjadi pencetus terjadinya dispepsia, antara lain:

  • Gastritis
  • Tukak lambung
  • Penyakit celiac
  • Sembelit atau Konstipasi
  • Kanker perut
  • Penyumbatan usus
  • Iskemia usus
  • penyakit tiroid
  • Kehamilan

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yang sering muncul pada dispepsia antara lain:

  • Rasa sakit yang berkaitan dengan sistem pencernaan
  • Sensasi panas atau seperti terbakar pada saluran pencernaan
  • Merasa terlalu kenyang setelah makan
  • Merasa kenyang terlalu cepat saat makan
  • Rasa kembung dan mual 

Seseorang dapat memiliki gejala bahkan jika mereka belum makan dalam jumlah besar.

Pemeriksaan Diagnostik

Riwayat Penyakit

Riwayat penyakit sekarang harus memberikan gambaran yang jelas tentang gejala, termasuk apakah gejala tersebut akut atau kronis dan berulang. 

Elemen lain termasuk waktu dan frekuensi kekambuhan, kesulitan menelan, dan hubungan gejala dengan makan atau minum obat. Faktor-faktor yang memperburuk gejala seperti aktivitas, makanan tertentu, atau alkohol. Faktor yang meringankangejala juga perlu dicatat.

Tinjauan sistem mencari gejala gastrointestinal seperti anoreksia, mual muntah, hematemesis, penurunan berat badan, dan tinja berdarah atau hitam (melanotik). Gejala lain termasuk dispnea dan diaforesis.

Riwayat penyakit sebelumnya harus mencakup diagnosis Gastrointestinal dan jantung yang diketahui, faktor risiko penyakit jantung  seperti hipertensi, hiperkolesterolemia, dan hasil tes sebelumnya. Riwayat pengobatan harus mencakup resep dan penggunaan obat-obatan serta alkohol.

Pemeriksaan fisik

  • Pemeriksaan tanda-tanda vital harus diperhatikan adanya takikardia atau nadi tidak teratur.
  • Pemeriksaan umum harus mencatat adanya pucat atau diaforesis, cachexia, atau ikterus. 
  • Palpasi Perut untuk nyeri tekan, massa, dan pembesaran organ. 
  • Pemeriksaan rektal dilakukan untuk mendeteksi darah samar.

Temuan Khusus

Munculnya tanda dan gejala dibawah ini harus menjadi perhatian khusus:

  • Episode akut dengan dispnea, diaforesis, atau takikardia
  • Anoreksia
  • Penurunan berat badan
  • Darah dalam tinja
  • Disfagia atau odinofagia
  • Kegagalan untuk merespon terapi dengan H2 blocker atau proton pump inhibitor (PPI)

Seorang pasien yang datang dengan satu episode dispepsia akut harus diperhatikan, terutama jika gejalanya disertai dengan dispnea, diaforesis, atau takikardia. Pasien tersebut mungkin memiliki iskemia koroner akut. Gejala kronis yang muncul saat  beraktivitas dan berkurang dengan istirahat dapat menunjukkan indikasi angina.

Pemeriksaan penunjang

Pasien yang gejalanya menunjukkan iskemia koroner akut, terutama mereka yang memiliki faktor risiko, harus dikirim ke unit gawat darurat untuk evaluasi segera EKG dan penanda serum jantung. Pemeriksaan untuk gangguan jantung harus terlebih dahulu dilakukan sebelum pemeriksaan gangguan gastrointestinal seperti endoskopi.

Untuk pasien dengan gejala kronis dan nonspesifik, pemeriksaan rutin meliputi hitung darah lengkap untuk menyingkirkan kemungkinan anemia yang disebabkan oleh kehilangan darah GI,  dan kimia darah rutin. 

Jika hasilnya abnormal, pemeriksaan tambahan seperti pencitraan dan endoskopi harus dipertimbangkan. Tes lain yang bisa dipertimbangkan adalah skrining untuk infeksi H. pylori dengan tes napas 14C-urea atau pemeriksaan tinja

Manometri esofagus dan studi pH diindikasikan jika gejala refluks menetap setelah endoskopi saluran cerna bagian atas dan percobaan 4 sampai 8 minggu dengan obat golongan PPI.

Penatalaksanaan 

Perubahan gaya hidup

Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup, pola makan dan dispepsia. 

Konsumsi alkohol,  merokok, kafein, kebiasaan makan yang tidak teratur, dan stres telah disebutkan sebagai faktor yang meningkatkan gejala pada pasien dengan dispepsia fungsional. Delapan puluh persen pasien dalam satu penelitian merasa gejala dispepsia mereka berkurang dengan menghindari makanan tertentu.

Meskipun saat ini tidak ada bukti yang jelas bahwa salah satu dari unsur-unsur ini bertanggung jawab untuk eksaserbasi gejala, pasien dengan dispepsia fungsional harus didorong untuk berhenti merokok, mengurangi asupan alkohol dan kafein,  dan mulai mengkonsumsi makan makanan yang sehat dan seimbang.

Untuk dispepsia dengan gejala ringan dan jarang, beberapa perubahan gaya hidup seperti di bawah ini dapat membantu:

  • Menghindari atau membatasi asupan makanan pemicu dispepsia, seperti gorengan, coklat, bawang merah, dan bawang putih
  • Minum air putih bukan soda
  • Membatasi asupan kafein dan alkohol
  • Makan dalam porsi kecil lebih sering
  • Makan perlahan
  • Mempertahankan berat badan seimbang
  • Menghindari pakaian ketat
  • Menghindari atau berhenti merokok, jika perokok

Farmakologis

Tidak setiap pasien memerlukan intervensi farmakologis, dan pengobatan harus diberikan baik secara intermiten atau hanya untuk waktu yang singkat. 

Untuk gejala yang parah atau sering, beberepa jenis obat bisa diberikan sebagai terapi. Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter tentang pilihan yang sesuai dan kemungkinan efek samping.

Obat-obatan yang digunakan dalam pengelolaan dispepsia antara lain:

  • Antasida
  • Antagonis reseptor H-2
  • Inhibitor pompa proton (PPI)
  • Prokinetik
  • Antibiotik
  • Antidepresan

Konseling

Jenis konseling untuk dispepsia biasanya meliputi:

  • Terapi perilaku kognitif
  • Biofeedback
  • Hipnoterapi
  • Terapi relaksasi
  • Konseling Interaksi obat

Asuhan Keperawatan (Askep Dispepsia) Sdki Slki dan Siki

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan

1. Nyeri Akut b/d Agen Pencedera fisiologis (D.0077)

Luaran: Tingkat Nyeri menurun (L.08066)

  • Keluhan nyeri menurun
  • Meringis, sikap protektif, dan gelisah menurun
  • Kesulitan tidur menurun
  • Anoreksia menurun
  • Mual muntah menurun
  • Frekuensi nadi dan tekanan darah membaik
  • Nafsu makan dan pola tidur membaik

Intervensi Keperawatan: Manajemen Nyeri (I. 08238)

  • Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
  • Identifikasi skala nyeri
  • Identifikasi respon nyeri non verbal
  • Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
  • Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
  • Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
  • Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
  • Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
  • Monitor efek samping penggunaan analgetik
  • Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
  • Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
  • Fasilitasi istirahat dan tidur
  • Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
  • Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
  • Jelaskan strategi meredakan nyeri
  • Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
  • Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
  • Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

2. Ansietas b/d Kurang Terpapar Informasi (D.0080)

Luaran: Tingkat Ansietas menurun (L.09093)

  • Verbalisasi kebingungan dan khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
  • Perilaku gelisah dan tegang menurun
  • Palpitasi, tremor, dan pucat menurun
  • Konsentrasi dan pola tidur membaik
  • Orientasi membaik

Intervensi Keperawatan: Reduksi ansietas (I.09314)

  • Identifikasi saat tingkat ansietas berubah seperti Kondisi, waktu, dan stressor.
  • Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
  • Monitor tanda anxietas baik verbal dan non verbal
  • Ciptakan suasana  terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
  • Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan
  • Pahami situasi yang membuat ansietas
  • Dengarkan dengan penuh perhatian
  • Gunakan pedekatan yang tenang dan meyakinkan
  • Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
  • Diskusikan perencanaan  realistis tentang peristiwa yang akan datang
  • Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
  • Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
  • Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu
  • Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai kebutuhan
  • Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
  • Latih kegiatan pengalihan, untuk mengurangi ketegangan
  • Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
  • Latih teknik relaksasi
  • Kolaborasi pemberian obat anti ansietas, jika perlu

