Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Bronkitis Sdki Slki Siki

Bronkitis merupakan penyakit saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan bronkus dan mengakibatkan batuk serta produksi sputum. Peradangan ini bisa bersifat akut, biasanya akibat infeksi virus atau menjadi kronis. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep penyakit dan Askep Bronkitis dengan menggunakan pendekatan Sdki Slki Siki.

Tujuan

  • Memahami gambaran umum, epidemiologi, penyebab, patofisiologi, serta tanda dan gejala bronkitis
  • Memahami pemeriksaan, penatalaksanaan, dan komplikasi yang bisa timbul pada pasien dengan bronkitis
  • Mengidentifikasi masalah atau diagnosa keperawatan yang sering muncul pada askep bronkitis menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan luaran dan keriteria hasil pada askep bronkitis menggunakan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep bronkitis menggunakan  pendekatan Siki
  • Melakukan edukasi pasien dan keluarga pada askep bronkitis

Askep Bronkitis Sdki Slki Siki
Image By BruceBlaus on Wikimedia.org

Konsep Medik dan Askep Bronkitis

Pendahuluan

Bronkitis akut adalah bentuk infeksi saluran pernapasan bawah. Meskipun etiologi secara formal diidentifikasi hanya dalam persentase kecil kasus klinis, identitas organisme penyebab penyakit dapat digunakan untuk mengklasifikasikan bronkitis akut.

Sedangkan bronkitis kronis adalah bentuk paling umum dari penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), yaitu sekelompok kondisi yang melibatkan obstruksi jalan napas, penurunan aliran udara ekspirasi maksimal, dan gejala yang berhubungan dengan pernapasan.

Emfisema atau kerusakan alveoli, adalah manifestasi utama lain dari PPOK. Asma nonremittant, yang melibatkan bronkokonstriksi ireversibel atau sebagian, juga dapat diklasifikasikan sebagai PPOK. Tidak jarang individu mengalami bentuk gabungan PPOK yang melibatkan produksi sputum, destruksi alveolar, dan bronkospasme.

Eksaserbasi akut bronkitis kronis berhubungan dengan dispnea yang memburuk, peningkatan produksi sputum, dan peningkatan purulensi sputum. Bronkitis kronis dapat diklasifikasikan menjadi parah (tipe 1) jika ketiga gejala muncul dan sedang (tipe 2) jika dua dari tiga gejala muncul.

Eksaserbasi ringan didiagnosis jika salah satu gejala di atas terjadi bersama dengan setidaknya salah satu dari berikut: infeksi saluran pernapasan atas dalam 5 hari terakhir, demam tanpa penyebab lain yang jelas, peningkatan mengi, peningkatan batuk, dan laju pernapasan atau denyut jantung meningkat setidaknya 20% di atas rata-rata.

Baik akut maupun kronis, bronkitis menimbulkan batuk yang terus-menerus dan menghasilkan dahak. Hiperresponsif bronkus, mengi, kesulitan bernapas atau dyspnea dapat terjadi, dan kesulitan bernapas saat berolahraga atau exertional dyspnea.

Pada kebanyakan kasus bronkitis akut, gejala batuk dan produksi sputum berlangsung selama 1 sampai 3 minggu. Komplikasi Infeksi seperti otitis media, sinusitis, dan pneumonia dapat disebabkan oleh infeksi virus primer atau infeksi bakteri sekunder. Walaupun jarang, bronkitis akut akibat influenza juga dapat menimbulkan komplikasi peradangan otot atau miositis.

Konsekuensi tambahan dari bronkitis akut bisa timbul pada anak-anak, yaitu Sindrom Reye  yang dapat terjadi pada anak-anak dengan influenza, terutama jika mereka diobati dengan aspirin. Infeksi virus saluran pernapasan bawah pada awal kehidupan juga telah dikaitkan dengan perkembangan asma bronkial.

Berbeda dengan bronkitis akut yang sembuh setelah penanganan infeksi penyebabnya. Bronkitis kronis umumnya memburuk seiring waktu, bahkan dengan pengobatan yang optimal. Penghentian paparan stimulus pemicu seperti asap, adalah satu-satunya manajemen terapeutik yang tersedia saat ini yang dapat memperlambat perkembangan bronkitis kronis.

Perkembangan bronkitis kronis menyebabkan sesak napas, awalnya bermanifestasi hanya selama beraktifitas atau olahraga, tetapi juga terjadi saat istirahat saat penyakit memburuk. Peningkatan disfungsi paru dapat mengakibatkan hipertensi pulmonal, pembesaran ventrikel kanan, dan gagal jantung sisi kanan (cor pulmonale).

Tanda-tanda kor pulmonal antara lain edema perifer, pembesaran hati dan organ internal lainnya, serta peningkatan kesulitan bernapas. Penurunan berat badan dapat terjadi, dan pengecilan otot dapat berkontribusi pada perkembangan intoleransi olahraga.

Seorang individu yang terkena bronkitis kronis rentan terhadap episode berulang di mana gejala batuk, produksi sputum, dan dyspnea makin memburuk. Episode ini disebut eksaserbasi akut dari bronkitis kronis, dapat disebabkan oleh virus atau infeksi bakteri. Paparan terhadap asap, polutan udara, atau alergen juga dapat menyebabkan eksaserbasi akut bronkitis kronis.

Epidemiologi

Menurut perkiraan dari wawancara nasional yang diambil oleh Pusat Statistik Kesehatan Nasional Amerika Serikat pada tahun 2006, sekitar 9,5 juta orang atau 4% dari populasi didiagnosis dengan bronkitis kronis. Statistik ini mungkin menggambarkan prevalensi penyakit paru obstruktif kronik sebanyak 50%, karena banyak pasien yang tidak melaporkan gejalanya, dan kondisinya tetap tidak terdiagnosis.

Istilah bronkitis sering digunakan sebagai deskripsi umum untuk batuk nonspesifik dan self-limited, sehingga penggambaran prevalensi insiden terdiagnosa bisa keliru karena pasien tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis.

Dalam sebuah penelitian, diperkirakan bronkitis akut mempengaruhi 44 dari 1000 orang dewasa setiap tahun, dan 82% dari episode terjadi pada musim gugur atau musim dingin. Sebagai perbandingan, 91 juta kasus influenza, 66 juta kasus flu biasa, dan 31 juta kasus infeksi saluran pernapasan atas akut lainnya terjadi setaiap tahunnya.

Bronkitis akut merupakan penyakit yang umum di seluruh dunia dan merupakan salah satu dari 5 alasan utama untuk seseorang  mencari perawatan medis. Tidak ada perbedaan dalam distribusi ras yang dilaporkan, meskipun bronkitis lebih sering terjadi pada populasi dengan status sosial ekonomi rendah dan pada orang yang tinggal di perkotaan atau daerah industri.

Terkait gender, bronkitis lebih mempengaruhi laki-laki daripada perempuan. Di Amerika Serikat, dua pertiga pria dan seperempat wanita mengalami emfisema saat meninggal. Meskipun ditemukan pada semua kelompok umur, bronkitis akut paling sering didiagnosis pada anak-anak di bawah 5 tahun, sedangkan bronkitis kronis lebih sering terjadi pada orang tua yang berusia diatas 50 tahun.

Penyebab

Bronkitis akut biasanya disebabkan oleh virus yang berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan bawah, seperti influenza A dan B, parainfluenza, virus pernapasan syncytial, metapneumovirus, dan virus penyebab infeksi saluran pernapasan atas, seperti rhinovirus, virus corona, dan adenovirus.

Penyebab yang paling umum bronkitis akut adalah influenza, dan sebagian kecil kasus bronkitis akut akibat infeksi bakteri. Chlamydia pneumoniae bertanggung jawab atas beberapa kasus terutama pada orang dewasa muda.

Bordetella pertussis dapat menyebabkan gejala atipikal yang mengakibatkan kasus bronkitis akut berkepanjangan pada orang dewasa. Mycoplasma pneumoniae adalah agen etiologi tambahan dari bronkitis akut.

