Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Pada Gigitan Ular - Intervensi

Gigitan ular berbisa paling sering terjadi saat sore hari di musim panas di habitat berumput atau bergunung. Gigitan ular berbisa merupakan keadaan medis darurat, Jika ditangani dengan cepat dan tepat, gigitan ini tidak harus berakibat fatal. 

Asuhan Keperawatan Pada Gigitan Ular - Intervensi
Image by Tony Alter on wikimedia.org

Penyebab 

  • Ular berbisa di Amerika Serikat hanyalah pit viper (Crotalidae) dan ular koral (Elapidae). 
  • Pit riper meliputi ular giring-giring, moccasin air (cottonmouth), dan copperhead. Jenis ini memiliki lekukan berbintik diantara mata dan lubang hidung dan dua taring sepanjang 3/4" sampai 11/4" (2 sampai 3 cm). Karena taring bisa tanggal atau tumbuh di belakang taring lain, beberapa ular bisa memiliki satu, tiga, atau empat taring. 
  • Karena ular koral merupakan ular nokturnal dan tenang, gigitannya tidak terjadi sesering gigitan pit viper; pit viper juga selalu nokturnal namun lebih aktif. Taring ular koral pendek tetapi memiliki gigi di belakangnya. Ular koral memiliki garis-garis merah, hitam dan kuning yang berbeda jelas (garis kuning selalu membatasi garis merah), cenderung menggigit dengan gerakan mengunyah, dan bisa meninggalkan banyak tanda taring, laserasi kecil, dan banyak kehancuran jaringan. 

Tanda dan gejala 

Gigitan pit viper 

  • Nyeri dan edema parah yang cepat dan progresif (seluruh ekstremitas bisa membengkak dalam waktu beberapa jam) 
  • Kenaikan lokal pada suhu kulit 
  • Diskolorasi kulit 
  • Petekia 
  • Ekimosis 
  • Gelembung di kulit berisi cairan
  • Lepuh 
  • Keluaran luka berdarah
  • Nekrosis lokal 
  • Mati rasa dan kesemutan lokal dan fasial 
  • Fasikulasi dan kekejangan otot skeletal 
  • Sawan (terutama pada anak-anak) 
  • Kegelisahan ekstrem 
  • Sulit berbicara 
  • Pingsan 
  • Lemah 
  • Pusing 
  • Keringat berlebihan 
  • Paralisis (kadang-kadang) 
  • Distres respiratorik ringan sampai berat 
  • Penglihatan kabur 
  • Haus yang terlihat jelas 
  • Gangguan koagulasi yang menyebabkan hematemesis, hematuria, melena, gusi berdarah, dan pendarahan internal 
  • Takikardia 
  • Limfadenopati 
  • Jika pasien mengalami keracunan parah: koma dan meninggal 

Gigitan ular koral 

  • Reaksi biasanya terlambat, biasanya sampai beberapa jam
  • Reaksi jaringan lokal nyeri, pembengkakan, nekrosis lokal kecil atau tidak ada 
  • Reaksi neurotoksik yang berkembang cepat, disertai efek-efek berikut: 
    • Parestesia lokal 
    • Rasa kantuk 
    • Mual dan muntah 
    • Sulit menelan 
    • Salivasi yang terlihat jelas 
    • Disfonia 
    • Ptosis 
    • Penglihatan kabur 
    • Miosis 
    • Distres respiratorik dan kemungkinan gagal respiratorik 
    • Koordinasi otot hilang Kemungkinan syok yang disertai kolaps kardiovaskular dan kematian 

Uji diagnostik 

  • Waktu pendarahan dan waktu tromboplastin parsial berlangsung lama. 
  • Kadar hemoglobin dan hematokrit turun. 
  • Jumlah keping darah kurang dari 200.000/ mm3 
  • Urinanalisis menunjukkan hematuria 
  • Jumlah sel darah putih meningkat pada korban yang mengalami infeksi. (Mulut ular secara khas mengandung bakteri gram-negatif) 
  • Sinar-X dada menunjukkan edema atau emboli pulmoner. 
  • Elektrokardiogram (biasanya hanya diperlukan pasien yang berusia lebih dari 40 tahun dan mengalami keracunan parah) bisa memperlihatkan takikardia dan detak jantung ektopik. 
  • Temuan EEG bisa abnormal pada pasien yang mengalami keracunan parah. 

