Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Osteoartritis Sdki Slki dan Siki

Osteoartritis adalah jenis penyakit sendi yang umum terjadi dan merupakan gangguan degeneratif dari kerusakan biokimia tulang rawan artikular hialin di sendi sinovial. Namun, pendapat terbaru menyatakan bahwa osteoartritis tidak hanya melibatkan tulang rawan artikular tetapi juga seluruh organ sendi, termasuk tulang subkondral dan sinovium. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan askep osteoartritis menggunakan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Tujuan

  • Memahami anatomi persendian dan proses penuaan terkait osteoartritis
  • Memahami epidemiologi, penyebab, serta tanda dan gejala osteoartritis
  • Memahami patofisiologi, diagnosis, dan terapi pasien osteoartritis
  • Merumuskan diagnosa keperawatan pada askep osteoartritis menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan Luaran dan kriteria hasil pada askep osteoartritis menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep osteoartritis menggunakan pendekata Siki


Askep Osteoartritis Sdki Slki dan Siki
Foto by BruceBlaus on wikimedia.org

Konsep Medik dan Askep Osteoartritis

Definisi

Osteoartritis adalah kelainan kronis yang menyebabkan kerusakan pada tulang rawan dan jaringan di sekitarnya dan ditandai dengan nyeri, kaku, dan hilangnya fungsi. Kejadian osteoartritis sangat umum terjadi sehubungan dengan proses penuaan.

Nyeri dan bengkak serta kekakuan terjadi setelah bangun atau tidak aktif dan menghilang dalam 30 menit, terutama jika sendi digerakkan. Diagnosis osteoartritis  ditegakan berdasarkan timbulnya  gejala dan hasil rontgen.

Osteoartritis terutama mengenai sendi yang menahan beban,antara lain lutut, pinggul, tulang belakang leher, lumbosakral, dan kaki. Sendi lain yang sering terkena antara lain distal interphalangeal (DIP), proximal interphalangeal (PIP), dan sendi carpometacarpal (CMC).

Definisi osteoartritis primer lebih samar. Meskipun bentuk osteoartritis ini terkait dengan proses penuaan dan biasanya terjadi pada individu yang lebih tua, dalam arti luas istilah ini merupakan fenomena idiopatik, yang terjadi pada sendi yang sebelumnya utuh dan tidak memiliki faktor pemicu yang jelas.

Anatomi Persendian

Dalam tinjauan anatomi, sendi dapat diklasifikasikan menurut istilah fungsional atau struktural. Klasifikasi fungsional adalah pengelompokan berdasarkan gerakan, dengan kategori antara lain:

  • Sinartrosis (tidak bergerak)
  • Amphiarthroses (sendi dengan rentang gerak kecil atau  sedikit)
  • Diarthroses ( Sendi yang bisa bisa bergerak bebas)

Sedangkan klasifikasi sendi secara  struktural adalah:

  • Sinovial
  • Fibrous
  • Kartilago

Sendi sinovial normal memungkinkan sejumlah besar gerakan di sepanjang permukaan artikular yang bersifat sangat halus. Sendi sinovial terdiri dari tulang rawan artikular, tulang subkondral, membran sinovial,  Cairan sinovial, dan kapsul sendi.

Permukaan artikular normal dari sendi sinovial tersusun dari tulang rawan artikular yang  terdiri dari kondrosit dan dikelilingi oleh matriks ekstraseluler yang mencakup berbagai makromolekul, terutama  proteoglikan dan kolagen.

Tulang rawan memfasilitasi fungsi sendi dan melindungi tulang subkondrial di bawahnya dengan mendistribusikan beban besar, mempertahankan tekanan kontak rendah, dan mengurangi gesekan pada sendi.

