Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Gastritis SDKI SLKI dan SIKI

Gastritis adalah kondisi peradangan pada lapisan mukosa lambung yang menimbulkan nyeri perut, gangguan pencernaan, kembung dan mual, bisa bersifat akut atau kronis. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan askep gastritis menggunakan pendekatan Sdki, Slki dan Siki.

Tujuan:

  • Memahami definisi, epidemiologi, penyebab, serta tanda dan gejala yang muncul pada pasien gastritis
  • Memahami pemeriksaan dan penatalaksanaan pada pasien dengan penyakit gastritis baik akut maupun kronik
  • Merumuskan diagnosa keperawatan yang sering muncul pada askep gastritis menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan luaran dan kriteria hasil pada askep gastritis menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada Askep gastritis menggunakan pendekatan Siki
  • Melakukan edukasi pasien pada askep gastritis 

Konsep medik dan Askep Gastritis

Pendahuluan

Secara anatomi, Selaput yang melapisi dinding lambung berfungsi melindunginya dari asam dan mikroorganisme. Terjadinya peradangan pada lapisan lambung inilah yang disebut sebagai gastritis.

Peradangan yang berlangsung lama dapat dapat menyebabkan kerusakan yang lebih parah berupa tukak lambung.

Jika lapisan lambung tidak lagi memberikan perlindungan yang cukup, dindingnya akan semakin rusak dan ulkus dapat berkembang dan dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pendarahan.

Gastritis, Dari Definisi Sampai Pencegahan

Gastritis adalah kondisi terjadinya  peradangan pada mukosa lambung, biasanya disebabkan oleh iritasi. Jika peradangan dan iritasi ini berlangsung lama atau kronis, dapat terjadi kerusakan yang lebih parah berupa adanya perlukaan yang disebut tukak lambung.

Pada kondisi normal, selaput dinding lambung berfungsi melindungi dinding lambung dari asam dan mikroorganisme. 

Terdapat dua jenis gastritis, yaitu akut dan kronik. Ada juga yang membaginya ke dalam gastritis erosif dan gastritis non erosif.

Gastritis akut timbul mendadak tanpa ada riwayat sebelumnya dengan keluhan nyeri dan rasa panas pada daerah perut atas, dan biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari. 

Sedangkan gastritis kronis biasanya memiliki gejala yang lebih ringan. Namun hal ini perlu diperhatikan, karena bisa menjadi lebih parah tanpa kita sadari.

Epidemiologi

Pada populasi barat dan negara maju, penelitian menunjukan penurunan insiden gastritis infeksius yang disebabkan oleh Helicobacter Pylori dan peningkatan prevalensi gastritis autoimun, dan lebih sering terjadi pada wanita dan orang tua dengan prevalensi diperkirakan sekitar 2% sampai 5%.

Gastritis kronis tetap merupakan penyakit yang relatif umum di negara berkembang. Prevalensi infeksi Helicobacter Pylori pada anak-anak di populasi barat adalah sekitar 10% dan sekitar 50% di negara berkembang. Di negara berkembang, prevalensi keseluruhan Helicobacter Pylori bervariasi tergantung pada wilayah geografis dan kondisi sosial ekonomi, yaitu sekitar 69% di Afrika, 78% di Amerika Selatan, dan 51% di Asia.

Di Indonesia, angka kejadian gastristis di perkirakan mencapai 40.8%  dari populasi. Atau paling tidak pernah mengalami gastritis akut selama periode hidupnya. Resiko umumnya meningkat seiring pertambahan usia. Hal ini dikarenakan dengan semakin meningkatnya usia, maka kemampuan organ-organ untuk memperbaiki diri akan berkurang.

Tanda dan Gejala

  • Nyeri perut dan rasa panas bagian atas (epigastrium)
  • Cepat merasa kenyang dan sering mengeluh kembung
  • Timbul rasa mual, terkadang muntah
  • Sering bersendawa
  • Penurunan nafsu makan
  • Perut terasa kembung
  • Gejala seperti ini juga kadang muncul pada penyakit lain seperti Gastroesofagial reflux (GERD) dan Diare (gastroentritis).
  • Pada gastritis kronis, gejala biasanya ringan bahkan kadang tanpa gejala.

