Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Mekanisme Reaksi Inflamasi Atau Peradangan

Definisi

Reaksi inflamasi atau peradangan adalah respon pertahanan tubuh terhadap penyakit dan cedera yang berasal dari agen infeksius atau non infeksius. 

Reaksi inflamasi atau peradangan terjadi ketika jaringan terluka oleh bakteri, trauma, racun, panas, atau penyebab lainnya. Pada saat mengalami cedera atau kerusakan, sel-sel akan mengeluarkan mediator kimia. 

Bahan kimia ini menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat dan cairan mengalir ke dalam jaringan yang menyebabkan pembengkakan. proses ini membantu mengisolasi zat asing dari kontak lebih lanjut dengan jaringan tubuh.

Selanjutnya terjadi migrasi sel darah putih ke area cedera dan melakukan proses fagositosis mikroorganisme dan sel-sel yang mati atau rusak. 

Inflamasi atau peradangan
Photo by Túrelio on wikimedia

Penyebab

Faktor-faktor yang dapat merangsang inflamasi atau peradangan antara lain mikroorganisme, agen fisik, bahan kimia, respon imunologi yang tidak tepat, dan kematian jaringan. 

Agen infeksi seperti virus dan bakteri adalah penyebab rangsangan peradangan yang paling umum. Virus menimbulkan peradangan dengan memasuki dan menghancurkan sel-sel tubuh. Bakteri melepaskan zat yang disebut endotoksin yang dapat memicu peradangan. 

Trauma fisik, luka bakar, cedera radiasi, dan radang dingin dapat merusak jaringan dan juga menyebabkan peradangan, seperti halnya bahan kimia korosif seperti asam, alkali, dan zat pengoksidasi.

Seperti disebutkan di atas, respon imunologis yang tidak berfungsi dapat memicu reaksi inflamasi yang tidak tepat dan merusak. Peradangan juga dapat terjadi ketika jaringan mati karena kekurangan oksigen atau nutrisi, situasi yang sering disebabkan oleh hilangnya aliran darah ke daerah tersebut.

Tanda dan Gejala 

Tanda utama reaksi inflamasi atau peradangan yaitu :

  • Kemerahan (rubor)
  • panas (kalor)
  • Pembengkakan (tumor)
  • Penurunan atau hilangnya Fungsi 

Rubor atau kemerahan merupakan akibat dari vasodilatasi arteriol pada lokasi infeksi atau cedera. Panas disebabkan oleh peningkatan metabolisme dan sirkulasi darah lokal pada area cedera. Demam disebabkan oleh mediator kimia peradangan dan berkontribusi terhadap kenaikan suhu pada cedera. Pembengkakan, yang disebut edema terutama disebabkan oleh akumulasi cairan di luar pembuluh darah. 

Rasa sakit yang terkait dengan peradangan sebagian disebabkan oleh distorsi jaringan yang disebabkan oleh edema, dan juga diinduksi oleh mediator kimia tertentu dari peradangan, seperti bradikinin, serotonin, dan prostaglandin.

Konsekuensi kelima dari peradangan adalah hilangnya fungsi daerah yang meradang, ciri yang dicatat oleh ahli patologi Jerman Rudolf Virchow pada abad ke-19. Hilangnya fungsi dapat disebabkan oleh rasa sakit yang menghambat mobilitas atau dari pembengkakan parah yang mencegah pergerakan di area tersebut.

Mekanisme Reaksi Inflamasi Atau Peradangan
Mekanisme Reaksi Inflamasi 
Image by. OpenStax College on wikimedia

Reaksi Inflamasi Akut

Perubahan vaskular

Ketika jaringan pertama kali terluka, pembuluh darah kecil di daerah yang rusak menyempit sejenak, proses ini disebut vasokonstriksi. Setelah peristiwa ini, pembuluh darah melebar (vasodilatasi), meningkatkan aliran darah ke area tersebut, yang bisa terjadi dari 15 menit hingga beberapa jam.

Selanjutnya, dinding pembuluh darah yang biasanya hanya memungkinkan air dan garam melewatinya dengan mudah, menjadi lebih permeabel. Cairan kaya protein, yang disebut eksudat, sekarang dapat keluar ke jaringan. 