Cairan sinovial terbentuk melalui proses ultrafiltrasi serum oleh sel-sel yang membentuk membran sinovial (sinoviosit). Sel sinovial juga memproduksi asam hialuronat (HA), yang juga dikenal sebagai hialuronat, suatu glikosaminoglikan yang merupakan komponen nonseluler utama cairan sinovial.

Cairan sinovial memasok nutrisi ke tulang rawan artikular, juga memberikan viskositas yang dibutuhkan untuk menyerap kejutan dari gerakan baik lambat atupun cepat.

Epidemiologi

Osteoartritis mempengaruhi lebih dari 32 juta orang di Amerika Serikat. Berdasarkan kriteria radiografi untuk osteoartritis, lebih dari 50% orang dewasa yang berusia lebih dari 65 tahun terkena penyakit ini.

Secara internasional, osteoartritis adalah penyakit artikular yang paling umum, dengan perkiraan frekuensinya bervariasi di berbagai populasi.

Osteoartritis adalah gangguan umum pada orang tua dengan sekitar 80-90% individu yang berusia  lebih dari 65 tahun memiliki bukti radiografi osteoartritis primer.

Prevalensi penyakit ini meningkat secara dramatis di antara orang yang berusia lebih dari 50 tahun, kemungkinan karena perubahan terkait usia pada kolagen dan proteoglikan yang menurunkan kekuatan tarik tulang rawan sendi dan karena pasokan nutrisi yang berkurang ke tulang rawan.

Jika di tinjau berdasarkan jenis kelamin, prevalensi osteoartritis lebih tinggi pada wanita  dibandingkan pria saat berusia lebih dari 55 tahun.  Wanita sangat rentan terhadap osteoartritis pada sendi DIP jari. Wanita juga lebih sering menderita osteoartritis sendi lutut daripada pria, dengan rasio kejadian 1,7:1. Wanita juga lebih rentan terhadap osteoartritis erosif, dengan rasio wanita-pria sekitar 12:1.

Di tinjau dari aspek etnis,  prevalensi osteoartritis tercatat lebih umum di penduduk asli Amerika. Penyakit pinggul terlihat lebih jarang pada pasien Cina dari Hong Kong dibandingkan pada populasi kulit putih dengan usia yang sama. Namun, gejala osteoartritis lutut sangat umum di Cina.

Proses Penuaan dan Osteoartritis

Osteoartritis merupakan kejadian umum terkait dengan proses  penuaan. Seiring bertambahnya usia, beberapa hal berikut ini terjadi pada persendian:

  • Tulang rawan yang melapisi sendi cenderung makin menipis.
  • Permukaan sambungan sendi sudah mulai berubah.
  • Sendi sedikit lebih rentan terhadap cedera.

Kerusakan ligamen juga umum terjadi terkait proses penuaan.  Ligamen  yang mengikat persendian cenderung menjadi kurang elastis seiring bertambahnya usia. Hal ini  membuat persendian terasa tegang atau kaku.

Perubahan ini terjadi akibat perubahan kimiawi pada protein yang menyusun ligamen. Mengakibatkan penurunan fleksibilitas  seiring bertambahnya usia. Ligamen cenderung lebih mudah robek, dan saat robek  penyembuhannya lebih lambat.

Terkadang nyeri akibat osteoartritis tidak dapat dihilangkan dengan analgesik  biasa  seperti asetaminofen. Dibutuhkan analgesik yang lebih kuat seperti tramadol atau golongan opioid. Tetapi dokter hanya akan meresepkannya jika betul-betul diperlukan karena mempertimbangan efek samping dan kemungkinan kecanduan.

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang dioleskan ke kulit di atas sendi yang terkena mungkin merupakan pilihan yang lebih baik untuk orang tua. Lebih sedikit NSAID yang diserap dibandingkan jika diminum sehingga meminimalkan risiko efek samping.

Penyebab

Osteoartritis Primer

Penyebab Osteoartritis primer atau idiopatik sebagian besar  adalah karena proses penuaan alami sendi. Dengan bertambahnya usia, kadar air tulang rawan meningkat dan susunan protein tulang rawan mengalami penurunan sebagai fungsi proses biologis.

