bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Askep Katarak Pendekatan Sdki Slki Siki

Katarak adalah kondisi mata di mana terjadi penurunan transparansi  lensa mata dan  menjadi keruh, menyebabkan penglihatan memburuk, dan pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan. Katarak sebagian besar mengenai orang yang berusia diatas 50 tahun dan resikonya meningkat seiring pertambahan usia. Pada tulisan ini Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan askep katarak menggunakan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Tujuan:

  • Memahami epidemiologi, jenis, penyebab dan faktor resiko, serta  tanda dan gejala katarak
  • Memahami pemeriksaan dan penatalaksanaan medik pada pasien yang mengalami katarak
  • Merumuskan diagnosa keperawatan yang sering muncul pada askep katarak dengan pendekatan Sdki
  • Merumuskan luaran dan kriteria hasil pada askep katarak menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan Intervensi keperawatan pada askep katarak baik pre Operasi, Intra Operasi, dan Post Operasi menggunakan pendekatan Siki
  • Melaksanakan Edukasi dan perencanaan pasien pulang pada askep katarak

Askep Katarak Sdki Slki Siki
Foto by.Imrankabirhossain from:wikimedia.org

Konsep Medik dan Askep Katarak

Pendahuluan

Secara fisiologis, lensa kristalin adalah struktur bikonveks transparan di mata manusia yang berfungsi dengan cara yang mirip dengan lensa kamera. Jika mengalami katarak, maka transparansi lensa menjadi turun dan menyebabkan gangguan pengelihatan.

Kristalin adalah protein utama yang menyusun lensa dan permukaannya, serta bertanggung jawab atas fungsi refraksinya. Namun, terjadinya Perubahan, agregasi dan pengendapan kristalin adalah mekanisme utama yang mendasari berkembangnya katarak. Dan Sampai saat ini, tidak ada metode yang ditemukan untuk dapat mencegah proses agregasi dan pengendapan ini. Karena sebagian besar disebabkan oleh degenerasi yang terkait faktor usia.

Satu-satunya pengobatan untuk katarak adalah operasi pengangkatan lensa dan penggantian dengan lensa intraokular buatan (IOL). Sejauh ini, tingkat keberhasilan Operasi katarak yang telah dilakukan di berbagai belahan dunia memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan secara universal  berdampak  meningkatkan penglihatan serta kualitas hidup. Lebih dari 13 juta operasi katarak dilakukan secara global pada tahun 2013.

Keberhasilan dan hasil fungsional dari operasi katarak telah sangat ditingkatkan dengan kemajuan dalam prosedur bedah, pelatihan dan teknologi. Operasi katarak berbantuan laser Femtosecond (FLACS) mampu mengotomatiskan beberapa langkah prosedur. Selain itu, teknologi IOL terus meningkat dan menjadi fokus dari banyak penelitian dan pengembangan.

Epidemiologi

Menurut Global Burden Disease tahun 2010, sekitar 32,4 juta orang di seluruh dunia mengalami kebutaan dimana terjadi penurunan ketajaman visual <3/60, dan 191 juta orang mengalami gangguan penglihatan dengan ketajaman visual <20/60.

Secara global, penyebab utama kebutaan secara keseluruhan adalah katarak diikuti oleh kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Persentase kebutaan akibat katarak  kurang dari 15% di daerah dengan sosial ekonomi tinggi,  dan sebaliknya lebih dari 40% di Asia Selatan dan Tenggara serta Oseania.

Seperti halnya dengan kebutaan, persentase gangguan penglihatan sedang sampai berat yang disebabkan oleh katarak paling kecil di daerah dengan sosial ekonomi tinggi  yaitu 13,0-13,8%  dan terbesar di Asia selatan dan tenggara  yang mencapai kebih dari 20%.

Dari aspek gender, Hampir disemua wilayah wanita memiliki persentase kebutaan yang disebabkan oleh katarak lebih besar dibandingkan pria dengan persentase  35,5% berbanding 30,1%. Demikian juga dengan  gangguan penglihatan sedang hingga berat yaitu 20,2% berbanding  dengan 15,9%.