Hanya ada sedikit bukti bahwa bronkitis akut dapat disebabkan oleh spesies bakteri yang merupakan karakteristik infeksi pneumonia seperti Streptococcus pneumoniae.

Bronkitis kronis paling sering berkembang pada perokok tembakau yaitu sekitar 30-50%. Paparan pasif terhadap asap juga dapat berkontribusi pada perkembangan bronkitis kronis.

Faktor penyebab lainnya yaitu paparan polusi udara di dalam atau luar ruangan, debu, atau iritasi bahan kimia  seperti belerang dioksida. Bronkitis kronis juga dapat berkembang pada orang dengan riwayat infeksi paru-paru berulang atau hiperresponsif saluran napas.

Eksaserbasi akut bronkitis kronis umumnya terkait dengan influenza, parainfluenza, coronavirus, atau infeksi rhinovirus. Peningkatan tingkat polusi udara partikulat dan ozon juga terkait dengan eksaserbasi akut.

Peran infeksi bakteri dalam eksaserbasi akut bronkitis kronis masih kontroversial. Bakteri patogen seperti Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, dan Moraxella catarrhalis teridentifikasi pada dahak sekitar setengah dari semua yang mengalami eksaserbasi akut.

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi antibiotik membantu pada 40% orang  yang mengalami eksaserbasi akut. Namun, dalam subset eksaserbasi di mana sputum purulen merupakan gejala dominan, tingkat pemberantasan bakteri berkorelasi dengan tingkat resolusi eksaserbasi dan peradangan yang terkait.

Dengan demikian, peningkatan jumlah bakteri, perolehan bakteri patogen baru, atau perubahan susunan antigenik populasi bakteri yang menetap, mungkin bertanggung jawab atas eksaserbasi akut bronkitis kronis tertentu.

Patofisiologi

Fase akut bronkitis berlangsung dari 1-5 hari dan melibatkan gejala konstitusional seperti demam, kelelahan, dan nyeri otot. Selama fase inilah kolonisasi virus pada epitel trakeobronkial terjadi.

Sebagai respons terhadap infeksi ini, sel epitel saluran napas dan monosit serta makrofag melepaskan sitokin yang menstimulasi dan mengaktifkan sel imun.

Infeksi virus akan merangsang pelepasan kemokin kemotaktik seperti RANTES, monosit chemotactic protein-1 (MCP-1), makrofag inflamasi protein-1alpha (MIP-1alpha), dan sitokin pro-inflamasi seperti tumor necrosis factor-alpha (TNF-alpha), interleukin-1beta, (IL-1beta), IL-6, IL-18, dan sitokin antivirus seperti interferon-alpha (IFN-alpha) dan IFN-beta.

Neutrofil adalah salah satu sel pertama yang kerahkan ke epitel trakeobronkial, dan peningkatan jumlah neutrofil berkorelasi dengan perkembangan hiperresponsif saluran napas. Limfosit T diaktifkan oleh RANTES dan sitokin lain yang dilepaskan oleh monosit. Eosinofil diaktifkan dan dapat bertahan selama berminggu-minggu setelah infeksi awal.

Fase selanjutnya dari bronkitis akut menimbulkan gejala batuk, mengi, dan produksi dahak dan berlangsung sekitar 1-3 minggu. Pada fase ini sering terjadi penurunan fungsi paru yang signifikan yang dapat diukur sebagai penurunan volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV1). Hiperresponsivitas bronkus, yang dimulai selama fase akut, bertahan selama beberapa minggu dan berkorelasi dengan aktivasi sel inflamasi berkelanjutan.

Pada bronkitis kronis, tanda patologis yang muncul adalah keterbatasan aliran udara sekunder akibat inflamasi dan peningkatan produksi mukus pada saluran napas besar  yang berdiameter >2 mm.

