Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Pasien Dengan Infeksi Antraks

Antraks adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri pembentuk spora Bacillus anthracis. Meskipun jarang terjadi di Indonesia, orang dapat terserang antraks jika mereka bersentuhan dengan hewan yang terinfeksi atau produk hewani yang terkontaminasi. Antraks dapat menyebabkan penyakit parah baik pada manusia maupun hewan. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai Askep Antraks mulai dari konsep medik sampai intervensi keperawatan yang bisa dilakukan.

Tujuan :

  • Memahami epidemiologi, penyebab, penyebaran, patofisiologi, serta tanda dan gejala yang muncul pada infeksi antraks
  • Memahami pemeriksaan, penatalaksanaan, pencegahan, dan komplikasi pada pasien dengan antraks
  • Mengidentifikasi masalah keperawatan yang bisa timbul pada askep antraks
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep antraks
  • Melaksanakan evaluasi keperawatan pada askep antraks
  • Melakukan edukasi pasien dan keluarga pada askep antraks

Konsep Medik dan Askep Antraks

Pendahuluan

Nama penyakit  antraks berasal dari kata "anthrakis" yang berarti batu bara dalam bahasa Yunani, penyakit ini dinamai berdasarkan penampilan hitam dari bentuk kulitnya.

Pada akhir abad ke-19, eksperimen Robert Koch dengan antraks mengarah pada teori bakteri dan penyakit.

Pada Masa modern antraks sempat dikembangkan sebagai senjata perang biologis. Selama Perang Teluk pertama, Irak dilaporkan menggunakan antraks sebagai senjata biologis. Sebanyak 150.000 tentara AS divaksinasi dengan antraks toksoid.

Pada minggu-minggu setelah serangan teroris 11 September 2001, 22 kasus infeksi antraks yang dikonfirmasi dan dicurigai disebarkan melalui sistem pos Amerika Serikkat. Spora yang dikirimkan dalam surat-surat ini pada akhirnya dilacak ke lembaga penelitian medis tentara AS.

Askep Pasien Dengan Infeksi Antraks
Foto by CDC Global from: Flickr

Etiologi

Penyebab penyakit antraks adalah infeksi oleh Bacillus Anthracis, bakteri gram positif berbentuk batang yang berpotensi fatal. Antraks dapat menyerang kulit, paru-paru, atau, saluran pencernaan (gastrointestinal). 

Infeksi pada manusia biasanya terjadi akibat kontak kulit atau menghirup spora penyakit antraks, makan daging yang terkontaminasi, atau masuk melalui suntikan obat yang terkontaminasi, namun kejadian ini jarang.

Bakteri antraks menghasilkan toksin yang menyebabkan banyak gejala. Gejala berupa benjolan dan lecet setelah kontak kulit, kesulitan bernapas dan nyeri dada setelah menghirup spora, serta sakit perut dan diare berdarah jika masuk kedalam saluran pencernaan.

Antraks dapat terjadi pada hewan liar maupun peliharaan, seperti sapi, domba, dan kambing. Bakteri antraks menghasilkan spora yang dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah. Hewan penggembala menjadi terinfeksi ketika mereka bersentuhan atau mengkonsumsi spora.

Biasanya, antraks ditularkan ke manusia saat bersentuhan dengan hewan atau produk hewan yang terinfeksi seperti wol, kulit, dan rambut. Spora dapat tertinggal dalam produk hewani selama beberapa dekade dan tidak mudah mati karena dingin atau panas.

Bahkan kontak minimal bisa menyebabkan infeksi. Meskipun infeksi pada manusia biasanya terjadi melalui kulit, juga dapat terjadi akibat menghirup spora antraks, makan daging yang terkontaminasi, dan kurang matang (penyakit antraks gastrointestinal).

Antraks tidak menular dari manusia ke ke manusia lain, tetapi dalam kasus yang jarang terjadi antraks kulit dapat menyebar dari man to man melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi oleh orang yang terinfeksi. Namun penyakit antraks inhalasi, antraks gastrointestinal, dan antraks injeksi tidak menyebar dari satu orang ke orang lain.

Epidemiologi

Kejadian alami jarang terjadi, tetapi infeksi penyakit antraks merupakan resiko yang muncul terkait  pekerjaan seperti dokter hewan, petani, dan individu yang menangani wol hewan, rambut, kulit, atau produk hewan ternak lainnya.

Selama 30 tahun terakhir, insiden infeksi antraks kurang dari 1 kasus per tahun. Dari 1955-1994, kasus di Amerika Serikat berjumlah 235, dengan 224 kasus antraks kulit, 11 kasus antraks inhalasi, dan 20 kematian. Kasus fatal terakhir pada periode ini terjadi pada tahun 1976, ketika seorang pengrajin meninggal karena antraks hirup setelah bekerja dengan benang yang diimpor dari Pakistan.