Tipe Katarak

Katarak Terkait Usia

Katarak terkait usia merupakan jenis yang paling umum terjadi. Jenis ini dikelompkan berdasarkan anatomi lensa yaitu nuklear sklerotik, Kortikal, dan Katarak subkapsular posterior.

Nuklear Sklerotik

Katarak sklerotik nuklear adalah penguningan dan pengerasan bagian tengah lensa yang terjadi secara perlahan selama bertahun-tahun. Inti lensa mengeras akan menyebabkan lensa meningkatkan daya bias sehingga menyebabkan rabun jauh.

Tanda yang sering muncul antara lain peningkatan miopia, Penglihatan yang buruk dalam keadaan  gelap seperti mengemudi di malam hari, Penurunan kontras, penurunan kemampuan untuk membedakan warna, keluhan cepat silau, dan diplopia monokular.

Kortikal

Katarak kortikal terjadi ketika bagian serat lensa yang mengelilingi nukleus menjadi buram. Dampaknya pada penglihatan terkait dengan seberapa dekat opasitas dengan pusat sumbu visual atau bisa juga muncul dengan gejala yang  bervariasi.

Perkembangannya bervariasi secara progresif selama bertahun-tahun atau bisa juga hanya  dalam beberapa bulan. Gejala paling umum dari katarak kortikal adalah silau, terutama dari lampu depan saat mengemudi di malam hari. Selain itu, gejala yang sering muncul adalah penglihatan jarak dekat berkurang, dan penurunan sensitivitas kontras.

Subkapsular Posterior

Katarak subkapsular posterior (PSC) adalah kekeruhan yang terletak di lapisan kortikal paling posterior tepat di bawah kapsul lensa. Jenis katarak ini cenderung terjadi pada pasien dengan usia yang lebih muda daripada katarak sklerotik kortikal atau nuklear.

Perkembangannya bervariasi tetapi cenderung terjadi lebih cepat daripada pada sklerosis nuklear. Gejalanya adalah silau, kesulitan melihat dalam cahaya terang, dan penglihatan dekat seringkali lebih terpengaruh daripada pengelihatan jarak jauh.

Katarak Jenis lain

Subkapsular Anterior

Katarak subkapsular anterior dapat berkembang secara idiopatik, mungkin sekunder akibat trauma, atau mungkin iatrogenik. Penggunaan lensa intraokular Phakic untuk mengoreksi kesalahan refraksi, seperti lensa kolamer implan Visian (ICL) telah dilaporkan menyebabkan katarak subkapsular anterior karena sentuhan lensa ICL dari kubah yang tidak memadai.

Diabetic Snowflake

Snowflake atau seperti kepingan salju muncul berupa opasitas subkapsular abu-putih. Seringkali, katarak ini berkembang dengan cepat dan menyebabakn seluruh lensa menjadi intumescent dan berwarna putih.

Katarak diabetic Snowflake sering terjadi pada pasien diabetes karena tekanan osmotik dari akumulasi intraseluler sorbitol di lensa akibat peningkatan glukosa intraokular. Walaupun jarang, onset cepat dapat ditemukan pada beberapa pasien diabetes dengan kadar gula darah yang sangat tinggi, terutama penderita diabetes melitus tipe 1 dengan usia yang relatif muda.

Posterior Polar

Katarak kutub posterior ditandai dengan kekeruhan putih yang berbatas tegas di tengah kapsul posterior. Kekeruhan ini sering menonjol ke depan seperti silinder yang menembus ke dalam korteks lensa posterior. Katarak kutub posterior biasanya bersifat bawaan dan diturunkan secara dominan autosomal.

Sebagian besar katarak polar posterior tidak menunjukkan gejala atau minimal. Namun, seiring waktu, kekeruhan posterior subkapsular (PSC) dapat terbentuk dan sangat mempengaruhi fungsi  penglihatan.