Tulang rawan mengalami degenerasi  dengan mengelupas atau membentuk celah-celah kecil. Pada osteoartritis lanjut, terjadi kehilangan total bantalan tulang rawan di antara sendi. Penggunaan berulang dari sendi yang aus selama bertahun-tahun dapat mengiritasi dan meradang menyebabkan nyeri sendi dan pembengkakan.

Peradangan tulang rawan juga dapat merangsang pertumbuhan tulang baru yang  disebut osteofit di sekitar persendian.

Osteoartritis kadang-kadang dapat berkembang pada beberapa anggota keluarga yang sama, menyiratkan dasar keturunan (genetik) untuk kondisi ini.

Oleh karena itu, Osteoartritis dirasakan sebagai hasil kombinasi dari masing-masing faktor di atas yang pada akhirnya menyebabkan penyempitan tulang rawan pada sendi yang terkena.

Osteoartritis Sekunder

Osteoartritis sekunder adalah salah satu bentuk osteoartritis yang disebabkan oleh penyakit atau kondisi lain. Kondisi yang dapat menjadi penyebab osteoartritis sekunder yaitu:

  • Trauma berulang atau pembedahan pada struktur sendi,
  • Kelainan sendi saat lahir (kelainan kongenital),
  • Hemochromatosis
  • Gangguan hormon lainnya.

Obesitas menyebabkan osteoartritis dengan meningkatkan tekanan mekanis pada sendi dan juga pada tulang rawan. Selain penuaan, obesitas merupakan faktor risiko paling signifikan untuk osteoartritis lutut.

Perkembangan awal osteoartritis lutut di kalangan atlet angkat besi diyakini sebagian karena berat badan mereka yang tinggi. Trauma berulang pada jaringan sendi (ligamen, tulang, dan tulang rawan) diyakini menyebabkan osteoartritis lutut dini pada pemain sepak bola dan personel militer.

Beberapa orang terlahir dengan bentuk sendi yang tidak normal (kelainan bawaan) yang rentan terhadap kerusakan mekanis, menyebabkan degenerasi dini dan hilangnya tulang rawan sendi.

Osteoartritis sendi panggul umumnya terkait dengan kelainan struktural sendi ini yang telah ada sejak lahir. Gangguan hormon, seperti diabetes dan gangguan hormon pertumbuhan, juga terkait dengan kerusakan tulang rawan dini dan osteoartritis sekunder.


Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala osteoartritis yang pertama adalah nyeri  pada persendian yang menahan beban, biasanya diperparah oleh aktivitas lain. Pada beberapa orang, persendian terasa  kaku setelah tidur atau diam tanpa gerakan beberapa saat, tetapi kekakuan biasanya mereda dalam 30 menit terutama jika persendian digerakkan.

Sendi lambat laun  menjadi sulit  digerakkan dan akhirnya mungkin tidak dapat sepenuhnya diluruskan atau ditekuk. Pertumbuhan baru tulang dan jaringan lain dapat memperbesar persendian. Permukaan tulang rawan yang tidak beraturan menyebabkan persendian kasar, berderak saat digerakkan, dan menimbulkan nyeri.

Pada beberapa persendian seperti lutut, ligamen yang mengelilingi dan menopang persendian meregang sehingga persendian menjadi tidak stabil. Pinggul atau lutut bisa menjadi kaku dan kehilangan rentang geraknya. Timbul nyeri saat menyentuh atau menggerakkan sendi terutama saat berdiri, menaiki tangga, atau berjalan.

Osteoartritis juga bisa menyerang tulang belakang. Gejala yang paling umum adalah nyeri punggung. Cakram atau persendian yang rusak di tulang belakang akan menyebabkan rasa sakit dan kekakuan ringan. Jika pertumbuhan tulang yang berlebihan menekan saraf,  dapat menyebabkan mati rasa, nyeri, dan kelemahan pada lengan atau tungkai.

Biasanya Osteoartritis  berkembang secara perlahan atau namun pada kasus tertentu  mungkin berkembang sangat cepat.

Patofisiologi

Osteoartritis primer dan sekunder tidak dapat dipisahkan secara patologis, meskipun simetri bilateral sering terlihat pada kasus osteoartritis primert terutama ketika mengenai  tangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peradangan terjadi ketika sitokin dan metaloproteinase dilepaskan ke dalam sendi. Agen-agen ini terlibat dalam degradasi matriks yang berlebihan dan menjadi ciri degenerasi tulang rawan pada osteoartritis.

Pada osteoartritis terjadi peningkatan kadar Interleukin-17 (IL-17) di sinovium sendi, seperti yang terlihat pada rheumatoid arthritis.  Molekul inflamasi lain yang telah dikaitkan dengan osteoartritis antara lain  asam 15-hydroxyeicosatetraenoic, prostaglandin E2, IL-1β, TNF alpha, antagonis reseptor IL-1,  dan asam urat.

Pada osteoartritis dini, pembengkakan tulang rawan biasanya terjadi, karena peningkatan sintesis proteoglikan. Hal ini mencerminkan upaya kondrosit untuk memperbaiki kerusakan tulang rawan. Namun sitokin proinflamasi mengakibatkan kerusakan metabolisme kondrosit.

Ketika osteoartritis berkembang, tingkat proteoglikan akhirnya turun sangat rendah menyebabkan tulang rawan melunak dan kehilangan elastisitas sehingga membahayakan integritas permukaan sendi.

Secara mikroskopis, pengelupasan dan fibrilasi celah vertikal berkembang di sepanjang tulang rawan artikular yang biasanya halus. Seiring waktu, hilangnya tulang rawan menyebabkan hilangnya ruang sendi.

Kehilangan ruang sendi yang lebih besar terjadi pada area yang mengalami beban tertinggi, terutama pada sendi penopang beban utama. Efek ini kontras dengan artritis inflamasi, di mana penyempitan ruang sendi terjadi secara merata.

Dalam lutut osteoarthritic, misalnya, hilangnya terbesar dari ruang sendi biasanya terlihat di kompartemen femorotibial medial, meskipun kompartemen femorotibial lateral dan kompartemen patellofemoral juga dapat terpengaruh.

Erosi tulang rawan yang rusak pada sendi osteoartritis berlanjut sampai tulang di bawahnya terbuka. Tulang yang kehilangan tulang rawan pelindungnya terus berartikulasi dengan permukaan yang berlawanan.

Akhirnya, peningkatan tekanan melebihi kekuatan luluh biomekanik tulang. Tulang subkondral merespon dengan invasi vaskular dan peningkatan selularitas, menjadi menebal dan padat, proses yang dikenal sebagai eburnasi di daerah tekanan.

Tulang subkondral yang mengalami trauma juga dapat mengalami degenerasi kistik, yang disebabkan oleh nekrosis tulang sekunder akibat impaksi kronis atau intrusi cairan sinovial.

Kista osteoartritis juga disebut sebagai kista subkondral, pseudokista, atau geodes istilah Eropa yang lebih disukai dan diameternya dapat berkisar antara 2 hingga 20 mm..

Pada daerah sepanjang tepi artikular, vaskularisasi sumsum subkondral, metaplasia tulang dari jaringan ikat sinovial dan penonjolan tulang rawan yang mengeras menyebabkan pertumbuhan tulang baru yang tidak teratur (osteofit).

Seiring dengan kerusakan sendi, osteoartritis juga dapat menyebabkan perubahan patofisiologi pada ligamen terkait dan aparatus neuromuskular. Misalnya, kelainan kompleks ligamen kolateral lateral sering terjadi pada osteoartritis lutut.

