Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Mengenal Mononukleosis, Infeksi Yang Menular Melaui Ciuman

Virus Epstein-Barr (EBV) menyebabkan sejumlah penyakit, yaitu  mononukleosis yang bersifat menular. Penularan bisa terjadi melalui ciuman.

Gejala yang ditimbulkan bervariasi, yang paling umum adalah kelelahan ekstrem, demam, sakit tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Infeksi virus Epstein-Barr (EBV) sangat umum. EBV adalah jenis virus herpes yang disebut herpesvirus 4. Di Amerika Serikat, sekitar 50% dari semua anak berusia 5 tahun dan hampir 95% orang dewasa pernah mengalami infeksi EBV.

Kebanyakan infeksi EBV tidak menimbulkan gejala. Mononukleosis biasanya berkembang pada remaja dan dewasa muda yang terinfeksi Virus Epstein Barr (EBV). Nama Infeksi Mononukleosis berasal dari sejumlah besar sel darah putih (sel mononuklear) dalam aliran darah. Remaja dan dewasa muda biasanya tertular mononukleosis dengan mencium seseorang yang terinfeksi EBV.

Infeksi Mononukleosis
Foto by James Heilman, MD from: wikimedia.org

Setelah infeksi awal ,  Virus Epstei Barr (EBV) seperti virus herpes lainnya akan tetap berada di dalam tubuh, terutama di sel darah putih seumur hidup. Orang yang terinfeksi  bisa menularkan virus dalam air liur mereka. Mereka dapat menginfeksi orang lain, walaupun mereka sudah tidak memilki gejala.

Walaupun Jarang, EBV di perkirakan berkontribusi pada perkembangan beberapa jenis kanker, seperti limfoma Burkitt dan kanker tertentu pada hidung dan tenggorokan seperti kanker nasofaring. Diperkirakan bahwa gen tertentu dari virus mengubah siklus pertumbuhan sel yang terinfeksi dan menyebabkannya menjadi kanker.

Tanda dan Gejala

Biasanya pada sebagian besar  anak di bawah 5 tahun infeksi tidak menimbulkan gejala.Sedangkan pada usia dewasa gejala bisa timbul. Waktu yang biasa antara infeksi sampai  munculnya gejala diperkirakan 30 sampai 50 hari. Interval ini disebut masa inkubasi.

Empat gejala utama infekai mononukleosis  adalah :

  • Kelelahan yang ekstrim
  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Kelenjar getah bening membengkak

Tidak semua orang akan mengalami  keempat gejala tersebut. Biasanya, infeksi dimulai dengan perasaan tidak enak badan atau malaise dan demam ringan diikuti oleh sakit tenggorokan dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Kelelahan seringkali parah dan biasanya paling parah selama 2 sampai 3 minggu pertama tetapi bisa berlangsung selama berbulan-bulan. Demam biasanya mencapai puncaknya sekitar 39,5 ° C pada sore hari. Tenggorokan sering kali sangat sakit, dan muncul pembekakan atau abses di bagian belakang tenggorokan.

Tanda yang paling umum adalah pembengkakan kelenjar getah bening di leher, tetapi bisa juga terjadi pada kelenjar getah bening lainnya. Pada beberapa orang, satu-satunya gejala adalah pembengkakan kelenjar getah bening. Pembesaran Limpa juga terjadi pada sekitar 50% orang dengan infeksi mononukleosis. Hati juga bisa sedikit membesar. Terkadang area di sekitar mata bengkak.

Berapa lama gejala berlangsung bervariasi. Biasanya setelah sekitar 2 minggu gejala akan mereda, dan sebagian besar penderita dapat melanjutkan aktivitas seperti biasa. Namun, kelelahan bisa bertahan selama beberapa minggu, kadang-kadang, selama berbulan-bulan.

Mortalitas Penyakit infeksi mononukleasis kurang dari 1%. Hal ini terjadi biasanya karena komplikasi seperti ensefalitis, pecahnya limpa, atau penyumbatan saluran nafas.

Diagnosa

Gejala Infeksi mononukleosis mirip dengan  beberapa infeksi virus dan bakteri lainnya. Oleh karena itu, mononukleosis  sering tidak teridentifikasi. Namun, pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di leher,  merupakan tanda yang cukup khas pada infeksi mononukleasis.

Biasanya, tes darah yang dikenal sebagai tes antibodi heterofil atau monospot dilakukan untuk memastikan diagnosis. Kadang-kadang pada awal infeksi atau pada anak kecil, tes monospot negatif, dan jika dokter sangat mencurigai adanya infeksi, mereka mengulangi tes tersebut. Jika masih negatif, tes darah antibodi spesifik lainnya untuk EBV dilakukan untuk memastikan diagnosis.

Hitung darah lengkap juga diperlukan. Penemuan banyak sel darah putih mononuklear yang khas (limfosit atipikal) dapat menjadi petunjuk pertama bahwa diagnosisnya adalah infeksi mononukleosis.

Pengobatan

  • Perbanyak istirahat
  • Perbanyak minum air putih
  • Obat Pereda nyeri
  • Terkadang diberikan kortikosteroid untuk komplikasi tertentu
  • Tidak ada pengobatan khusus.

Orang dengan mononukleosis menular didorong untuk beristirahat selama satu atau dua minggu pertama, sementara gejalanya parah. Setelah sekitar 2 minggu, mereka mungkin lebih aktif dan membaik. Namun, karena risiko limpa pecah, angkat berat dan olahraga harus dihindari setidaknya selama 1 bulan, sampai dokter memastikan melalui pemeriksaan atau terkadang ultrasonografi (USG) bahwa limpa telah kembali ke ukuran normal.

Asetaminofen atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID, seperti aspirin atau ibuprofen) dapat meredakan demam dan nyeri. Namun, aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena risiko sindrom Reye yang bisa berakibat fatal.

Beberapa komplikasi, seperti pembengkakan jalan nafas yang parah, dapat diobati dengan kortikosteroid.

Obat antivirus yang tersedia saat ini memiliki pengaruh yang kecil pada gejala infeksi mononukleosis dan sebaiknya tidak digunakan.

Pencegahan

Salah satu cara terbaik untuk menghindari mononukleosis adalah menghindari berbagi minuman atau peralatan makan dengan orang lain. Selain itu, jika diketahui bahwa mononukleosis menyebar di sekitar Anda, sebaiknya hindari mencium siapa pun di sekitar Anda.

Sering-seringlah mencuci tangan jika berada di area yang terpapar. Jika Anda berada di lingkungan sekolah di mana orang lain mungkin telah duduk di meja sebelum Anda, pertimbangkan untuk membawa tisu disinfektan sehingga  bisa membersihkan.

Jika mencurigai  diri anda mungkin telah tertular mononukleosis  atau mungkin telah terpapar, penting untuk diingat bahwa virus tidak akan muncul selama sekitar empat hingga enam minggu. Pastikan bahwa saat batuk atau bersin, menutup dengan tisu atau lengan.


Referensi:

  1. Kenneth M.Kaye. 2020. Infectious Mononucleosis (Epstein Barr Virus. EBV). Brigham and Women’s Hospital. Harvard Medical School. MSD Manual
  2. Bass Urgent Care. 2019. Tips To Prevent Mononucleosis.

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Mengenal Mononukleosis, Infeksi Yang Menular Melaui Ciuman"