Katarak kutub posterior menimbulkan tantangan unik untuk operasi katarak. Tingkat ruptur kapsul posterior secara signifikan lebih tinggi dalam kasus ini. Kapsul posterior melemah di sekitar opasitas kutub posterior dan dalam beberapa kasus bahkan mungkin beresiko cacat pada kapsul.

Katarak Traumatik

Katarak traumatis merupakan jenis yang berkembang pada mata setelah terkena suatu kejadian trauma atau cedera. Katarak traumatis dapat muncul setelah cedera mata tumpul atau tembus serta setelah tersengat listrik, luka bakar kimia, dan paparan radiasi.

Kekeruhan lensa di tempat cedera yang dapat meluas ke seluruh lensa. Perkembangannya bisa cepat setelah kejadian cedera tersebut.

Katarak Kongenital

Katarak kongenital dapat terjadi unilateral atau bilateral, dan secara umum berhubungan dengan penyakit sistemik, sifat bawaan atau bersifat idiopatik.

Sekitar 1 dari setiap 250 anak di Amerika Serikat lahir dengan katarak kongenital dan ditandai dengan kekeruhan lensa yang ada saat lahir, tetapi banyak yang subklinis.

Katarak Polikromatik

Katarak Polikromatik Juga dikenal sebagai katarak "Pohon Natal" karena terdiri dari kristal kornea warna-warni yang bersifat sangat reflektif.  Jenis ini merupakan varian langka dari perkembangan katarak senilis dan ditemukan dengan prevalensi yang lebih tinggi pada pasien dengan distrofi miotonik.

Penyebab

Katarak terjadi seiring dengan proses penuaan. Selain itu, berbagai faktor juga mempengaruhi terjadinya  katarak, antara lain:

  • Pada Katarak kongenital baik unilateral atau bilateral, berbagai penelitian telah mendokumentasikan hubungan erat antara katarak kongenital dan nutrisi ibu, infeksi Rubella dan Rubeola, dan kekurangan oksigenasi akibat perdarahan plasenta.
  • Cedera traumatis merupakan salah satu penyebab yang paling umum terjadinya katarak unilateral pada dewasa muda
  • Radiasi ultraviolet atau zat pengion
  • Penyakit Sistemik seperti distrofi miotonik, dermatitis atopik, dan neurofibromatosis tipe 2
  • Penyakit Endokrin seperti diabetes mellitus, hipoparatiroidisme, dan kretinisme
  • Penyakit Mata Primer seperti  Uveitis anterior kronis, penutupan sudut kongestif akut, miopia parah, retinitis pigmentosa, Leber amaurosis kongenital, atrofi girat dan sindrom Stickler
  • Obat-obatan seperti Kortikosteroid dan inhibitor antikolinesterase.
  • Nutrisi yang buruk seperti kekurangan antioksidan dan vitamin
  • Konsumsi alkohol  dan Kebiasaan Merokok

Patofisiologi

Lensa kristal manusia adalah kantong yang dienkapsulasi dari protein transparan. Perubahan susunan dan karakter protein lensa akan menyebabkan peningkatan kekakuan lensa, dan akhirnya hilangnya transparansi. Proses pertama akan menyebabkan presbiopia dan proses yang kedua akan  menyebabkan katarak.

Lensa adalah organ unik yang tidak memiliki sirkulasi darah arteri atau vena dan menunjukkan tingkat metabolisme seluler yang relatif rendah. Kristalin atau Sel-sel serat lensa yang memanjang tidak memiliki organel seperti nukleus, mitokondria, dan ribosom, dan dikemas dengan protein khusus dengan konsentrasi tinggi.

Kristalin bersifat transparan dan memiliki indeks bias yang tinggi. Protein lensa tidak diganti atau terdegradasi, dan transparansi lensa yang berkelanjutan bergantung pada kristalin yang mempertahankan struktur dan kelarutannya sepanjang hidup manusia.