Penyebab

Bakteri Helicobacter Pylori

Bakteri Helicobacter Pylori meningkatkan produksi asam lambung. Jika kadar asam lambung terlalu tinggi, dapat mengiritasi mukosa dinding lambung. Bakteri helycobacter Pylori menyebar melalui air liur, muntahan, tinja, air minum dan makanan.  

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (NSAID)

NSAID merupakan obat yang konsumsi untuk mengurangi nyeri, termasuk asam asetil salisilat. Jenisnya seperti Aspirin, Asam mefenamat, Natrium Diclofenak, Dan Ibupropen. 

Jika di konsumsi sesekali, obat penghilang rasa sakit ini sebenarnya jarang menimbulkan efek samping. Tapi jika digunaan dalam jangka panjang secara terus menerus, akan mempengaruhi fungsi mukosa lambung karena menghalangi produksi hormon prostaglandin.

Salah satu fungsi prostaglandin adalah mengatur sekresi lendir yang menetralkan asam lambung. Jika sekresi prostaglandin menurun, maka dinding lambung tidak lagi memilki perlindungan yang cukup terhadap asam.

Reflux

Penyebab lain yang bisa menjadi pemicu adalah refluk empedu. Hati membuat cairan empedu untuk membantu mencerna makanan berlemak. Di sini terjadi aliran balik cairan empedu keatas dari usus halus masuk kedalam lambung dan menyebabkan iritasi dan kerusakan lapisan mukosa lambung.

Stres

Stres fisik dan psikologis bisa menjadi pemicu peningkatan asam lambung. Seringkali gastritis berkembang bahkan setelah trauma yang terjadi pada organ lain. Seperti kejadian luka bakar parah atau cedera otak sering menjadi penyebab umum munculnya gastritis.

Penyalahgunaan Alkohol

Konsumsi alkohol dalam jumlah banyak dan jangka waktu yang lama bisa berdampak iritasi terhadap lapisan  mukosa lambung.

Penyakit Auto Imun

Pada beberapa orang, sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat, termasuk pada lapisan mukosa lambung.

Patofisiologi

Pada gastritis yang disebabkan oleh Bakteri Helicobacter Pylori, penularan bakteri terjadi melalui rute fekal-oral.  Infeksi Helicobacter Pylori memicu IL-8, yang menarik neutrofil yang melepaskan oxyradicals yang menyebabkan kerusakan sel dan menyebabkan terjadinya  Infiltrasi limfosit.

Gastritis kronis sebagian besar disebabkan oleh infeksi Helicobacter Pylori dan muncul sebagai bentuk non-atrofik atau atrofi. Kedua bentuk ini adalah fenotipe gastritis pada tahap yang berbeda dari penyakit seumur hidup yang sama.

Progresi dari gastritis akut ke kronis dimulai pada masa kanak-kanak sebagai peradangan mononuklear superfisial kronis sederhana mukosa lambung yang berkembang dalam beberapa tahun atau dekade menjadi atrofi yang ditandai dengan hilangnya kelenjar mukosa normal di antrum, korpus, fundus atau semua bagian lambung.

Faktor-faktor yang menentukan perkembangan gastritis atrofi dan gejala sisa seperti tukak lambung atau kanker lambung tidak dipahami dengan jelas dan tidak dapat diprediksi. Namun, virus Epstein-Barr (EBV) dan human cytomegalovirus (HCMV) telah diidentifikasi pada tumor lambung dan DNA dari Helicobacter Pylori.  Beberapa peneliti telah mengkonfirmasi keterlibatan EBV dan Helicobacter Pylori dalam perkembangan kanker lambung pada pasien dengan gastritis kronis.

Obat obatan NSAID menyebabkan gastritis melalui penghambatan sintesis prostaglandin. Prostaglandin bertanggung jawab untuk pemeliharaan mekanisme pelindung mukosa lambung dari cedera yang disebabkan oleh asam klorida.

Patogenesis gastritis autoimun berfokus pada dua teori. Menurut teori pertama ysitu terpicunya respon imun terhadap antigen Helicobacter Pylori  kemudian bereaksi silang dengan antigen dalam protein pompa proton atau faktor intrinsik, menyebabkan kaskade perubahan seluler dan kerusakan pada sel parietal. Dengan demikian sel-sel ini secara bertahap menjadi atrofi dan tidak berfungsi.

