Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Atelektasis

Atelektasis terjadi ketika alveoli di paru-paru tidak dapat berkembang sepenuhnya. Ini dapat menyebabkan sebagian atau seluruh paru-paru kolaps. Pertukaran oksigen dan karbon dioksida melalui proses difusi tidak dapat terjadi di alveoli, saat paru-paru mengalami gangguan dalam proses mengembang dan mengempisnya. Atelektasis sangat sering terjadi setelah operasi.

Gambar by BruceBlaus from:wikimedia.org

Penyebab 

  • Penyumbatan bronkus oleh lendir, benda asing, atau pembengkakan akibat penyakit paru.
  • Produksi surfaktan menurun (surfaktan menjaga alveoli di paru-paru Anda agar tidak kolaps saat  mengeluarkan napas)
  • Segala tekanan yang tidak memungkinkan paru-paru berkembang sepenuhnya, seperti perban yang ketat.
  • Apa pun yang mencegah inspirasi napas, seperti patah tulang rusuk, obesitas, atau sayatan di dada atau perut.

Hal-hal yang meningkatkan risiko atelektasis:

  • Anestesi umum
  • Operasi pada dada, abdominal atas, Kepala, leher, dan pembuluh darah.
  • Tidak bergerak dalam waktu lama, seperti saat dalam perawatan intensif atau saat istirahat
  • Obesitas, meorkok, atau usia lebih dari 60 tahun
  • Kondisi kesehatan seperti gagal jantung, apnea tidur obstruktif, atau hipertensi paru

Tanda dan gejala 

Atelektasis bisa tidak memiliki gejala, atau bisa mengalami salah satu dari yang berikut ini:

  • Batuk atau mengi
  • Kesulitan bernapas 
  • Sakit dada
  • Bibir dan jari mengalami sianosis
  • Berkeringat banyak
  • Jantung berdetak lebih cepat dari yang seharusnya atau takikardi

Uji diagnostik 

Atelektasis harus dicurigai pada pasien yang memiliki gejala pernafasan yang tidak dapat dijelaskan dan yang memiliki faktor risiko, terutama pembedahan besar baru-baru ini. 

Atelektasis yang signifikan secara klinis, yang menyebabkan gejala, meningkatkan risiko komplikasi, atau sangat mempengaruhi fungsi paru umumnya terlihat pada rontgen dada. Temuan dapat mencakup kekeruhan paru dan atau hilangnya volume paru.

Jika penyebab atelektasis tidak jelas secara klinis misalnya, jika tidak menjalani pembedahan akhir-akhir ini, ada pneumonia yang terlihat pada rontgen dada atau diduga ada gangguan lain seperti emboli paru dan tumor. Maka tes lain, seperti bronkoskopi atau CT scan mungkin diperlukan.

Penanganan 

  • Pemberian obat-obatan untuk mengencerkan secret sehingga lebih mudah batuk. 
  • Pemberian obat-obatan yang melebarkan saluran nafas dan antibiotik untuk mengobati infeksi. 
  • Pembedahan atau radiasi untuk mengangkat atau mengecilkan penyumbatan.
  • Postural drainase
  • Clapping
  • Latihan nafas dalam dan batuk efektif
  • Latihan pernapasan dalam membantu meningkatkan fungsi paru-paru Anda dan mengurangi risiko atelektasis. 
  • Spirometer insentif dapat digunakan setelah operasi untuk membantu Anda bernapas dalam dan perlahan. 
  • Ubah posisi Anda untuk mendorong ekspansi paru-paru dan mengurangi risiko infeksi. 
  • Minumlah cairan sesuai petunjuk untuk membantu mengencerkan lendir. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

Intervensi asuhan keperawatan pada atelektasi antara lain:

  • Dorong pasien yang telah menjalani pembedahan dan pasien lain yang berisiko-tInggi melakukan batuk dan bernapas dalam setiap 1 sampai 2 jam untuk mencegah atelektasis. 
  • Untuk meminimalkan nyeri selama latihan batuk pada pasien yang telah menjalani pembedahan, tahan bantal dengan kuat di tempat insisi dan ajari pasien melakukan teknik ini. Secara lembut, seringkali posisikanlah kembali pasien tersebut, dan bantu ia berjalan sesegera mungkin. 
  • Beri analgesik secukupnya untuk mengontrol nyeri. 
  • Saat ventilasi mekanis, pertahankan volume tidal sebesar 10 sampai 15 rat/kg dari berat badan pasien untuk memastikan kecukupan ekspansi paru-paru.Sesuai ketentuan, gunakan mekanisme desahan pada ventilator untuk meningkatkan volume tidal secara intermiten pada tingkat 3 sampai 4 desahan per jam.
  • Lakukan spirometer insentif untuk mendorong inspirasi yang dalam melalui penguatan positif. Ajari pasien cara menggunakan spirometer, dan minta is menggunakannya tiap 1 sampai 2 jam. 
  • Lembabkan udara yang dihirup dan cukupi asupan cairan untuk menggerakkan sekresi. Untuk membantu mengencerkan dan membersihkan sekresi, lakukan drainase postural dan perkusi dada.
  • Jika pasien sedang menggunakan intubasi atau tidak bisa diajak bekerja sama, lakukan pengisapan seperlunya. Gunakan sedatif dengan diskresi karena sedatif akan menekan respirasi dan reeks batuk, dan akan mendorong desahan. 
  • Seringkali kajilah bunyi napas dan status ventilatorik, dan waspadai perubahan apa pun. 
  • Ajari pasien cara melakukan perawatan respiratorik, termasuk drainase postural, batuk, dan bernapas dalam. 
  • Bila perlu, dorong pasien berhenti merokok dan menurunkan berat badan atau keduanya. Sarankan ia mengunjungi kelompok pendukung yang tepat untuk meminta bantuan.
  • Beri keyakinan dan dukungan emosional karena pasien bisa merasa takut terhadap kapasitas bernapasnya yang terbatas. 


Sumber :

  1. Nancy Moyer. 2018. Atelectasis. Health Line
  2. Penn Medicine. What is Atelectasis
  3. Drugs.com. 2021. Atelectasis
  4. Basak Coruh. 2019. Atelectasis. MSD Manual Professional Version
Elisa Oktaviana, Ners M.Kep
Elisa Oktaviana, Ners M.Kep Praktisi dan Dosen di Program Studi S1 Keperawaatan Stikes Yarsi Mataram.

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Atelektasis"