Hilangnya struktur asli membuat kristalin rentan terhadap agregasi menjadi kompleks dengan berat molekul tinggi dan menyebabkan katarak. Pada katarak juvenil, agregasi sering disebabkan oleh mutasi pada gen yang mengkode protein lensa.

Pada lensa yang mengalami katarak, kristalin terkait erat dalam agregat atau polimer dengan berat molekul tinggi yang menyebabkan perubahan hamburan dan opasitas cahaya.

Beberapa asam amino sangat sensitif terhadap oksidasi, termasuk sistein, metionin dan triptofan, dan oksidasi residu ini telah diidentifikasi di banyak tempat dalam rantai protein yang diperoleh dari katarak.

Pada katarak usia lanjut, sistein lebih rentan terhadap oksidasi pada beberapa posisi dibandingkan posisi lainnya. Oksidasi triptofan membuka cincin indol dan mengurangi aromatisitas, yang dapat mengganggu kestabilan konformasi asli.

Oksidasi triptofan meningkat pada lensa katarak di beberapa tempat. Empat triptofan yang terkonservasi dari kristalin semuanya terkubur dalam inti hidrofobik protein, oksidasinya menjadi rantai samping yang kurang aromatik mengacaukan konformasi asli.

Fraksi protein agregat dari lensa katarak juga mengandung rantai polipeptida kristalin terpotong dan segmen peptida. Pemotongan dapat mengakibatkan destabilisasi protein substansial dan peningkatan kecenderungan untuk terjadinya agregasi. Peptida yang diisolasi dari lensa cataractous juga menghambat fungsi pendamping dari crystallin.  

Karena konformasi agregat kristalin masih belum diketahui, sering diasumsikan bahwa agregat bukanlah produk dari interaksi protein yang berulang. Perbedaan penting antara agregat pada katarak dibandingkan dengan agregat pada penyakit deposisi protein lainnya adalah tidak adanya morfologi mikroskopis yang jelas.

Dalam kondisi fisiologis dan dalam keadaan asli, kristalin sangat larut dan tidak beragregasi  dan dapat tersusun kembali secara in vitro dari keadaan terdenaturasi penuh.

Tanda dan Gejala

Katarak biasanya berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Gejala awal mungkin berupa hilangnya kontras, silau, membutuhkan lebih banyak cahaya untuk melihat dengan baik, dan masalah membedakan biru tua dari hitam.

Pemburaman tanpa rasa sakit dengan tingkatan yang tergantung pada lokasi dan luasnya keburaman.

Pada katarak nuklear, penglihatan jarak jauh memburuk. Penglihatan dekat dapat membaik pada tahap awal karena perubahan indeks bias lensa, pasien presbiopi kadang untuk sementara dapat membaca tanpa kacamata.

Pemeriksaan diagnostik

  • Ophthalmoscopy dilanjutkan dengan pemeriksaan slit-lamp
  • Katarak yang berkembang muncul sebagai kekeruhan berwarna abu-abu, putih, atau kuning coklat di lensa.
  • Pemeriksaan refleks melalui pupil yang melebar dengan ophthalmoscope sekitar 30 cm biasanya mengungkapkan kekeruhan yang halus.
  • Katarak kecil menonjol sebagai cacat gelap pada refleks merah.
  • Katarak yang besar dapat menghilangkan refleks merah. Pemeriksaan slit-lamp memberikan detail lebih lanjut tentang karakter, lokasi, dan tingkat keburaman.

Penanganan

  • Operasi pengangkatan katarak
  • Penempatan lensa intraokular
  • Refraksi dan perubahan resep lensa korektif dapat membantu mempertahankan penglihatan selama perkembangan katarak. Pelebaran pupil jangka panjang dengan fenilefrin 2,5% setiap 4 sampai 8 jam bermanfaat untuk katarak kecil yang terletak di pusat.
  • Pencahayaan tidak langsung saat membaca meminimalkan penyempitan pupil dan dapat mengoptimalkan penglihatan untuk tugas-tugas jarak dekat.