Zat dalam eksudat termasuk faktor pembekuan, yang membantu mencegah penyebaran agen infeksi ke seluruh tubuh. Protein lain lain juga ikut keluar dari pembuluh darah ke jaringan yang cedera, seperti antibodi yang membantu menghancurkan mikroorganisme yang menyerang.

Perubahan seluler

Ciri terpenting dari peradangan adalah akumulasi sel darah putih di tempat cedera. Sebagian besar dari sel-sel ini adalah sel  fagosityang berfungsi sebagai pemakan yang menelan bakteri dan partikel asing lainnya dan juga membersihkan sisa jaringan seluler yang rusak oleh cedera. 

Neutrofil merupakan fagosit utama yang terlibat dalam reaksi inflamasi atau peradangan. Ketika kerusakan jaringan ringan, suplai sel-sel ini dapat diperoleh dari sel-sel yang sudah beredar dalam darah. Tetapi, bila kerusakannya luas, simpanan neutrofil akan dilepaskan dari sumsum tulang, tempat neutrofil dihasilkan.

Untuk melakukan tugasnya, neutrofil tidak hanya harus keluar melalui dinding pembuluh darah tetapi juga harus secara aktif bergerak dari pembuluh darah menuju area kerusakan jaringan. Sebagian  besar neutrofil mencapai lokasi cedera terlebih dahulu, terkadang dalam waktu satu jam setelah cedera atau infeksi. 

Setelah neutrofil, selanjutnya sekitar  24 hingga 28 jam setelah peradangan dimulai, kelompok sel darah putih lain seperti monosit akhirnya matang menjadi makrofag pemakan sel.

Mediator Kimia Reaksi Inflamasi 

Salah satu mediator kimia paling terkenal yang dilepaskan dari sel selama peradangan adalah histamin, yang memicu vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. 

Peningkatan permeabilitas vaskular juga dipengaruhi oleh lisosom yang disekresikan oleh neutrofil. Protein kecil yang disebut C3a dan C5a dalam sistem komplemen juga terlibat.  Banyak sitokin yang disekresikan oleh sel-sel yang terlibat dalam inflamasi juga memiliki sifat vasoaktif dan kemotaktik.

Prostaglandin adalah sekelompok asam lemak yang diproduksi oleh sebagian besar jenis sel. Beberapa prostaglandin meningkatkan efek zat lain yang meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. Selain itu mempengaruhi agregasi trombosit, yang merupakan bagian dari proses pembekuan. 

Prostaglandin dikaitkan dengan rasa sakit dan demam peradangan. Obat anti-inflamasi, seperti aspirin, efektif sebagian karena mereka menghambat enzim yang terlibat dalam sintesis prostaglandin.

Plasma mengandung empat sistem protein yang saling terkait yaitu komplemen, kinin, faktor koagulasi, dan sistem fibrinolitik, yang menghasilkan berbagai mediator inflamasi. Protein komplemen yang diaktifkan berfungsi sebagai faktor kemotaktik untuk neutrofil, meningkatkan permeabilitas vaskular, dan merangsang pelepasan histamin dari sel mast. 

Sistem kinin diaktifkan oleh faktor koagulasi XII, membantu identifikasi bakteri agar mudah difagosit dengan menempel di permukaan bakteri dan juga meningkatkan permeabilitas vaskular. 

Yang paling penting dari kinin adalah bradikinin, yang bertanggung jawab atas sebagian besar rasa sakit dan gatal yang dialami pada saat mengalami peradangan. 

Sistem koagulasi mengubah protein plasma fibrinogen menjadi fibrin, yang merupakan komponen utama dari cairan eksudat. Sistem fibrinolitik berkontribusi terhadap peradangan terutama melalui pembentukan plasmin, yang memecah fibrin menjadi produk yang mempengaruhi permeabilitas pembuluh darah.