Teori kedua mengasumsikan bahwa gangguan autoimun yang berkembang terlepas dari adanya infeksi Helicobacter Pylori, dan mengarahkan dirinya sendiri terhadap protein pompa proton. Gastritis autoimun adalah hasil dari interaksi yang kompleks antara kerentanan genetik dan faktor lingkungan yang mengakibatkan disregulasi imunologi yang melibatkan limfosit T dan autoantibodi yang berdampak ke sel parietal.

Diagnosis

Penting untuk meninjau riwayat pasien mengenai obat-obatan, asupan alkohol, merokok, dan faktor risiko lain yang mungkin terkait dengan gastritis.

Gejala yang muncul biasanya meliputi rasa nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas, dispepsia, mual, muntah darah atau muntahan berwarna coklat seperti kopi, rasa kembung pada perut bagian atas, sendawa, kehilangan nafsu makan, malena, cepat kenyang, kelelahan dan diare.

Gastroskopi untuk memeriksa dinding bagian dalam kerongkongan dan lambung. Prosedur ini sering digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Jika dicurigai adanya kanker lambung, sampel biopsi juga dapat diambil dari daerah yang terkena.

Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk memeriksa jumlah sel darah dan fungsi hati, ginjal, kandung empedu dan pankreas.

Pemeriksaan Helicobacter Pylori disarankan bagi pasien  yang berusia di bawah 55 tahun yang tidak memiliki indikator keganasan Gastro intestinal. Dua pemeriksaan yang spesifik dan sensitif untuk H.pylori adalah tes napas dan tes antigen tinja, yang keduanya bisa mendeteksi infeksi aktif.

Penatalaksanaan

Jika teridentifikasi bahwa makanan tertentu, stress, alkohol atau rokok yang menjadi pemicunya, maka yang perlu dilakukan adalah mengubah pola makan, berhenti merokok, hindari alkohol dan mengurangi stress dalam kehidupan sehari hari. Jika perubahan gaya hidup ini tidak bisa meredakan gejala, maka diperlukan pemberian obat-obatan.

Gastritis biasanya diobati dengan obat penurun asam lambung. Tergantung pada jenis dan tingkat keparahan gejala. Beberapa obat yang biasa diresepkan oleh dokter antara lain:

  • Golongan PPI (Proton Pump Inhibitor) seperti omeprazole atau pantoprazole
  • Golongan H2 Bloker seperti ranitidin dan famotidin untuk mengurangi produksi asam
  • Antasida, Seperti aluminium hidroksida atau magnesium hidroksida untuk menetralkan asam lambung yang tinggi
  • Jika teridentifikasi disebabkan oleh helicobacter Pylori, maka biasanya obat-obatan diatas akan dikombinasikan dengan Antibiotik.

Komplikasi

Jika lapisan mukosa lambung mengalami iritasi terus menerus, maka perlahan lahan bisa menjadi luka atau tukak dan bisa menjalar ke duodenum (Usus Halus). Ulkus atau tukak pada lambung dan duodenum bisa menimbulkan komplikasi serius seperti perdarahan

Akibat pendarahan yang terjadi dalam jangka waktu lama, dapat menimbulkan kekurangan sel darah merah dan menimbulkan anemia.

Pada gastritis yang disebabkan oleh autoimun, dapat mempengaruhi tubuh dalam penyerapan vitamin B12. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh tidak mendapatkan cukup vitamin B12 dan sel darah merah menjadi kurang sehat.

Jika gastritis parah dibiarkan menjadi ulkus, lalu ulkus semakin dalam melukai dinding lambung, bisa terjadi kebocoran dinding lambung dan menyebabkan merembesnya cairan ke luar lambung menimbulkan peritonitis. Jika disertai infeksi akan menyebabkan sepsis. 

Walaupun kejadiannya jarang, Gastritis yang disebabkan oleh Bakteri Helicobacter Pylori dan penyakit auto imun bisa berkembang menjadi tumor/kanker. 

Pencegahan

Helicobacter Pylori adalah salah satu penyebab utama, tetapi kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka terinfeksi. Bakteri ini mudah menular, jadi menurunkan resiko infeksi dengan mempraktekan kebiasaan hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan sangatlah penting.