Indikasi untuk operasi meliputi:

  • Penglihatan terbaik yang diperoleh dengan kacamata adalah lebih buruk dari 20/40 atau <6/12, atau penglihatan menurun secara signifikan dalam kondisi silau seperti pencahayaan miring saat mencoba membaca grafik pada pasien dengan lingkaran cahaya yang mengganggu.
  • Pasien merasakan keterbatasan penglihatan, misalnya mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari seperti mengemudi, membaca, hobi, dan aktivitas pekerjaan.
  • Penglihatan berpotensi ditingkatkan secara bermakna jika katarak diangkat dimana sebagian besar kehilangan penglihatan harus disebabkan oleh katarak.
  • Indikasi yang jauh lebih umum termasuk katarak yang menyebabkan glaukoma atau yang mengaburkan fundus pada pasien yang memerlukan pemeriksaan fundus berkala untuk pengelolaan penyakit seperti retinopati diabetik dan degenerasi makula.

Ekstraksi katarak dan prosedur implan lensa

Ekstraksi katarak biasanya dilakukan dengan menggunakan anestesi topikal atau lokal dan sedasi. Ada 3 teknik ekstraksi yaitu:

  • Pada ekstraksi katarak intrakapsular, katarak dan kapsul lensa diangkat dalam satu bagian, teknik ini jarang digunakan.
  • Pada ekstraksi katarak ekstrakapsular, inti pusat yang keras diangkat menjadi satu bagian dan kemudian korteks lunak diangkat menjadi beberapa bagian kecil.
  • Dalam fakoemulsifikasi (sejenis ekstraksi katarak ekstrakapsular), inti pusat yang keras dilarutkan dengan ultrasound dan kemudian korteks lunak diangkat menjadi beberapa bagian kecil.

Fakoemulsifikasi menggunakan sayatan terkecil, sehingga memungkinkan penyembuhan cepat, dan biasanya merupakan prosedur yang disukai. Laser femtosecond dapat digunakan dalam operasi katarak dengan bantuan laser refraktif untuk melakukan bagian tertentu dari operasi katarak sebelum fakoemulsifikasi. Pada ekstraksi ekstrakapsular termasuk fakoemulsifikasi, kapsul lensa tidak dilepas.

Lensa plastik atau silikon hampir selalu ditanamkan secara intraokuler untuk menggantikan daya fokus optik dari lensa yang dilepas. Implan lensa biasanya ditempatkan pada atau di dalam kapsul lensa (lensa ruang posterior). Lensa juga dapat ditempatkan di depan iris (lensa ruang anterior) atau dipasang ke iris dan di dalam pupil (lensa bidang iris).

Lensa bidang iris jarang digunakan di AS karena banyak desain yang sering menyebabkan komplikasi pasca operasi. Lensa intraokular multifokal lebih baru dan memiliki zona fokus berbeda yang dapat mengurangi ketergantungan pada kacamata setelah operasi. Pasien terkadang mengalami silau dengan lensa ini, terutama dalam kondisi cahaya redup, dan juga memiliki masalah dengan sensitivitas kontras yang berkurang.

Perawatan dan komplikasi pasca operasi

Dalam kebanyakan kasus, jadwal pengurangan antibiotik topikal dan kortikosteroid topikal seperti prednisolon asetat 1% diberikan 1 tetes 4 kali sehari, digunakan hingga 4 minggu pasca operasi.

Antibiotik juga dapat disuntikkan ke dalam mata (intracameral) setelah operasi katarak selesai, dengan mengurangi kebutuhan obat tetes mata topikal pasca operasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antibiotik intracameral menurunkan endophthalmitis pasca operasi.

Pasien sebaiknya memakai pelindung mata saat tidur dan harus menghindari manuver Valsava, angkat berat, membungkuk ke depan secara berlebihan, dan menggosok mata selama beberapa minggu.

Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain:

Intraoperatif: Pendarahan di bawah retina, menyebabkan isi intraokular keluar melalui sayatan (perdarahan koroid - sangat jarang dan dapat menyebabkan kebutaan permanen), cairan vitreus keluar dari sayatan (kehilangan cairan vitreus), fragmen katarak terkilir ke dalam cairan vitreus, luka bakar insisional, dan pelepasan endotel kornea dan membran basalnya (membran Descemet)

Dalam minggu pertama: Endophthalmitis (infeksi di dalam mata - sangat jarang, dapat menyebabkan kebutaan permanen) dan glaukoma

Dalam satu bulan pertama: Edema makula sistoid

Beberapa bulan kemudian: Keratopati bulosa yaitu, pembengkakan kornea akibat kerusakan sel pompa kornea selama operasi katarak, ablasi retina, dan kekeruhan kapsular posterior.

Setelah operasi, penglihatan kembali ke 20/40 (6/12) atau lebih baik pada 95% mata jika tidak ada kelainan yang sudah ada sebelumnya seperti ambliopia, retinopati, degenerasi makula, dan glaukoma. Jika lensa intraokuler tidak ditanamkan, lensa kontak atau kaca mata tebal diperlukan untuk memperbaiki hiperopia yang terjadi

Asuhan Keperawatan (Askep) Katarak pendekatan Sdki Slki Siki

Fokus Askep Katarak

  • Setelah pembedahan, pasien boleh pulang setelah ia sembuh dari anestesia lokal.
  • Ingatkan pasien untuk kembali memeriksakan diri sehari setelah pembedahan dan menghindari aktivitas yang meningkatkan tekanan intraokular, misalnya mengejan.
  • Minta pasien mengenakan kaca mata di siang hari dan perisai mata di malam hari untuk melindungi matanya dari cedera yang tak disengaja. Beberapa pasien mengenakan perisai mata selama 6 sampai 8 jam, sedangkan pasien lain mungkin mengenakan perisai kolagen (mirip dengan lensa kontak) yang dilarutkan dalam 24 jam.
  • Beri tahu pasien bahwa ia mungkin perlu kaca mata baca korektif maupun lensa kontak korektif, yang akan disesuaikan 4 sampai 8 minggu setelah pembedahan.
  • Jika tidak ada lensa yang diimplan, pasien bisa diberi kaca mata katarak afakia; dalam 4 sampai 8 minggu, ia akan terbiasa dengan kaca matanya sendiri.
  • Beri salep atau tetes mata antibiotik untuk mencegah infeksi dan steroid untuk mengurangi inflamasi, atau kombinasi tetes mata antibiotik-steroid.
  • Pantau adakah komplikasi, misalnya nyeri menusuk di mata, yang mengindikasikan kenaikan tekanan intraokular, atau tanda dini infeksi (misalnya hifema atau hipopion).

Diagnosa, Luaran dan Intervensi Keperawatan Pre-Op

1. Gangguan Persepsi Sensori (pengelihatan) (D. 0085)

Luaran : Persepsi sensori membaik (L.09083)

  • Verbalisasi melihat meningkat
  • Respons sesuai stimulus membaik
  • Distorsi sensori menurun
  • Konsentrasi membaik
  • Orientasi membaik

Intervensi Keperawatan: Minimalisasi Rangsangan (I.08241)

  • Periksa status mental, status sensori, dan tingkat kenyamanan (mis. nyeri, kelelahan)
  • Diskusikan tingkat toleransi terhadap beban sensori (mis. Bising, terlalu terang)
  • Batasi stimulus lingkungan (mis. cahaya, suara, aktivitas)
  • Jadwalkan aktivitas harian dan waktu istirahat
  • Kombinasikan prosedur/tindakan dalam satu waktu, sesuai kebutuhan
  • Ajarkan cara meminimalisasi stimulus (mis. mengatur pencahayaan ruangan, mengurangi, membatasi kunjungan)
  • Kolaborasi dalam prosedur/tindakan
  • Kolaborasi pemberian obat yang mempengaruhi stimulus persepsi

2. Risiko Jatuh b/d gangguan Pengelihatan (D.0143)

Luaran: Tingkat jatuh menurun (L.14138)

