Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Tumor Otak

Dengan insidensi 4,5 per 100.000 pasien, tumor otak ganas seperti glioma, meningioma, dan schwannoma adalah penyakit yang sering terjadi, sedikit lebih banyak diderita pasien pria daripada wanita. 

Tumor bisa muncul saat penderita berusia berapa pun. Pada orang dewasa, insidensi biasanya lebih tinggi antara usia 40 sampai 60 tahun. Tipe tumor yang paling umum pada orang dewasa adalah glioma dan meningioma. Tipe tipe tumor ini biasanya supratentorial atau di atas penutup serebelum. 

Pada anak-anak, insidensi umumnya paling tinggi sebelum anak berusia 1 tahun dan kemudian muncul lagi antara usia 2 sampai 12 tahun. Tumor yang paling sering muncul pada anak-anak adalah astrositoma, meduloblastoma, ependimoma, dan glioma batang otak. Pada anak-anak, tumor otak menjadi salah satu penyebab yang paling sering mengakibatkan kematian karena kanker. 

Keperawatan Tumor Otak
Image by Bobjgalindo from: wikimedia.org

Penyebab  

  • Tidak diketahui 
  • Kongenital 
  • Hereditas Paparan radiasi ion

Tanda dan gejala

Perubahan sistem saraf pusat oleh jaringan yang menyebar dan menghancurkan, dan oleh efek sekunder yang paling sering adalah kompresi otak, saraf kranial, dan pembuluh serebral, edema serebral, dan kenaikan tekanan intrakranial (intracranial pressure - ICP) 

Beberapa gejala akibat peningkatan tekanan di dalam tengkorak:
  • Penurunan fungsi mental
  • Masalah akibat tekanan pada struktur tertentu di dalam atau di dekat otak, seperti saraf ke mata (saraf optik)

Bergantung pada area otak mana yang terpengaruh,  tumor dapat menyebabkan salah satu hal berikut:
  • Menyebabkan lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh menjadi lemah atau lumpuh
  • Ganggu kemampuan merasakan panas, dingin, tekanan, sentuhan ringan, atau benda tajam
  • Membuat orang tidak bisa mengekspresikan atau memahami bahasa
  • Meningkatkan atau menurunkan denyut nadi dan frekuensi pernapasan jika tumor menekan batang otak
  • Gangguan kemampuan mendengar, mencium, atau melihat (menyebabkan gejala seperti penglihatan ganda dan kehilangan penglihatan)

Uji diagnostik 

  • Biopsi jaringan yang dilakukan dengan pembedahan stereotaktis. Dalam prosedur ini, cincin kepala dilekatkan pada tengkorak, dan alat eksisional diarahkan ke lesi dengan panduan computed tomography (CT) scan atau magnetic resonance imaging (MRI). 
  • Sinar-X tengkorak, scan otak, CT scan, MRI, dan angiografi serebral memastikan diagnosis dan mengidentifikasi lokasi tumor.
  • Pungsi lumbar menunjukkan kenaikan tekanan dan kadar protein, penurunan kadar glukosa, dan kadang-kadang sel tumor dalam cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid - CSF). 

Penanganan 

  • Pendekatan remedial meliputi pembuangan tumor yaag bisa direseksi, penyembuhan edema serebral, kenaikan ICP, dan pencegahan kerusakan neurologis yang lebih jauh.
  • Modus terapi tergantung pada tipe histologis radiosensitivitas, dan lokasi, dan membutuhkan pembedahan, radiasi, krmoterapi, atau dekompresi kenaikan ICP diuretik, kortikosteroid, atau bisa fuga pemasangan shunt ventrikuloatrial atau ventrikuloperitoneal untuk CSF. 
  • Astrositoma : Reseksi astrositoma serebral sistik tingkat rendah melalui pembedahan akan membuat pasien bisa bertahan nidup dalam jangka panjang. Penanganan astrositoma lain meliputi pembedahan ulang, terapi radiasi, dan pemasangan shunt cairan dari jalan CSF yang mengalami obstruksi. Beberapa astrositoma sangat radiosensitif, namun lainnya radioresistan. 
  • Glioma: Penanganannya biasanya membutuhkan reseksi dengan kraniotomi, yang diikuti dengan terapi radiasi dan kemoterapi. Kombinasi nitrosourea carmustine (BCNU), lomustine atau procarbazine dan radiasi postoperatif lebih efektif daripada radiasi saja. 
  • Moduloblastoma: Penanganannya meliputi reseksi, dan bisa juga infusi methotrexate atau antineoplastik lainnya secara intrarektal.
  • Meningoma: Penanganannya membutuhkan reseksi, termasuk dura mater dan tulang (mortalitas saat operasi bisa mencapai 10% akibat besarnya ukuran tumor). 
  • Oligodendraglioma dan ependimoma: Penanganannya meliputi reseksi dan terapi radiasi. 
  • Schwannoma: Teknik pembedahan mikro (microsurgical) memungkinkan reseksi lengkap pada tumor dan pemeliharaan saraf fasial. Terapi radiasi setelah operasi diperlukan walaupun schwannoma agak radioresistan. 
  • Kemoterapi untuk tumor otak ganas meliputi nitrosourea untuk membantu memecah sawar darah otak dan memungkinkan obat kemoterapeutik mengalir. Pemberian obat secara intrarektal dan intraarterial akan memaksimalkan tindakan obat. 
  • Obat yang meringankan glioma, astrositoma, oligodendroglioma, dan ependimoma meliputi dexamethasone untuk edema serebral dan antasid dan antagonis reseptor-histamine untuk menekan ulser. Tumor-tumor tersebut dan schwannoma juga bisa membutuhkan antikonvulsan.