Kita juga dapat meminimalkan gangguan pencernaan seperti gastritis dengan mengeliminir beberapa faktor pencetusnya. 

Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya:

  • Mengurangi atau menghindari makanan yang terlalu pedas, asam, berlemak atau digoreng.
  • Mengurangi konsumsi kopi/kafein
  • Menjaga jangan sampai perut terlalu lama kosong, usahakan makan makanan kecil jika waktu makan utama masih jauh.
  • Makan secara teratur dengan jumlah yang terukur, makan dengan porsi besar sekaligus setelah perut kosong dalam waktu lama kurang baik untuk kesehatan lambung.
  • Mengelola stress dengan baik
  • Menghindari menggunakan NSAID kecuali benar-benar di perlukan. Jikapun harus meminumnya, perhatikan aturan minum yaitu jangan pada saat perut kosong.
  • Menghindari atau mengurangi konsumsi alkohol
  • Tidak langsung berbaring setelah makan

Asuhan Keperawatan (Askep Gastritis) Pendekatan SDKI SLKI dan SIKI

Pengkajian

Anamnesis yang menyeluruh penting karena membantu perawat untuk mengidentifikasi apakah diet atau hal lainnya terkait dengan gejala saat ini.

Saat melakukan anamnesis pada askep gastritis, beberapa hal yang perlu ditanyakan oleh perawat antara lain:

  • Apakah pasien mengalami nyeri ulu hati, gangguan pencernaan, mual, atau muntah? 
  • Apakah gejala muncul pada waktu tertentu dalam sehari, sebelum atau sesudah makan, setelah menelan makanan pedas atau mengiritasi, atau setelah konsumsi obat-obatan atau alkohol tertentu?
  • Apakah ada kenaikan atau penurunan berat badan baru-baru ini?
  • Apakah gejalanya berhubungan dengan kecemasan, stres, alergi, makan atau minum terlalu banyak, atau makan terlalu cepat? 
  • Bagaimana gejalanya berkurang? 
  • Apakah ada riwayat penyakit lambung atau operasi sebelumnya? 
  • Riwayat diet ditambah daftar semua yang dimakan dan diminum pasien dalam 72 jam terakhir dapat membantu.
  • Apakah orang lain di lingkungan pasien memiliki gejala yang sama
  • Apakah pasien muntah darah dan apakah ada kaustik yang diketahui atau  elemen telah dicerna
  • Perawat juga mengidentifikasi durasi gejala saat ini, metode apa pun yang digunakan pasien untuk mengobati gejala ini, dan apakah metode tersebut efektif. 
  • Tanda-tanda yang perlu diperhatikan selama pemeriksaan fisik termasuk nyeri perut, dehidrasi, dan bukti adanya gangguan sistemik yang mungkin bertanggung jawab atas gejala gastritis.

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan

1. Nyeri Akut b/d Agen Pencedera fisiologis (D.0077)

Luaran: Tingkat Nyeri menurun (L.08066)
  • Keluhan nyeri menurun
  • Meringis, sikap protektif, dan gelisah menurun
  • Kesulitan tidur menurun
  • Anoreksia menurun
  • Mual muntah menurun
  • Frekuensi nadi dan tekanan darah membaik
  • Nafsu makan dan pola tidur membaik
Intervensi: Manajemen Nyeri (I. 08238)
  • Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
  • Identifikasi skala nyeri
  • Identifikasi respon nyeri non verbal
  • Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
  • Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
  • Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
  • Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
  • Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
  • Monitor efek samping penggunaan analgetik
  • Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
  • Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
  • Fasilitasi istirahat dan tidur
  • Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
  • Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
  • Jelaskan strategi meredakan nyeri
  • Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
  • Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
  • Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
  • Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

2. Defisit Nutrisi b/d Ketidakmampuan mencerna makanan dan mengabsorbsi nutrient (D.0019)

Luaran: Status Nutrisi membaik (L.03030)
  • Porsi makan yang dihabiskan meningkat
  • Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi
  • Pengetahuan tentang pilihan makanan dan minuman yang sehat meningkat
  • Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi yang tepat meningkat
  • Perasaan cepat kenyang menurun
  • Nyeri abdomen menurun
  • Berat badan dan Indeks massa tubuh (IMT) membaik
  • Frekuensi dan nafsu makan membaik
  • Tebal lipatan kulit trisep dan membran mukosa membaik
Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
  • Identifikasi status nutrisi
  • Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
  • Identifikasi makanan yang disukai
  • Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
  • Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
  • Monitor asupan makanan
  • Monitor berat badan
  • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
  • Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
  • Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. Piramida makanan)
  • Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
  • Berikan makan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
  • Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
  • Berikan suplemen makanan, jika perlu
  • Hentikan pemberian makan melalui selang nasigastrik jika asupan oral dapat ditoleransi
  • Anjurkan posisi duduk, jika mampu
  • Ajarkan diet yang diprogramkan
  • Kolaborasi
  • Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri, antiemetik), jika perlu
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