Proses penyakit dimulai ketika kerusakan saluran udara memulai peradangan dan remodeling epitel saluran napas, menyebabkan hipersekresi lendir, obstruksi saluran udara, dan peningkatan kerentanan terhadap kolonisasi bakteri.

Kehadiran bakteri patogen di paru-paru adalah penyebab umum eksaserbasi akut bronkitis kronis dan mungkin juga terkait dengan perkembangan penyakit tersebut. Siklus yang berkelanjutan terjadi di mana peradangan dan infeksi menghasilkan kerusakan epitel lebih lanjut, yang memperpanjang peradangan tambahan dan remodeling saluran napas.

Bronkitis kronis dimulai ketika paparan berulang terhadap asap tembakau, iritasi paru-paru akibat lingkungan, polutan udara, atau infeksi pernapasan menimbulkan kerusakan pada saluran pernapasan.

Aktivasi sel inflamasi dihasilkan dari regulasi molekul adhesi seperti ICAM-1 dan E-selectin pada pembuluh darah subepitel. Neutrofil adalah jenis sel dominan yang dikerahkan ke dalam lumen saluran pernapasan.

Makrofag dan limfosit T CD8+ adalah sel predominan yang menginfiltrasi ruang subepitel. Eosinofil lazim di subepitel selama eksaserbasi akut bronkitis kronis, sementara sejumlah besar neutrofil terlihat di sini hanya pada penyakit parah.

Sel inflamasi di lumen saluran napas dan epitel melepaskan mediator yang mengontrol inflamasi dan remodeling saluran napas yang merupakan karakteristik bronkitis kronis.

Neutrofil melepaskan spesies oksigen reaktif seperti superoksida dan peroksinitrit yang menghasilkan kerusakan jaringan dan peradangan lebih lanjut. Peningkatan kadar molekul pro-inflamasi, seperti IL-8, LTB4, dan TNF-alpha, dan penurunan kadar sitokin anti-inflamasi IL-10 terlihat pada dahak individu dengan bronkitis kronis.

Peningkatan kadar sitokin perangsang lendir IL-4 dan IL-13 juga terlihat pada pasien dengan bronkitis kronis. Neutrofil di saluran udara melepaskan neutrofil elastase, protease serin yang meningkatkan produksi lendir dan merangsang proliferasi sel goblet yang memproduksi lendir. Metaplasia skuamosa terjadi, menghasilkan penggantian sel epitel kolumnar bersilia dengan sel epitel skuamosa.

Secara keseluruhan, proses sekresi mukus bronkus yang berlebihan dan gangguan pembersihan ini mengakibatkan obstruksi jalan napas, iritasi, dan kemungkinan peningkatan infeksi.

Terdapat banyak kesamaan antara proses yang terjadi pada saluran udara besar dan kecil yang (<2 mm) pada mereka yang menderita bronkitis kronis. Infiltrasi subepitel limfosit T CD8+ dan proliferasi sel goblet masing-masing berkontribusi terhadap inflamasi dan sekresi mukus.

Selain itu, fibrosis dinding saluran napas menurunkan elastisitas paru, sedangkan hipertrofi otot polos bronkiolus menyebabkan hambatan aliran udara. Perlekatan alveolus ke bronkiolus juga dapat hilang.

Pada arteri pulmonalis, bronkitis kronis menyebabkan proliferasi sel otot polos dan deposisi serat elastis dan kolagen. Hal ini tampaknya merupakan akibat dari disfungsi endotel yang diakibatkan oleh hipoksemia atau faktor lain yang tidak diketahui.

Hipertensi pulmonal terjadi sebagai akibat penyempitan arteri pulmonalis, dan ventrikel kanan dapat membesar sebagai akibat pemompaan yang lama terhadap tekanan arteri yang meningkat. Gagal ventrikel kanan (cor pulmonale) adalah komplikasi umum dari bronkitis kronis.

