Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Pada Skoliosis - Intervensi

Skoliosis adalah kurvatur lateral tulang belakang, dan bisa ditemukan di segmen tulang belakang toraks, lumbar, atau toracolumbar. Kurva ini bisa cembung ke kanan (lebih umum pada kurva toraks) atau ke kiri (lebih umum pada kurva lumbar). 

Sebagai imbangan tulang belakang yang membentuk kurva secara lateral, kurva berkembang untuk menjaga keseimbangan tubuh dan menandai deformitas. Terjadilah rotasi kolom vertebral di sekitar aksisnya dan kondisi Ini bisa menyebabkan deformitas sangkar rusuk. Skoliosis umumnya berkaitan dengan kifosis  dan lordosis. 

Pemeriksaan fisik memperlihatkan tinggi bahu, tingkat siku, dan tinggi puncak iliak yang tidak sama. Otot di sisi kecembungan kurva bisa membulat, sedangkan otot di sisi cekung bisa memipih, sehingga menyebabkan otot paraspinal asimetris.

image by https://www.scientificanimations.com/wiki-images/ on wikimedia.org

Skoliosis bisa fungsional (postural) atau struktural. Tiga tipe skoliosis struktural adalah kongenital, paralitik atau muskuloskeletal, dan idiopatik, yang merupakan tipe paling umum. Skoliosis idiopatik selanjutnya bisa diklasifikasikan sebagai :

  • Infantil --> Yang paling sering menyerang anak lelaki berusia 1 sampai 3 tahun dan menyebabkan kurva toraks kiri dan lumbar kanan
  • juvenil --> Yang menyerang anak lelaki maupun perempuan berusia 3 sampai 10 tahun dan menyebabkan berbagai tipe kurvatur
  • Remaja --> Yang umumnya rnenyerang anak perempuan berusia 10 tahun dan pencapaian maturitas skeletal dan menyebabkan berbagai tipe kurvatur. 

Penyebab 

  • Postur buruk atau ketidakcocockan panjang kedua kaki (skoliosis fungsional) 
  • Deformitas badan vertebral (skoliosis struktural) 

  • Kelainan kongenital, misalnya vertebra baji, rusuk atau vertebra tergabung (fusi), atau hemivertebra (skoliosis kongenital) 
  • Paralisis asimetris pada otot batang tubuh akibat polio, cerebral palsy, atau distrofi muskular (skoliosis paralitik atau muskuloskeletal) 
  • Diturunkan sebagai sifat dominan autosomal atau multifaktorial (skoliosis idiopatik) 

Tanda dan gejala 

  • Kurvatur tulang belakang yang muncul di segmen toraks, dengan kecembungan ke kanan, dan kurva penyeimbang (kurva S) di segmen servikal di atas dan segmen lumbar di bawah, keduanya dengan kecembungan ke kiri 
  • Sakit punggung, letih, dan dispnea (setelah penyakit diketahui dengan jelas) 
  • lnsufisiensi pulmoner (kurvatur bisa menurunkan kapasitas paru-paru), nyeri punggung, artritis degeneratif pada tulang belakang, penyakit diskus, dan skiatika (jika penyakit tidak ditangani) 

Uji diagnostik 

  • Sinar-X tulang belakang anterior, superior, dan lateral, yang diambil saat pasien berdiri tegak dan rnembengkokkan badan, menentukan tingkat kurvatur (metode Cobb) dan fleksibilitas tulang belakang (Iihat Metode cobb untuk mengukukur sudut kurvatur.) 
  • Skoliometer juga bisa digunakan untuk mengukur sudut rotasi batang tubuh.

Penanganan 

  • Jika kurang dari 25 derajat, kurva ringan dan bisa dipantau dengan sinar-X tulang belakang dan pemeriksaan tiap 3 bulan. Program latihan yang meliputi kemiringan pelvis, hiperekstensi tulang belakang, push-up, dan latihan bernapas bisa memperkuat otot torso dan mencegah perkembangan kurva. Pengangkat tumit juga bisa membantu. 
  • Kurva sebesar 25 sampai 39 derajat membutuhkan manajemen dengan latihan tulang belakang dan penyangga. (Stimulasi saraf listrik transkutaneus bisa digunakan sebagai alternatif.)
  • Penyangga menghambat perkembangan di sebagian besar kasus namun tidak mengembalikan kurvatur yang telah terbentuk. Alat semacam ini memperkuat tulang belakang pasien secara pasif dengan memberikan tekanan asimetris terhadap kulit, otot, dan rusuk. Penyangga bisa disesuaikan saat pasien tumbuh dan bisa dipakai sampai pertumbuhan tulang selesai.
  • Kurva sebesar 40 derajat atau lebih membutuhkan pembedahan (fusi tulang belakang dengan instrumentasi) karena kurva lateral tetap berkembang sebesar 1 derajat per tahun, walaupun pasien telah mengalarni maturitas skeletal. Pembedahan mengoreksi kurvatur lateral dengan fusi tulang belakang dan stabilisasi internal dengan batang Harrington atau alat fiksasi lainnya. Batang pemisah (distraksi) di sisi cekung kurva akan "mendongkrak" tulang belakang ke posisi lurus dan membelat secara internal. 
  • Prosedur alternatif yang disebut fusi tulang belakang dengan instrumentasi bisa mengoreksi kurvatur dengan penjepret vertebral dan kabel penstabil anterior. Beberapa fusi tulang belakang bisa membutuhkan postoperatif dengan bantuan penyangga. 
  • Setelah operasi. pemeriksaan periodik dibutuhkan selama beberapa bulan untuk mentantau stabilitas koreksi. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

Ingat bahwa skoliosis menyerang banyak remaja, yang mungkin aktivitasnya akan menjadi terbatas dan mungkin akan tertekan karena menjalani penanganan dengan alat ortopedik. Beri dukungan emosional, lakukan perawatan kulit dan gips secara saksama, dan beri pengajaran pada pasien. 