3. Resiko Ketidakseimbangan Cairan b/d Disfungsi Intestinal (D.0036)

Luaran: Keseimbangan cairan meningkat (L.03021)

  • Asupan cairan meningkat
  • Haluaran urin meningkat
  • Kelembaban membran mukosa meningkat
  • Asupan makanan meningkat
  • Berat badan membaik
Intervensi : 

a. Manajemen Cairan (I.03098)

  • Monitor status hidrasi seperti, frekuensi nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler, kelembapan mukosa, turgor kulit, dan tekanan darah
  • Monitor berat badan harian
  • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium seperti Hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin , BUN.
  • Monitor status hemodinamik jika tersedia
  • Catat intake output dan hitung balans cairan dalam 24 jam
  • Berikan  asupan cairan sesuai kebutuhan
  • Berikan cairan intravena bila perlu
b. Pemantauan Cairan (I.03121)
  • Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
  • Monitor frekuensi nafas
  • Monitor tekanan darah
  • Monitor berat badan
  • Monitor waktu pengisian kapiler
  • Monitor elastisitas atau turgor kulit
  • Monitor jumlah, waktu dan berat jenis urine
  • Monitor kadar albumin dan protein total
  • Monitor hasil pemeriksaan serum seperti Osmolaritas serum, hematocrit, natrium, kalium, BUN.
  • Identifikasi tanda-tanda hipovolemia seperti Frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun atau hipotensi, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membrane mukosa kering, volume urine menurun, hematokrit meningkat, haus, lemah, konsentrasi urine meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkat
  • Identifikasi tanda-tanda hypervolemia seperti Dispnea, edema perifer, edema anasarka, JVP meningkat, CVP meningkat, refleks hepatojogular positif, berat badan menurun dalam waktu singkat.
  • Identifikasi faktor resiko ketidakseimbangan cairan 
  • Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
  • Dokumentasi hasil pemantauan
  • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
  • Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

4. Ansietas b/d Kurang Terpapar Informasi (D.0080)

Luaran: Tingkat Ansietas menurun (L.09093)
  • Verbalisasi kebingungan dan khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
  • Perilaku gelisah dan tegang menurun
  • Palpitasi, tremor, dan pucat menurun
  • Konsentrasi dan pola tidur membaik
  • Orientasi membaik
Intervensi: Reduksi ansietas (I.09314)
  • Identifikasi saat tingkat ansietas berubah seperti Kondisi, waktu, dan stressor.
  • Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
  • Monitor tanda anxietas baik verbal dan non verbal
  • Ciptakan suasana  terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
  • Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan
  • Pahami situasi yang membuat ansietas
  • Dengarkan dengan penuh perhatian
  • Gunakan pedekatan yang tenang dan meyakinkan
  • Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
  • Diskusikan perencanaan  realistis tentang peristiwa yang akan datang
  • Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
  • Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
  • Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu
  • Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai kebutuhan
  • Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
  • Latih kegiatan pengalihan, untuk mengurangi ketegangan
  • Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
  • Latih teknik relaksasi
  • Kolaborasi pemberian obat anti ansietas, jika perlu

Referensi
  1. Pamela C.A .2011. Nursing: Understanding Disease., Nowriston Road: Lippincott Williams & Wilkins.
  2. Sally Robertson. N.D. Gastritis Diagnosis. News Medical Life Sciences.
  3. Sharon Gilson. 2020. What Is Gastritis?. Verywell Health.
  4. Samy A.Azer & Hossein Akhondi. 2021. Gastritis. StatPearls.
  5. InformedHealth.2015. Gastritis: Overview. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK310265/
  6. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  8. PPNI, 2019.  Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Askep Gastritis SDKI SLKI dan SIKI"