Sebelum Oktober 2001, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyelidiki beberapa ancaman di Amerika Serikat. Pada bulan Oktober 2001, 22 kasus diduga infeksi antraks dilaporkan dari Florida, New York, New Jersey, District of Columbia, dan Connecticut. Dari laporan tersebut,  11 kasus dikonfirmasi antraks inhalasi  dengan 5 kematian dan 7 dikonfirmasi serta 4 kasus suspek antraks kulit.

Secara Internasional, Pada tahun 1958, sekitar 100.000 kasus penyakit antraks terjadi di seluruh dunia. Angka pasti tidak ada karena kesulitan pelaporan di Afrika. Penyakit Antraks juga merupakan  endemik di Afrika dan Asia meskipun telah dilakukan program vaksinasi.

Wabah sporadis telah terjadi sebagai akibat dari masalah  pertanian dan militer. Selama perang saudara Rhodesian 1978, kegagalan program vaksinasi hewan menyebabkan epidemi pada manusia dengan sekitar 6.500 kasus antraks dan 100 kematian.

Sebuah kecelakaan di fasilitas mikrobiologi militer di Sverdlovsk bekas Uni Soviet pada tahun 1979 mengakibatkan sedikitnya 66 kematian.

Antraks pada manusia juga sering dikaitkan dengan pekerja pertanian atau industri yang bersentuhan dengan jaringan hewan yang terinfeksi.

Tidak ada predileksi ras, gender, atau usia untuk penyakit antraks. Namun, karena penyakit antraks sering dikaitkan dengan paparan industri dan pertanian, penyakit ini paling sering menyerang orang dewasa muda dan setengah baya..

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala penyakit antraks bervariasi tergantung bagaimana infeksi didapat:

  • Melalui kulit (kebanyakan kasus)
  • Melalui inhalasi (paling serius)
  • Melalui saluran pencernaan (jarang)
  • Melalui injeksi (jarang)

Antraks kulit

Sebagian besar kasus penyakit antraks melibatkan kulit. Benjolan merah-coklat yang tidak nyeri, gatal, muncul 1 hingga 10 hari setelah terpapar. Benjolan tersebut membentuk lepuh, yang akhirnya pecah dan membentuk keropeng hitam dengan bengkak di sekitarnya. 

Kelenjar getah bening di dekatnya bisa membengkak, dan bisa terasa sakit, kadang disertai nyeri otot, sakit kepala, demam, mual, dan muntah. Mungkin perlu waktu beberapa minggu sampai benjolan sembuh dan pembengkakan mereda.

Sekitar 10 hingga 20% orang yang tidak diobati meninggal, tetapi dengan pengobatan, kematian jarang terjadi.

Antraks inhalasi (penyakit woolsorter's)

Antraks inhalasi menimbulkan gejala yang paling serius. Biasanya tertular karena menghirup spora antraks, biasanya terjadi pada orang orang yang bekerja dengan produk hewani yang terkontaminasi seperti kulit.

Spora masuk ke paru-paru, kemuadian dalam beberapa minggu akan masuk atau difagosit oleh  sel darah putih yang disebut makrofag.  Di dalam makrofag bakteri akan memperbanyak diri berkembang biak dan menyebar ke kelenjar getah bening di dada. 

Bakteri menghasilkan racun yang membuat kelenjar getah bening mengalami inflamasi dan menyebarkan infeksi ke struktur di sekitarnya. Cairan yang terinfeksi terakumulasi di ruang antara paru-paru dan dinding dada atau disebut pleura.

Gejala berkembang 1 hari hingga 6 minggu setelah terpapar. Awalnya, penyakit ini tidak jelas dan mirip dengan influenza, dengan nyeri otot ringan, demam rendah, rasa tidak nyaman di dada, dan batuk kering. 

Setelah beberapa hari,biasanya berkembang menjadi sesak nafas, nyeri dada dan demam tinggi disertai keringat. Tekanan darah dengan cepat menjadi sangat rendah dan menyebabkan syok, diikuti dengan koma. Gejala parah ini biasanya terjadi akibat pelepasan toksin dalam jumlah besar.

Peningkatan resiko meninggal 24 sampai 36 jam setelah gejala parah dimulai, bahkan dengan pengobatan dini. Tanpa pengobatan maka dipastikan nyawa penderita tidak bisa tertolong. Pada wabah tahun 2001 di Amerika Serikat, 45% orang yang dirawat karena antraks inhalasi meninggal.

