Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Kanker Payudara Dengan Pendekatan Sdki Slki dan Siki

Kanker payudara atau ca mamae adalah kanker yang paling umum didiagnosis pada wanita, terhitung lebih dari 1 dari 10 orang wanita diagnosis kanker payudara baru setiap tahun. Penyakit ini adalah penyebab kematian kedua akibat kanker di kalangan wanita di dunia. Pada tulisan ini Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan askep kanker payudara dengan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Tujuan

  • Memahami , Definisi, Tipe, penyebab, tanda gejala dan patofisiologi kanker payudara
  • Memahami pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan kanker payudara
  • Merumuskan diagnosa keperawatan pada askep kanker payudara dengan menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan luaran keperawatan dan kriteria hasil pada askep kanker payudara dengan menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep kanker payudara menggunakan pendekatan Siki 

Gambar by Cancer Research UK uploader from: wikimedia.org

Konsep Medik dan Askep Kanker Payudara 

Definisi

Secara umum, kanker diberi nama sesuai dengan bagian tubuh tempat terjadinya. Jika mengikuti terminologi ini, maka kanker payudara adalah terjadinya pertumbuhan dan proliferasi sel yang yang berasal dari jaringan payudara.

Payudara wanita dewasa merupakan kelenjar penghasil susu di bagian depan dinding dada. Jaringan ini bertumpu pada otot pektoralis mayor dan melekat pada bagian depan dinding dada di kedua sisi sternum. 

Setiap payudara berisi 15-20 lobus yang tersusun melingkar. Lemak yang menutupi lobus memberi payudara ukuran dan bentuknya. Setiap lobus terdiri dari banyak lobulus, di ujungnya terdapat kelenjar yang menghasilkan susu sebagai respons terhadap hormon.

Payudara terdiri dari dua jenis jaringan utama yaitu jaringan kelenjar dan jaringan stroma atau penyokong. Jaringan kelenjar terdiri dari lobulus tempat produksi air susu dan duktus yang merupakan saluran keluarnya. Sementara jaringan stroma terdiri dari jaringan ikat lemak dan fibrosa payudara. Payudara juga memiliki jaringan limfatik yaitu jaringan sistem kekebalan yang menghilangkan cairan dan limbah seluler.

Kanker payudara dideskripsikan berdasarkan jenis jaringan payudara tempat tumor berasal. Misalnya, kanker yang dimulai di saluran payudara disebut kanker duktal dan kanker yang muncul di lobulus (kelenjar) disebut kanker lobular.

Klasifikasi

Kanker Payudara bisa diklasifikasikan menurut tampilan histologis dan lokasi lesinya: 

  • Adenokarsinoma - muncul dari epitelium 
  • Intraduktal - berkembang di dalam duktus (termasuk penyakit Paget) 
  • Infiltrasi - muncul di Jaringan parenkimatosa payudara
  • Inflamatorik (jarang) - tumor yang tumbuh cepat, kulit yang menutupinya menjadi edematosa, terinfiamasi, dan mengalami indurasi (pengerasan) 
  • Karsinoma lobular in situ - melibatkan lobus jaringan glandular 
  • Medular atau terbatas - tumor besar yang tumbuh cepat 

Penyebab 

Penelitian epidemiologis telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang berhubungan dengan peningkatan risiko seorang wanita terkena kanker payudara. Beberapa faktor risiko telah ditemukan secara klinis berguna untuk menilai risiko pasien kanker payudara. Banyak dari faktor-faktor ini menjadi dasar alat penilaian risiko kanker payudara yang saat ini digunakan sebagai acuan.

Usia dan jenis kelamin

Bertambahnya usia dan jenis kelamin wanita merupakan faktor risiko kanker payudara. Kanker payudara sporadis relatif jarang terjadi pada wanita muda dibawah  40 tahun tetapi meningkat secara signifikan setelahnya. 

Pengaruh usia terhadap risiko diilustrasikan dalam data SEER (Surveillance, Epidemiology and End Results), di mana insiden kanker payudara invasif untuk wanita di bawah 50 tahun adalah 44,0 per 100.000 dibandingkan dengan 345 per 100.000 untuk wanita berusia 50 tahun atau lebih tua. 

Insiden total dan spesifik usia untuk kanker payudara adalah bimodal, dengan puncak pertama terjadi pada sekitar 50 tahun dan yang kedua terjadi pada sekitar 70 tahun. Pola bimodal ini mungkin mencerminkan pengaruh usia dalam subtipe tumor yang berbeda, berdiferensiasi buruk, dan cenderung terjadi lebih awal. Sedangkan tumor sensitif hormon yang tumbuh lebih lambat cenderung terjadi seiring bertambahnya usia.

