Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Kanker Ovarium - Intervensi

Kanker ovarium primer merupakan  penyebab terbesar kelima dari kematian akibat kanker pada wanita Amerika setelah kanker paru-paru dan bronkus, kanker payudara, kanker pankreas, dan kanker kolon.

Pada wanita yang sebelumnya menderita kanker payudara, kanker ovarium metastatik lebih umum terjadi daripada kanker di tempat lain. Prognosisnya bervariasi menurut tipe histologis dan stadium penyakit, namun umumnya buruk karena tumor ovarium hanya menunjukkan sedikit tanda dan umumnya saat didiagnosis sudah berada di stadium atas. 

Kanker ovarium muncul dalam tiga tipe utama. Tumor epitelial primer muncul di epitelium mullerian, tumor sel benih (germ) muncul di ovum itu sendiri, dan tumor korda muncul dalam stroma ovarium (kerangka penunjuang ovarium). 

Asuhan Keperawatan Kanker Ovarium - Intervensi
Image by Cancer Research UK on wikimedia.org

Tumor ovarium menyebar cepat secara intraperitoneal dengan ekstensi lokal atau pembenihan permukaan dan kadang-kadang melalui limfatik dan aliran darah. Umumnya, kanker ini menyebar secara ekstraperitoneal melalui diafragma menuju rongga dada, yang bisa menyebabkan efusi pleural. Tipe metastasis lainnya jarang terjadi. 

Penyebab 

Tidak diketahui 

Faktor risiko :

  • Usia lebih dari 55 tahun 
  • Makanan kaya lemak jenuh 
  • Paparan asbestos, talk, dan polutan industri 
  • Riwayat kanker ovarium dalam keluaga 
  • Terapi hormon menopause (hanya estrogen) selama lebih dari 10 tahun (ditunjukkan oleh beberapa studi) 
  • Tidak pernah melahirkan (nulipara) 
  • Riwayat kanker payudara, uterin, kolon, dan rektal pada diri sendiri 
  • Adanya gen tertentu, antara lain BRCA1 dan BRCA2 
  • Penggunaan obat fertilitas clomiphene sitrat (Clomid) dalam waktu lama 

Tanda dan gejala 

a. Tanda awal 

  • Dispepsia 
  • Gangguan Gl ringan 
  • Ketidaknyamanan abdominal yang terasa samar 

b. Kanker ovarium progresif 

  • Distensi abdominal 
  • Arhenoblastoma: efek virilisme 
  • Konstipasi 
  • Tumor sel granulosa: efek feminisme seperti pendarahan antar periode pada wanita postmenopause 
  • Nyeri yang menyerupai apendisitis (disertai ruptur tumor, torsi, atau infeksi) 
  • Ketidaknyamanan pelvis
  • Sering kencing 
  • Berat badan turun 

c. Kanker ovarium stadium atas 

  • Asites 
  • Pendarahan postmenopausal 
  • Gejala yang berkaitan dengan tempat metastatik (paling sering efusi pleural) 

Uji diagnostik 

  • Evaluasi nodus limfa dan biopsi tumor memberi diagnosis dan memperlihatkan stadium secara akurat. 
  • Ultrasonografi abdominal, computed tomography scan, atau magnetic resonance imaging bisa menunjukkan tempat tumor. 
  • Sinar-X dada bisa menunjukkan metastasis jauh dan efusi pleural.
  • Barium enema (terutama pada pasien yang mentinjukkan gejala GI) bisa memperlihatkan obstruksi dan ukuran turnor. 
  • Mamografi menyingkirkan kanker payudara primer. 

Penanganan 

1. Kadang-kadang bagi wanita muda yang menderita tumor terenkapsulasi unilateral dan ingin mempertahankan fertilitasnya, pendekatan konservatif bisa meliputi: 
  • Reseksi ovarium yang terlibat 
  • Biopsi omentum dan ovarium yang terlibat 
  • Pembersihan peritoneal untuk pemeriksaan sitologis pada cairan pelvis 
  • Tindakan-lanjut yang teliti, antara lain sinar-X dada periodik untuk mencegah metastasis ke paru-paru. 
2. Terapi agresif meliputi: 

  • Histerektomi abdominal total dan salpingo-ooforektomi bilateral disertai reseksi tumor, biopsi nodus timfa disertai limfadenektomi yang memungkinkan, biopsi jaringan, dan pembersihan peritoneal 
  • Salpingo-ooforektomi bilateral pada anak perempuan sebelum masa pubertas akan memerlukan terapi penggantian hormon, yang dimulai saat pubertas, untuk memicu perkembangan karakteristik seksual sekunder. 
  • Kemoterapi I.V. atau intraperitoneal, biasanya dengan paclitaxel (Taxol) dan cisplatin (Platinol) 
  • Radioisotop sebagai pengobatan lanjutan (bisa menyebabkan obstruksi usus-kecil dan stenosis) 
  • Pemberian pemodifikasi respons biologis I.V., misalnya interleukin-2, interferon, dan antibodi monoklonal. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

1. Sebelum pembedahan 

  • Secara menyeluruh, jelaskan semua uji preoperatif, perkiraan rangkaian penanganan, dan prosedur pembedahan dan postoperatif. 
  • Pada wanita premenopause, jelaskan bahwa ooforektomi bilateral secara artifisial memicu menopause dini, jadi mereka mungkin akan mengalami rasa panas mendadak di kulit (hot flash), sakit kepala, palpitasi, insomnia, depresi, dan perspirasi berlebihan. 

2. Setelah pembedahan 

  • Seringkali pantaulah tanda vital dan pertahankan cairan I.V. sesuai perintah. Pantau asupan dan output pasien. 
  • Periksa pembalut secara teratur untuk melihat adakah drainase atau pendarahan, dan juga tanda infeksi. 
  • Beri penopang abdomen, dan lihat adakah distensi abdominal. 
  • Minta pasien batuk dan bernafas dalam. 
  • Seringkali posisikan ulang tubuh pasien, dan dorong ia segera berjalan setelah pembedahan. 
  • Pantau dan tangani reaksi merugikan apa pun akibat radiasi dan kemoterapi. 
  • Jika pasien menjalani imunoterapi, lihat apakah ia menunjukkan gejala mirip-flu yang bisa berlangsung selama 12 sampai 24 jam setelah pemberian obat. Beri aspirin atau asetaminofen untuk demam. Jaga agar pasien terselimuti dengan baik, dan beri cairan hangat untuk mengatasi kedinginan. Beri antiemetik bila perlu. 
  • Minta bantuan dari pekerja sosial, pemuka agama khusus, dan anggota lain dari tim perawatan kesehatan untuk memberi perawatan suportif tambahan. 


Sumber:

Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Kanker Ovarium - Intervensi"