Antraks  gastrointestinal

Antraks gastrointestinal jarang terjadi.  Ketika orang makan daging yang terkontaminasi, bakteri tumbuh di mulut, tenggorokan, atau usus dan melepaskan racun yang menyebabkan perdarahan ekstensif dan kematian jaringan. Orang mengalami demam, sakit tenggorokan, leher bengkak, sakit perut, dan diare berdarah, juga muntah darah.

Antraks injeksi

Antraks injeksi jarang terjadi. Gejala biasanya mirip dengan penyakit antraks kulit, seperti demam dan benjolan gatal yang muncul di tempat suntikan. Benjolan berkembang menjadi luka yang tidak menimbulkan rasa sakit yang membentuk keropeng hitam  dengan bengkak di sekitarnya. Abses dapat berkembang jauh di bawah kulit atau di otot tempat disuntikkan.

Antraks suntik dapat menyebar ke seluruh tubuh lebih cepat daripada dan bisa lebih sulit bagi dokter untuk didiagnosis dan diobati daripada penyakit antraks kulit.


Patofisiologi

Antraks sebenarnya merupakan penyakit hewan herbivora seperti sapi, domba, kambing, dan kuda. Burung biasanya secara alami tahan terhadap penyakit antraks, tetapi dapat menularkan spora pada cakar dan paruh mereka.

Bachillus anthracis adalah bakteri berbentuk batang gram positif yang besar, pembentuk spora. Ketahanan spora dibantu oleh kandungan nitrogen, bahan organik, pH lingkungan lebih yang besar dari 6, dan suhu lingkungan yang lebih dari 15°C. Spora dapat bertahan di lingkungan tanpa batasan tertentu.

Kondisi pertumbuhan yang optimal menghasilkan fase vegetatif dan multiplikasi bakteri. Kekeringan atau hujan dapat memicu perkecambahan spora antraks, sedangkan lalat dan burung bisa menjadi agen menyebarkan spora.

Virulensi tergantung pada kapsul bakteri dan kompleks toksin. Kapsul adalah asam poli-D-glutamat yang melindunginya dari fagositosis dan penghancuran oleh leukosit. Percobaan oleh Sterne menunjukkan bahwa kapsul sangat penting untuk patogenisitas.

Toksin Antraks

Racun antraks terdiri dari 3 entitas, yaitu antigen pelindung, faktor letal, dan faktor edema. Antigen pelindung adalah protein 83-kd yang mengikat reseptor sel dalam jaringan target. Setelah terikat, sebuah fragmen dilepaskan untuk mengekspos situs pengikatan tambahan. 

Pengikatan faktor edema di situs ini menghasilkan pembentukan toksin edema. Pengikatan faktor letal menghasilkan pembentukan toksin yang mematikan.

Toksin edema bekerja dengan mengubah adenosin trifosfat (ATP) menjadi adenosin monofosfat siklik (cAMP). Tingkat cAMP seluler meningkat, menyebabkan edema seluler di dalam jaringan target.

Faktor letal tidak dipahami dengan baik, dapat menghambat fagositosis neutrofil, melisiskan makrofag, dan menyebabkan pelepasan faktor nekrosis tumor (TNF) dan interleukin-1.Kematian akibat antraks terjadi akibat efek toksin letal tersebut.

Antraks kulit

Sebenarnya, Manusia relatif resisten terhadap invasi kulit oleh Bacillus anthracis, tetapi organisme ini dapat memperoleh akses melalui kerusakan mikroskopis di kulit.

Pada antraks kulit, pustula ganas berkembang di tempat infeksi. Pustula ini merupakan area sentral dari koagulasi nekrosis (ulkus) yang dikelilingi oleh tepi vesikel berisi cairan berdarah atau bening. Eschar hitam terbentuk di lokasi ulkus dengan edema yang luas mengelilingi lesi.

Organisme berkembang biak secara lokal dan dapat menyebar ke aliran darah atau organ lain seperti limpa melalui saluran limfatik eferen.

Bacillus anthracis tetap berada di kapiler organ yang diinvasi, efek lokal dan sistemik dari infeksi sebagian besar disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh B anthracis.

Antraks usus

Antraks usus primer terutama mempengaruhi sekum dan menghasilkan lesi lokal yang mirip dengan lesi yang dihasilkan di kulit.

Pada penyakit ini, spora menyerang mukosa Gastro intestinal. Dalam beberapa kasus, nekrosis dan ulserasi di tempat infeksi menyebabkan perdarahan Gastrointestinal.

Diagnosa

Pemeriksaan atau kultur sampel kulit, cairan, atau tinja yang terinfeksi

Dokter mengidentifikasi antraks kulit berdasarkan gejala yang khas. Riwayat kontak dengan hewan atau produk hewani atau berada di daerah terkena antraks mendukung diagnosis tersebut.

Jika diduga antraks inhalasi, rontgen dada atau computed tomography (CT).