Riwayat keluarga kanker payudara

Riwayat keluarga yang positif kanker payudara adalah faktor risiko yang paling dikenal luas untuk kanker payudara. Risiko hingga 4 kali lebih tinggi jika seorang ibu dan saudara perempuan terkena, dan sekitar 5 kali lebih besar pada wanita yang memiliki dua atau lebih kerabat dekat dengan kanker payudara.

Riwayat keluarga kanker ovarium pada kerabat dekat, terutama jika penyakit terjadi pada usia dini yaitu <50 tahun memilikia resiko  dua kali lipat  mengalami kanker payudara. 

Karakteristik riwayat keluarga yang menunjukkan peningkatan risiko kanker payudara antara lain:

  • Dua atau lebih kerabat dengan kanker payudara atau ovarium
  • Kanker payudara terjadi pada kerabat yang terkena lebih muda dari 50 tahun
  • Kerabat dengan kanker payudara dan kanker ovarium
  • Satu atau lebih kerabat dengan dua kanker (kanker payudara dan ovarium atau 2 kanker payudara independen)
  • Kerabat laki-laki dengan kanker payudara
  • Mutasi BRCA1 dan BRCA2
  • Ataxia telangiectasia heterozigot (risiko empat kali lipat)
  • Keturunan Yahudi Ashkenazi (risiko dua kali lipat)

Faktor reproduksi dan hormon steroid

Uji klinis pencegahan sekunder pada wanita dengan kanker payudara telah menunjukkan efek perlindungan dari modulator reseptor estrogen selektif (SERM) dan inhibitor aromatase pada kekambuhan dan perkembangan kanker payudara kontralateral. 

Sejumlah penelitian epidemiologi mendukung peningkatan risiko kanker payudara pada wanita dengan kadar estradiol tinggi. Endogenous Hormones and Breast Cancer Collaborative Group (EHBCG) melaporkan risiko relatif sekitar  2,58 di antara wanita dengan tingkat estradiol tinggi. 

Setelah meninjau data kolektif secara menyeluruh, Kelompok Kolaborasi Pencegahan Kanker Payudara (BCPCG) memprioritaskan faktor tambahan yang mungkin dimasukkan dalam fase validasi model prediksi risiko dan memberikan skor prioritas tinggi untuk kadar estradiol plasma. Saat ini, pengukuran rutin kadar hormon plasma tidak dianjurkan dalam penilaian risiko kanker payudara.

Salah satu faktor penyebab kanker payudara yang paling banyak dipelajari adalah penggunaan hormon eksogen berupa kontrasepsi oral (OC) dan terapi sulih hormon (HRT). Bukti keseluruhan menunjukkan risiko kanker payudara sekitar 25% lebih besar di antara pengguna kontrasepsi oral saat ini. Risiko tampaknya menurun dengan usia dan waktu sejak penghentian kontrasepsi oral dan kembali ke risiko populasi rata-rata sekitar 10 tahun setelah penghentian.

Data yang diperoleh dari penelitan case control dan kohort prospektif mendukung peningkatan risiko insiden dan kematian kanker payudara dengan penggunaan terapi sulih hormon pascamenopause. 

Peningkatan risiko kanker payudara telah dikaitkan secara positif dengan lamanya paparan, dengan risiko terbesar diamati untuk lobular responsif hormonal, duktal-lobular campuran, dan kanker tubular.  Risiko lebih besar di antara wanita yang memakai terapi sulih hormon kombinasi daripada di antara mereka yang memakai formulasi estrogen saja. 

Riwayat kesehatan payudara sebelumnya

Riwayat kanker payudara dikaitkan dengan peningkatan risiko 3 hingga 4 kali lipat dari kanker primer kedua pada payudara kontralateral. Adanya premalignant ductal carcinoma in situ (DCIS) atau LCIS memberikan peningkatan 8 hingga 10 kali lipat dalam risiko pengembangan kanker payudara pada wanita yang memiliki lesi preinvasif yang tidak diobati.

Riwayat biopsi payudara yang positif untuk hiperplasia, fibroadenoma dengan gambaran kompleks, sclerosing adenosis, dan papiloma soliter telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara sedang yaitu 1,5 hingga 2 kali lipat. 

Sebaliknya, setiap diagnosis hiperplasia atipikal yang bersifat duktal atau lobular, terutama pada wanita di bawah usia 45 tahun meningkatkan risiko kanker payudara 4 hingga 5 kali lipat. 

Lesi payudara jinak, termasuk penyakit fibrokistik seperti perubahan fibrokistik tanpa penyakit payudara proliferatif atau fibroadenoma, belum dikaitkan dengan peningkatan risiko.