Proses Pasca Reaksi Inflamasi

Setelah peradangan akut selesaiakan terjadi beberapa proses lanjutan, yaitu penyembuhan dan perbaikan, pembentukan pus atau nanah, atau peradangan kronis. Hasilnya tergantung pada jenis jaringan yang terlibat dan jumlah kerusakan jaringan yang terjadi, yang pada gilirannya terkait dengan penyebab cedera.

Perbaikan dan penyembuhan

Selama proses penyembuhan, sel-sel yang rusak mampu beregenerasi. Berbagai jenis sel bervariasi dalam kemampuannya untuk beregenerasi. Beberapa sel, seperti sel epitel, mudah beregenerasi, sedangkan yang lain, seperti sel hati, biasanya tidak berproliferasi tetapi dapat dirangsang untuk melakukannya setelah terjadi kerusakan. 

Dalam beberapa kasus, kegagalan untuk mereplikasi struktur asli organ dapat menyebabkan penyakit. Hal ini terjadi pada sirosis hati, di mana regenerasi jaringan yang rusak menghasilkan konstruksi struktur abnormal yang dapat menyebabkan perdarahan dan kematian.

Perbaikan, yang terjadi ketika kerusakan jaringan cukup parah atau arsitektur jaringan normal tidak berhasil diregenerasi, menghasilkan pembentukan jaringan parut fibrosa. Melalui proses perbaikan, sel-sel endotel memunculkan pembuluh darah baru, dan sel-sel yang disebut fibroblas tumbuh membentuk kerangka longgar jaringan ikat. 

Jaringan ikat halus vaskularisasi ini disebut jaringan granulasi. Ini mendapatkan namanya dari area granular merah kecil yang terlihat di jaringan penyembuhan (misalnya, kulit di bawah keropeng). Saat perbaikan berlangsung, pembuluh darah baru membentuk sirkulasi darah di area penyembuhan, dan fibroblas menghasilkan kolagen yang memberikan kekuatan mekanis pada jaringan yang sedang tumbuh. 

Akhirnya terbentuklah bekas luka yang hampir seluruhnya terdiri dari kolagen padat. Volume jaringan parut biasanya kurang dari jaringan yang digantikannya, yang dapat menyebabkan organ berkontraksi dan menjadi terdistorsi. Misalnya, jaringan parut pada usus dapat menyebabkan struktur tubulus menjadi terhambat melalui penyempitan. Kasus jaringan parut yang paling dramatis terjadi sebagai respon terhadap luka bakar atau trauma yang parah.

Pembentukan Pus atau Nanah

Proses pembentukan eksudat yang disebut nanah, terjadi ketika agen yang memicu peradangan sulit dihilangkan. Nanah adalah cairan kental yang sebagian besar terdiri dari neutrofil dan bakteri yang mati dan sekarat, sisa jaringan seluler, dan cairan yang keluar dari pembuluh darah. Penyebab paling umum dari nanah adalah infeksi bakteri piogenik (penghasil nanah), seperti Staphylococcus dan Streptococcus.

Begitu nanah mulai terkumpul di jaringan, ia menjadi dikelilingi oleh membran, sehingga menimbulkan struktur yang disebut abses. Karena abses hampir tidak dapat diakses oleh antibodi dan antibiotik, kadang sangat sulit untuk diobati. Diperlukan drainase bedah untuk mengeringkan dan menghilangkannya. Rongga abses kemudian pecah, dan jaringan diganti melalui proses perbaikan.

Peradangan kronis

Jika agen penyebab inflamasi tidak dapat dihilangkan atau jika ada gangguan pada proses penyembuhan, reaksi inflamasi akut dapat berlanjut ke tahap kronis. Episode peradangan akut yang berulang juga dapat menimbulkan peradangan kronis. 

Dalam beberapa kasus, peradangan kronis bukanlah sekuel dari peradangan akut tetapi merupakan respon independen. Beberapa penyakit manusia yang paling umum seperti TBC, rheumatoid arthritis, dan penyakit paru-paru kronis, merupakan jenis peradangan ini. 

Peradangan kronis dapat disebabkan oleh organisme infeksius yang mampu melawan pertahanan tubuh manusia dan bertahan di jaringan untuk waktu yang lama. Organisme ini antara lain Mycobacterium tuberculosis, jamur, protozoa, dan parasit metazoal. 

