Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Pada Rubella - Intervensi

Rubella, yang umumnya disebut campak jerman (German measles), merupakan penyakit akibat virus akut yang sedikit menular dan menimbulkan ruam yang terlihat jelas dan limfadenopati. Rubella paling sering menyerang anak berusia 5 sampai 9 tahun, remaja, dan orang dewasa muda. Periode penularan berlangsung dari sekitar 10 hari sebelum ruam muncul sampai 5 hari setelah ruam muncul. 

Rubella terdistribusi di seluruh dunia dan sering muncul saat musim semi (terutama di kota besar), dan epidemik muncul secara sporadis. Pada 2005, Centers for Disease Control and Prevention menentukan hahwa virus rubella telah diberantas di Amerika Serikat, tetapi vaksinnya masih direkomendasikan karena pelancong luar negeri bisa membawa penyakit ini dari negara tempat virus rubella masih aktif. Penyakit ini bersifat bisa sembuh tanpa banyak intervensi, dan prognosisnya sangat baik, kecuali kongenital, yang bisa mendatangkan malapetaka. 

Asuhan Keperawatan Pada Rubella - Intervensi
image by common wikimedia.org

Sindrom rubella kongenital muncul di 25% bayi yang lahir dari wanita yang terkena rubella saat kehamilannya memasuki trimester pertama. Kelainan jarang terjadi jika infeksi muncul setelah kehamilan berusia 20 minggu. Komplikasi pada fetus bisa berupa tuli, katarak, mikrosefali, retardasi mental, kelainan jantung kongenital, dan masalah lainnya. Keguguran atau bayi meninggal setelah dilahirkan juga bisa terjadi.

Penyebab 

  • Transmisi virus melalui kontak dengan darah, urin, tinja, atau sekresi nasofaringeal dari orang yang terinfeksi dan kemungkinan melalui kontak dengan pakaian yang baru saja terkontaminasi 
  • Transmisi transplasental (sindrom rubella kongenital) 

Tanda dan gejala 

  • Setelah periode inkubasi selama 14 sampai 21 hari, anak-anak menunjukkan adanya ruam eksentematosa dan makulopapular yang tiba-tiba pecah 
  • Ruam yang dimulai di wajah dan menyebar cepat, kadang-kadang menutupi batang tubuh dan ekstremitas dalam waktu beberapa jam; makula kecil, merah, dan petekial di palatum halus (bintik Forschheimer) yang kemungkinan muncul sebelurn atau bersama ruam 
  • Di akhir hari kedua: ruam fasial yang mulai hilang tetapi ruam di batang tubuh bisa menyatu dan dengan mudah disalahartikan dengan scarlet fiver; ruam semakin samar dengan urutan ke bawah sesuai kemunculannya 
  • Umumnya ruam hilang pada hari ketiga tetapi bisa tetap ada selama 4 sampai 5 hari—kadang-kadang disertai koriza ringan dan konjungtivitis 
  • Ruam muncul dan hilang dengan cepat, ciri yang membedakannya dengan rubeola 
  • Pada remaja dan orang dewasa: sakit kepala, anoreksia, tidak enak badan, demam ringan, koriza, limfadenopati, dan kadang-kadang konjungtivitis (tanda dan gejala pertama), pembesaran nodus limfa suboksipital, postaurikular, dan postservikal (penanda rubella) 
  • Demam ringan 99° sampai 101° F (37,2° sampai 38,3° C) yang bisa menyertai ruam tetapi tidak setelah hari pertama kemunculan ruam, suhu bisa mencapai 104° F (40" C) namun jarang terjadi 

Uji diagnostik 

  • Kultur sel tenggorokan, darah, urin, dan cairan serebrospinal bisa memastikan virus yang ada.
  • Serum kovalesen yang menunjukkan kenaikan empat kali dalam titer antibodi memastikan diagnosis.

Penanganan 

  • Antipiretik dan analgesik diberikan untuk demam dan nyeri sendi. 
  • Pasien tidak perlu istirahat di ranjang, tetapi sebaiknya diisolasi sampai ruam hilang.
  • Imunisasi dengan vaksin virus hidup yaitu satu satunya vaksin rubella yang tersedia di Amerika Serikat, diperlukan untuk pencegahan. Vaksin umumnya diberikan dengan vaksin campak dan beguk (vaksin MMR) saat anak berusia 12 sampai 15 bulan, dan dosis kedua diberikan saat masa kanak-kanak. 

Tindakan keperawatan 

  • Buat pasien yang mengalami rubella aktif dalam keadaan senyaman mungkin. Beri buku pada anak untuk dibaca atau beri permainan agar mereka tetap sibuk. 
  • Jelaskan mengapa isolasi respiratorik diperlukan. Pastikan pasien atau orang tuanya paham pentingnya menghindarkan wanita hamil pada paparan penyakit ini.
  • Jika ada kepastian kasus, laporkan ke kantor kesehatan publik. 

Saat memberi vaksin

  • Dapatkan riwayat alergi, terutama terhadap neomisin. Jika pasien alergi terhadap neomisin atau dulu pernah mengalami reaksi terhadap imunisasi, periksalah dengan dokter sebelum memberi vaksin.
  • Jika pasien adalah wanita berusia hamil, tanya ia apakah ia sedang hamil atau tidak. Jika ia hamil atau merasa hamil, jangan beri vaksin. Ingatkan wanita yang menerima vaksin rubela untuk menggunakan kontrol kelahiran yang efektif selama setidaknya 3 bulan setelah imunisasi.
  • Beri vaksin setidaknya 3 bulan setelah memberi imun globulin atau darah, yang bisa memiliki antibodi yang menetralkan vaksin. 
  • Jika pasien mengalami gangguan imun atau menderita penyakit imunodefisiensi atau menjalani terapi imunosupresan, radiasi, atau kortikosteroid, jangan beri ia vaksin. Daripada vaksin, beri ia imun serum globulin untuk mencegah atau meredakan infeksi
  • Setelah memberi vaksin, lihat apakah pasien menunjukkan tanda anafilaksis setidaknya selama 30 menit. Sediakan selalu epinefrin 1:1.000 agar mudah dijangkau. 
  • Ingatkan pasien bahwa demam ruam ringan, atralgia selintas (pada remaja), dan artritis (pada pasien lansia) bisa terjadi. Anjurkan ia minum aspirin atau asetaminofen untuk demam.
  • Sarankan pasien menggunakan kompres hangat di tempat injeksi 24 jam setelah imuninasi (untuk membantu tubuh mengabsorpsi vaksin). Jika bengkak masih ada setelah 24 jam pertama, anjurkan kompres dingin untuk membantu vasokonstruksi dan mencegah pembentukan kista antigenik. 


Sumber:

Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Pada Rubella - Intervensi"