  • Jatuh saat berdiri menurun
  • Jatuh saat duduk menurun
  • Jatuh saat berjalan menurun
  • Jatuh saat dipindahkan menurun
  • Jatuh saat dikamar mandi menurun
  • Jatuh saat membungkuk menurun

Intervensi Keperawatan: Pencegahan Jatuh (I.14540)

  • Identifikasi faktor resiko jatuh
  • Identifikasi resiko jatuh setidaknya sekali setiap shift atau sesuai dengan kebijakan institusi
  • Identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan resiko jatuh (misalnya lantai licin, penerangan kurang)
  • Hitung risiko jatuh dengan menggunakan skala (Misalnya Fall Morse Scale, Humpty Dumpty Scale) Jika perlu
  • Monitor kemampuan berpindah dari tempat tidur kek kursi roda dan sebaliknya
  • Orientasikan ruangan pada psien dan keluarga
  • Pastikan roda tempat tidur dan kursi roda selalu dalam keadaan terkunci
  • Pasang Handrail tempat tidur
  • Tempatkan pasien beresiko tinggi dekat dengan pantauan perawat atau nuurse station
  • Atur tempat tidur mekanis pada posisi terendah
  • Gunakan alat bantu berjalan
  • Dekatkan bel pemanggil dalam jangkauan pasien
  • Anjurkan memanggil perawat jika membutuhkan bantuan untuk berpindah
  • Anjurkan menggunakan alas kaki yang tidak licin
  • Anjurkan berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan tubuh
  • Anjurkan melebarkan kaki untuk meningkatkan keseimbangan saat berdiri

3. Ansietas (D.0080)

Luaran: Tingkat Ansietas menurun (L.09093)

  • Verbalisasi kebingungan dan khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
  • Perilaku gelisah dan tegang menurun
  • Palpitasi, tremor, dan pucat menurun
  • Konsentrasi dan pola tidur membaik
  • Orientasi membaik

Intervensi Keperawatan: Reduksi ansietas (I.09314)

  • Identifikasi saat tingkat ansietas berubah seperti Kondisi, waktu, dan stressor.
  • Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
  • Monitor tanda anxietas baik verbal dan non verbal
  • Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
  • Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan
  • Pahami situasi yang membuat ansietas
  • Dengarkan dengan penuh perhatian
  • Gunakan pedekatan yang tenang dan meyakinkan
  • Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
  • Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang
  • Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
  • Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
  • Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu
  • Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai kebutuhan
  • Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
  • Latih kegiatan pengalihan, untuk mengurangi ketegangan
  • Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
  • Latih teknik relaksasi

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Post-Op

1. Resiko Infeksi b/d Efek Prosedur Invasif (D. 0142)

Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)

  • Kebersihan tangan dan badan meningkat
  • Demam, kemerahan, nyeri, dan bengkak menurun
  • Periode malaise menurun
  • Periode menggigil, letargi, dan ganggauan kognitif menurun
  • Kadar sel darah putih membaik

Intervensi Keperawatan: Pencegahan Infeksi (I.14539)

  • Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
  • Batasi jumlah pengunjung
  • Berikan perawatan kulit pada daerah edema
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
  • Pertahankan teknik aseptik pada psien beresiko tinggi
  • Jelaskan tanda dan gejala infeksi
  • Ajarkan cara memeriksa luka
  • Kolaborasi pemberian antibiotiki jika perlu

Referensi:

  1. Nizami AA, Gulani AC. 2021.  Cataract. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539699/
  2. Lam Dennis & Rao, et.al. 2015. Cataract. Nature Reviews Disease Primers.1.15014. DOI:10.1038/nrdp.2015.14. https://www.researchgate.net/publication/282533355_Cataract
  3. Leila M.Khazaeni.2020. Cataract. Loma Linda University School of Medicine. MSD Manual Proffesional Version
  4. Nursing. 2011. Seri Untuk Keunggulan Klinis. Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks
  5. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  6. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2019.  Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta