Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Konsep Dasar Askep Gerontik

Secara sederhana, Askep gerontik merupakan proses dan koordinasi perawatan lansia dengan gangguan fisik dan atau mental untuk memenuhi kebutuhan, meningkatkan kualitas hidup, dan mempertahankan kemandirian mereka selama mungkin. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangakum mengenai konsep dasar Askep Gerontik mulai dari definisi, gambaran umum, level, pengaturan perawatan, prinsip, metode pelayanan keperawatan, sampai koordinasi tim baik internal keperawatan dan dengan profesi lainnya.

Tujuan

  • Memahami Definisi dan gambaran umum askep Gerontik
  • Memahami pengaturan pelayanan keperawatan dalam askep gerontik
  • Memahami prinsip pemberian asuhan keperawatan dalam askep gerontik
  • Memahami jenis asuhan keperawatan dalam askep gerontik
  • Memahami koordinasi tim dan kolaborasi pemberia asuhan keperawatan dalam askep gerontik
  • Memahami level dan peran perawat dalam askep gerontik
Konsep Dasar Askep Gerontik
Photo by form PxHere

Konsep Dasar Askep Gerontik

Pendahuluan

Profesi keperawatan memiliki sejarah panjang dalam memberikan asuhan keperawatan kepada lansia baik dalam keadaan sehat atau sakit. Awalnya, askep gerontik  berfokus pada perawatan fisik, tindakan kenyamanan dan paliatif.

Askep gerontik diberikan hampir seluruhnya oleh perawat dan asisten keperawatan di panti jompo atau di rumah pasien. Seiring peningkatan ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik dan harapan masyarakat, ruang lingkup jenis layanan keperawatan gerontik dan kualitas asuhan keperawatan juga berubah.

Penetapan standar formal pertama untuk asuhan keperawatan untuk lansia diadopsi pada tahun 1970 oleh American Nurses Association (ANA), merupakan inisiatif penting bagi perawat geriatri.

Karena standar praktik keperawatan selalu ditinjau dan dimodifikasi dari waktu ke waktu, perawatan yang berpusat pada pasien, partisipasi keluarga dan layanan keperawatan yang terkait dengan pencegahan penyakit dan kecacatan serta promosi kesehatan untuk lansia diartikulasikan secara lebih eksplisit sebagai komponen utama praktik keperawatan geriatri.

Saat ini, istilah askep gerontik merujuk pada  perawatan klinis khusus untuk masalah kesehatanlansia di berbagai tingkat pelayanan perawatan pasien interdisipliner. Perawat yang berpraktik di bidang ini dikenal sebagai praktisi perawat gerontologi atau spesialis perawat  klinis gerontologi.

Askep gerontik mengintegrasikan perawatan kesehatan dan perawatan psikologis dengan layanan lain yang diperlukan seperti layanan perawatan di rumah, layanan nutrisi, bantuan aktivitas hidup sehari-hari, program sosialisasi, serta perencanaan keuangan dan hukum. Hal ini dikarenakan lansia cenderung memiliki banyak gangguan dan mungkin memiliki masalah sosial atau fungsional. 

Rencana perawatan askep gerontik yang disesuaikan untuk keadaan tertentu disiapkan setelah pengkajian komprehensif dilakukan, terus dipantau dan dimodifikasi sesuai kebutuhan. Pengkajian askep gerontik yang komprehensif dilakukan secara menyeluruh dengan pasien dan anggota keluarga.

Pengkajian askep gerontik yang komprehensif mencakup data demografis, riwayat kesehatan, riwayat biopsikososial, dan riwayat lainnya. Hal ini juga mencakup penilaian profil penggunaan obat, penilaian ADL (Aktivitas Kehidupan Sehari-hari) dan IADL (Aktivitas Instrumen Kehidupan Sehari-hari).

Selain itu, pengkajian juga  mencakup Penilaian risiko jatuh, pengkajian keamanan rumah, pengkajian nutrisi, penilaian depresi, nyeri, Mini Mental State (MMSE), Penilaian Kognitif, penilaian keseimbangan, dan penilaian gaya berjalan.

Pemeriksaan fisik mencakup pencatatan tanda vital suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah, saturasi oksigen, dan Gula Darah pada penderita diabetes melitus. Selain itu, penilaian fisik di berbagai bidang seperti kardiopulmoner, gastrointestinal, muskuloskeletal, saraf,  genitourinari, mata, THT, integumen (kulit), inspeksi ekstremitas bawah, serta penilaian kepatuhan pengobatan.

Definisi

Askep gerontik, juga dikenal sebagai perawatan lanjut usia adalah pemenuhan kebutuhan dan persyaratan khusus yang unik bagi individu lanjut usia. Istilah luas ini mencakup layanan seperti bantuan hidup, perawatan jangka panjang, perawatan residensial, perawatan rumah sakit, dan perawatan di rumah.

Geriatri adalah cabang ilmu yang berfokus pada perawatan kesehatan lansia, bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, mencegah, mengobati penyakit dan kecacatan pada lansia.

Keperawatan gerontik adalah spesialisasi keperawatan yang berkaitan dengan lanisa. Perawat gerontik bekerja sama dengan lansia, keluarga, dan komunitas untuk mendukung proses penuaan yang sehat, fungsi maksimal, dan kualitas hidup.

Manajemen perawatan geriatri  adalah proses perencanaan dan koordinasi perawatan lansia baik dengan kondisi sehat atau  gangguan fisik atau mental untuk memenuhi kebutuhan mereka. Perawatan dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup dan mempertahankan kemandirian mereka selama mungkin.

Askep gerontik akan maksimal jika bisa dilaksanakan bekerjas sama dengan keluarga dalam mengelola, memberikan, dan merujuk ke berbagai jenis layanan perawatan kesehatan dan sosial. Pelaksanaan askep gerontik juga membutuhkan pengetahuan kerja tentang kesehatan dan psikologi, perkembangan manusia, dinamika keluarga, sumber daya publik dan swasta serta sumber pendanaan, sambil mengadvokasi klien mereka di seluruh rangkaian perawatan.

Tempat Pelaksanaan Askep Gerontik

Askep gerontik dapat diberikan pada berbagai tempat dan ruang lingkup, antara lain:

  • Fasilitas rawat Jalan: Alasan paling umum untuk kunjungan adalah diagnosis rutin dan manajemen masalah akut dan kronis, promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, dan evaluasi pra bedah atau pasca bedah.
  • Rumah pasien: Perawatan di rumah paling sering dilaksanakan setelah keluar dari rumah sakit, tetapi rawat inap bukanlah prasyarat.Semakin banyak praktisi perawatan kesehatan memberikan perawatan untuk masalah akut dan kronis dan kadang-kadang perawatan akhir di rumah pasien.
  • Fasilitas perawatan jangka panjang: Fasilitas ini mencakup fasilitas untuk lansia yang membutuhkan bantuan, panti jompo, dan komunitas perawatan lansia. Apakah pasien memerlukan perawatan di fasilitas perawatan jangka panjang sebagian tergantung pada keinginan dan kebutuhan pasien serta pada kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pasien.
  • Fasilitas penitipan: Fasilitas ini menyediakan layanan medis, rehabilitatif, kognitif, dan sosial beberapa jam sehari selama beberapa hari dalam seminggu.
  • Rumah Sakit: Hanya pasien lanjut usia yang sakit yang harus dirawat di rumah sakit. Rawat inap itu sendiri menimbulkan risiko bagi pasien usia lanjut karena imobilitas,prosedur  pemeriksaan diagnostik, dan tindakan perawatan yang lain.
  • Hospice: Hospice menyediakan perawatan untuk pasien dalam kondisi terminal. Tujuannya adalah untuk meringankan gejala dan membuat orang tetap nyaman. Perawatan hospice dapat diberikan di rumah, panti jompo, atau fasilitas rawat inap.
  • Komunitas Senior: Perumahan lansia dirancang untuk lansia yang produktif, didefinisikan sebagai mereka yang tidak memerlukan bantuan dalam pemenuhan ADL. Komunitas senior biasanya lingkungan atau kota seperti di Sun City, yang terbatas pada orang-orang dengan usia minimum. Komunias ini dirancang untuk lansia yang aktif dan memiliki berbagai klub sosial seperti golf, seni dan kerajinan tangan, dan lain-lain.
  • Perawatan Berkelanjutan: fasilitas perawatan lanjutan menawarkan berbagai pilihan, mulai dari hidup mandiri hingga perawatan khusus. Lansia biasanya diterima ketika mereka masih bisa hidup mandiri. Ketika kebutuhan mereka meningkat, mereka disediakan di tingkat perawatan  sesuai kebutuhan.
  • Perawatan rehabilitasi: Terletak di rumah sakit atau panti jompo, program perawatan rehabilitasi kadang-kadang disebut perawatan transisi. Mereka memberikan perawatan medis intensif untuk pasien yang diharapkan untuk mendapatkan kembali kapasitas fungsional dan kembali ke rumah dalam waktu yang relatif singkat.
  • Perawatan khusus: Terdapat dua jenis fasilitas perawatan khusus, yaitu fasilitas yang menangani masalah medis yang unik, dan fasilitas yang menangani masalah perilaku yang mungkin timbul dari demensia.

Pelaksana Asuhan Keperawatan

Untuk memastikan pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan yang sesuai standar, diperlukan kepemimpinan dan akuntabilitas yang berkelanjutan. Perawat profesional bertindak atas tanggung jawab ini di unit perawatan akut, klinik perawatan rawat jalan, fasilitas perawatan jangka panjang, perawatan rumah dan tempat lain di mana kebutuhan perawatan geriatri dapat dipenuhi.

Setidaknya tiga jenis keahlian keperawatan yang berbeda, menggunakan tingkat pemikiran kritis dan keterampilan pengambilan keputusan klinis yang berbeda, tersedia bagi pasien lansi untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan mereka.

Perawat terdaftar yang memiliki keterampilan klinis, teknis, dan humanistik sehingga dapat memperkuat dan mendukung proses biopsikososial pemulihan, rehabilitasi, penyembuhan, pencegahan penyakit dan kecacatan, serta kematian secara bermartabat.

Perawat ini berfungsi melaksanakan askep gerontik dalam pengaturan perawatan akut, fasilitas perawatan terampil, pemberian asuhan keperawatan di rumah dan rumah sakit, serta praktik dalam jumlah yang lebih kecil di klinik perawatan rawat jalan.

Perawat spesialis klinis gerontologi memiliki keahlian dalam menangani masalah asuhan keperawatan yang kompleks dan memanfaatkan keterampilan lanjutan mereka dalam perawatan klinis langsung, analisis kritis dan pengambilan keputusan, pengajaran, konseling, dan koordinasi serta tindak lanjut rencana perawatan interdisipliner.

Perawat spesialis klinis berpraktik dalam pengaturan perawatan akut dan jangka panjang serta mungkin menjadi konsultan untuk klinik komunitas dan program perawatan geriatri berbasis rumah. Mereka juga memiliki peran dalam kepemimpinan organisasi, penelitian, evaluasi hasil program dan koordinasi kegiatan peningkatan kualitas.

Praktisi perawat gerontologi memiliki keahlian dalam melakukan pemeriksaan dan penilaian fisik yang komprehensif, menafsirkan pengujian laboratorium dan diagnostik, diagnosis medis diferensial, dan mengembangkan rencana manajemen farmakologis dan nonfarmakologis, serta evaluasi hasil untuk masalah medis, dalam kemitraan dengan anggota tim lainnya .

Proses Keperawatan

Proses keperawatan pada pelaksanaan askep gerontik memandu perawat untuk mengindividualisasikan, mengontekstualisasikan, dan memprioritaskan area masalah. Langkah-langkah tersebut terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, intervensi dan evaluasi.