Tanda dan Gejala

Pada fase awal, bronkitis akut dimulai dengan 1-5 hari gejala konstitusional seperti demam, malaise, dan nyeri otot. Gejala-gejala ini bervariasi dalam tingkat dan durasi, dan tergantung pada sifat agen infeksi. Misalnya, infeksi rhinovirus menghasilkan gejala konstitusional yang minimal atau tidak ada sama sekali sedangkan influenza dan parainfluenza menghasilkan gejala yang paling parah dan berkepanjangan.

Fase selanjutnya dari bronkitis akut berlangsung selama 1-3 minggu dan menimbulkan gejala batuk, peningkatan produksi sputum, dan mengi.

Bronkitis akut dibedakan dari infeksi saluran pernapasan atas dengan adanya batuk, dahak, dan mengi. Tanda dan gejala bronkitis akut berbeda dengan pneumonia karena pneumonia menyebabkan suara paru abnormal yang menunjukkan adanya cairan (ronki) dan peningkatan tanda vital seperti denyut jantung >100 kali/menit, frekuensi pernapasan >24 kali/menit, dan suhu >38°C.

Sedangkan Bronkitis kronis adalah manifestasi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang melibatkan batuk dan produksi sputum, dengan atau tanpa mengi, yang berlangsung minimal 3 bulan selama 2 tahun berturut.

Bronkitis kronis paling sering muncul pada perokok di atas usia 40 dan berhubungan dengan eksaserbasi akut di mana batuk, mengi, dan produksi sputum meningkat.

Orang dengan bronkitis kronis berada pada peningkatan risiko mengembangkan pneumonia dan infeksi pernapasan lainnya. Kesulitan bernapas yang signifikan selama olahraga, dan seiring perkembangan penyakit juga muncul saat istirahat.

Eksaserbasi akut bronkitis kronis menimbulkan gejala dispnea yang memburuk dan peningkatan produksi sputum dan purulensi.

Pemeriksaan Diagnostik

Bronkitis dapat dicurigai pada pasien dengan infeksi saluran pernapasan akut dengan batuk, namun karena banyak penyakit yang lebih serius pada saluran pernapasan bagian bawah yang menyebabkan batuk, bronkitis harus dianggap sebagai diagnosis eksklusi.

Pemeriksaan penunjang yang bisa membantu antara lain:

  • Hitung darah lengkap (CBC) dengan diferensial
  • Kadar prokalsitonin untuk membedakan infeksi bakteri dan nonbakteri
  • Sitologi dahak jika batuk terus-menerus
  • Kultur darah jika dicurigai adanya superinfeksi bakteri
  • Radiografi dada jika pasien berusia lanjut atau temuan fisik menunjukkan pneumonia
  • Bronkoskopi mungkin diperlukan untuk menyingkirkan aspirasi benda asing, tuberkulosis, tumor, dan penyakit kronis lainnya pada cabang trakeobronkial dan paru-paru.
  • Tes influenza mungkin berguna. Tes serologi tambahan, seperti untuk pneumonia atipikal, tidak diindikasikan.
  • Spirometri mungkin berguna karena pasien dengan bronkitis akut sering mengalami bronkospasme yang signifikan, dengan pengurangan besar dalam volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1).
  • Laringoskopi untuk menyingkirkan kemungkinan epiglotitis

Penatalaksanaan

Terapi umumnya difokuskan pada pengurangan gejala. Untuk tujuan ini, kombinasi obat untuk membuka saluran napas bronkial yang tersumbat dan pengencer lendir sehingga dapat lebih mudah dibatukkan.

Perawatan untuk bronkitis akut terutama bersifat suportif dan harus memastikan bahwa pasien mendapat oksigenasi yang memadai dan Istirahat yang cukup.

Sedangkan pada pasien dengan bronkitis kronis, cara yang paling efektif untuk mengendalikan batuk dan produksi sputum adalah menghindari iritan lingkungan terutama asap rokok.