Intervensi Asuhan Keperawatan

Intervensi  Asuhan Keperawatan Pada tumor otak antara lain:

  • Lakukan kajian komprehensif (antara lain evaluasi neurologis lengkap) untuk memberikan data mendasar dan memandu perawatan berikutnya. Dapatkan riwayat kesehatan mendalam mengenai serangan gejala.
  • Bantu pasien dan keluarganya menjalani pengobatan, ketidakmampuan yang berpotensi terjadi, dan perubahan gaya hidup akibat tumornya. 

Selama dirawat inap 

  • Secara seksama, dokumentasikan aktivitas kejang (kemunculan, sifat, dan durasi).
  • Pertahankan kepatenan jalan napas.
  • Pantau keamanan pasien.
  • Beri antikonvulsan sesuai resep. 
  • Secara kontinu, periksa perubahan pada status neurologis, dan lihat adakah kenaikan ICP 
  • Lihat adakah dilasi pupil unilateral mendadak yang disertai hilangnya refleks terhadap cahaya, dan laporkan secepatnya. Perubahan yang tidak baik ini mengindikasikan herniasi transtentorial yang akan muncul. 
  • Secara saksama, pantau perubahan respiratorik.
  • Perhatikan tingkat dan kedalaman respiratorik abnormal bisa menunjukkan kenaikan ICP atau herniasi tonsil serebral karena meluasnya gumpalan infratentorial.
  • Secara saksama, pantau suhu tubuh pasien. Umumnya, demam akan mengikuti anoksia hipotalamik namun juga bisa mengindikasikan meningitis. Gunakan selimut hipotermia sebelum dan setelah operasi untuk menjaga suhu pasien dan meminimalkan tuntutan metabolik serebral. 
  • Beri steroid dan diuretik osmotik, misalnya mannitol, seperlunya, untuk mengurangi edema serebral. Cairan bisa dibatasi sampai 1 ½ qt (1,4 L) tiap 24 jam. Pantau keseimbangan cairan dan elektrosit untuk menghindari dehidrasi. 
  • Lihat adakah tanda dan gejala ulser tekanan: distensi abdominal, nyeri, muntah, dan tinja hitam dan seperti ter. Beri antasid dan antagonis histamin-2-reseptor seperlunya. 

Setelah pembedahan 

  • Lanjutkan pemantauan status neurologis umum dan lihat adakah tanda kenaikan 1CP, misalnya naiknya penutup tulang dan perubahan neurologis yang khas. Untuk mengurangi risiko ICP naik, batasi cairan sampai 1 ½ qt tiap 24 jam. 
  • Naikkan kepala ranjang pasien sekitar 30 derajat untuk membantu drainase venosa dan mengurangi edema serebral akibat kraniotomi supratentorial. Posisikan tubuhnya di sisi untuk memungkinkan drainase sekresi dan mencegah aspirasi.
  • Bila perlu, minta pasien menghindari manuver Valsava atau kontraksi otot isometrik saat bergerak atau duduk di ranjang, karena bisa menaikkan tekanan intratoraks, sehingga menyebabkan kenaikan ICP.
  • Jangan memberi cairan oral seperlunya karena bisa memicu muntah dan akibatnnya menaikkan ICP.
  • Setelah kraniotomi infratentorial, jaga agar tubuh pasien berbaring datar selama 48 jam, tetapi lakukan logroll padanya setiap 2 jam untuk meminimalkan komplikasi berupa imobilisasi. Cegah komplikasi lain dengan memperhatikan status ventilatorik secara saksama dan memperhatikan pula fungsi kardiovaskular, GI, dan muskuloskeletal. 
  • Lihat luka secara seksama, adakah infeksi dan pembentukan sinus.Terapi radiasi biasanya ditunda sampai luka operasi sembuh, namun bisa menyebabkan gangguan luka setelah itu.
  • Setelah radiasi, lihat adakah tanda kenaikan ICP karena radiasi bisa menyebabkan inflamasi otak.
  • Minta pasien melihat adakah tanda infeksi atau pendarahan yang muncul dalam waktu 4 minggu setelah dimulainya kemoterapi dan segera melaporkannya, karena nitrosourea yang digunakan sebagai pelengkap radioterapi dan pembedahan bisa menyebabkan tertundanya depresi sumsum tulang. 
  • Sebelum kemoterapi, beri prochlorperazine (Compazine) atau antiemetik lain bila perlu, untuk meminimalkan mual dan muntah. 
  • Beritahu pasien mengenai tanda-tanda rekurensi, dan minta la mematuhi aturan pengobatan.
  • Mulai lakukan rehabilitasi sejak dini karena tumor otak bisa menyebabkan defisit neurologis residual yang melemahkan pasien secara fisik dan mental.
  • Konsultasikan dengan terapis okupasional dan fisik untuk mendorong pasien melakukan akivitas sehari-hari secara mandiri.
  • Bila perlu, sediakan bantuan untuk perawatan diri dan mobilisasi, misalnya palang pegangan di kamar mandi bagi pasien yang menggunakan kursi roda.
  • Jika pasien mengalami afasia, konsultasikan dengan ahli terapi wicara.


Referensi :

  1. Melissa Conrad Stoppler. 2020. Brain Tumor. Medicine Net
  2. Maurie Markman. 2021. Brain Cancer Risk Factor. Cancer Treatment Center of America: cancercenter.com
  3. Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.


Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep
Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep Praktisi dan Dosen Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Tumor Otak"