Diagnosis

Diagnosis osteoartritis didasarkan pada  gejala yang khas, pemeriksaan fisik, tes darah, dan munculnya perubahan sendi seperti pembesaran tulang dan penyempitan ruang sendi pada foto rontgen.

Pencitraan resonansi magnetik (MRI) dapat mengungkapkan perubahan awal pada tulang rawan, tetapi jarang diperlukan untuk diagnosis.

Tidak ada tes darah untuk mendiagnosis osteoartritis, tetapi tes darah tertentu dapat membantu menyingkirkan kelainan lain seperti rheumatoid arthritis.

Cairan diperiksa untuk membedakan osteoartritis dari kelainan sendi lain seperti infeksi dan asam urat.

Terapi Osteoartritis

Tujuan utama terapi osteoartritis adalah untuk:

  • Meredakan nyeri
  • Pertahankan fleksibilitas sendi
  • Mengoptimalkan fungsi sendi dan keseluruhan

Terapi Non Farmakologis

Tujuan terapi osteoartritis ini dicapai dengan terapi fisik seperti latihan untuk kekuatan, kelenturan, daya tahan dan rehabilitasi. Pasian akan diajari bagaimana memodifikasi aktivitas sehari-hari, dan pemberian perawatan tambahan seperti obat-obatan dan pembedahan.

Tindakan tambahan lainnya dapat membantu meredakan nyeri dan membantu penyesuaian pola hidup antara lain :

  • Terapi fisik dengan terapi panas, seperti bantalan pemanas dan terapi okupasi.
  • Latihan rentang gerak yang dilakukan dengan lembut di air hangat sangat membantu karena panas meningkatkan fungsi otot dengan mengurangi kekakuan dan kejang otot.
  • Sepatu ortotik atau sepatu atletik dapat membantu mengurangi nyeri akibat berjalan.
  • Peralatan khusus misalnya tongkat, kruk, alat bantu jalan, kerah leher, penopang lutut elastis untuk melindungi sendi.
  • Program Penurunan berat badan dapat mengurangi tekanan pada persendian.
  • Stimulasi listrik, seperti stimulasi saraf listrik transkutan (TENS), dapat membantu meredakan nyeri.
  • Akupunktur
  • Pijat oleh terapis terlatih dan perawatan panas dengan diatermi atau ultrasonografi mungkin berguna.

Terapi Farmakologis

Terapi osteoartritis dengan obat-obatan digunakan untuk melengkapi terapi fisik. Obat-obatan yang dapat digunakan dalam kombinasi atau secara tunggal digunakan untuk mengurangi gejala dan dengan demikian memungkinkan aktivitas sehari-hari yang lebih normal.

Pereda nyeri sederhana asetaminofen dapat digunakan sebelum aktivitas yang menyebabkan ketidaknyamanan atau digunakan secara teratur untuk meredakan ketidaknyamanan sendi yang lebih konstan. Kadang-kadang dibutuhkan  analgesik yang lebih kuat, seperti tramadol atau opioid.

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) juga dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan. NSAID mengurangi rasa sakit dan peradangan pada persendian dan dapat digunakan dalam kombinasi dengan analgesik lainnya.

NSAID juga tersedia dalam bentuk  gel dan krim yang dapat dioleskan ke kulit seperti gel diklofenak 1% dapat membantu meredakan gejala. Namun, NSAID memiliki risiko efek samping serius yang lebih tinggi daripada asetaminofen bila digunakan dalam jangka panjang.

Relaksan otot dalam dosis rendah bisa meredakan nyeri yang disebabkan oleh otot yang tegang untuk menopang sendi yang terkena osteoartritis.

