Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Rheumatoid Arthritis - Intervensi

Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit inflamatorik kronis dan sistemik, dan paling sering menyerang sendi periferal dan otot, tendon, ligamen, dan pembuluh darah yang mengelilingi. Remisi parsial dan eksaserbasi yang tidak bisa diduga menandai rangkaian penyakit yang berpotensi melumpuhkan ini. 

Rheumatoid Arthritis muncul di seluruh penjuru dunia, menyerang wanita hampir tiga kali lebih banyak daripada pria. Bisa muncul pada usia berapa pun, tetapi puncak insidensinya ada pada pasien yang berusia 35 sampai 50 tahun. 

Penyakit ini biasanya membutuhkan penanganan seumur hidup dan kadang-kadang pembedahan. Pada sebagian besar pasien, Rheumatoid Arthritis muncul mengikuti rangkaian intermiten dan memungkinkan penderita melakukan aktivitas normal, tetapi 10% penderita mengalami ketidakmampuan total akibat deformitas artikular parah, gejala ekstra artikular yang berkaitan, atau keduanya. Prognosisnya memburuk jika pasien mengalami perkembangan nodulus, vaskulitis, dan titer tinggi pada faktor reumatoid (rheumatoid factor - RF). 

Asuhan Keperawatan Rheumatoid Arthritis - Intervensi
Image by Laboratoires Servier on wikimedia.org

Jika tidak ditahan, proses inflamatorik dalam sendi muncul dalam empat stadium: 

  • Stadium pertama: Sinovitis muncul akibat kongesti dan edema membran sinovial dan kapsul sendi. Infiltrasi oleh limfosit, makrofag, dan netrofil terus menyebabkan respons inflamatorik lokal. Sel-sel ini, dan sel sinoviail yang mirip-fibroblas, memproduksi enzim yang membantu degradasi tulang dan kartilago.
  • Stadium kedua: Panus (lapisan jaringan granulasi yang menebal) terbentuk, sehingga menutup dan menginvasi kartilago dan akhirnya menghancurkan kapsul sendi dan tulang. 
  • Stadium ketiga: Ankilosis fibrosa (invasi fibrosa di panus dan pembentukan parut yang memacetkan ruang sendi) muncul. Atrofi tulang dan kesejajaran yang salah menyebabkan deformitas yang terlihat jelas dan mengganggu artikulasi tulang yang melawan, sehingga menyebabkan atrofi dan ketidakseimbangan otot dan, kemungkinan, dislokasi atau subluksasi parsial.
  • Stadium keempat: Jaringan fibrosa mengapur, sehingga menyebabkan ankilosis bertulang dan imobilitas. 

Tanda dan gejala 

Stadium awal 

  • Anoreksia 
  • Letih 
  • Tidak enak badan 
  • Demam ringan dan persisten 
  • Gejala artikular samar 
  • Berat badan turun.

Stadium akhir 

  • Lesi kardiopulmoner 
  • Sindrom terowongan karpal 
  • Kehancuran proses odontoid (bagian dari vertebra servikal kedua) 
  • Fungsi sendi menurun 
  • Sendi yang terasa perih dan nyeri, awalnya hanya jika pasien menggerakkannya tetapi akhirnya muncul bahkan saat pasien beristirahat 
  • Sendi yang terasa panas saat disentuh 
  • Limfadenopati 
  • Miositis 
  • Neuritis periferal, yang menyebabkan mati rasa atau kesemutan di kaki bawah atau pelemahan dan hilangnya sensasi di jari tangan 
  • Pleuritis 
  • Nodulus atau fibrosis pulmoner 
  • Nodulus reumatoid subkutaneus, bulat atau oval, tidak perih
  • Skleritis dan episkleritis 
  • Jari berbentuk-spindel, yang disebabkan oleh edema dan kongesti yang terlihat jelas di sendi 
  • Otot kaku, lemah, atau nyeri, terutama setelah tidak beraktivitas dan saat bangun di pagi hari 
  • Penyakit sendi temporomandibular, yang mengganggu proses mengunyah dan menyebabkan sakit telinga 
  • Vaskulitis, yang bisa menyebabkan lesi kulit, ulser kaki, dan komplikasi sistemik multipel 

Uji diagnostik 

  • Sinar-X pada stadium awal menunjukkan demineralisasi tulang dan pembengkakan jaringan-lunak. Pada stadium selanjutnya, sinar-X menunjukkan kartilago hilang dan ruang sendi menyempit. Akhirnya, sinar-X menunjukkan kehancuran dan erosi kartilago dan sendi, subluksasi, dan deformitas. 
  • RF positif pada 75% sampai 80% pasien, yang diindikasikan dengan titer 1:160 atau lebih tinggi. 
  • Analisis cairan sinovial menunjukkan peningkatan volume dan turbiditas namun viskositas turun dan jumlah sel darah putih meningkat (umumnya lebih dari 10.000/ mm3). 
  • Elektroforesis protein serum bisa menunjukkan kenaikan kadar globulin serum. 
  • Tingkat sedimentasi eritrosit dan kadar protein reaktif-C naik pada 85% sampai 90% pasien (bisa digunakan untuk memantau respons terhadap terapi karena kenaikan biasanya sebanding dengan aktivitas penyakit.) 
  • Jumlah darah lengkap biasanya menunjukkan anemia sedang, leukositosis ringan, dan trombositosis.