Jenis obat yang digunakan untuk pengobatan simtomatik meliputi:

  • Penekan batuk sentral seperti kodein dan dekstrometorfan untuk meredakan gejala batuk jangka pendek pada bronkitis akut dan kronis
  • Bronkodilator seperti ipratropium bromida dan teofilin untuk mengontrol bronkospasme, dispnea, dan batuk kronis pada pasien stabil dengan bronkitis kronis. Beta-agonis ditambah kortikosteroid inhalasi juga dapat ditawarkan untuk mengendalikan batuk kronis
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)  untuk pengobatan gejala konstitusional bronkitis akut, termasuk nyeri ringan hingga sedang
  • Antitusif/ ekspektoran  seperti guaifenesin untuk Pengobatan batuk, dispnea, dan mengi
  • Mukolitik untuk penatalaksanaan PPOK sedang hingga berat, terutama di musim dingin

Antibiotik tidak menunjukkan manfaat yang konsisten pada bronkitis akut. Rekomendasi berikut telah dibuat sehubungan dengan pengobatan bronkitis akut dengan antibiotik:

  • Bronkitis akut tidak boleh diobati dengan antibiotik kecuali kondisi komorbiditas menimbulkan risiko komplikasi serius
  • Terapi antibiotik direkomendasikan pada pasien lanjut usia ( usia >65 tahun) dengan batuk akut jika mereka pernah dirawat di rumah sakit dalam satu tahun terakhir, menderita diabetes melitus atau gagal jantung kongestif, atau sedang menerima terapi steroid.
  • Terapi antibiotik direkomendasikan pada pasien dengan eksaserbasi akut bronkitis kronis
  • Pada pasien stabil dengan bronkitis kronis, terapi profilaksis jangka panjang dengan antibiotik tidak diindikasikan.
  • Vaksinasi influenza dapat mengurangi kejadian infeksi saluran pernapasan atas dan selanjutnya mengurangi kejadian bronkitis bakteri akut.

Asuhan Keperawatan

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Sdki Slki Siki

1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif(D.0149)

Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)

  • Batuk Efektif Meningkat
  • Produk sputum menurun
  • Dispnea dan Wheezing menurun
  • Sianosis dan gelisah menurun
  • Frekuensi napas membaik
  • Pola napas membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Manajemen Jalan napas (I.01011)

  • Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, dan usaha napas)
  • Monitor bunyi napas tambahan
  • Monitor sputum baik jumlah dan warna
  • Pertahankan kepatenan jalan napas
  • Posisikan semi-fowler atau fowler
  • Berikan minum hangat
  • Lakukan fisioterapi dada jika perlu
  • Berikan oksigen jika perlu
  • Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi
  • Ajarkan teknik batuk efektif
  • Kolaborasi pemberian brinkodilator, ekspektoran, mukolitik jika perlu

b. Latihan Batuk Efektif (I.01006)

  • Identifikasi kemampuan batuk
  • Monitor adanya retensi sputum
  • Monitor tanda dan  gejala infeksi saluran napas
  • Atur posisi semi-fowler atau fowler
  • Pasang perlak serta bengkok di pangkuan pasien
  • Buang sekret pada tempat sputum
  • jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
  • Kolaborasi pemberian mukolitik dan ekspektoran bila perlu

2. Pola nafas Tidak Efektif (D.0005)

Luaran : Pola nafas membaik (L.01014)

  • Kapasitas vital meningkat
  • Tekanan ekspirasi dan inspirasi meningkat
  • Dispnea menurun
  • Penggunaan otot bantu napas menurun
  • Pemanjangan fase ekspirasi menurun
  • Pernapasan cuping hidung menurun
  • Frekuensi dan kedalaman napas membaik

Intervensi Keperawatan: Pemantauan respirasi (I. 01014)

  • Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas
  • Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, Kussmaul, Cheyne-Stokes, Biot, ataksik0
  • Monitor kemampuan batuk efektif
  • Monitor adanya produksi sputum
  • Monitor adanya sumbatan jalan napas
  • Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
  • Auskultasi bunyi napas
  • Monitor saturasi oksigen
  • Monitor nilai AGD
  • Monitor hasil x-ray toraks
  • Atur interval waktu pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
  • Dokumentasikan hasil pemantauan
  • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
  • Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

3. Ansietas (D.0080)

Luaran: Tingkat Ansietas menurun (L.09093)

  • Verbalisasi kebingungan dan khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
  • Perilaku gelisah dan tegang menurun
  • Palpitasi, tremor, dan pucat menurun
  • Konsentrasi dan pola tidur membaik
  • Orientasi membaik

Intervensi Keperawatan: Reduksi ansietas (I.09314)

  • Identifikasi saat tingkat ansietas berubah seperti Kondisi, waktu, dan stressor.
  • Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
  • Monitor tanda anxietas baik verbal dan non verbal
  • Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
  • Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan
  • Pahami situasi yang membuat ansietas
  • Dengarkan dengan penuh perhatian
  • Gunakan pedekatan yang tenang dan meyakinkan
  • Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
  • Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang
  • Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
  • Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
  • Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu
  • Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai kebutuhan
  • Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
  • Latih kegiatan pengalihan, untuk mengurangi ketegangan
  • Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
  • Latih teknik relaksasi

4. Keletihan (D.0057)

Luaran: Tingkat Keletihan Membaik

  • Verbalisasi kepulihan energi meningkat
  • Tenaga meningkat
  • Kemampuan melakukan aktivitas rutin meningkat
  • Motivasi meningkat
  • Verbalisasi lelah menurun
  • Lesu menurun
  • Gangguan konsentrasi menurun
  • Sianosis menurun
  • Selera makan membaik
  • Pola napas dan pola istirahat membaik

Intervensi Keperawatan:

a. Manajemen Energi (I.05178)

  • Identifkasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
  • Monitor kelelahan fisik dan emosional
  • Monitor pola dan jam tidur
  • Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas
  • Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus seperti cahaya, suara, dan kunjungan
  • Lakukan rentang gerak pasif dan/atau aktif
  • Berikan aktivitas distraksi yang menyenangkan
  • Fasilitas duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan
  • Anjurkan tirah baring
  • Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
  • Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang
  • Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
  • Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan

b. Edukasi Aktivitas / Istirahat (I.12362)

  • Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
  • Sediakan materi dan media pengaturan aktivitas dan istirahat
  • Jadwalkan pemberian pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
  • Berikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya
  • Jelaskan pentingnya melakukan aktivitas fisik/olahraga secara rutin
  • Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok, aktivitas bermain atau aktivitas lainnya
  • Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan istirahat
  • Ajarkan cara mengidentifikasi kebutuhan istirahat seperti kelelahan, sesak nafas saat aktivitas.
  • Ajarkan cara mengidentifikasi target dan jenis aktivitas sesuai kemampuan

5. Defisit Pengetahuan (D.0110)

Luaran: Tingkat Pengetahuan Membaik (L.12111)

  • Perilaku sesuai anjuran meningkat
  • Verbalisasi minat dalam belajar meningkat
  • Kemampuan menjelaskan tentang usatu topik meningkat
  • Kemampuan menggambarkan pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan topik meningkat
  • Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
  • Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
  • Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
  • Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat menurun
  • Perilaku membaik

Intervensi Keperawatan: Edukasi Kesehatan (I.12435)

  • Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
  • Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku perilaku hidup bersih dan sehat
  • Sediaakan materi dan media pendidikan kesehatan
  • Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
  • Berikan kesempatan untuk bertanya
  • Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
  • Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
  • Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat


Referensi:

Butler, M. W., & Keane, M. P. 2017. Bronchitis, Bronchiectasis. Infectious Diseases, 243–250.e2. https://doi.org/10.1016/B978-0-7020-6285-8.00027-7

Jazeela Fayyaz. 2021. Bronchitis. Med Scape Emedicine. https://emedicine.medscape.com/article/297108-overview

PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

PPNI, 2019.  Standart  Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Singh A, Avula A, Zahn E. 2022.  Acute Bronchitis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448067/

Woodfork K. 2007. Bronchitis. xPharm: The Comprehensive Pharmacology Reference, 1–13. https://doi.org/10.1016/B978-008055232-3.63026-0

Ns. Zul Hendry, M.Kep
Ns. Zul Hendry, M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram