Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Askep Fraktur Tibia Sdki Slki Siki

Fraktur tibia merupakan jenis patah tulang yang sering terjadi di masyarakat. Istilah fraktur tibia mengacu pada retak atau patah yang terjadi  pada tulang tibia atau istilah awamnya tulang kering. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan askep fraktur tibia menggunakan pendekatan Sdki Slki dan Siki.

Tujuan

  • Memahami penyebab, Klasifikasi dan tanda gejala yang muncul pada pasien dengan fraktur tibia
  • Memahami pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan fraktur tibia
  • Merumuskan diagnosa keperawatan keperawatan pada askep fraktur tibia menggunakan pendekatan Sdki
  • Merumuskan Luaran dan kriteria hasil pada askep fraktur tibia dengan pendekatan Slki
  • Melaksanakan intervensi keperawatan pada askep fraktur tibia dengan mengguanakan pendekatan Siki
Askep Fraktur Tibia Sdki Slki Siki
Image Donated by the patient on wikimedia.org

Konsep Medik dan Askep Fraktur Tibia

Pendahuluan

Kaki bagian bawah manusia terdiri dari dua tulang, yaitu tibia dan fibula. Dari kedua tulang ini, tibia adalah tulang yang lebih besar dan terletak di bagian depan.

Selain karena ukurannya yang lebih besar dibandingkan fibula, tibia memainkan peran kunci dalam mekanika tubuh karena bertanggung jawab menyangga dan menopang sebagian besar berat badan, serta penting dalam mekanisme sendi lutut termasuk juga pergelangan kaki.

Tibia proksimal berbentuk segitiga dengan daerah metafisis yang luas menyempit di distal. Tibia adalah tulang panjang yang berartikulasi dengan talus, fibula dan femur distal.

Anatomi vaskular sangat luas dan bergantung pada kompartemen otot yang disuplainya. Arteri tibialis anterior adalah cabang pertama dari arteri poplitea, melewati antara 2 kepala tibialis anterior dan Extensor hallucis longus (EHL) berakhir sebagai dorsalis pedis. 

Arteri tibialis posterior merupakan kelanjutan dari arteri poplitea yang mengalir di kompartemen dalam kaki yang berakhir sebagai arteri plantar medial dan lateral. Arteri peroneal berakhir sebagai arteri kalkaneus. 

Nervus tibialis berjalan jauh ke dalam soleus, berjalan turun ke aspek posterior malleolus medialis. Cabang-cabang otot saraf ini mempersarafi otot-otot di kompartemen posterior superfisial dan bagian dalam. 

Nervus peroneus komunis terbagi menjadi nervus peroneus superfisialis dan profunda. Nervus peroneus superfisialis terlihat di sepanjang perbatasan antara kompartemen lateral dan anterior dan mempersarafi peroneus longus dan brevis. Sedangkan Nervus peroneus profunda mempersarafi otot-otot kompartemen anterior dan merupakan sensorik ke ruang pertama. 

Saraf saphena mempersarafi aspek medial kaki dan tungkai. Otot-otot kompartemen dalam termasuk popliteus, tibialis posterior, fleksor digitorum longus, dan fleksor hallucis longus. Otot-otot kompartemen posterior superfisial termasuk gastrocnemius, soleus, dan plantaris. 

Klasifikasi 

Fraktur tibia tertutup

Fraktur tertutup pada tibia lebih sering terjadi, sedangkan fraktur terbuka dianggap memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi. Fraktur tibia tertutup pada pasien muda biasanya merupakan cedera yang berhubungan dengan olahraga. Fraktur tibia tertutup pada orang tua umumnya disebabkan oleh jatuh dari permukaan tanah. 

Pola fraktur fraktur tibia tertutup biasanya sederhana, dengan cedera jaringan lunak yang lebih ringan daripada yang terlihat pada fraktur tibia terbuka.

Fraktur tibia yang lebih lebih kompleks sering disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor dan pola cedera jaringan lunak juga sering terlihat pada pasien yang berusia lebih tua dengan tulang osteoporosis.

