Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Abses Otak

Abses otak merupakan kumpulan pus atau nanah yang berkembang sebagai respons terhadap infeksi atau trauma. Kondisi ini bisa menjadi serius dan membahayakan nyawa. 

Ukuran abses otak bisa bervariasi dan berbentuk tunggal atau multilokular. Dimasa lalu, abses otak “selalu berakibat fatal”, tetapi para peneliti dan ahli menemukan kemajuan dalam diagnosis dan penatalaksanaan secara signifikan sehingga bisa meningkatkan harapan hidup.

Image by Hellerhoff on wikimedia.org

Efek abses otak juga bervariasi, tergantung pada ukuran dan dimana lokasi abses tersebut terbentuk. 

Penyebab 

Sebagian besar abses otak disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur dan parasit pada beberapa bagian otak. Infeksi memasuki otak melalui tiga jalur utama, yaitu darah, organ terdekat seperti telinga, dan trauma atau proses pembedahan.

Ketika bakteri, jamur, atau parasit menginfeksi otak, akan terjadi peradangan dan pembengkakan. Dalam kasus ini, abses terdiri dari sel otak yang terinfeksi, sel darah putih (leukosit) baik yang masih aktif atau sudah mati, serta organisme penyebab infeksi.

Saat cairan dan sisa sel menumpuk, dinding atau membran berkembang di sekitar abses. Hal ini untuk membantu mengisolasi infeksi dan mencegahnya menyebar ke jaringan yang sehat.

Jika abses membengkak, maka akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.Karena sifat tulang tengkorak yang tidak fleksibel, maka peningkatan tekanan intrakranial ini juga berdampak ke jaringan sekitarnya. Termasuk bisa terjadi penyumbatan pembuluh darah yang berakibat kerusakan jaringan otak di area sekitar abses.

Tanda dan gejala 

Tanda dan gejala abses otak antara lain:

  • Kejang

Kejang mungkin merupakan tanda pertama abses. Mual dan muntah cenderung terjadi pada saat peningkatan Tekanan Intra kranial (TIK).

Nyeri biasanya dimulai pada sisi yang mengalami abses, dan mulai secara perlahan atau tiba-tiba.

Perubahan status mental terjadi pada sekitar 65% kasus, dan dapat menyebabkan:

  • Kebingungan
  • Mengantuk dan lesu
  • Fokus dan daya tanggap yang memburuk
  • Iritabel, cepat tersinggung atau marah
  • Proses berfikir lambat
  • Bisa terjadi koma, Kelemahan otot, atau kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh
  • Masalah berbicara seperti cadel dan koordinasi yang memburuk. 


Uji diagnostik 

  • Computed tomography (CT) scan untuk mengidentifikasi lokasi abses
  • Pemeriksaan cairan serebrospinal membantu memastikan infeksi. Fungsi lumbal tidak dilakukan karena dapat memicu herniasi transtentorial.
  • Biopsi stereotaktis yang dipandu CT Scan. 
  • Pembiakan untuk mengidentifikasi organisme penyebab abses dan jenis antibiotik yang sesuai.
  • Sinar-X tengkorak.

Penanganan 

  • Pemberian Antibiotik 
  • Aspirasi stereotaktik yang dipandu CT atau drainase bedah
  • Penanganan lain selama fase akut untuk meringankan penyakit. seperti ventilasi mekanis, pemberian cairan 1.V. dengan diuretik dan glukokortikoid  untuk mengurangi peningkatan ICP dan edema serebral. 
  • Anti konvulsan untuk mencegah kejang 

Intervensi Asuhan Keperawatan

  • Penderita abses otak akut membutuhkan pantauan perawatan intensif. 
  • Seringkali nilailah status neurologis, terutama kognisi dan mentasi, bicara, dan fungsi sensorimotor dan saraf kranial. 
  • Kenaikan awal pada ICP bisa dideteksi menggunakan pemeriksaan status mini-mental, Skala Koma Glasgow, dan Skala Stroke dari National Institutes of Health. Alat-alat yang sangat sensitif tersebut mempermudah menemukan perubahan neurologis awal dan bisa membantu menurunkan kenaikan ICP. Sekali naik, ICP menyebabkan pupil abnormal, tekanan respirasi, tekanan pupil melebar, dan takikardia atau bradikardia. Putaran kenaikan ICP mungkin tidak bisa diubah. 
  • Nilai dan catat tanda vital setidaknya setiap jam. 
  • Pantau asupan cairan dan output secara saksama karena kelebihan cairan dalam tubuh bisa turut menyebabkan edema serebral. 
  • Jika diperlukan pembedahan, jelaskan prosedurnya pada pasien dan keluarganya, dan jawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
  • Setelah operasi, seringkali lanjutkan kajian neurologis. Pantau tanda vital dan asupan dan output pasien. 
  • Lihat adakah tanda dan gejala meningitis (antara lain rigiditas nukal, sakit kepala, menggigil, dan berkeringat), yang bisa mengancam sewaktu-waktu. 
  • Seringkali gantilah pembalut pasien. Jangan pernah membiarkan pembalut lembab. Kuatkan pembalut, atau ganti bila perlu. Untuk membantu drainase dan mencegah abses berkumpul lagi, posisikan pasien di sisi yang dioperasi. Ukur drainase dari Hemovac atau atau jenis penyaluran lain seperti yang diperintahkan dokter bedah.
  • Jika pasien masih tidak sadar atau koma dalam waktu lama, lakukan perawatan kulit secara teliti untuk mencegah ulser yang menekan, dan posisikan ia untuk menjaga fungsi tubuhnya dan mencegah kontraktur. 
  • Jika pasien perlu diisolasi karena adanya drainase postoperatif, pastikan ia dan keluarganya memahami alasannya. 
  • Ambulasikan pasien sesegera mungkin untuk mencegah imobilitas dan untuk mendorong kemandiriannya. 
  • Untuk mencegah abses otak, tekankan perlunya menangani otitis media, mastoiditis, abses dental, dan infeksi lain. Beri antibiotik profilaksis seperlunya setelah pasien mengalami fraktur tengkorak gabungan atau luka yang menembus kepala. 


Referensi:

  1. Yvette Braizer. 2018. Brain Abscess: All you need to know: Medical News Today
  2. Sukhdeep Jhawar, A. Goel. 2011. Brain Abscess: An Overview. International Journal Of SUrgery
  3. Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Abses Otak"