Agen inflamasi lainnya adalah bahan asing bagi tubuh yang tidak dapat dihilangkan dengan fagositosis atau pemecahan enzimatik. Contohnya antara lain zat yang dapat dihirup seperti debu silika, dan bahan yang dapat masuk ke luka, seperti serpihan logam atau kayu.

Dalam reaksi autoimun, stimulus peradangan kronis adalah komponen normal tubuh yang telah disensitisasi oleh sistem kekebalan. Reaksi autoimun menimbulkan penyakit inflamasi kronis seperti rheumatoid arthritis.

Ciri khas peradangan kronis adalah infiltrasi area jaringan oleh makrofag, limfosit, dan sel plasma (limfosit B penghasil antibodi). Sel-sel ini berasal dari sistem sirkulasi dengan pelepasan faktor kemotaksis yang stabil. 

Makrofag adalah sel utama yang terlibat dalam peradangan kronis dan menghasilkan banyak efek yang berkontribusi pada perkembangan kerusakan jaringan dan konsekuensi gangguan fungsional.

Peradangan granulomatosa adalah jenis peradangan kronis yang berbeda. Hal ini ditandai dengan pembentukan granuloma, yang merupakan kumpulan kecil dari makrofag yang disebut sel epiteloid dan biasanya dikelilingi oleh limfosit. Granuloma sering mengandung sel raksasa, atau Langhans, yang terbentuk dari penggabungan sel epiteloid. 

Contoh klasik peradangan granulomatosa adalah tuberkulosis, dan granuloma yang terbentuk disebut tuberkel. Granuloma juga biasanya timbul dari infeksi jamur, dan mereka hadir pada schistosomiasis, sifilis, dan rheumatoid arthritis.

Kesimpulan

Reaksi inflamasi atau peradangan adalah mekanisme pertahanan yang berkembang pada organisme untuk melindungi mereka dari infeksi dan cedera. Tujuan reaksi inflamasi adalah untuk melokalisasi dan menghilangkan agen penyebab yang merugikan dan untuk menghilangkan komponen jaringan yang rusak sehingga tubuh dapat mulai sembuh. 

Proses tersebut terdiri dari perubahan aliran darah, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, dan migrasi cairan, protein, dan sel darah putih (leukosit) dari sirkulasi ke tempat kerusakan jaringan. reaksi inflamasi yang berlangsung hanya beberapa hari disebut inflamasi akut, sedangkan respon yang berlangsung lebih lama disebut inflamasi kronis.

Meskipun peradangan akut biasanya bermanfaat, sering kali menyebabkan keluhan yang tidak nyaman, seperti sakit tenggorokan atau gatal-gatal digigit serangga. keluhan biasanya bersifat sementara dan menghilang ketika reaksi inflamasi telah selesai. 

Tetapi dalam beberapa kasus, peradangan dapat menyebabkan kerusakan. Kerusakan jaringan dapat terjadi ketika mekanisme regulasi dari reaksi inflamasi rusak atau kemampuan untuk membersihkan jaringan yang rusak dan zat asing terganggu. 

Dalam kasus lain, respon imun yang tidak tepat dapat menimbulkan reaksi inflamasi yang berkepanjangan dan merusak. Contohnya antara lain alergi, atau hipersensitivitas, reaksi di mana agen lingkungan seperti serbuk sari, yang biasanya tidak menimbulkan ancaman bagi individu, namaun pada orang yang alergi merangsang peradangan. 

Selain alergi, contoh lain peroses inflamasi yang merusak adalah  reaksi autoimun, di mana peradangan kronis dipicu oleh respon imun tubuh terhadap jaringannya sendiri.


Referensi:

  1. Kara Roger.2020. Inflammation. Encyclopedia Britannica.
  2. Kevin Martinez MD. 2020. Everything you need to know about inflammation. Medical News Today
  3. David Zelman MD. 2020. Inflammation. Web MD
  4. Túrelio (via Wikimedia-Commons), 2009 / Lizenz

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Mekanisme Reaksi Inflamasi Atau Peradangan "