Fraktur tertutup diklasifikasikan sesuai pola fraktur tulang dan juga diklasifikasikan berdasarkan cedera jaringan lunak yang terkait dengan fraktur. Lokasi fraktur tibia bisa mencakup sepertiga proksimal, medial, atau distal. Pola fraktur tibia antara lain transversal, oblique, spiral, segmental, atau comminuted.

Klasifikasi jaringan lunak yang paling umum pada fraktur tibia tertutup adalah klasifikasi Tscherne dan Gotzen (1984) yang menggambarkan empat jenis cedera jaringan lunak dengan jumlah yang terus meningkat menunjukkan keparahan cedera yang memburuk yaitu:

  • Cedera jaringan lunak yang tidak ada atau dapat diabaikan
  • Abrasi superfisial atau memar 
  • Abrasi yang dalam yang dapat menyebabkan sindrom kompartemen
  • Kerusakan otot yang parah. 

Penting untuk mengklasifikasikan pola fraktur tulang dan cedera jaringan lunak karena keduanya berdampak besar pada pengobatan dan pemulihan. Fraktur tibia terbuka dinilai dengan sistem yang berbeda.

Fraktur Tibia Terbuka

Terdapat beberapa sistem penilaian yang digunakan dalam klasifikasi fraktur tibia terbuka. Metode klasifikasi yang paling banyak digunakan adalah metode yang dikembangkan oleh Gustillo dan Anderson, dimana membagi fraktur terbuka menjadi tiga tingkat utama yaitu:

  • Fraktur terbuka derajat I berukuran lebih kecil dari 1 cm. 
  • Fraktur terbuka derajat II memiliki luka laserasi dan berukuran 1 sampai 10 cm, dengan kerusakan jaringan sedang dan kemungkinan kontaminasi pada luka. 
  • Fraktur terbuka derajat III lebih besar dari 10 cm, dengan kerusakan jaringan yang luas dan tingkat kontaminasi yang tinggi, sehingga sulit untuk menutupi tulang yang terbuka. Cedera tingkat III dibagi lagi menjadi Tipe A, B, dan C, tergantung pada tingkat keparahan kehilangan jaringan.
    • Cedera derajat IIIA memiliki jaringan lunak yang memadai untuk menutupi tulang. 

    • Cedera derajat IIIB memiliki kerusakan jaringan yang luas dengan periosteal stripping, membuat penutupan jaringan lunak lokal tidak mungkin dilakukan. 

    • Cedera derajat IIIC memiliki cedera vaskular yang membutuhkan perbaikan dan bahkan kemungkinan amputasi. 

Penyebab

Penyebab fraktur tibia  dapat dikelompokkan menjadi dua kategori. Yang pertama adalah cedera energi rendah, seperti jatuh di rumah atau cedera atletik. Kedua, cedera energi tinggi, seperti kecelakaan sepeda motor dan mobil serta pejalan kaki yang tertabrak kendaraan bermotor, dimana kategori ini  memiliki angka kesakitan dan kematian tertinggi.

Fraktur tungkai bawah termasuk fraktur tibia dan fibula. Dari kedua tulang ini, tibia adalah tulang yang menahan beban. Fraktur tibia umumnya berhubungan dengan fraktur fibula. Fraktur batang fibula saja jarang terjadi,  sehingga fraktur tibia biasanya akan mencakup fraktur tibia dan atau tibia-fibula.

Bradley, Slauterbeck, dan Benjamin (1992) meneliti distribusi patah tulang pada pejalan kaki yang tertabrak kendaraan bermotor. Tempat fraktur yang paling sering adalah tibia-fibula, dan panggul, diikuti oleh tulang paha. 

Selain kecelakaan atau benturan, fraktur tibia terbuka juga bisa disebabkan luka tembak atau benda tembus yang merupakan contoh dari cedera energi tinggi pada tibia.

Terdapat mekanisme cedera yang jarang terjadi seperti fraktur insufisiensi tibialis. Fraktur insufisiensi adalah fraktur dari beban normal seperti berjalan, melangkah, membungkuk, dan duduk pada tulang abnormal seperti pada osteoporosis yang mengakibatkan fraktur patologis.

Dengan memahami mekanisme cedera berenergi rendah atau tinggi pada fraktur tibia, perawat dapat mengantisipasi faktor-faktor yang akan memengaruhi kontrol nyeri, inflamasi, pembengkakan, atau kemungkinan kontaminasi yang memerlukan irigasi luka dan debridement.

Tanda Dan Gejala

Fraktur tibia paling sering merupakan akibat dari cedera berenergi tinggi, seperti tabrakan mobil, cedera olahraga, atau jatuh dari ketinggian. Ada juga penyebab fraktur tibia yang kurang umum, termasuk fraktur tekanan yang berlebihan dan fraktur insufisiensi akibat penipisan tulang (osteoporosis). 

  • Nyeri terlokalisir di satu area tibia atau beberapa area jika ada banyak fraktur
  • Kaki bagian bawah bengkak
  • Kesulitan atau ketidakmampuan untuk berdiri, berjalan, atau menahan beban
  • Deformitas kaki atau panjang kaki yang tidak rata
  • Memar atau perubahan warna pada tibia
  • Perubahan sensasi di kaki
  • Tulang menonjol melalui kulit

Sinar-X adalah pemeriksaan yang paling membantu untuk mendiagnosis fraktur tibia. Pemeriksaan lain yang dapat membantu adalah MRI dan CT scan. 

Ketika fraktur terjadi pada area di sekitar pergelangan kaki atau sendi lutut, CT scan dapat membantu ahli bedah merencanakan cara terbaik untuk merekonstruksi permukaan sendi. 

Pemeriksaan

Pada  unit gawat darurat, jika mekanisme cedera menunjukkan potensi cedera parah atau cedera ganda seperti pada kecelakaan kendaraan bermotor berkecepatan tinggi atau jatuh dari ketinggian, pasien pertama-tama dievaluasi dari kepala hingga kaki untuk cedera serius pada semua sistem organ dan, jika diperlukan, diresusitasi. 

Jika anggota badan terluka, segera dievaluasi luka terbuka dan gejala atau tanda-tanda cedera neurovaskular seperti mati rasa, paresis, perfusi buruk  dan sindrom kompartemen.

Dokter mungkin mencurigai patah tulang berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik, tetapi pencitraan seperti x-ray diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis.

Kronologi kecelakaan yang dialami seperti arah dan besarnya gaya dapat menunjukkan jenis cedera. Namun, banyak pasien tidak ingat atau tidak dapat menjelaskan mekanisme yang tepat.

Fraktur dan cedera ligamen yang serius biasanya menyebabkan nyeri langsung. Nyeri yang tidak sebanding dengan keparahan cedera yang tampak atau yang terus memburuk dalam beberapa jam pertama hingga beberapa hari segera setelah cedera menunjukkan sindrom kompartemen atau iskemia.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik yang di lakukan termasuk:

  • Penilaian vaskular dan neurologis distal dari cedera
  • Inspeksi luka terbuka, deformitas, pembengkakan, ekimosis, dan rentang gerak yang menurun atau abnormal
  • Palpasi untuk nyeri tekan, krepitasi, dan defek berat pada tulang atau tendon
  • Pemeriksaan sendi di atas dan di bawah area cedera 
  • Setelah fraktur dan dislokasi disingkirkan secara klinis atau dengan pencitraan, diperluka uji stres pada sendi yang terkena untuk nyeri dan ketidakstabilan
  • Jika spasme otot dan nyeri membatasi pemeriksaan fisik, pemeriksaan terkadang lebih mudah setelah pasien diberikan analgesik sistemik atau anestesi lokal. Atau fraktur dapat diimobilisasi sampai kejang otot mereda, biasanya selama beberapa hari, dan kemudian pasien dapat diperiksa ulang.
  • Temuan tertentu dapat mengindikasikan fraktur atau cedera muskuloskeletal lainnya.
  • Deformitas dapat mengindikasikan fraktur, tetapi juga dapat mengindikasikan dislokasi atau subluksasi (terpisahnya sebagian tulang pada sendi).
  • Pembengkakan menyertai hampir semua cedera muskuloskeletal, palpasi di mana saja di sekitar area cedera menyebabkan ketidaknyamanan. Peningkatan nyeri tekan yang nyata di satu area lokal (titik nyeri tekan) menunjukkan adanya fraktur.
  • Adanya krepitasi yang dihasilkan saat sendi digerakkan bisa merupakan salah satu indikasi fraktur.
  • Jika luka berada di dekat fraktur, fraktur dianggap terbuka. Fraktur terbuka dapat diklasifikasikan menggunakan sistem Gustilo-Anderson
  • Perhatian pada area tertentu selama pemeriksaan dapat membantu mendeteksi cedera yang sering terlewatkan 

Pemeriksaan Pencitraan

  • Sinar-X untuk mendapatkan gambar tibia
  • Pemindaian CT Scan untuk memberikan gambar 3-D tulang
  • Pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) untuk gambar detail otot, ligamen, dan tulang di sekitar tibia. Pemindaian MRI sering digunakan jika pemindaian lain belum dapat mendiagnosis masalah.

Penatalaksanaan

Fraktur tibia dapat diobati dengan prosedur perawatan fraktur tulang standar. Perawatan tergantung pada tingkat keparahan cedera dan usia Beberapa pendekatan pengobatan berikut ini digunakan baik sendiri atau dalam kombinasi:

  • Reduksi tertutup dan imobilisasi: Mengatur tulang di tempatnya tanpa operasi, dan imobilisasi dengan gips kaki panjang atau kaki pendek
  • Reduksi terbuka: Mengekspos tulang melalui pembedahan untuk mengembalikannya ke tempatnya semula. Biasanya dilakukan pada patah tulang terbuka di mana tulang telah menusuk kulit dan jaringan. 
  • Fiksasi internal
  • Fiksasi eksternal Menggunakan pin, klem dan spalk untuk menstabilkan fraktur dari luar.
  • Penjepitan perkutan
  • Pengobatan: Bila patah tulang telah merusak kulit dan jaringan, akan diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi dan analgesik untuk mengurangi rasa nyeri. Suntikan tetanus mungkin juga diperlukan.

Perawatan fraktur tibia terbuka dimulai dengan pemberian antibiotik dan suntikan tetanus untuk mengatasi risiko infeksi. Kemudian luka dibersihkan untuk menghilangkan pecahan dan fragmen tulang. 

Reduksi terbuka dan fiksasi internal adalah operasi yang dapat digunakan untuk memposisikan ulang dan menghubungkan tulang secara fisik pada fraktur terbuka.

Asuhan Keperawatan (Askep) Fraktur Tibia Sdki Slki Siki

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan

1. Nyeri Akut b/d Agen Pencedara Fisik (D.0077)

Luaran: Tingkat Nyeri menurun (L.08066)

  • Keluhan nyeri menurun
  • Meringis, sikap protektif, dan gelisah menurun
  • Kesulitan tidur menurun
  • Anoreksia menurun
  • Mual muntah menurun
  • Frekuensi nadi dan tekanan darah membaik
  • Nafsu makan dan pola tidur membaik

Intervensi: Manajemen Nyeri (I. 08238)

  • Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
  • Identifikasi skala nyeri
  • Identifikasi respon nyeri non verbal
  • Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
  • Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
  • Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
  • Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
  • Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
  • Monitor efek samping penggunaan analgetik
  • Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
  • Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
  • Fasilitasi istirahat dan tidur
  • Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
  • Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
  • Jelaskan strategi meredakan nyeri
  • Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
  • Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
  • Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
  • Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

2. Gangguan Mobilitas Fisik b/d Kerusakan Integritas struktur Tulang (D.0054)

Luaran: Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)

  • Pergerakan ekstremitas meningkat
  • Kekuatan otot meningkat
  • Rentang gerak (ROM) meningkat
  • Nyeri menurun
  • Kecemasan menurun
  • Kaku sendi menurun
  • Gerakan tidak terkordinasi menurun
  • Gerakan terbatas menurun
  • Kelemahan fisik menurun

Intervensi Keperawatan: Dukungan Ambulasi (I.06171)

  • Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
  • Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
  • Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai ambulasi
  • Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
  • Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu (mis. tongkat, kruk)
  • Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika perlu
  • Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi
  • Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
  • Anjurkan melakukan ambulasi dini
  • Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan (mis. berjalan dari tempat tidur ke kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi, berjalan sesuai toleransi)

3. Risiko Infeksi b/d kerusakan integritas kulit – Efek Prosedur Invasi (D.0142)

Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)

  • Kebersihan tangan dan badan meningkat
  • Demam, kemerahan, nyeri, dan bengkak menurun
  • Periode malaise menurun
  • Periode menggigil, letargi, dan ganggauan kognitif menurun
  • Kadar sel darah putih membaik

Intervensi Keperawatan: Pencegahan Infeksi (I.14539)

  • Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
  • Batasi jumlah pengunjung
  • Berikan perawatan kulit pada daerah edema
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
  • Pertahankan teknik aseptik pada psien beresiko tinggi
  • Jelaskan tanda dan gejala infeksi
  • Ajarkan cara memeriksa luka
  • Kolaborasi pemberian antibiotikijika perlu

4. Defisit perawatan diri b/d Gangguan muskuloskletal (D.0109)

Luaran: Perawatan Diri Meningkat (L.11103)

  • Kemampuan mandi meningkat
  • Kemampuan menggunakan pakaian meningkat
  • Kemampuan makan meningkat
  • Kemampuan ke toilet (BAB/BAK Meningkat)
  • Verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat
  • Minat melakukan perawatan diri meningkat
  • Mempertahankan kebersihan diri meningat

Intervensi Keperawatan: Dukungan perawatan diri (I.11348)

  • Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia
  • Monitor tingkat kemandirian
  • Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan
  • Sediakan lingkungan yang teraupetik
  • Siapkan keperluan pribadi
  • Dampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri
  • Fasilitasi untuk menerima keadaan ketergantungan
  • Jadwalkan rutinitas perawatan diri
  • Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

5. Risiko Disfungsi Neurovaskuler Perifer b/d Fraktur  dan Pembedahan Ortopedi (D.0067)

Luaran : Neurovaskuler Perifer Meningkat (L.06051)

  • Sirkulasi arteri meningkat
  • Sirkulasi Vena meningkat
  • Pergerakan sendi meningkat
  • Pergerakan Ekstremitas meningkat
  • Nyeri dan perdarahan menurun
  • Nadi, Suhu tubu, dan warna kulit membaik
  • Tekanan darah membaik

Intervensi Keperawatan: Manajemen Sensasi Perifer (I.06195)

  • Identifikasi penyebab perubahan sensasi
  • Identifikasi penggunaan alat pengikat, prostesis, sepatu, dan pakaian
  • Periksa perbedaan sensasi tajam atau tumpul
  • Periksa perbedaan sensasi panas atau dingin
  • Periksa kemampuan mengidentifikasi lokasi dan tekstur benda
  • Monitor terjadinya parestesia, jika perlu
  • Monitor perubahan kulit
  • Monitor adanya tromboflebitis dan tromboemboli vena
  • Hindari pemakaian benda-benda yang berlebihan suhunya (terlalu panas atau dingin)
  • Anjurkan penggunaan termometer untuk menguji suhu air
  • Anjurkan penggunaan sarung tangan termal saat memasak
  • Anjurkan memakai sepatu lembut dan bertumit rendah
  • Kolaborasi pemberian analgesik, jika perlu
  • Kolaborasi pemberian kortikosteroid, jika perlu

Referensi:

  1. Miller NC, Askew AE. 2007. Tibia fractures. An overview of evaluation and treatment. Orthop Nurs. 26(4):216-23; quiz 224-5. doi: 10.1097/01.NOR.0000284648.52968.27. PMID: 17882096.
  2. Thompson JH, Koutsogiannis P, Jahangir A. 2021. Tibia Fractures Overview. Treasure Island (FL). StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513267/
  3. William Morrison. 2018. What To Know About A Tibia Fracture. Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321642
  4. Jonathan Cluett. 2020. Overview of Tibia Fractures. Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/tibia-fracture-2549288
  5. PPNI, 2017.  Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  6. PPNI, 2018.  Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
  7. PPNI, 2019.  Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Askep Fraktur Tibia Sdki Slki Siki"