Penanganan 

  • Salisilat, terutama aspirin, merupakan unsur utama dari terapi RA, karena bisa meringankan inflamasi dan nyeri sendi.
  • Obat anti-inflamatorik nonsteroidal (misalnya indomethacin, fenoprofen, dan ibuprofen antimalaria (hidroxychloroquine), sulfazalazine (Azulfidine), gold salt, dan kortikosteroid (prednisone) juga bisa digunakan.
  • Imunosupresan misalnya methotrexate (Trexall), cyclophosphamide (Cytoxan), dan azathioprine (Imuran) juga bersifat terapeutik dan lebih sering digunakan di awal proses penyakit. 
  • Inhibitor COX-2, misalnya celecoxib (Celebrex), secara signifikan mengurangi risiko pendarahan Gl. 
  • Cyclophosphamide (Cytoxan), yang menekan sistem imun dan berkaitan dengan efek merugikan toksik, bisa diberikan pada pasien yang tidak berhasil sembuh dengan terapi lain. 
  • Obat lain untuk terapi Rheumatoid Arthritis meliputi: 
    • Etanercept (Enbrel), yaitu agens yang bisa diinjeksi, dan infliximab (Remicade), yang diberikan secara I.V. setiap 2 bulan, menghambat faktor nekrosis protein inflamatorik. 
    • Leflunomide (Arava) menghalangi pertumbuhan sel baru. 
    • Anakinra (Kinerel), yaitu agens yang bisa diinjeksi, menghalangi protein inflamatorik lain, yaitu interleukin-1. 

