Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Sindrom Mallory Weiss

Sindrom Mallory Weiss adalah sobekan mukosa esofagus yang ditandai dengan pendarahan ringan sampai berat dan biasanya tidak menyakitkan terjadi pada esofagus. Sobekan seperti ini, yang biasanya tunggal dan longitudinal, disebabkan oleh muntah yang dipaksa atau berlangsung lama. Sekitar 60% sobekan melibatkan kardia, 15% melibatkan esofagus terminal, dan 25% melibatkan wilayah di seberang tautan esofagogastrik. Sindrom Mallory-Weiss paling sering menyerang pria berusia lebih dari 40 tahun, terutama alkoholik.

Awalnya dijelaskan pada pasien dengan gangguan penggunaan alkohol, sindrom Mallory Weiss dapat terjadi pada pasien yang muntah secara paksa. Ini adalah penyebab dari sekitar 5% perdarahan gastrointestinal bagian atas. Robekan juga bisa disertai nyeri di dada bagian bawah.

Diagnosis sindrom Mallory Weiss disarankan secara klinis dengan riwayat hematemesis yang khas yang terjadi setelah satu atau lebih episode muntah berdarah. Dalam kasus seperti itu, jika jumlah perdarahan minimal dan pasien stabil, pengujian dapat ditunda.

Sindrom Mallory Weiss
Foto by Jeremias on: wikimedia.org

Jika riwayat tidak jelas atau perdarahan masih berlangsung, pasien harus menjalani evaluasi standar untuk perdarahan GI, biasanya dengan endoskopi atas dan pengujian laboratorium. Endoskopi atas juga dapat menjadi terapi karena klip dapat dipasang di untuk mengontrol perdarahan.

Kebanyakan episode perdarahan berhenti secara spontan. Perdarahan hebat terjadi pada sekitar 10% pasien yang memerlukan intervensi signifikan, seperti transfusi atau hemostasis endoskopik dengan pemasangan klip, injeksi epinefrin, atau dengan elektrokauter. 

Penyebab 

Muntah yang dipaksa atau berlangsung lama 

Faktor predisposisi  :

  • Mukosa gastrik atrofik 
  • Melahirkan 
  • Esofagitis 
  • Hernia hiatal 
  • Kejang
  • Penegangan saat pergerakan usus 
  • Trauma 

Tanda dan gejala 

  • Nyeri epigastrik atau punggung, bisa berkisar dari ringan sampai sangat berat tetapi umumnya lebih parah daripada di ruptur esofageal.
  • Pendarahan yang sangat banyak—paling mungkin saat sobekan berada di sisi gastrik, dekat dengan kardia—bisa cepat menyebabkan syok fatal. Pembuluh darah hanya mengalami pendarahan parah secara parsial, sehingga mencegah retraksi dan penutupan lumen.
  • Memuntahkan darah atau keluarnya banyak darah melalui rektum beberapa jam sampai beberapa hari setelah muntah normal. 

Uji diagnostik 

  • Indentifikasi koyakan esofageal dengan endoskopi serat-optik memastikan sindrom Mallory-Weiss. Lesi ini, yang biasanya muncul di dekat tautan gastroesofageal, tampak sebagai retakan longitudinal eritematosa di mukosa yang ditimbulkan tepat sebelumnya dan sebagai corengan timbul berwarna putih yang dikelilingi eritema jika ditimbulkan lebih lama. 
  • Angiografi (arteriografi seliak selektif) bisa menentukan tempat pendarahan tetapi tidak bisa menentukan penyebab. Uji ini digunakan jika endoskopi tidak tersedia.
  • Hematokrit serum membantu menentukan banyaknya darah yang hilang.

Penanganan 

Penanganan yang tepat bervariasi menurut keparahan pendarahan. Biasanya, pendarahan GI berhenti secara spontan, sehingga membutuhkan tindakan suportif dan observasi secara saksama, tetapi tidak memerlukan penanganan yang pasti. Akan tetapi, jika pasien masih mengalami pendarahan, penanganan bisa meliputi: 

  • Infusi angiografi vasokonstriktor (vasopresin) ke dalam arteri mesentrik superior atau infusi langsung ke dalam pembuluh yang menuju arteri pendarahan 
  • Embolisasi transkateter atau pembentukan trombus dengan gumpalan darah autolog atau bahan hemostatik lainnya (pemasukan bahan artifisial, misalnya spons gelatin yang diiris dan bisa diabsorpsi, atau, ltidak umum digunakan] darah pasien yang menggumpal melalui kateter ke dalam pembuluh pendarahan untuk membantu pembentukan trombus) pembedahan untuk membuat sutura pada setiap laserasi (bagi pendarahan yang sangat banyak dan rekuren atau tidak bisa dikontrol). 

Intervensi  Asuhan Keperawatan 

  • Pantau status respiratorik pasien termasuk oksimetri denyut nadi dan ukuran gas darah arterial. 
  • Beri oksigen sesuai perintah. 
  • Kaji banyaknya darah yang hilang, dan catat tanda yang berkaitan, misalnya hematemesis dan melena (meliputi warna, banyak, konsistensi, dan frekuensi). 
  • Pantau status hematologis (kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah sel darah merah). Ambil darah agar bisa ditakukan studi koagulasi (waktu protrombin, waktu tromboplastin parsial, dan jumlah keping darah) dan penentuan tipe dan silang-suai.
  • Upayakan untuk selalu menyediakan tiga unit sel darah merah kemasan yang cocok agar bisa digunakan sesuai perintah. Sampai darah tersedia, masukkan saluran I.V. kaliber-besar (14G sampai 18G), dan mulai lakukan infusi larutan garam normal, sesuai perintah. 
  • Pantau tanda vital, tekanan venosa pusat, output urin, dan status klinis pasien secara keseluruhan. 
  • Beri antiemetik sesuai resep untuk mencegah pasien muntah setelah operasi. 
  • Sarankan pasien tidak mengkonsumsi alkohol, aspirin, atau substansi lain yang menyebabkan iritasi. 
  • Pantau adakah tanda hemoragi pada pasien yang mengalami hipertensi portal. 


Referensi: 

  1. Kristle Lee Lymch. 2020. Mallory-Weiss Syndrome. Perelman School of Medicine at University of Pennsylvania. MSD Manual Professional Version.
  2. Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Sindrom Mallory Weiss"