bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

6 Jenis Vitamin Anti Radang Terbaik Untuk Atasi Inflamasi

Selain menggunakan obat, beberapa jenis vitamin memiliki khasiat untuk membatu meredakan peradangan atau proses inflamasi di tubuh. Vitamin anti radang ini bisa didapatkan melalui makanan secara alami, atau dengan mengkonsumsi suplemen.

Pada dasarnya, radang atau inflamasi adalah respons alami tubuh terhadap infeksi mikroorganisme, cedera, reaksi alergi, trauma dan racun. Walaupun radang tidak nyaman dan terasa menyakitkan, peradangan memainkan peran penting dalam proses penyembuhan tubuh dengan mengaktifkan sistem kekebalan untuk mulai memperbaiki sel-sel yang rusak. 

Namun,  jika peradangan terjadi berlebihan atau berlangsung lama menjadi peradangan kronis, radang  dapat merusak jaringan, persendian, dan pembuluh darah. Peradangan kronis dapat memicu penyakit jantung, kanker, diabetes, dan penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis dan psoriasis.

Kabar baiknya, Penelitian menunjukkan vitamin tertentu yang memiliki potensi anti-inflamasi atau disebut vitamin  anti radang. Jadi mengkonsumsi berbagai vitamin ini akan membantu mengurangi terjadinya peradangan di dalam tubuh.

Yang perlu di perhatikan,  bahwa mengkonsumsi vitamin secara berlebihan juga dapat menimbulkan efek buruk bagi tubuh. Konsultasilah dengan dokter  atau tenaga kesehatan  sebelum mengkonsumsi suplemen vitamin.

Vitamin Anti Radang Terbaik Untuk Bantu Atasi Inflamasi
Image by Clker-Free-Vector-Images from Pixabay

Jenis Vitamin Anti Radang Terbaik Untuk bantu atasi inflamasi

Berikut adalah 6 (enam) vitamin yang memiliki sifat anti radang dan makanan yang kaya akan sumber vitamin tersebut.

1. Vitamin A

Penelitian menunjukan bahwa vitamin A adalah salah satu vitamin anti radang terbaik. Vitamin A  dapat menjaga sistem kekebalan tubuh agar tidak bekerja berlebihan dan menyebabkan peradangan. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa viatmin A khususnya beta-karoten menyebabkan berdampak baik memperlambat perkembangan rheumatoid arthritis. Penelitian lain juga menunjukan bahwa kekurangan vitamin A meningkatkan resiko terjadinya Alzheimer.  

Vitamin A tersedia dalam dua bentuk, yaitu  preformed vitamin A dan Beta-karoten atau  provitamin A yang diubah menjadi vitamin A dalam tubuh. Vitamin A  juga berkhasiat sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas. 

Vitamin A preformed terdapat  dalam produk hewani, seperti  susu dan  hati. Sedangkan Beta-karoten, jenis provitamin A yang paling umum, adalah yang memberi warna pada sayuran oranye dan beberapa jenis  ubi jalar, wortel, melon, pepaya. Bayam dan sayuran berdaun hijau tua lainnya juga memiliki banyak kandungan vitamin A.

Namun di sisi lain, terlalu banyak vitamin A dapat meningkatkan resiko kerusakan hati dan kejadian cacat saat kelahiran. Suplemen beta-karoten juga dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker paru-paru pada perokok, termasuk pada orang yang telah berhenti merokok.

2. Vitamin B

Vitamin selanjutnya yang termasuk dalam jenis vitamin anti radang terbaik adalah vitamin B. Beberapa jeni Vitamin B, antara lain Vitamin B6, folat (B9), dan B12 dapat menurunkan kadar homosistein, yaitu asam amino yang terkait dengan risiko penyakit jantung dan rheumatoid arthritis. 

Orang yang kekurangan vitamin B6 didapati sering memiliki kadar C-reaktif protein yang tinggi.  C-reaktif protein merupakan salah satu senyawa yang bertanggung jawab dalam reaksi peradangan, terutama pada penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis.

Untuk mengurangi peradangan dan meningkatkan vitamin B6, cobalah mengonsumsi makanan yang tinggi vitamin B, antara lain kangkung, paprika, jamur, melon, tuna, dan unggas.

Satu penelitian  menemukan bahkan suplemen asam folat dosis rendah (Vitamin B9) yang dikonsumsi setiap hari dapat mengurangi peradangan. Sumber makanan folat antara lain  kacang polong, sayuran berdaun hijau gelap, asparagus, dan hati.

3. Vitamin C

Vitamin C juga merupakan salah satu vitamin anti radang terbaik. Vitamin C dikenal membantu menjaga sistem kekebalan tubuh tetap sehat dan berfungsi dengan baik. Selain itu, penelitian menunjukkan vitamin C dapat juga berfungsi sebagai antioksidan yang  menghilangkan radikal bebas yang menyebabkan peradangan

Vitamin C juga membantu mengurangi kadar C-reaktif protein.  Vitamin C bisa didapatkan dari suplemen, namun mengkonsumsi makanan segar seperti buah dan sayur yang tinggi kandungan vitamin C tetap merupakan pilihan terbaik.

Sumber makanan yang tinggi kandungan vitamin C antara lain  berbagai buah dan sayuran, yang juga sarat dengan antioksidan yang dapat meningkatkan kesehatan dan berpotensi menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker.

Beberapa jenis buah-buahan yang tinggi kandungan vitamin C nya antara lain Buah jeruk, jeruk bali, jeruk keprok, paprika, brokoli, dan kubis Brussel.  Sayuran hijau dan beri juga merupakan sumber vitamin C  yang baik.

4. Vitamin D

Jenis vitamin anti radang selanjutnya adalah vitamin D. Menurut satu laporan dari Food & Nutrition Research, sekitar 41,6% orang Amerika kekurangan vitamin D.5. Penelitian telah lama membuktikan hubungan antara vitamin D yang rendah dan berbagai penyakit peradangan. 

Kadar vitamin D yang rendah telah dikaitkan dengan penyakit inflamasi antara lain rheumatoid arthritis, SLE, penyakit radang usus, dan multiple sclerosis. 

Lebih lanjut, para peneliti mengidentifikasi bahwa meningkatkan vitamin D dapat membantu mengurangi peradangan di tubuh

Laporan lain yang diterbitkan dalam The Journal of Immunology menunjukkan peristiwa molekuler dan pensinyalan tertentu bertanggung jawab atas kemampuan vitamin D untuk menghambat radang. 

Vitamin D diproduksi secara alami oleh tubuh setelah terpapar sinar matahari, tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan semua vitamin D mereka dengan cara ini. 

Hanya sedikit makanan yang ditemukan di alam yang mengandung vitamin D dengan kadar yang tinggi. Beberapa makanan yang merupakan sumber vitamin D antara lain  ikan berlemak, hati, daging sapi, kuning telur, dan  susu.

5. Vitamin E

Vitamin E merupakan jenis vitamin anti radang sekaligus antioksidan. Hasil dari meta-analisis 2015 yang dilaporkan dalam European Journal of Clinical Nutrition mengkonfirmasi bahwa vitamin E memiliki sifat anti-inflamasi dan suplemen dapat membantu orang yang hidup dengan kondisi peradangan.

Penelitian lain juga menunjukkan hubungan antara kadar vitamin E yang rendah dan peningkatan risiko penyakit Alzheimer yang lebih besar.

Makanan yang tinggi kandungan vitamin E antara lain biji bijian dan jenis kacang-kacangan. Sebagian besar jenis buah dan sayuran juga kaya vitamin E, seperti alpukat, kecambah, tauge dan bayam.

6. Vitamin K

Selain bermanfaat membantu proses pembekuan darah, vitami K juga memiliki efek meminimalisir penanda inflamasi dan menjaga kesehatan tulang.

Sementara vitamin K diperlukan untuk kesehatan tulang, sebagian orang tidak mendapatkan cukup vitamin K dari makanan mereka.

Pria dewasa harus mengonsumsi 120 mikrogram (mcg) vitamin K setiap hari, sementara wanita harus mengonsumsi 90 mcg. 

Terdapat dua jenis vitamin K, yaitu  Vitamin K1 dan K2. Sumber alami vitamin K1 antara lain sayuran berdaun seperti kangkung, brokoli, kubis, dan bayam. Sedangkan sumber vitamin K2 bisa didapatkan dari makanan hewani seperti ayam, hati, dan telur. 

Akhir Kata

Terdapat berbagi sumber makanan yang mengandung vitamin anti radang, seperti sayuran, buah, ikan, dan makanan lainnya seperti yang disebutkan diatas.

Selain itu dalam bentuk suplemen, vitamin anti radang  ini dapat mengurangi peradangan tanpa efek samping yang parah dan dapat menjadi pilihan yang layak untuk tambahan  obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) .

Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter, apoteker, dan perawat  sebelum memulai suplemen vitamin apa pun.  Dan yang perlu difahami juga, bahwa suplemen vitamin bukan merupakan pengganti obat.

 

Referensi:

  1. Lana Barhum. 2021. What Vitamins Can Help With Inflamation. Verywell Health.
  2. Melinda Rantini. 2020. Vitamins That Fight Inflamation. Web MD
  3. http://europepmc.org/article/MED/28298266
  4. Ueland PM et.al. 2017.  Inflammation, vitamin B6 and related pathways. Mol Aspects Med. doi:10.1016/j.mam.2016.08.001
  5. Chambial S. 2013.  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24426232/
  6. Zhang Y. Et.al. 2017. https://europepmc.org/article/PMC/3368346