  • Tindakan suportif antara lain tidur selama 8 sampai 10 jam setiap malam, sering beristirahat di sela-sela aktivitas sehari-hari, dan membelat sendi yang mengalami inflamasi. 
  • Program terapi fisik, antara lain latihan jangkauan-pergerakan dan latihan terapeutik individual yang dilakukan dengan hati-hati, bisa mencegah hilangnya fungsi sendi. 
  • Kompres panas bisa merilekskan otot dan meringankan nyeri. Sebagian besar panas biasanya bekerja paling baik pada penderita penyakit kronis. Kantung es efektif saat episode akut.
  • Intervensi dini dengan pembelatan dan alat pelindung sendi, yang dipandu oleh terapis okupasional, bisa menunda perkembangan deformitas sendi secara efektif.
  • Penyakit parah bisa membutuhkan sinovektomi, rekonstruksi sendi, atau artroplasti sendi total.
  • Artroplasti reseksional kepala metatarsal dan ulnar distal, pemasukan prostesis Silastic di antara sendi metakarpofalangeal dan interfalangeal proksimal, dan artrodesis (fusi sendi) merupakan prosedur pembedahan yang bermanfaat. Artrodesis mengorbankan mobilitas sendi untuk stabilitas dan meringankan nyeri. 
  • Sinovektomi (pembuangan sinovium yang destruktif dan proliferatif, biasanya pada pergelangan tangan, lutut, dan jari tangan) bisa menghalangi atau menunda rangkaian penyakit. 
  • Osteotomi (pemotongan tulang atau eksisi baji tulang) bisa menyejajarkan permukaan sendi dan mendistribusikan tekanan kembali. 
  • Tendon bisa mengalami ruptur secara spontan, sehingga membutuhkan perbaikan dengan pembedahan. Transfer tendon bisa mencegah deformitas atau meringankan kontraktur. 
  • Afresis bisa memperlambat Rheumatoid Arthritis atau mencegahnya semakin memburuk. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Beri pengajaran yang tepat dan perawatan postoperative jika pasien membutuhkan artroplasti lutut atau pinggul. 
  • Secara saksama, kaji semua sendi. Lihat adakah deformitas, kontraktur, imobilitas, dan ketidakmampuan melakukan aktivitas setiap hari.
  • Pantau tanda vital pasien, dan catat perubahan berat badan, gangguan sensorik, dan kadar nyeri. Beri analgesik, dan lihat adakah reaksi merugikan.
  • Rawat kulit pasien secara menyeluruh. Periksa adakah nodulus reumatoid dan ulser tekanan serta kerusakan kulit akibat imobilitas, kerusakan vaskular, pengobatan kortikosteroid, atau pembelatan yang tidak tepat. Gunakan losion atau minyak pembersih, bukan sabun, untuk mengatasi kulit kering. 
  • Jelaskan semua uji dan prosedur diagnostik. Beri tahu pasien bahwa sampel darah multipel dibutuhkan untuk memungkinkan diagnosis yang tepat dan pemantauan terapi secara akurat. 
  • Pantau durasi kekakuan di pagi hari, bukan intensitasnya, karena durasi merefleksikan keparahan penyakit secara lebih akurat. Sarankan pasien mandi air panas sebelum tidur atau di pagi hari untuk mengurangi perlunya medikasi nyeri.
  • Gunakan bebat secara hati-hati dan tepat. Jika pasien menjalani traksi atau mengenakan bebat, pantau apakah ia mengalami ulser tekanan. 
  • Jelaskan mengenal sifat RA. Pastikan pasien dan keluarganya paham bahwa Rheumatoid Arthritis merupakan penyakit kronis yang membutuhkan perubahan besar dalam gaya hidup. Tekankan bahwa tidak ada keajaiban yang bisa menyembuhkan walaupun ada pengakuan sebaliknya. 
  • Sarankan pasien mengkonsumsi makanan seimbang, tetapi pastikan pasien paham bahwa makanan khusus tidak akan menyembuhkan Rheumatoid Arthritis. Tekankan perlunya mengontrol berat badan karena obesitas akan menambah tekanan pada sendi. 
  • Dorong pasien melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, misalnya berpakaian dan makan.(Sediakan karton yang mudah dibuka, cangkir ringan, dan peralatan makan yang sudah dibuka.) Beri pasien cukup waktu agar bisa melakukan aktivitas-aktivitas tersebut dengan tenang. 
  • Beri dukungan emosional. Ingat bahwa pasien penderita penyakit kronis mudah depresi. Dorong pasien Rheumatoid Arthritis berdiskusi mengenai ketakutannya terhadap ketergantungan, seksualitas, citra tubuh, dan kepercayaan-diri. Sarankan ia mengunjungi agensi layanan sosial yang tepat, bila perlu. 
  • Diskusikan pertolongan seksual: posisi alternatif, medikasi nyeri, dan panas yang lembab untuk meningkatkan mobilitas. 
  • Beri pasien pengajaran saat ia pulang dan pastikan ia mengerti cara dan waktu menggunakan medikasi sesuai resep dan cara mengenali efek merugikan. 
  • Ajari pasien cara berdiri, berjalan, dan duduk dengan benar—tegak dan lurus. Minta ia duduk di kursi dengan dudukan dan sandaran lengan yang tinggi, karena ia bisa lebih mudah bangkit jika lututnya lebih rendah daripada pinggulnya. Jika ia tidak memiliki kursi semacam ini, sarankan ia meletakkan balok kayu di bawah kaki kursi kesayangannya. Anjurkan dudukan toilet dinaikkan.
  • Minta pasien mengikuti jadwal aktivitas sehari-harinya, yang memiliki waktu istirahat selama 5 sampai 10 menit per jam dan meliputi tugas dalam keadaan duduk dan berdiri secara bergantian. Tidur cukup dan posisi tidur yang cukup merupakan hal penting. la sebaiknya tidur beralaskan punggungnya di matras kuat dan sebaiknya tidak meletakkan bantal di bawah lututnya. karena bisa mendorong deformitas fleksi. 
  • Minta pasien menghindari tekanan yang tidak perlu di sendi dan menggunakan sendi paling besar yang ada untuk melakukan tugas yang harus dikerjakan, menopang sendi yang lemah atau nyeri sebanyak mungkin, menghindari posisi fleksi dan meningkatkan posisi ekstensi, menahan benda sejajar dengan buku jari sesingkat mungkin, selalu menggunakan tangannya menuju pusat tubuhnya, dan menggeser - tidak mengangkat benda jika memungkinkan. 
  • Dapatkan bantuan terapis okupasional untuk mengajari pasien cara menyederhanakan aktivitas dan melindungi sendi artritis. Tekankan pentingnya sepatu yang memiliki penunjang yang sesuai.
  • Anjurkan pasien menggunakan penolong berpakaian—sendok bergagang-panjang untuk membantu memasang sepatu, reacher (alat untuk membantu mencapai benda-benda), tali sepatu elastis, ritselting-tarik, dan pengait-kancing--dan benda-benda rumah tangga yang bermanfaat, misalnya Iaci yang mudah dibuka, mulut shower bergagang, palang-tangan, dan palang-pegangan. 


Referensi:

  1. Lynda Martin. 2004. Rheumatoid arthritis: Symptom, diagnosis, and Management. Nursing Times
  2. Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.
Catatan: Ini adalah versi klinis. Untuk Umum Silahkan Klik disini

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Rheumatoid Arthritis - Intervensi"