Jika sendi tiba-tiba meradang, bengkak, dan nyeri, sebagian besar cairan di dalam sendi mungkin perlu dikeluarkan dan bentuk khusus kortison dapat disuntikkan langsung ke dalam sendi. Perawatan ini dapat meredakan nyeri sementara dan meningkatkan fleksibilitas sendi pada beberapa orang.

Beberapa suplemen seperti glukosamin sulfat dan kondroitin sulfat bermanfaat dalam membantu  mengobati osteoartritis.

Operasi

Perawatan bedah dapat membantu jika semua perawatan lain gagal untuk menghilangkan rasa sakit atau meningkatkan fungsi. Beberapa sendi seperti pinggul dan lutut, dapat diganti dengan sendi buatan.

Asuhan Keperawatan

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Sdki Slki Siki

1. Nyeri kronis b/d kondisi muskuloskeletal kronis (D.0078)

Luaran: Tingkat Nyeri menurun (L.08066)

  • Keluhan nyeri menurun
  • Merigis menurun
  • Sikap protektif menurun
  • Gelisah dan kesulitan tidur menurun
  • Anoreksia, mual, muntah menurun
  • Ketegangan otot dan pupil dilatasi menurun
  • Pola napas dan tekanan darah membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Manajemen Nyeri (I.08238)

  • Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
  • Identifikasi skala nyeri
  • Identifikasi respon nyeri non verbal
  • Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
  • Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
  • Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
  • Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
  • Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
  • Monitor efek samping penggunaan analgetik
  • Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
  • Control lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
  • Fasilitasi istirahat dan tidur
  • Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
  • Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
  • Jelaskan strategi meredakan nyeri
  • Anjurkan memonitor nyri secara mandiri
  • Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
  • Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
  • Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

b. Perawatan Kenyamanan (I.08245)

  • Identifikasi gejala yang tidak menyenangkan
  • Identifikasi pemahaman tentang kondisi, situasi dan perasaannya
  • Identifikasi masalah emosional dan spiritual
  • Berikan posiis yang nyaman
  • Berikan kompres dingin atau hangat
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman
  • Berikan pemijatan
  • Berikan terapi akupresur
  • Berikan terapi hipnotis
  • Dukung keluarga dan pengasuh terlibat dalam terapi
  • Diskusikan mengenai situasi dan pilihan terapi
  • Jelaskna mnegenai kondisi dan pilihan terapi/ pengobatan
  • Ajarkan terapi relaksasi
  • Ajarkan latihan pernafasan
  • Ajarkan tehnik distraksi dan imajinasi terbimbing
  • Kolaborsi pemberian analgesic, antipruritis, anthihistamin, jika perlu

2. Gangguan Mobilitas Fisik b/d Nyeri dan kekakuan sendi (D.0054)

Luaran: Mobilitas Fisik meningkat (L.05042)

  • Pergerakan ekstremitas meningkat
  • Kekuatan Otot Meningkat
  • Rentang Gerak (ROM) meningkat
  • Gerakan tidak terkoordinasi menurun
  • Gerakan Terbatas menurun
  • Kelemahan Fisik Menurun

Intervensi Keperawatan: Dukungan Ambulasi (I.06171)

  • Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
  • Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
  • Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai ambulasi
  • Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
  • Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu Seperti tongkat, dan kruk.
  • Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika perlu
  • Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi
  • Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
  • Anjurkan melakukan ambulasi dini
  • Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan Seperti  berjalan dari tempat tidur ke kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi, sesuai toleransi.

3. Gangguan Citra Tubuh b/d perubahan fungsi tubuh (D.0083)

Luaran: Harapan Meningkat (L.09068)

  • Keterlibatan dalam aktivitas perawatan meningkat
  • Selera makan meningkat
  • Inisiatif meningkat
  • Minat komunikasi verbal meningkat
  • Verbalisasi keputuasaan menurun
  • Perilaku pasif menurun
  • Afek datar menurun
  • Pola tidur membaik

Intervensi Keperawatan: Promosi Citra Tubuh (I.09305)

  • Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan
  • Identifikasi budaya, agama, jenis kelamin, dan umur terkait citra tubuh
  • Identifikasi perubahan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi sosial
  • Monitor frekuensi pernyataan kritik tehadap diri sendiri
  • Monitor apakah pasien bisa melihat bagian tubuh yang berubah
  • Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya
  • Diskusikan perbedaan penampilan fisik terhadap harga diri
  • Diskusikan kondisi stres yang mempengaruhi citra tubuh (mis.luka, penyakit, pembedahan)
  • Diskusikan cara mengembangkan harapan citra tubuh secara realistis
  • Diskusikan persepsi pasien dan keluarga tentang perubahan citra tubuh
  • Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan citra tubuh
  • Anjurkan mengungkapkan gambaran diri terhadap citra tubuh
  • Anjurkan menggunakan alat bantu
  • Latih fungsi tubuh yang dimiliki
  • Latih peningkatan penampilan diri (mis. berdandan)
  • Latih pengungkapan kemampuan diri kepada orang lain maupun kelompok

4. Resiko cedera (D.0136)

Luaran: Tingkat Cedera menurun (L.14136)

  • Toleransi aktivitas meningkat
  • Nafsu dan toleransi makanan meningkat
  • Kejadian cedera menurun
  • Luka lecet dan perdarahan menurun
  • Ekspresi wajah kesakitan menurun
  • Agitasi dan iratibilitas menurun
  • Gangguan mobilitas dan kognitif menurun
  • Tekanan darah, nadi, frekwensi nafas, dan denyut jantung membaik
  • Pola Istirahat tidur membaik

Intervensi Keperawatan

a. Manajemen Keselamatan Lingkungan

  • Identifikasi kebutuhan keselamatan
  • Monitor perubahan status keselamatan lingkungan
  • Hilangkan bahaya keselamatan, Jika memungkinkan
  • Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan risiko
  • Sediakan alat bantu kemanan linkungan (mis. Pegangan tangan)
  • Gunakan perangkat pelindung (mis. Rel samping, pintu terkunci, pagar)
  • Ajarkan individu, keluarga dan kelompok risiko tinggi bahaya lingkungan

b. Pencegahan Cidera

  • Identifikasi obat yang berpotensi menyebabkan cidera
  • Identifikasi kesesuaian alas kaki atau stoking elastis pada ekstremitas bawah
  • Sediakan pencahayaan yang memadai
  • Sosialisasikan pasien dan keluarga dengan lingkungan rawat inap
  • Sediakan alas kaki antislip
  • Sediakan urinal atau urinal untk eliminasi di dekat tempat tidur, Jika perlu
  • Pastikan barang-barang pribadi mudah dijangkau
  • Tingkatkan frekuensi observasi dan pengawasan pasien, sesuai kebutuhan
  • Jelaskan alasan intervensi pencegahan jatuh ke pasien dan keluarga
  • Anjurkan berganti posisi secara perlahan dan duduk beberapa menit sebelum berdiri

Referensi:

  1. Apostolos Kontzias. 2020. Osteoarthritis (OA). Degenerative Joint Disease. Stony Brook University School of Medicine. MSD Manual
  2. InformedHealth.org  2018. Osteoarthritis: Overview. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279589/
  3. William C Shiel.Jr. 2021. Osteoarthritis (OA) or Degenerative Arthritis. Medicine Net. https://www.medicinenet.com/osteoarthritis/article.htm
  4. David Zelman. 2020. The Basic Of Osteoarthritis. Web MD. https://www.webmd.com/osteoarthritis/ guide/osteoarthritis-basics
  5. Carlos J Lozada. 2020. Osteoarthritis. Med Scape. https://emedicine.medscape.com/article/330487-overview
  6. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  8. PPNI, 2019.  Standart  Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Ns. Zul Hendry, M.Kep
Ns. Zul Hendry, M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram