Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Memahami Asma Bronkial dan Asuhan Keperawatannya

Asma Bronkial merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernafasan yang menyebakan peningkatan sensitifitas saluran pernafasan, pembengkakan mukosa, dan produksi lendir.

Peningkatan sensitifitas ini menyebakan serangan akan berulang jika terpapar lagi oleh zat yang menyebabkan alergi tersebut. Pasien bisa menglami episode bebas gejala, kemudian muncul serangan akut yang terjadi dalam hitungan menit, jam, atau hari.

Asma merupakan penyakit kronis yang biasanya mulai muncul pada masa anak-anak.

Patofisiologi

Patofisiologi yang mebdasari asma adalah peradangan saluran nafas yang reversibel dan menyebar sehingga menyebabkan penyempitan saluran nafas. Serangan akan dimulai dengan aktifnya sel mast, yang kemudian melepaskan bahan kimia yang disebut mediator inflamasi.

Mediator inflamasi ini akan menyebabkan peningkatan aliran darah, vasokonstriksi, perembesan cairan dari pembuluh darah, dan menyebabkan migrasi sel darah putih ke loksai tersebut. Sehingga pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya bronkokonstriksi yang akan menjadikan bronkus menyempit, sehingga terjadi keterbatasan aliran udara.

Penyebab Asma

Beberapa hal yang menjadi penyebab dan mempengaruhi perkembangan asma antara lain:

  • Alergi merupakan faktor predisposisi utama terjadinya asma
  • Paparan zat tertentu yang bersifat iritan. Seperti serbuk sari, rumput, bulu binatang, dan debu.
  • Stress atau gangguan emosional juga bisa menjadi pemicu timbulnya serangan asma
  • Jenis obat-obatan tertentu dapat juga menjadi pemicu asma
  • Olahraga berlebihan 
  • Udara Dingin atau penurunan suhu 

Tanda dan gejala Asma

Tanda dan gejala asma yang timbul mudah dikenali  dan memilki ciri khas. Berikut tanda dan gejala yang biasanya muncul pada pasien asma:

  • Batuk ---> Batuk merupakan gejala awal yang sering muncul pada pasien asma
  •  Dispnea ---> Munculnya keluhan susah bernafas atau sesak 
  • Mengi ---> Adanya bunyi nafas yang muncul akbat pergerakan udara pada saluran yang menyempit. Biasanya muncul saat ekspirasi dan kadang pada saat inspirasi.
  • Serangan asma sering terjadi pada malam hari
  • Ekspirasi memanjang dan membutuhkan kontraksi dinding dada. Normalnya ekspirasi atau keluarnya udara saat pernafasan bersifat pasif, artinya tidak membutuhkan kontraksi dinding dada.
  • Kadang muncul tanda-tanda sianosis yang merupakan akibat sekunder dari hipoksia atau kekurangan oksigen
  • Gejala tambahan seperti diaforesis (keringat dingin), takikardi (peningkatan denyut nadi), dan pelebaran tekanan nadi.
  • Pada asma akibat olahraga, Gejala maksimal akan muncul setelah berolah raga, kadang pasien mengalami rasa seperti tercekik.
  • Jika serangan berulang dan parah, bisa mengancam jiwa
  • Bisa juga muncul ruam dan edema yang menyertai reaksi alergi.

Pencegahan Asma

Untuk mencegah timbulnya serangan asma pada waktu yang akan datang, pasien asma sebaiknya menjalani tes alergi untuk mengidentifikasi jenis zat yang menjadi pemicu timbulnya serangan(alergen).

Jika jenis alergennya sudah teridentifikasi, maka pasien harus menghindari kontak dengan zat tersebut agar serangan tidak timbul lagi di hari kemudian.

Komplikasi Asma

Komplikasi penyakit asma meliputi:

  • Status Asmatikus --->Terjadinya obstruksi atau sumbatan jalan nafas yang menyebakan terjadinya kekurangan pasokan oksigen ke dalam tubuh (Hipoksia)
  • Kegagalan Pernafasan ---> Asma yang tidak diobati bisa berkembang menjadi gagal nafas
  • Pneumonia ---> Timbulnya peradangan pada organ paru akibat lendir yang mengumpul dan terinfeksi oleh bakteri.

Pemeriksaan Penunjang

  • Untuk menegakan diagnosa asma, dokter biasanya akan memastikan gejala episodik obstruksi jalan nafas yang ada.
  • Adanya riwayat keluarga yang juga menderita asma. Karena Asma juga bisa diturunkan, dan ada kemungkinan ada anggota keluarga lain yang juga menderita asma.
  • Identifikasi faktor lingkungan seperti perubahan musim, peningkatan jumlah serbuk sari pada musim semi, bulu hewan peliharaan, perubahan iklim, peningkatan debu pada musim panas, dan polusi udara juga bisa menjadi pemicu timbulnya serangan asma.
  • Kondisi adanya penyakit komorbid yang menyertai asma seperti Gastroesofagial reflux (GERD), asma akibat obat, dan alergi lainnya.

Penatalaksanaan Medik

Terapi Farmakologis meliputi:

  • Short Acting Beta Adenergik Agonist ---> Merupakan obat pilihan untuk gejala akut dan pencegahan asma akibat olahraga
  • Antikolinergik ---> Obat golongan antikolinergik bekerja dengan cara menghambat reseptor kolinergik dan mengurangi tonus otot vagal intrinsik jalan nafas
  • Kortikosteroid ---> Golongan kortikosteroid merupakan golongan yang paling efektif untuk meredakan gejala asma yang berupa penyempitan jalan nafas, dan mengurangi variabilitas Peak Flow (Aliran Puncak)
  • Imunomodulator ---> Imunomodulator mencegah pengikatan IgE ke reseptor yang memilki afinitas tinggi seperti basofil dan Sel Mast

Peak Flow Meter

Mengukur aliran puncak dilakukan dengan mengukur aliran tertinggi selama ekspirasi paksa. Pemantauan aliran puncak harian juga perlu dilakukan. 

Pemantauan Peak Flow  harian direkomendasikan pada pasien yang memiliki asma peresisten sedang atau berat, adanya gejala yang memburuk, memiliki respon terhadap paparan lingkungan yang tidak dapat dijelaskan, atau atas pertimbangan tertentu dari dokter yang merawatnya.

Manajemen Keperawatan Pasien Asma

Penanganan keperawatan pasien dengan asma tergantung pada tingkat keparahan dan berat ringannya gejala yang muncul.

Pengkajian Keperawatan.

  • Kaji Tingkat keparahan gejala dan terus pantau status pernafasan pasien
  • Kaji Bunyi nafas
  • Kaji Aliran puncak pasien (peak Flow)
  • Kaji tingkat saturasi Oksigen melalui oksimeter
  • Pantau tanda-tanda vital pasien

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data yang dikumpulkan, diagnosa keperawatan yang biasanya muncul pada pasien asma antara lain:

  • Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi mukus dan bronkospasme
  • Gangguan pertukaran gas sehubungan kurangnya jumlah oksigen yang masuk saat inspirasi
  • Kecemasan sehubungan ancaman kematian yang dirasakan
  • Untuk mencapai keberhasilan dalam perawatan pasien asma, tujuan yang harus di tetapkan antara lain:
  • Pemeliharaan patensi jalan nafas
  • Pengeluaran sekresi bronkus
  • Pengurangan kongesti yang ditandai dengan suara nafas jernih, tidak muncul suara pernafasan, dan pertukaran oksigen meningkat.
  • Pasien menyatakan pemahaman tentang penyebab penyakit dan regimen pengobatan yang sedang dijalani
  • Identifikasi potensi komplikasi dan bagaimana memulai tindakan pencegahan atau korektif yang sesuai.

Intervensi Keperawatan

  • Identifikasi riwayat reaksi alergi terhadap obat-obatan sebelum pemberian obat
  • Kaji status pernafasan dengan memantau tingkat keparahan gejala, bunyi nafas, Peak Flow, oksimetri, dan tanda vital
  • Identifikasi obat yang pernah dikonsumsi pasien. 
  • Berikan obat sesuai resep dan pantau respon pasien terhadap obat tersebut. Demikian jika ada pemberian antibiotik dikarenakan adanya infeksi saluran pernafasan yang mendasarinya
  • Berikan terapi cairan jika psien mengalami dehirasi

Evaluasi

Untuk memastikan efektifitas rencana asuhan keperawatan, evaluasi harus dilakukan. Beberapa hal yang harus dievaluasi antara lain:

  • Pemeliharaan Patensi jalan nafas
  • Hasil Ekspetoran atau pembersihan jalan nafas
  • Tidak adanya kongesti ditandai dengan suara nafas yang jernih, pernafasan tanpa suara tambahan, dan pertukaran oksigen meningkat
  • Pemahaman verbal tentang penyebab dan regimen manajemen terapiutik
  • Tingkah laku yang ditunjukan untuk memperbaiki atau mempertahankan jalan nafas yang bersih 

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Memahami Asma Bronkial dan Asuhan Keperawatannya"