Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Polisitemia Sekunder - Intervensi

Polisitemia sekunder, yang juga dikenal sebagai polisitemia reaktif adalah gangguan yang ditandai dengan produksi berlebihan sel darah merah (red blood cell - RBC) yang bersirkulasi akibat hipoksia, tumor, atau penyakit. lnsidensinya lebih tinggi pada orang yang tinggal di ketinggian. 

Asuhan Keperawatan Polisitemia Sekunder - Intervensi
image by OpenStax College on wikimedia.org

Penyebab 

Meningkatnya produksi eritroprotein akibat: 

  • Hipoventilasi alveolar pusat atau periferal (intoksikasi barbiturat, sindrom pickwickian) 
  • Penyakit Paru obstruktif kronis / PPOK 
  • Gangguan endokrin (sindrom Cushing. sindrom Bartter, feokromositoma) 
  • Keabnormalan hemoglobin (Hb) (karboksihemoglobinemia seperti yang terlihat pada perokok berat) 
  • Konten oksigen rendah di tempat yang tinggi 
  • Neoplasma (tumor ginjal, mioma uterin, dan hemangioma sereberal) 
  • Respun patologis terhadap penyakit ginjal (misalnya kerusakan vaskular renal, kista renal, atau hidronefrosis
  • Sifat genetik resesif (jarang) 
  • Transposisi pembuluh besar 

Tanda dan gejala 

  • Jari tangan pentol (jika penyakit kardiovaskular menjadi penyebabnya) 
  • Emfisema 
  • Hipoksemia 
  • Kulit sianotik kemerahan 

Uji diagnostik 

Biopsi sumsum tulang memperlihatkan Hiperplasia yang terbatas pada rangkaian eritroid. Temuan laboratoris untuk polisitemia sekunder meliputi: 

  • Masa RBC meningkat (meningkatnya hematokrit, kadar Hb, rata-rata volume korpuskular, dan rata-rata kadar Hb korpuskular) 
  • Kadar eritroprotein urin naik 
  • Kadar histamin darah naik 
  • Saturasi oksigen arterial meningkat atau normal. 

Penanganan 

  • Penanganan difokuskan pada koreksi penyakit yang menjadi penyebab atau kondisi lingkungan.
  • Jika ketinggian turut menjadi faktor-penyakit. pasien bisa disarankan untuk pindah. 
  • Jika polisitemia sekunder telah menyebabkan hiperviskositas darah yang berbahaya atau jika pasien tidak merespons penanganan penyakit printer, pengurangan volume darah dengan flebotom atau feresis bisa efektif.
  • Flebotomi darurat diindikasikan untuk mencegah oklusi vaskular yang akan terjadi atau sebelum pembedahan darurat dilakukan. Pembedahan darurat biasanya disarankan untuk membuang kelebihan RBC dan menginfusi plasma pasien kembali. 
  • Pembedahan elektif sebaiknya tidak dilakukan sampai polisitemia bisa dikontrol. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Buatlah pasien seaktif mungkin untuk menurunkan risiko trombosis akibat peningkatan viskositas darah.
  • Beri makanan yang kalori dan natriumnya telah dikurangi untuk melawan kecenderungan hipertensi.
  • Sebelum dan sesudah flebotomi, periksa tekanan darah saat pasien berbaring. Setelah prosedur, beri air atau jus sekitar 24 ons (710 ml). Minta ia duduk tegak selama sekitar 5 menit sebelum berjalan untuk mencegah sinkope.
  • Tekankan pentingnya studi darah yang teratur (tiap 2 sampai 3 bulan), walaupun penyakit sudah bisa dikontrol. 
  • Beri pengetahuan pada pasien dan keluarganya mengenai gangguan yang menjadi penyebab. Bantu mereka memahami hubungannya dengan polisitemia dan ukuran yang diperlukan untuk mengontrol keduanya. 
  • Minta pasien mengenali gejala polisitemia kambuhan, dan tekankan pentingnya melaporkannya dengan segera. 


Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Polisitemia Sekunder - Intervensi"