Faktor risiko gaya hidup

Variabilitas luas insiden kanker payudara di seluruh dunia, misalnya, perbedaan hampir 5 kali lipat antara Afrika Timur dan Eropa Barat telah lama dikaitkan dengan perbedaan asupan makanan dan pola reproduksi. 

Secara umum, tingkat berbeda menurut tingkat perkembangan industri lebih dari 80 kasus per 100.000 di negara maju, dibandingkan dengan kurang dari 40 per 100.000 di negara kurang berkembang.

Seperti halnya kanker usus besar dan prostat, pola makan yang kaya akan biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran, rendah lemak jenuh, rendah energi (kalori),  dan rendah alkoholmenurunkan resiko dan memilki dampak protektif terhadap  kanker payudara.

Kegemukan

Peningkatan risiko kanker payudara pascamenopause dan obesitas secara konsisten dikaitkan dengan hal-hal berikut:

  • Pertambahan berat badan 20-25 kg di atas berat badan normal pada usia 18 tahun
  • Konsumsi dengan pola kandungan energi tinggi dalam bentuk lemak hewani dan karbohidrat olahan
  • Sedentari Life atau gaya hidup kurang gerak
  • Konsumsi alkohol 

Faktor risiko lingkungan

Sejumlah paparan lingkungan telah diteliti dalam kaitannya dengan risiko kanker payudara antara lain:

  • Asap tembakau baik paparan aktif dan pasif
  • Makanan, seperti daging hangus dan daging olahan
  • Konsumsi alkohol
  • Karsinogen lingkungan, seperti paparan pestisida, radiasi, estrogen lingkungan dan makanan

Dari paparan lingkungan ini, hanya radiasi pengion dosis tinggi ke daerah dada, terutama selama masa pubertas, yang secara tegas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara di masa dewasa.

Karena hubungan yang kuat antara paparan radiasi pengion dan risiko kanker payudara, prosedur diagnostik medis dilakukan sedemikian rupa untuk meminimalkan paparan ke daerah dada, terutama selama masa remaja.

Wanita dengan riwayat paparan radiasi di daerah dada harus diperiksa dan diberi konseling mengenai risiko kanker payudara berdasarkan waktu dan dosis paparan sebelumnya. 

Seorang pasien yang dirawat karena limfoma Hodgkin dengan radiasi Mantel yang mencakup payudara di bidang radiasi memiliki risiko 5 kali lipat lebih tinggi terkena kanker payudara. Risiko ini meningkat tajam untuk wanita yang dirawat selama masa remaja,  bukti menunjukkan bahwa risiko kumulatif meningkat seiring bertambahnya usia dan jenis terapi.

Tanda dan gejala 

  • Bongkahan atau gumpalan di payudara, gumpalan keras dan berbatu biasanya ganas. 
  • Perubahan kesimetrisan atau ukuran payudara
  • Perubahan di kulit payudara, kulit menebal dan bersisik di sekitar puting, lekukan, edema, atau ulserasi.
  • Perubahan suhu kulit seperti hangat, panas, atau area merah-muda,  kanker diduga ada pada wanita yang melewati usia hamil namun tidak nenyusui sampai terbukti sebaliknya. 
  • Drainase atau keluaran yang tidak lazim, keluaran apa pun secara spontan pada wanita yang tidak menyusui bisa membenarkan adanya kanker melalui pemeriksaan. Begitu pula dengan keluaran apa pun yang dihasilkan, kehijauan, hitam, putih, seperti krim, serosa, atau berdarah. Jika bayi yang sedang disusui menolak satu payudara, hal ini bisa menunjukkan adanya kanker payudara. 
  • Perubahan puting, misalnya gatal, seperti terbakar, erosi, atau retraksi 
  • Nyeri tidak selalu merupakan gejala Kanker payudara kecuali tumor sudah parah, namun sebaiknya diperiksa. 
  • Metastasis tulang, fraktur tulang patologis, dan hiperkalsemia 
  • Edema di lengan. 

Patofisiologi

Pemahaman terkini tentang etiopatogenesis kanker payudara adalah bahwa kanker invasif muncul melalui serangkaian perubahan molekuler pada tingkat sel. Perubahan ini menghasilkan sel epitel payudara dengan pertumbuhan yang tidak terkendali. Profil genom menunjukkan adanya subtipe tumor payudara terpisah dengan riwayat alami dan perilaku klinis yang berbeda. 

Jumlah pasti subtipe penyakit dan perubahan molekuler sampai saat ini masih belum dijelaskan sepenuhnya, tetapi umumnya sejalan dengan ada atau tidaknya reseptor estrogen (ER), reseptor progesteron (PR), dan reseptor faktor pertumbuhan epidermal manusia 2 ( DIA2).

Bukti dari The Cancer Genome Atlas Network (TCGA) mengkonfirmasi 4 subtipe tumor payudara utama yaitu luminal A, luminal B, basal-like, dan HER2-positif

Perlu dicatat bahwa subkelompok tumor payudara basal-like memiliki sejumlah karakteristik molekuler yang umum untuk tumor ovarium serosa, termasuk jenis dan frekuensi mutasi genom. Data ini mendukung bukti bahwa beberapa kanker payudara mempunai faktor etiologi yang berkaitan dengan kanker ovarium. Selain itu, beberapa data menunjukkan bahwa pasien dengan kanker payudara tipe basal menunjukkan responsivitas pengobatan yang serupa dengan kanker ovarium. 

Kanker payudara berdasarkan tipe dan gambaran kasus antara lain:

  • Karsinoma duktal infiltrasi adalah tumor payudara yang paling sering didiagnosis dan memiliki kecenderungan untuk bermetastasis melalui limfatik, merupakan 75% dari kanker payudara
  • Selama 25 tahun terakhir, insiden karsinoma lobular in situ (LCIS) telah berlipat ganda, mencapai tingkat saat ini 2,8 per 100.000 wanita,  puncak insiden pada wanita usia 40-50 tahun
  • Karsinoma lobular infiltrasi terjadi kurang dari 15% dari kanker payudara invasif
  • Karsinoma meduler menyumbang terdiagnosa  5% kasus dan umumnya terjadi pada wanita yang lebih muda
  • Karsinoma musinosa (koloid) terlihat pada kurang dari 5% kasus kanker payudara invasif
  • Karsinoma tubular pada payudara menyumbang 1-2% dari semua kanker payudara
  • Karsinoma papiler biasanya terlihat pada wanita dengan usia diatas 60 tahun dengan insisden sekitar 1-2% dari semua kanker payudara
  • Kanker payudara metaplastik terjadi kurang dari 1% kasus kanker payudara, cenderung terjadi pada wanita yang lebih tua (usia rata-rata onset pada dekade keenam), dan memiliki insiden lebih tinggi pada orang kulit hitam.
  • Penyakit Paget payudara menyumbang 1-4% dari semua kanker payudara dan memiliki insiden puncak pada dekade keenam kehidupan (usia rata-rata, 57 tahun)

Pemeriksaan diagnostik 

Walaupun tidak terbukti menurunkan mortalitas, pemeriksaan diri terhadap payudara bisa mendeteksi adanya bongkahan palpabel, sehingga memungkinkan wanita menemui praktisi untuk mendapatkan evaluasi dini.

Mamografi dilakukan untuk tiap wanita yang pemeriksaan fisiknya menunjukkan adanya kanker payudara. Mamografi sebaiknya dilakukan sebagai pemeriksaan dasar pada wanita berusia 35 sampai 39 tahun, tiap 1 sampai 2 tahun untuk wanita berusia 40 sampai 49 tahun, dan tiap tahun untuk wanita yang berusia lebih dari 50 tahun, wanita yang memiliki riwayat kanker payudara di keluarganya, dan wanita yang menderita kanker payudara unilateral, untuk memeriksa adanya penyakit baru. 

Akan tetapi, nilai mamografi masih meragukan untuk wanita yang berusia kurang dari 35 tahun (karena kepadatan payudara), kecuali wanita yang diduga kuat menderita kanker payudara. Hasil keliru-negatif bisa muncul di 30% dari semua uji.

Aspirasi jarum-tajam atau biopsi dengan pembedahan dilakukan jika diduga ada gumpalan dan hasil mamografi negatif.

Ultrasonografi, yang bisa membedakan kista berisi-cairan dengan tumor, juga bisa dipakai daripada biopsi bedah invasif.

Scan tulang, computed tomography scan, pengukuran kadar alkalin fosfatase, studi fungsi hati, dan biopsi hati bisa mendeteksi metastasis yang jauh. 

Pengujian assay reseptor hormonal yang dilakukan pada tumor bisa menentukan apakah tumor dependen pada estrogen atau progesteron. Uji ini memandu pengambilan keputusan untuk menggunakan terapi yang merintangi tindakan hormon estrogen yang mendukung pertumbuhan tumor.

Penanganan 

Dalam memilih terapi, pasien dan praktisi sebaiknya mempertimbangkan stadium penyakit, usia wanita dan status menopausalnya, dan efek pembedahan yang bisa memperburuk tampilan tubuh. Penanganan kanker payudara bisa meliputi satu atau kombinasi apa pun dari cara-cara berikut. 

Pembedahan 

  • Lumpektomi bisa dilakukan bagi pasien rawat jalan dan mungkin merupakan satu-satunya pembedahan yang diperlukan, ter-utama jika tumor kecil dan tidak ada bukti keterlibatan nodus aksilari.Terapi radiasi biasa-nya dikombinasikan dengan pembedahan ini.
  • Prosedur dua-tahap, yaitu saat dokter bedah mengambil gumpalan, memastikan bahwa ini ganas, dan mendiskusikan pilihan penanganan dengan pasien, bisa dilakukan karena memungkinkan pasien berpartisipasi  di rencana penanganannya.  Kadang-kadang,  tumor didiagnosis ganas, perencanaan semacam ini bisa dilakukan sebelum operasi. 
  • Dalam lumpektomi dan diseksi nodus leafa aksgari, tumor dan nodus limfa aksilari damobel, sehingga memungkinkan payudara tetap utuh. 
  • Masitektomi sederhana mengambil payudara tetapi bukan nodus limfa atau otot pektoral.
  • Masitektomi radikal termodifikasi mengambil payudara dan nodus limfa aksilari.
  • Masitektomi radikal (prosedur yang penggunaannya telah berkurang) bisa mengambil payudara,bpektoralis mayor dan minor. dan nodus limfa aksilari
  • Setelah mastektomi, pernbedahan rekonstruktif bisa menciptakan timbunan mamae jika pasien menginginkannya dan tidak terbukti menderita penyakit stadium atas
  • Kemoterapi, tamoxifen, dan terapi sel induk periferal 
  • Berbagai kombinasi obat sitotoksik digunakan sebagai terapi adjuvan maupun primer. tergantung pada beberapa faktor, antara lain stadium kanker dan status reseptor estrogen positif
  • Neoplastik yang paling sering digunakan adalah cyclophospamide, fluorouracil, methotrexate, doxorubicin, vincistrine, paclitaxel, dan prednisone. 
  • Kombinasi obat umum yang digunakan oleh wanita premenopausal maupun pasimenopausal adalah cyclophospamide, methotrexue, dan fluorouracil.
  • Tamoxfen (Nolvadex), antagonis estrogen, merupakan pilihan penanganan adjuvan bagi ausien postmenopausal dengan status reseptor estrogen positif 
  • Terapi sel induk periferal bisa digunakan untuk pasien yang mengalami Kanker payudara stadium atas,

Terapi radiasi primer 

Terapi ini dilakukan sebelum atau sesudah pengambilan tumor, dan efektif untuk tumor kecil di stadium awal tanpa adanya tanda metastasis jauh. Terapi ini juga digunakan untuk mencegah atau menangani rekurensi lokal.

Radiasi sebelum pembedahan pada payudara untuk pasien yang menderita kanker inflamatorik membantu membuat tumor lebih bisa dikelola dengan pembedahan.

Terapi obat lainnya 

Pasien juga bisa menggunakan terapi estrogen, progesteron, androgen, atau antiandrogen aminoglutetimida. Jika terbukti kanker merupakan penyakit sistemik, bukan lokal, keberhasilan terapi obat ini telah mengurangi penggunaan pembedahan ablatif.

Asuhan Keperawatan Kanker Payudara

Intervensi Umum 

Untuk memberikan perawatan yang baik bagi pasien kanker payudara, mulailah dengan riwayat, kaji perasaan pasien mengenai penyakitnya, dan tentukan apa yang ia ketahui tentangnya dan apa yang ia harapkan. 

Intervensi  Sebelum pembedahan 

  • Pastikan Anda mengetahui jenis pembedahan apa yang akan dilakukan, sehingga Anda bisa mempersiapkan pasien. Jika pasien akan menjalani mastektomi, selain persiapan sebelum pembedahan seperti biasanya (misalnya persiapan kulit dan tidak melakukan apa pun dengan mulut), lakukan juga hal-hal berikut ini: 
  • Ajari pasien cara bernapas dalam dan batuk untuk mencegah komplikasi pulmoner dan cara merotasi pergelangan kakinya untuk mencegah tromboembolisme
  • Beri tahu pasien bahwa ia bisa meringankan nyeri dengan berbaring di sisi yang diserang kanker atau dengan menempatkan tangan atau bantal di insisi. Tunjukkan padanya tempat insisi akan dilakukan. Beri tahu ia bahwa ia akan diberi medikasi pereda nyeri dan bahwa ia tidak perlu takut kecanduan.
  • Jelaskan pada pasien bahwa setelah mastektomi, alat pengaliran atau pengisapan insisional (Hemovac) akan digunakan untuk mengambil cairan serosa atau sanguinosa yang terakumulasi untuk menjaga tensi garis sutura, sehingga mempercepat penyembuhan. 
  • Sarankan pasien bertanya pada praktisinya mengenai pembedahan rekonstruktif atau menghubungi dokter bedah rekonstruktif plastik di perkumpulan medis lokal atau negara-bagian yang secara teratur melakukan pembedahan untuk menciptakan timbunan mamae. Di banyak kasus, pembedahan rekonstruktif bisa direncanakan sebelum mastektomi.

Intervensi Setelah pembedahan 

  • Periksa pembalut secara anterior dan posterior.Waspadai pendarahan.
  • Ukur dan catat banyaknya drainase dan perhatikan warnanya. Drainase seharusnya berdarah selama 4 jam pertama dan setelah itu menjadi serosa. 
  • Periksa status sirkulatorik (tekanan darah, denyut nadi, respirasi, dan pendarahan). 
  • Pantau asupan dan output pasien selama setidaknya 48 jam setelah ia diberi anestesia umum. 
  • Minta pasien batuk dan balikkan badannya tiap 2 jam untuk mencegah komplikasi. (Letakkan bantal kecil di bawah lengan pasien untuk memberi kenyamanan.) 
  • Dorong pasien bangun dari ranjangnya sesegera mungkin (bahkan segera setelah anestesia hilang di malam pertama setelah pembedahan). 
  • Cegah limfedema lengan, yang bisa merupakan komplikasi awal dalam penanganan kanker payudara apa pun dan melibatkan diseksi nodus limfa. Bantu pasien mencegah limfedema dengan meminta ia melakukan latihan tangan dan lengan secara teratur dan menghindari aktivitas yang bisa menyebabkan infeksi di tangan atau lengannya (infeksi meningkatkan peluang berkembangnya limfedema). Pencegahan semacam ini penting karena limfedema tidak bisa ditangani secara efektif.
  • Periksa insisi. Minta pasien dan pasangannya melihat insisi sesegera mungkin, barangkali ketika pembalut pertama diambil. 
  • Beri tahu pasien mengenai prostesis (pengganti) mamae. Program Reach to Recovery dari Himpunan Kanker Amerika bisa memberikan instruksi, dukungan emosional dan konseling, dan daftar toko yang menjual prostesis. 
  • Beri dukungan psikologis dan emosional. Banyak pasien takut terhadap kanker dan kemungkinan menjadi cacat dan khawatir kehilangan fungsi seksualnya. Jelaskan bahwa pembedahan mamae tidak mengganggu fungsi seksual dan bahwa pasien bisa melakukan aktivitas seksual kembali sesegera mungkin seperti yang ia inginkan setelah pembedahan. 
  • Jelaskan pada pasien bahwa ia mungkin mengalami "sindrom mamae fantom" (fenomena adanya perasaan kesemutan atau sensasi pin dan jarum yang tertinggal di area jaringan mamae yang diamputasi) atau depesi setelah mastektomi. Dengarkan keluhan pasien, beri dukungan, dan sarankan ia mengunjugi organisasi yang tepat, misalnya Reach to Recovery dari Himpunan Kanker Amerika. 

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan pada askep Kanker Payudara Sdki Slki Siki

Pre Operasi

1. Nyeri Kronis b/d Infiltrasi Tumor (D.0078)

Luaran: Tingkat Nyeri menurun (L.08066)

  • Keluhan nyeri menurun
  • Merigis menurun
  • Sikap protektif menurun
  • Gelisah dan kesulitan tidur menurun
  • Anoreksia, mual, muntah menurun
  • Ketegangan otot dan pupil dilatasi menurun
  • Pola napas dan tekanan darah membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Manajemen Nyeri (I.08238)

  • Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
  • Identifikasi skala nyeri
  • Identifikasi respon nyeri non verbal
  • Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
  • Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
  • Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
  • Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
  • Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
  • Monitor efek samping penggunaan analgetik
  • Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
  • Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
  • Fasilitasi istirahat dan tidur
  • Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
  • Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
  • Jelaskan strategi meredakan nyeri
  • Anjurkan memonitor nyri secara mandiri
  • Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
  • Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
  • Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

b. Perawatan Kenyamanan (I.08245)

  • Identifikasi gejala yang tidak menyenangkan
  • Identifikasi pemahaman tentang kondisi, situasi dan perasaannya
  • Identifikasi masalah emosional dan spiritual
  • Berikan posiis yang nyaman
  • Berikan kompres dingin atau hangat
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman
  • Berikan pemijatan
  • Berikan terapi akupresur
  • Berikan terapi hipnotis
  • Dukung keluarga dan pengasuh terlibat dalam terapi
  • Diskusikan mengenai situasi dan pilihan terapi
  • Jelaskna mnegenai kondisi dan pilihan terapi/ pengobatan
  • Ajarkan terapi relaksasi
  • Ajarkan latihan pernafasan
  • Ajarkan tehnik distraksi dan imajinasi terbimbing
  • Kolaborsi pemberian analgesik  jika perlu

2. Risiko Perdarahan b/d Proses Keganasan (D.0012)

Luaran: Tingkat Perdarahan Menurun (L.02017)

  • Kelembaban membran mukosa meningkat
  • Kelembaban kulit meningkat
  • Hemoglobin membaik
  • Tekanan darah membaik
  • Denyut nadi apikal membaik

Intervensi Keperawatan: Pencegahan Pendarahan (I.02067)

  • Monitor tanda dan gejala perdarahan
  • Monitor nilai hematokrit/homoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah
  • Monitor tanda-tanda vital ortostatik
  • Monitor koagulasi (mis. Prothombin time (TM), partial thromboplastin time (PTT), fibrinogen, degradsi fibrin dan atau platelet)
  • Pertahankan bed rest selama perdarahan
  • Batasi tindakan invasif, jika perlu
  • Gunakan kasur pencegah dikubitus
  • Hindari pengukuran suhu rektal
  • Jelaskan tanda dan gejala perdarahan
  • Anjurkan mengunakan kaus kaki saat ambulasi
  • Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari konstipasi
  • Anjurkan menghindari aspirin atau antikoagulan
  • Anjurkan meningkatkan asupan makan dan vitamin K
  • Anjrkan segera melapor jika terjadi perdarahan
  • Kolaborasi pemberian obat dan mengontrol perdarahan, jika perlu
  • Kolaborasi pemberian prodok darah, jika perlu

3. Risiko Infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan tubuh/penyakit kronis (D.0142)

Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)

  • Kebersihan tangan dan badan meningkat
  • Demam, kemerahan, nyeri, dan bengkak menurun
  • Periode malaise menurun
  • Periode menggigil, letargi, dan ganggauan kognitif menurun
  • Kadar sel darah putih membaik

Intervensi Keperawatan: Pencegahan Infeksi (I.14539)

  • Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
  • Batasi jumlah pengunjung
  • Berikan perawatan kulit pada daerah edema
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
  • Pertahankan teknik aseptik pada psien beresiko tinggi
  • Jelaskan tanda dan gejala infeksi
  • Ajarkan cara memeriksa luka

4. Risiko Defisit Nutrisi b/d Kanker (D.0032)

Luaran : Status Nutrisi Membaik (L.03030)

  • Porsi makan yang dihabiskan meningkat
  • Serum albumin meningkat
  • Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat
  • Pengetahuan tentang pilihan makanan sehat mmeningkat
  • Pengetahuan tentang standar nutrisi yang teat meningkat
  • Sikap terhadap makanan/minuman sesuai dengan tujuan kesehatan meningkat
  • Perasaan cepat kenyang menurun
  • Rambut rontok menurun
  • Berat badan membaik
  • Indeks Massa tubuh membaik
  • Frekwensi makan membaik
  • Nafsu makan membaik
  • Bising usus membaik
  • Tebal lipatan kulit trisep dan membran mukosa membaik

Intervensi Keperawatan: 

a. Manajemen Nutrisi (I.03119)

  • Identifikasi status nutrisi
  • Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
  • Identifikasi makanan yang disukai
  • Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
  • Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
  • Monitor asupan makanan
  • Monitor berat badan
  • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
  • Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
  • Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. Piramida makanan)
  • Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
  • Berikan makan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
  • Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
  • Berikan suplemen makanan, jika perlu
  • Hentikan pemberian makan melalui selang nasigastrik jika asupan oral dapat ditoleransi
  • Anjurkan posisi duduk, jika mampu
  • Ajarkan diet yang diprogramkan
  • Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri, antiemetik), jika perlu
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

b. Promosi Berat Badan 

  • Identifikasi kemungkinan penyebab BB kurang
  • Monitor adanya mual dan muntah
  • Monitor jumlah kalorimyang dikomsumsi sehari-hari
  • Monitor berat badan
  • Monitor albumin, limfosit, dan elektrolit serum
  • Berikan perawatan mulut sebelum pemberian makan, jika perlu
  • Sediakan makan yang tepat sesuai kondisi pasien( mis. Makanan dengan tekstur halus, makanan yang diblander, makanan cair yang diberikan melalui NGT atau Gastrostomi, total perenteral nutritition sesui indikasi)
  • Hidangkan makan secara menarik
  • Berikan suplemen, jika perlu
  • Berikan pujian pada pasien atau keluarga untuk peningkatan yang dicapai
  • Jelaskan jenis makanan yang bergizi tinggi, namuntetap terjangkau
  • Jelaskan peningkatan asupan kalori yang dibutuhkan

Post Operasi atau Kemoterapi

1. Gangguan Citra tubuh b/d Perubahan struktur tubuh dan efek tindakan (pembedahan, kemoterapi, terapi radiasi) (D.0083)

Luaran : Citra tubuh meningkat (L.09067)

  • Melihat dan menyentuh bagian tubuh membaik
  • Verbalisasi kecacatan bagian tubuh membaik
  • Vebalisasi kehilangan bagian tubuh membaik
  • Verbalisasi perasaan negatif tentang bagian tubuh menurun
  • Verbalisasi kekhawatiran peda penolakan/ reaksi orang lain menurun
  • Fokus pada bagian tubuh menurun
  • Fokus pada penampian masa lalu menurun
  • Respon nonverbal pada bagian tubuh membaik
  • Hubungan sosial membaik

Intervensi Keperawatan: Promosi citra tubuh (I.09305)

  • Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan
  • Identifikasi budaya, agama, jenis kelami, dan umur terkait citra tubuh
  • Identifikasi perubahan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi sosial
  • Monitor frekuensi pernyataan kritik tehadap diri sendiri
  • Monitor apakah pasien bisa melihat bagian tubuh yang berubah
  • Diskusikan perubahn tubuh dan fungsinya
  • Diskusikan perbedaan penampilan fisik terhadap harga diri
  • Diskusikan akibat perubahan pubertas, kehamilan dan penuwaan
  • Diskusikan kondisi stres yang mempengaruhi citra tubuh (mis.luka, penyakit, pembedahan)
  • Diskusikan cara mengembangkan harapan citra tubuh secara realistis
  • Diskusikan persepsi pasien dan keluarga tentang perubahan citra tubuh
  • Jelaskan kepad keluarga tentang perawatan perubahan citra tubuh
  • Anjurka mengungkapkan gambaran diri terhadap citra tubuh
  • Anjurkan menggunakan alat bantu( mis. Pakaian , wig, kosmetik)
  • Anjurkan mengikuti kelompok pendukung( mis. Kelompok sebaya).
  • Latih fungsi tubuh yang dimiliki
  • Latih peningkatan penampilan diri (mis. berdandan)
  • Latih pengungkapan kemampuan diri kepad orang lain maupun kelompok

2. Risiko Hipovolemia b/d Kekurangan intake cairan dan efek agen farmakologis (D.0034)

Luaran: Status Cairan Membaik (L.03028)

Intervensi Keperawatan: Pemantauan Cairan (I.03121)

  • Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
  • Monitor frekuensi nafas
  • Monitor tekanan darah
  • Monitor berat badan
  • Monitor waktu pengisian kapiler
  • Monitor elastisitas atau turgor kulit
  • Monitor jumlah, waktu dan berat jenis urine
  • Monitor kadar albumin dan protein total
  • Monitor hasil pemeriksaan serum (mis. Osmolaritas serum, hematocrit, natrium, kalium, BUN)
  • Identifikasi tanda-tanda hipovolemia (mis. Frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membrane mukosa kering, volume urine menurun, hematocrit meningkat, haus, lemah, konsentrasi urine meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkat)
  • Identifikasi tanda-tanda hypervolemia mis. Dyspnea, edema perifer, edema anasarka, JVP meningkat, CVP meningkat, refleks hepatojogular positif, berat badan menurun dalam waktu singkat)
  • Identifikasi factor resiko ketidakseimbangan cairan (mis. Prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan pankreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)
  • Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
  • Dokumentasi hasil pemantauan
  • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
  • Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

3. Diagnosa Keperawatan lain yang sering Muncul:

a. Defisit Nutrisi (D.0019)

b. Nausea (D.0076)

c. Nyeri Kronis (D.0078)

d. Berduka (D.0081)

Referensi  

  1. Marry Ann Kosir MD. 2020. Breast Cancer. Wayne State University School of Medicine. MSD Manual. https://www.msdmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/breast-disorders/breast-cancer
  2. RNpedia. Breast Cancer Nursing Care Plan And Management. https://www.rnpedia.com/breast-cancer/
  3. Pavani Chalasani. 2021. Breast Cancer. Med Scape. Emedicine. https://emedicine.medscape.com/article/1947145-overview
  4. Sharma, G. N., Dave, R., Sanadya, J., Sharma, P., & Sharma, K. K. 2010. Various types and management of breast cancer: an overview. Journal of advanced pharmaceutical technology & research, 1(2), 109–126.
  5. Doru Paul. 2021. Breast Cancer. Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/breast-cancer-overview-4581997
  6. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)  edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  8. PPNI, 2019.  Standart  Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)  edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep
Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep Praktisi dan Dosen Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Askep Kanker Payudara Dengan Pendekatan Sdki Slki dan Siki"