3. Defisit Nutrisi b/d Ketidakmampuan mencerna makanan dan mengabsorbsi nutrient (D.0019)

Luaran: Status Nutrisi membaik (L.03030)

  • Porsi makan yang dihabiskan meningkat
  • Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi
  • Pengetahuan tentang pilihan makanan dan minuman yang sehat meningkat
  • Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi yang tepat meningkat
  • Perasaan cepat kenyang menurun
  • Nyeri abdomen menurun
  • Berat badan dan Indeks massa tubuh (IMT) membaik
  • Frekuensi dan nafsu makan membaik
  • Tebal lipatan kulit trisep dan membran mukosa membaik

Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119)

  • Identifikasi status nutrisi
  • Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
  • Identifikasi makanan yang disukai
  • Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
  • Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
  • Monitor asupan makanan
  • Monitor berat badan
  • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
  • Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
  • Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. Piramida makanan)
  • Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
  • Berikan makan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
  • Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
  • Berikan suplemen makanan, jika perlu
  • Hentikan pemberian makan melalui selang nasigastrik jika asupan oral dapat ditoleransi
  • Anjurkan posisi duduk, jika mampu
  • Ajarkan diet yang diprogramkan
  • Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri, antiemetik), jika perlu
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

4. Nausea b/d Iritasi lambung  (D.0076)

Luaran: Tingkat nausea menurun (L.08065)

  • Nafsu makan meningkat
  • Keluhan mual menurun
  • Perasaan ingin muntah menurun
  • Perasaan asam dimulut menurun
  • Sensasi panas menurun
  • Diaforesis menurun
  • Jumlah saliva menurun
  • Pucat, takikardia, dan dilatasi pupil membaik

Intervensi Keperawatan: Manajemen Mual (I.03117)

  • Identifikasi pengalaman mual
  • Identifikasi isyarat nonverbal ketidak nyamanan (mis. Bayi, anak-anak, dan mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif)
  • Identifikasi dampak mual terhadapkualitas hidup (mis. Nafsu makan, aktivitas, kinerja, tanggung jawab peran, dan tidur)
  • Identifikasi faktor penyebab mual (mis. Pengobatan dan prosedur)
  • Identifikasi antiemetik untuk mencegah mual (kecuali mual pada kehamilan)
  • Monitor mual (mis. Frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan)
  • Monitor asupan nutrisi dan kalori
  • Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (mis. Bau tak sedap, suara, dan rangsangan visual yang tidak menyenangkan)
  • Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual (mis. Kecemasan, ketakutan, kelelahan)
  • Berikan makan dalam jumlah kecil dan menarik
  • Berikan makanan dingin, cairan bening, tidak berbau dan tidak berwarna, jika perlu
  • Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
  • Anjurkan sering membersihkan mulut, kecuali jika merangsang mual
  • Anjurkan makanan tinggi karbohidrat dan rendah lemak
  • Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi mual (mis. Biofeedback, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur)
  • Kolaborasi pemberian antiemetik, jika perlu

Referensi:

  1. Anne Crozier. 2003. The Management Of Dyspepsia. Nursing Times Vol.99. Issue:38. Page No.30.
  2. Harmon, R. C., & Peura, D. A. 2010. Evaluation and management of dyspepsia. Therapeutic advances in gastroenterology, 3(2), 87–98. https://doi.org/10.1177/1756283X09356590
  3. Cary Gastro. 2019. Dyspepsia: Symptoms, Causes, And Treatments. https://www.carygastro.com/blog/dyspepsia-symptoms-causes-and-treatments
  4. Jonathan Gotfried. 2020. Dyspepsia. Lewis Katz School Of Medicine at Temple University. MSD Manual Professional Version.
  5. Tim Newman. 2020. What To Know About Indigestion or Dyspepsia. Medical News Today
  6. PPNI. 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI. 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  8. PPNI. 2019.  Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat

Posting Komentar untuk "Askep Dispepsia Pendekatan Sdki Slki dan Siki"