Penanganan 

  • Pertolongan pertama yang cepat dan tepat bisa mengurangi absorpsi bisa dan mencegah gejala parah. (Lihat Pertolongan pertama pada gigitan ular.) 
  • Antivenin bisa diberikan jika keadaan korban membahayakan nyawanya, tetapi gigitan ular ringan bisa jadi tidak membutuhkan penanganan ini. 
  • Secara saksama, lihat adakah tanda sensitivitas dan anafilaksis pada pasien. Sediakan selalu epinefrin untuk berjaga-jaga jika pasien menunjukkan masalah tersebut. 
  • Penanganan lain meliputi toksoid tetanus atau imun globulin tetanus; berbagai macam antibiotik spektrum-luas; dan asetaminofen, codeine, morfin, atau meperidine (Demerol), tergantung pada status respiratorik, keparahan nyeri, dan tipe gigitan ular pada korban. (Opioid tidak boleh diberikan pada korban gigitan ular koral.) 
  • Semua gigitan ular membutuhkan cairan isotonik I.V. Jika pendarahan parah, korban bisa memerlukan transfusi Antihistamin membantu meringankan pruritus dan urtikaria. 
  • Gigitan ular nekrotik biasanya membutuhkan pengelupasan melalui pembedahan setelah 3 sampai 4 hari. 
  • Edema mendalam dan berkembang cepat membutuhkan fasiotomi dalam 2 sampai 3 jam setelah digigit; keracunan ekstrem bisa membutuhkan amputasi anggota tubuh dan kemudian pembedahan rekonstruktif rehabilitasi, dan terapi fisik. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Ketika pasien sampai di rumah sakit, jangan gerakkan ekstremitasnya jika belum dilakukan. jika turniket telah digunakan dengan kencang dalam beberapa jam terakhir, gunakan turniket longgar secara proksimal dan buang turniket pertama. Lepaskan turniket kedua secara bertahap saat pemberian antivenin, sesuai perintah. Pelepasan bisa ular secara mendadak ke dalam aliran darah dapat menyebabkan kolaps kardiorespiratorik, sehingga sediakan selalu peralatan darurat. 
  • Di lembar aliran (flow sheet), dokumentasikan tanda vital, tingkat kesadaran, warna kulit, pembengkakan, status respiratorik, deskripsi mengenai gigitan dan area sekelilingnya, dan gejala pasien. Pantau tanda vitalnya tiap 15 menit, dan periksa adakah denyut nadi di anggota tubuh yang diserang. 
  • Pasang saluran I.V. dengan jarum kaliber-besar untuk memberi antivenin. Gigitan parah yang menimbulkan tanda dan gejala koagulotoksik bisa membutuhkan dua saluran I.V.—satu untuk antivenin dan satu untuk produk darah. 
  • Sebelum memberikan antivenin, dapatkan riwayat pasien mengenai alergi dan masalah medis lainnya. Lakukan uji hipersensitivitas sesuai perintah, dan bantu dengan desensitisasi seperlunya. Saat pemberian antivenin, sediakan selalu epinefrin, oksigen, dan vasopresor untuk melawan anafilaksis dari serum kuda. 
  • Beri sel darah merah kemasan, cairan I.V, dan bisa juga plasma atau keping darah bekti dan segar, sesuai perintah, untuk melawan koagulotoksisitas dan menjaga tekanan darah. 
  • Jika pasien mengalami distres respiratorik dan membutuhkan intubasi endotrakeal atau trakeotomi, lakukan perawatan trakeostomi dengan baik. 
  • Beri analgesik seperlunya. Jangan beri opioid pada korban gigitan ular koral. Bersihkan gigitan ular menggunakan teknik steril. Buka, kupas, dan alirkan gelembung berisi cairan dan lepuh apa pun karena mungkin mengandung bisa. Ganti pembalut tiap hari. 
  • Jika pasien harus dirawat inap lebih dari 48 jam, posisikan ia secara hati-hati untuk menghindari kontraktur. Lakukan latihan pasif sampai 4 hari setelah digigit; setelah itu, lakukan latihan aktif dan lakukan penanganan pijat air (whirlpool) sesuai perintah. 
  • Catat tanda dan gejala keracunan progresif dan kapan pasien mengalaminya. Sebagian besar korban gigitan ular hanya dirawat inap selama 24 sampai 48 jam. 


Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Pada Gigitan Ular - Intervensi"