Jika pasien memerlukan penyangga 

  • Dapatkan bantaun dari terapis fisik, pekerja sosial, dan ortotis (spesialis alat ortopedik). Sebelum pasien pulang, jelaskan apa yang akan dilakukan penyangga dan bagaimana merawatnya (bagaimana memeriksa kekencangan sekrup dan beri bantalan pada penopang tubuh agar pasien tidak memakai pakaian terlalu banyak). Anjurkan pasien mengenakan pakaian longgar dan kebesaran agar ia merasa lebih nyaman. 
  • Minta pasien memakai penyangga selama 23 jam per hari dan mengambilnya hanya saat mandi dan latihan. Minta pasien berbaring dan beristirahat beberapa kali sehari saat ia masih menyesuaikan diri dengan penyangga.
  • Agar kulit tidak rusak, minta pasien tidak mengoleskan losion, salep, atau bedak di area kontak antara penyangga dengan kulit. Daripada itu, anjurkan ia mengoleskan alkohol atau tingtur gosok berupa benzoin untuk memperkuat kulit. Minta pasien menjaga kekeringan dan kebersihan kulit dan rnengenakan kaus yang nyaman di bawah penyangga. 
  • Sarankan pasien meningkatkan aktivitasnya secara bertahap dan menghindari olah raga berat. Tekankan pentingnya menjalani latihan yang diberikan secara bersungguh-sungguh. Rekomendasikan berenang selama ia tidak mengenakan penyangga dalam waktu 1 jam, tetapi larang keras ia untuk menyelam. 
  • Minta pasien memutar seluruh badannya, bukan hanya kepala, saat ia menengok ke samping. Agar semakin memudahkan membaca, sarankan ia menahan bacaanya lurus ke depan daripada ke bawah Jika terbukti sulit dilakukan, anjurkan pasien memakai kaca mata prisma sebagai alternatif. 

Jika pasien memerlukan traksi atau gips sebelum pembedahan 

  • Jelaskan prosedur-prosedur tersebut pada pasien dan ketuarganya. Ingat bahwa penggunaan gips tubuh bisa menyebabkan trauma karena dilakukan di kerangka khusus dan kepala dan wajah pasien tertutup saat ia menjalani prosedur. 
  • Periksa kulit di sekitar pinggiran gips setiap hari. Jaga agar gips tetap bersih dan kering dan pinggiran gips "diberi daun bunga" (diberi bantalan). Ingatkan pasien untuk tidak memasukkan apa pun ke dalam gips atau membiarkan apa pun berada di dalamnya dan segera melapor jika ada bunyi retak dalam gips, nyeri, rasa terbakar, kulit rusak, mati rasa, atau bau. 
  • Sebelum pembedahan, yakinkan pasien dan keluarganya bahwa nyeri yang didapatnya setelah pembedahan akan cukup terkontrol. Periksa sensasi, gerakan, warna, dan suplai darah di semua ekstremitas untuk mendeteksi defisit neurovaskular, yang merupakan komplikasi serius yang mengikuti pembedahan tulang belakang.

Setelah pembedahan korektif 

  • Periksa status neurovaskular tiap 2 sampai 4 jam selama 48 jam pertama dan setelahnya beberapa kali per hari. Seringkali lakukan logroll pada pasien. 
  • Ukur asupan, output, dan gravitasi spesifik urin untuk memantau efek hilangnya darah, yang umumnya substansial.
  • Pantau distensi abdominal dan bunyi usus.
  • Dorong pasien melakukan latihan bernapas-dalam untuk menghindari komplikasi pulmoner. 
  • Beri analgesik seperlunya, terutama sebelum pasien melakukan aktivitas. 
  • Bantu pasien melakukan latihan jangkauan pergerakan (range of motion ROM) aktif pada lengan untuk membantu menjaga kekuatan otot. ingat bahwa latihan apa pun bisa membantu, walaupun hanya menyikat rambut atau gigi. 
  • Dorong pasien melakukan latihan membentuk kuadrisep, memompa betis, dan ROM aktif pada pergelangan kaki dan kaki bawah. 
  • Lihat adakah kerusakan kulit dan tanda sindrom gips, misalnya muntah, tekanan abdominal, dan nyeri abdominal samar. Ajari pasien cara mengenali tanda-tanda tersebut. 
  • Lepaskan stoking antiembolisme selama setidaknya 30 menit tiap hari. 
  • Beri dukungan emosional untuk membantu mencegah depresi, yang bisa disebabkan oleh perubahan citra tubuh dan imobilitas. 
  • Jika pasien pulang dengan masih mengenakan batang harrington dan gips dan harus bersitirahat di ranjang, susun jadwal kunjungan pekerja sosial dan perawat untuk melakukan perawatan di rumah pasien. Sebelum pulang pastikan pasien memahami pembatasan aktivitas.
  • Jika Anda bekerja di sekolah, lakukan screening rutin pada anak-anak untuk mendeteksi skoliosis saat pemeriksaan fisik.


Referensi:

  1. Marianne Belleza RN. 2021. Scoliosis. Nurse Labs
  2. Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Pada Skoliosis - Intervensi"