Sampel dari kulit yang terinfeksi, cairan di sekitar paru-paru, atau tinja dikeluarkan dan diperiksa dengan mikroskop atau dibiakkan. Bakteri antraks dapat dengan mudah diidentifikasi.

Jika orang mengalami antraks inhalasi dan gejala seperti kebingungan yang menunjukkan bahwa otak mungkin terpengaruh, dokter juga dapat melakukan Pungsi lumbal untuk mendapatkan sampel cairan cairan serebrospinal. Sampel diperiksa dan dianalisis.

Tes darah dapat dilakukan untuk memeriksa fragmen materi genetik bakteri atau antibodi terhadap racun yang diproduksi oleh bakteri.

Pencegahan

  • Vaksinasi
  • Antibiotik pencegahan dan terkadang obat lain

Vaksin antraks dapat diberikan kepada orang-orang yang berisiko tinggi tertular seperti aparat TNI, dokter hewan, teknisi laboratorium, dan pegawai pabrik tekstil yang mengolah bulu kambing impor.

Karena antraks berpotensi sebagai senjata biologis, sebagian besar anggota angkatan bersenjata telah divaksinasi. Agar efektif, vaksin harus diberikan dalam lima dosis. Suntikan penguat, diberikan setiap tahun  juga direkomendasikan.

Pengobatan

Semakin lama pengobatan antraks ditunda, semakin besar risiko kematiannya. Oleh karena itu, pengobatan biasanya dimulai segera setelah dokter mencurigai orang mengidap antraks:

  • Antraks kulit diobati dengan ciprofloxacin, levofloxacin, moxifloxacin, atau doksisiklin yang diberikan oral selama 7 sampai 10 hari.
  • Infeksi antraks inhalasi, gastrointestinal, dan lainnya seperti antraks kulit parah diobati dengan kombinasi dua atau tiga antibiotik.
  • Antraks inhalasi juga dapat diobati dengan kombinasi antibiotik dan suntikan raxibacumab, obiltoxaximab, atau Valortim® (antibodi monoklonal yang mengikat racun antraks dalam sistem tubuh) atau dengan kombinasi antibiotik dan imunoglobulin antraks intravena.
  • Jika otak dan meninges terpengaruh atau jika cairan menumpuk di sekitar paru-paru, kortikosteroid dapat membantu.
  • Perawatan lain mungkin termasuk ventilasi mekanis untuk membantu pernapasan dan cairan serta obat-obatan untuk meningkatkan tekanan darah.

Asuhan Keperawatan

Berikut ini adalah intervensi keperawatan pada pasien antraks:

  • Meningkatkan patensi jalan napas. Auskultasi dada untuk ronki, menunjukkan perlunya mobilisasi sekresi yang lebih baik, memantau saturasi oksigen dan gas darah arteri secara berkala untuk menentukan status oksigenasi dan keseimbangan asam-basa. Suction fisioterapi dada untuk membersihkan saluran udara, mencegah atelektasis, dan memaksimalkan terapi oksigen.
  • Memperbaiki pola pernapasan. Posisikan untuk ekspansi dada maksimum dan reposisi sesering mungkin untuk memobilisasi sekret,  dan berikan oksigen tambahan atau ventilasi mekanis sesuai kebutuhan.
  • Meningkatkan kemampuan menelan. Kortikosteroid digunakan untuk mengurangi pembengkakan di daerah kepala atau leher.
  • Menghilangkan diare. Kasus antraks gastrointestinal dapat diobati dengan ciprofloxacin atau doksisiklin selama 60 hari.
  • Meningkatkan integritas jaringan. Pasien dengan antraks kulit terisolasi tanpa keterlibatan sistemik (yaitu, tanpa edema, demam, batuk, sakit kepala, dll) atau komplikasi dapat diobati secara rawat jalan dengan monoterapi antibiotik.
  • Mengurangi hipertermia. Berikan analgesik antipiretik sesuai resep.

Referensi

Larry M. Bush. 2021. Anthrax. Charles E.Schmidt College of Medicine. Florida Atlantic University. MSD Manual.

David J Cennimo. 2021. Antrhrax. Med Scape. https://emedicine.medscape.com/article/212127-overview.

Oncü S, Oncü S, Sakarya S. 2003. Anthrax: an overview. Med Sci Monit. 9 (11): RA276-83. PMID: 14586293.

Prakash, et.al. 2005. Anthrax: an overview. Int. J. Risk Assessment and Management. 5. 76-94. 10.1504/IJRAM.2005.006611.  

Marianne Belleza RN. 2020. Anthrax Nursing Care Management. Nurses Labs.https://nurseslabs.com/anthrax/

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Askep Pasien Dengan Infeksi Antraks"