Pengkajian

Data biopsikososial tentang pasien geriatri dikumpulkan melalui wawancara, tinjauan catatan, pengamatan langsung dan pendekatan lain, jika waktu memungkinkan, membangun gambaran gabungan dari kebutuhan antara pasien geriatri dan pengasuh informal. Skala Ketergantungan Perawatan bisa menjadi acuan kerangka kerja untuk menilai kebutuhan perawatan pasien untuk asuhan keperawatan.

Diagnosis

Data dari pengkajian keperawatan diperlukan untuk mengidentifikasi masalah dalam urutan signifikansi klinis pada waktu tertentu dan sesuai dengan kebutuhan mendesak akan intervensi keperawatan.

Informasi tersebut dapat mencakup data umum dan khusus tentang masalah yang muncul seperti yang didefinisikan oleh pasien, diagnosis medis, perawatan medis yang ditentukan, status fungsi fisik dan mental, sumber daya kesehatan alternatif, tujuan dan harapan pasien, risiko keselamatan, perawatan diri, kemampuan untuk pemulihan, termasuk kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari, dan informasi lain yang dianggap relevan secara klinis oleh perawat dengan kasus atau situasi.

Mengidentifikasi diagnosis keperawatan dan memprioritaskan area masalah ini adalah hasil proses utama yang diinginkan.

Sejak 1973, NANDA terus mengembangkan taksonomi diagnosis keperawatan, dan saat ini terdapat sekitar 130 klasifikasi masalah perawatan pasien yang disetujui dalam sembilan kategori.

Pada tahun 1987, Center for Nursing Classification and Clinical Effectiveness di College of Nursing, University of Iowa (USA) mengembangkan taksonomi untuk mengklasifikasikan dan mengatur intervensi keperawatan dan hasil keperawatan melalui penggunaan Nursing Intervention Classification (NIC).Diikuti oleh pengembangan sistem pengkodean Nursing Outcomes Classification (NOC) pada tahun 1992.

Kode NIC/NOC terkait dengan diagnosis NANDA dan berfungsi untuk mendokumentasikan efektivitas intervensi dan hasil keperawatan. Penyempurnaan sistem klasifikasi NIC/NOC telah berlangsung. Penggunaan taksonomi keperawatan memfasilitasi pengambilan data keperawatan yang berguna untuk evaluasi, peningkatan kualitas dan kegiatan penelitian.

Perencanaan

Rencana asuhan keperawatan menggabungkan intervensi keperawatan khusus dan kegiatan untuk menangani diagnosis keperawatan spesifik atau menangani area masalah seperti perubahan asupan makanan, gangguan kapasitas untuk perawatan pribadi, risiko cedera karena kelemahan umum dan demensia ringan, kesedihan yang tidak berhubungan dengan kesehatan, serta masalah dan kebutuhan lain dari pasien geriatri.

Termasuk dalam rencana adalah tindakan keperawatan untuk menjamin kelangsungan semua tindakan medis yang ditentukan dan modalitas intervensi lain untuk pasien geriatri. Penilaian klinis adalah keterampilan keperawatan yang penting dalam proses ini karena memungkinkan identifikasi diagnosis keperawatan yang akurat.

Implementasi

Proses implementasi memanfaatkan upaya kolektif anggota staf keperawatan, termasuk tenaga keperawatan pembantu, dan mengarahkan mereka agar rencana asuhan keperawatan dapat dilaksanakan. Pendekatan yang aman dan penuh kasih yang sesuai secara klinis dan teknis digunakan untuk mencapai hasil klinis yang diinginkan.

Tindakan keperawatan dapat mencakup kegiatan seperti memeriksa tanda-tanda vital, mengubah posisi pasien lanjut usia yang tidak dapat bergerak, mengorientasikan lansia dengan defisit memori terhadap waktu, tempat dan aktivitas, mewawancarai pengasuh keluarga sebelum perawatan di rumah, berkonsultasi dengan profesional kesehatan lainnya, mengadvokasi penatua untuk mendapatkan sumber daya komunitas lokal, dan tindakan lain yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah keperawatan atau mengurangi dampak diagnosis keperawatan.

Evaluasi

Respons fisik, verbal dan perilaku pasien, laporan pengasuh informal, dan pengamatan oleh penyedia layanan kesehatan dari disiplin lain adalah aspek penting dari mekanisme umpan balik yang membantu staf perawat untuk mempertahankan rencana perawatan yang dinamis dan fleksibel.

Analisis kritis dari informasi yang diperoleh saat intervensi keperawatan sedang berlangsung dapat digunakan untuk memodifikasi intervensi keperawatan, mengarahkan kembali partisipasi pasien dan keluarga dalam rencana perawatan dan manajemen secara keseluruhan, memeriksa kembali pemahaman tim perawatan kesehatan tentang masalah klinis, menentukan manfaat biaya, menyelaraskan kembali kepemimpinan dan dukungan  standar mutu pelayanan pasien.

Fokus Intervensi Keperawatan Dalam Askep Gerontik

Intervensi keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keselamatan fisik pasien, menurunkan ansietas dan agitasi, meningkatkan komunikasi, meningkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri, memenuhi kebutuhan pasien akan sosialisasi, harga diri, dan keintiman, mempertahankan nutrisi yang cukup, mengelola gangguan pola tidur, dan mendukung dan mendidik pemberi perawatan keluarga.

Mendukung fungsi kognitif

Saat kemampuan kognitif pasien menurun, perawat menyediakan lingkungan tenang yang dapat diprediksi yang membantu lansia menginterpretasikan lingkungan dan aktivitasnya.

Membatasi stimulasi lingkungan dan mengikuti rutinitas yang teratur, Cara berbicara yang tenang dan menyenangkan, penjelasan yang jelas dan sederhana, serta penggunaan alat bantu memori akan  membantu meminimalkan kebingungan dan disorientasi serta memberikan pasien rasa aman.

Penggunaan Jam dan kalender yang ditampilkan dengan jelas dapat meningkatkan orientasi waktu. Kode warna pintu dapat membantu pasien yang kesulitan menemukan kamarnya.

Partisipasi aktif dapat membantu pasien untuk mempertahankan kemampuan interaksi kognitif, fungsional dan sosial untuk waktu yang lebih lama. Aktivitas fisik dan komunikasi juga telah ditunjukkan untuk memperlambat beberapa penurunan kognitif.

Meminimalisir Resiko Cedera

Lingkungan yang aman memungkinkan pasien untuk bergerak sebebas mungkin dan mengurangi kekhawatiran keluarga tentang keselamatan. Untuk mencegah jatuh dan cedera lainnya, semua hal yang beresiko bahaya harus dihilangkan.

Lingkungan bebas bahaya memungkinkan pasien mandiri secara maksimal dan rasa otonomi. Karena rentang perhatian yang pendek dan pelupa, perilaku bertanya-tanya sering kali dapat dikurangi dengan membujuk atau mengalihkan perhatian pasien dengan lembut.

Pengekangan harus dihindari karena dapat meningkatkan agitasi. Di luar rumah, semua aktivitas harus diawasi untuk melindungi pasien, dan pasien harus mengenakan gelang pengenal jika dia terpisah dari perawat.

Mengurangi kecemasan dan agitasi

Meskipun kehilangan kognitif yang mendalam, pasien kadang-kadang menyadari kemampuannya yang berkurang dengan cepat. Pasien membutuhkan dukungan emosional untuk memperkuat citra diri yang positif.

Ketika kehilangan keterampilan terjadi, tujuan disesuaikan agar sesuai dengan kemampuan pasien yang menurun. Lingkungan harus dijaga tetap rapi, akrab, dan bebas kebisingan.

Kegembiraan dan kebingungan dapat mengganggu dan dapat memicu tindakan agresif, keadaan gelisah yang dikenal sebagai reaksi katastropik atau reaksi berlebihan terhadap rangsangan. Selama reaksi seperti itu, pasien bisa merespon dengan berteriak, menangis atau menjadi kasar secara fisik atau verbal.

Ini mungkin merupakan satu-satunya cara pasien mengekspresikan ketidakmampuan untuk mengatasi lingkungan. Ketika ini terjadi, penting untuk perawat agar tetap tenang dan tidak tergesa-gesa.

Tindakan seperti mendengarkan musik, mengayunkan atau mengalihkan perhatian mungkin cukup untuk menenangkan. Respons yang diprediksi pasien terhadap stresor tertentu membantu pemberi perawatan untuk menghindari situasi serupa.

Pada saat lansia dengan demensia yang telah berkembang ke tahap akhir penyakit, mereka biasanya tinggal di panti jompo dan sebagian besar dirawat oleh bantuan perawat. Pemahaman mengenai askep demensia untuk perawat sangat penting dalam meminimalkan agitasi pasien dan sangat efektif.

Meningkatkan komunikasi

Dalam komunikasi dengan lansia, penggunaan kalimat yang jelas dan mudah dipahami untuk menyampaikan pesan sangat penting karena pasien sering lupa arti kata atau mengalami kesulitan mengatur dan mengekspresikan pikiran.

Pada tahap awal, daftar dan instruksi tertulis sederhana dapat membantu. Pada tahap selanjutnya, pasien mungkin dapat menunjukkan objek atau menggunakan bahasa non-verbal untuk berkomunikasi. Rangsangan taktil seperti rangkulan dan tepukan tangan biasanya diartikan sebagai tanda kasih sayang, perhatian, dan keamanan.

Pemenuhan kebutuhan sosialisasi

Dalam askep gerontik, sosialisasi dengan teman dan keluarga dapat menenangkan. Kunjungan, surat, dan panggilan telepon dianjurkan. Kunjungan harus singkat dan tidak membuat stres, membatasi pengunjung untuk satu atau dua sekaligus membantu mengurangi stimulasi berlebihan.

Rekreasi juga penting dan lansia didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sederhana. Hobi dan aktivitas seperti berjalan, berolahraga, dan bersosialisasi dapat meningkatkan kualitas hidup.

Lansia dengan pasangannya dapat melanjutkan aktivitas dan keintimannya. Mereka harus didorong untuk berbicara mengenai masalah apa pun. Ungkapan cinta yang sederhana seperti memegang, menyentuh seringkali sangat bermakna.

Memberikan nutrisi yang cukup

Waktu makan dapat menjadi acara sosial yang menyenangkan dan harus tetap sederhana, tenang tanpa konfrontasi. Lansia lebih suka makanan yang menggugah selera dan rasanya enak. Sajikan hidangan satu per satu, makanan dipotong kecil-kecil untuk menghindari tersedak.

Aktivitas dan istirahat yang seimbang

Banyak lansia mengeluh dengan gangguan tidur, perawat harus mengidentifikasi kebutuhan pasien yang menunjukkan perilaku ini karena penurunan kesehatan lebih lanjut dapat terjadi jika ini tidak diperbaiki.


Referensi:

Brenda L Hage. 2016. Gerontological and Geriatric Nursing. Musculoskeletal Key. https://musculoskeletalkey.com/gerontological-and-geriatric-nursing/

Kramer AM, Fox PD, Morgenstern N. 1992. Geriatric care approaches in health maintenance organizations. J Am Geriatr Soc. Oct;40(10):1055-67. doi: 10.1111/j.1532-5415.1992.tb04486.x. PMID: 1401681.

Paul Martin RN. 2022. Geriatric Nursing Care Plans. Nurses Labs. https://nurseslabs.com/geriatric-nursing-care-plans/

T Malathi. 2017. Geriatric Care Nursing. Odisha State Open University. Sambalpur: Sri Mandir Punlication, Sahid Nagar, Bhubaneswar.

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat

Posting Komentar untuk "Konsep Dasar Askep Gerontik"