Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Pada Kanker Ginjal

Kanker Ginjal atau Karsinoma sel ginjal (RCC) adalah penyakit keganasan ginjal yang paling umum. Penyakit ini biasanya muncul pada orang dewasa atau yang lebih tua, dengan sekitar 85% tumor berasal dari ginjal dan sisanya akibat metastasis dari tempat primer lain. 

Gejala dapat berupa hematuria, nyeri panggul, massa yang teraba, dan demam yang tidak diketahui asalnya (FUO). Namun, gejala seringkali tidak ada, sehingga diagnosis biasanya dicurigai berdasarkan temuan insidental. 

Diagnosis dipastikan dengan CT atau MRI dan kadang-kadang dengan biopsi. Pengobatannya adalah dengan pembedahan untuk penyakit dini dan terapi yang ditargetkan, protokol eksperimental, atau terapi paliatif untuk penyakit lanjut.

Tumor ginjal yang biasanya besar, keras, nodular, terenkapsulasi, unilateral, dan soliter bisa dipisahkan secara histologis menjadi tipe sel bersih (clear cell), granular, dan sel spindel. Sekitar 50% penderita kanker ginjal bisa bertahan hidup selama 5 tahun, sedangkan yang bisa bertahan hidup selama 10 tahun berjumlah kurang dari itu. 

Askep Kanker Ginjal
Picture by Cancer Research UK on wikimedia.org

Walaupun demikian, kanker ginjal hanya mencakup sekitar 2% dari kanker yang menyerang orang dewasa. Kanker ini menyerang pria dua kali lebih banyak daripada wanita dan biasanya menyerang pasien yang berusia lebih dari 40 tahun. 

Epidemiologi

Dari tahun 1975 hingga 2008, kejadian kanker ginjal meningkat cukup stabil di Amerika Serikat, dari 7 menjadi 16 kasus per 100.000 penduduk. Peningkatan tersebut tampaknya sebagian disebabkan oleh peningkatan deteksi insidental karena penggunaan pencitraan medis yang lebih luas. Dari 2008 hingga 2017, tingkat insiden meningkat sekitar 1% per tahun. 

Saat ini, kanker ginjal dan ginjal panggul adalah kanker paling umum keenam pada pria AS, terhitung 5% kasus, dan kesembilan paling umum pada wanita AS, terhitung 3% kasus. The American Cancer Society memperkirakan bahwa pada tahun 2021 akan ada 76.080 kasus (48.780 pada pria dan 27.300 pada wanita) tumor ganas pada ginjal dan pelvis ginjal yang terdiagnosis, dengan 13.780 kematian (8790 pada pria dan 4990 pada wanita). Karsinoma sel ginjal diperkirakan menyebabkan 80% dari kejadian dan mortalitas ini.

Di sebagian besar Eropa, kejadian kanker ginjal telah menurun atau stabil selama dekade terakhir, mungkin sebagian karena berkurangnya kebiasaan merokok pada pria. Kematian akibat kanker ginjal juga menurun di sebagian besar Eropa, terutama di Skandinavia dan negara-negara Eropa Barat lainnya. Pada laki-laki, angka kematian per 100.000 penduduk turun dari 4,8 pada 1990-1994 menjadi 4,1 pada 2000-2004, pada wanita angka tersebut turun dari 2,1 menjadi 1,8. 

Karsinoma sel ginjal lebih sering terjadi pada orang keturunan Eropa Utara (Skandinavia) dan Amerika Utara daripada orang keturunan Asia atau Afrika. Di Amerika Serikat, kejadiannya sedikit lebih tinggi pada orang kulit hitam daripada orang kulit putih yaitu 24,5 berbanding 23,0 per 100.000 penduduk pada pria, dan 12,2 berbanding 11,4 per 100.000 penduduk pada wanita.

Usia rata-rata saat diagnosis dari 2013 hingga 2017 adalah 64 tahun. Namun, dalam kelompok keluarga, penyakit ini telah dilaporkan pada orang yang lebih muda. 

Penyebab 

Sejumlah faktor lingkungan dan genetik telah dipelajari sebagai kemungkinan penyebab karsinoma sel ginjal (RCC). Merokok menggandakan risiko karsinoma sel ginjal dan berkontribusi sebanyak sepertiga dari semua kasus. Risiko tampaknya meningkat berkorelasi jumlahyang di konsumsi. 

Obesitas merupakan salah satu faktor risiko, terutama pada wanita. Peningkatan berat badan memiliki hubungan linier dengan peningkatan risiko. 

Paparan bahan kimia tertentu di tempat kerja, seperti trikloroetilen, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker ginjal. Selain itu, risiko karsinoma sel ginjal meningkat dengan durasi paparan benzena, benzidin, kadmium, herbisida dan vinil klorida. 

Evaluasi prospektif oleh Cho dkk menyimpulkan bahwa penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) nonaspirin dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko kanker sel ginjal. Analgesik yang mengandung fenacetin yang dikonsumsi dalam jumlah besar juga dapat dikaitkan dengan peningkatan kejadian karsinoma sel ginjal. Jenis obat ini tidak lagi disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat.

Gangguan genetik yang terkait dengan karsinoma sel ginjal termasuk sindrom von Hippel-Lindau, karsinoma ginjal papiler herediter, sindrom Birt-Hogg-Dube, dan karsinoma ginjal herediter. Penyakit genetik tuberous sclerosis tampaknya berhubungan dengan karsinoma sel ginjal, meskipun hubungan yang tepat belum jelas.

Tanda dan Gejala

Kanker ginjal pada tahap awal biasanya tidak menunjunjukan gejala yang signifikan. Tanda klasik nyeri panggul, hematuria, dan massa panggul jarang terjadi yaitu sekitar 10% dan merupakan indikasi penyakit lanjut. 25%-30% pasien tidak menunjukkan gejala, dan karsinoma sel ginjal mereka ditemukan pada studi radiologis insidental.

Frekuensi munculnya tanda klasik adalah sebagai berikut:

  • Hematuria - 40%
  • Nyeri panggul - 40%
  • Massa yang teraba di panggul atau perut –25%

Tanda dan gejala lain yang bisa muncul antara lain:

  • Penurunan berat badan (33%)
  • Manifestasi hiperkalsemia (5%)
  • Keringat malam
  • Rasa tidak enak
  • Varikokel (2% pria)  Biasanya di sisi kiri, karena obstruksi vena testis

Kanker ginjal adalah tumor yang unik karena seringnya terjadi sindrom paraneoplastik, termasuk hiperkalsemia, eritrositosis, dan disfungsi hati nonmetastatik (yaitu, sindrom Stauffer). Pelepasan sitokin oleh tumor seperti interleukin-6, eritropoietin, oksida nitrat menyebabkan kondisi paraneoplastik ini. 

Uji diagnostik 

  • Computed tomography scan, urografi ekskretorik, dan pielografi retrograd dan ultrasound renal bisa mendeteksi kanker ginjal.
  • Sistoskopi menyingkirkan kanker kandung kemih yang berkaitan. 
  • Nefrotomografi atau angiografi renal bisa membedakan kista ginjal dengan tumor. 
  • Hasil studi fungsi hati menunjukkan kenaikan kadar alkalin fosfatase, bilirubin, alanin aminotransferase, dan aspartat aminotransferase dan juga waktu protrombin yang berlangsung lama. Hasil studi ini bisa menunjukkan metastasis hati. Akan tetapi, jika metastasis belum terjadi, keabnormalan ini akan sembuh setelah tumor direseksi. 
  • Temuan laboratoris rutin pada hematuria, anemia (tidak berkaitan dengan kurang darah), polisitemia, hiperkalsemia, dan kenaikan tingkat sedimentasi eritrosit membutuhkan pengujian yang lebih banyak untuk menyingkirkan kanker ginjal. 
  • Scan tulang bisa menyingkirkan metastasis skeletal. 

Penanganan 

  • Nefrektomi radikal, dengan atau tanpa diseksi nodus limfa regional, memberikan satu-satunya kesempatan untuk sembuh. 
  • Karena penyakit ini resistan terhadap radiasi, radiasi hanya digunakan jika kanker menyebar ke wilayah perinefrik atau nodus limfa, atau jika tumor primer atau tempat metastatik tidak bisa dieksisi secara menyeluruh. Kasus seperti ini membutuhkan radiasi dosis tinggi. 
  • Kemoterapi efektif melawan kanker ginjal, tetapi keefektifan tersebut tidak bisa diprediksi. 
  • Interferon,cukup efektif dalam menangani penyakit parah. Terapi hormon yang men unakan medroksiprogesteron dan testosteron bisa dicoba untuk kasus parah. 
  • Bioterapi (sel pembunuh yang diaktivasi-limfokin dengan rekombinan interlukin-2) bisa menjanjikan penyembuhan, namun menimbulkan reaksi yang merugikan. 

Prognosis

Di Amerika Serikat, tingkat kematian akibat kanker ginjal dan panggul ginjal menurun sekitar 1% per tahun dari 2009 hingga 2018. Kanker ginjal saat ini merupakan penyebab utama kedua belas kematian akibat kanker. 

Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun yang awalnya dilaporkan oleh Robson pada tahun 1969 adalah 66% untuk karsinoma ginjal stadium I, 64% untuk stadium II, 42% untuk stadium III, dan hanya 11% untuk stadium IV.  

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Sebelum pasien menjalani operasi bedah, yakinkan ia bahwa tubuhnya akan beradaptasi dengan ginjal yang hilang. 
  • Setelah pasien menjalani operasi bedah, minta ia batuk dan bernafas dalam, dan melakukan spirometri insentif. 
  • Bantu pasien melakukan latihan untuk kaki bagian bawah, dan balikkan tubuhnya tiap 2 jam. 
  • Seringkali periksalah pembalut dan lihat adakah pendarahan. Lihat juga adakah tanda pendarahan internal, misalnya pasien merasa resah, berkeringat, dan denyut nadinya meningkat. 
  • Tempatkan pasien di sisi tubuhnya yang dioperasi untuk memungkinkan tekanan organ-organ yang berdekatan mengisi ruang kosong di tempat yang dioperasi, sehingga meningkatkan drainase dependen. Jika memungkinkan, bantu pasien berjalan dalam waktu 24 jam setelah operasi. 
  • Cukupi asupan cairan, dan pantau asupan dan output pasien. Pantau hasil laboratoris untuk anemia, polisitemia, atau jumlah darah abnormal yang bisa menunjukkan keterlibatan tulang atau hati atau yang bisa disebabkan oleh radiasi atau kemoterapi. 
  • Tangani reaksi merugikan terhadap terapi obat yang diberikan.
  • Tekankan perlunya mematuhi aturan penanganan yang diberikan pada pasien rawat jalan. 

Edukasi Pasien

Pasien dengan riwayat keluarga sindrom genetik terkait dengan peningkatan risiko karsinoma sel ginjal harus diedukasi tentang sindrom ini, dan konseling genetik harus ditawarkan kepada pasien dan anggota keluarga. Misalnya, karsinoma sel ginjal berkembang pada hampir 40% pasien dengan penyakit von Hippel-Lindau (VHL) dan merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan kelainan tersebut.

Pasien berisiko tinggi harus diberi tahu tentang tanda dan gejala awal penyakit, dan perlunya intervensi dini untuk kemungkinan penyembuhan harus ditekankan. Untuk pasien dengan penyakit stadium awal yang telah menjalani pengobatan, pendidikan tentang kemungkinan kekambuhan harus diberikan.


Referensi:

  1. J.Ryan mark. 2019. Renal cell Carcinoma. Kimmel Cancer Centeer at thomas Jefferson University. MSD Manual
  2. American Cancer Society. 2020. Kidney Cancer Signs and Symptoms
  3. Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Pada Kanker Ginjal "