Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Neonatal Respiratory Distress Syndrome

Respiratory distress syndrome  (RDS), yang juga disebut penyakit membran hialin dan sindrom distres respiratorik bayi, merupakan penyebab paling umum dari mortalitas neonatal dan merupakan komponen utama dalam morbiditas neonatal. 

Keparahan dan prognosis RDS berkaitan langsung dengan usia gestasional neonatus. Ada hubungan berbalik antara usia gestasional dan RDS, yaitu semakin kecil usia gestasional, semakin besar potensi RDS. Respiratory distress syndrome umumnya menyerang bayi prematur yang lahir sebelum gestasi memasuki usia 37 minggu (dan sekitar 60% bayi yang lahir sebelum gestasi memasuki usia 28 minggu). 

Respiratory distress syndrome lebih sering menyerang neonatus yang beribukan penderita diabetes melitus dan neonatus yang lahir dengan asidosis, misalnya neonatus yang lahir dalam kondisi penuh stres misalnya, dengan cesar atau segera setelah hemoragi antepartum. 

Asuhan Keperawatan Neonatal Respiratory Distress Syndrome
Image by Zerbey on wikimedia.org 

Walaupun perkembangan alveolar telah dimulai saat gestasi memasuki usia 25 sampai 27 minggu, alveoli tidak mencukupi untuk respirasi efektif. Selain itu, otot interkostal lemah, dan suplai darah alveoli dan kapiler belum matang. 

Pada RDS, neonatus prematur akan mengalami kolaps alveolar yang menyebar-luas akibat kekurangan surfaktan, yaitu Iipoprotein yang ada di alveoli dan bronkiola respiratorik. Normalnya, surfaktan menurunkan tensi permukaan dan membantu mempertahankan kepatenan alveolar, sehingga mencegah kolaps, terutama di akhir ekspirasi. Manajemen agresif menggunakan ventilasi mekanis bisa meningkatkan prognosis.

Penyebab . 

Defisiensi surfaktan 

Tanda dan gejala 

  • Dengkur ekspiratorik yang bisa didengar 
  • Sputum berbusa 
  • Hipotensi 
  • Retraksi interkostal, subkostal, atau sternal 
  • Suhu tubuh rendah 
  • Pengembangan nasal 
  • Oliguria 
  • Pucat 
  • Edema periferal 
  • Respirasi cepat dan dangkal, dalam waktu beberapa menit atau beberapa jam setelah lahir 

Pada penyakit parah 

  • Apnea 
  • Brakikardia 
  • Sianosis 

Uji diagnostik 

  • Sinar-X dada bisa normal selama 6 sampai 12 jam pertama (pada 50% neonatus penderita RDS) tetapi kemudian menunjukkan pola retikulonodular yang jelas dan coretan gelap, yang mengindikasikan bronkiola yang berdilasi dan berisi udara.
  • Analisis darah arterial (arterial blood gas - ABG) menunjukkan tekanan oksigen arterial parsial (PaO2) turun; tekanan karbondioksida arterial parsial normal, turun, atau naik; pH turun (akibat asidosis respiratorik atau metabolik, atau keduanya). 
  • Jika diperlukan operasi cesar sebelum gestasi memasuki usia 36 minggu, amniosentesis menentukan perbandingan lesitin sfingomielin, yang membantu mengkaji perkembangan paru-paru prenatal dan risiko RDS. 

Penanganan 

  • Surfaktan paru-paru alami, misalnya beraktan (Survanta), diberikan melalui pipa endotrakeal (ET) sesegera mungkin setelah lahir.
  • Bantuan respiratorik kuat meliputi gas hangat, lembab, dan diperkaya-oksigen, yang diberikan melalui kerudung oksigen. Jika cara tersebut gagal, gas diberikan melalui ventilasi mekanis. 
  • Kasus parah membutuhkan ventilasi mekanis dengan tekanan akhir-ekspiratorik positif (positive end-expiratory pressure — PEEP) atau tekanan jalan napas positif secara kontinu (continuous positive airway pressure — CPAP), yang diberikan melalui masker wajah yang kencang dan pas atau bila perlu dengan intubasi ET. 
  • Penghangat bayi radian atau lsolette digunakan untuk termoregulasi. 
  • Cairan dan natrium bikarbonat I.V. diberikan untuk mengontrol asidosis dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
  • Pemberian makan melalui pipa atau nutrisi parenteral total bisa diperlukan jika neonatus terlalu lemah untuk makan.

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Secara saksama, pantau kadar ABG dan asupan dan output cairan. Jika neonatus menggunakan kateter umbilikal (arterial atau venosa), periksa adakah hipotensi arterial atau tekanan venosa pusat abnormal.
  • Lihat adakah komplikasi misalnya infeksi, trombosis, atau sirkulasi ke kaki berkurang. 
  • Jika neonatus terhubung pada monitor PaO2 (metode akurat untuk menentukan PaO2), ganti tempat utama setiap 2 sampai 4 jam agar kulit tidak terbakar. 
  • Ukur berat badan neonatus satu atau dua kali sehari. Untuk mengevaluasi perkembangannya, kaji warna kulit, tingkat dan kedalaman respirasi, keparahan retraksi, pengembangan lubang hidung, frekuensi dengkur ekspiratorik, busa di bibir, dan kegelisahannya.
  • Secara teratur, kaji keefektivan oksigen atau terapi ventilator. Lakukan evaluasi pada tiap perubahan fraksi oksigen yang diinsipirasi dan PEEP atau CPAP dengan memantau saturasi oksigen atau kadar ABG. Pastikan untuk menyesuaikan PEEP atau CPAP sesuai indikasi dan berdasarkan temuan.
  • Jika neonatus menggunakan ventilasi mekanis, secara saksama lihat adakah tanda barotrauma (peningkatan dalam distres respiratorik atau emfisema subkutaneus) dan diskoneksi yang tidak disengaja dari ventilasi. Seringkali periksalah peralatan ventilator.
  • Waspadai tanda komplikasi terapi PEEP atau CPAP, misalnya output kardiak berkurang, pneumotoraks, dan pneumomediastinum. Ventilasi mekanis meningkatkan risiko infeksi pada neonatus prematur, sehingga tindakan pencegahan sangatlah penting.
  • Bila perlu, lakukan perawatan lanjutan dengan oftalmolog neonatal untuk memeriksa drainase retinal. 
  • Beri tahu orang tua mengenai kondisi neonatus dan, jika memungkinkan, izinkan mereka berpartisipasi dalam perawatan neonatus (menggunakan teknik steril) untuk memperkuat ikatan orang tua-bayi. Beri tahu orang tua bahwa penyembuhan menyeluruh bisa membutuhkan 12 bulan. jika prognosis buruk, minta orang tua bersiap-siap menghadapi kematian neonatus yang akan terjadi, dan beri dukungan emosional. 
  • Bantu menurunkan mortalitas RDS dengan mendeteksi distres respiratorik sejak dini. Kenali retraksi interkostal dan dengkur, terutama pada neonatus prematur, yang merupakan tanda sindrom distres respiratorik, dan pastikan neopatus segera ditangani.


Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Neonatal Respiratory Distress Syndrome"