Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Tumor Pituitari - Intervensi

Tumor pituitari mencakup 10% neoplasma intrakranial dan secara khas berasal dari pituitari anterior (adenohipofisis). Tumor ini menyerang pria maupun wanita dewasa, yang biasanya berusia 30 sampai 40 tahun. 

Tiga tipe jaringan tumor pituitari adalah adenoma kromofobus (90%), adenoma basofil, dan adenoma eosinofil. Prognsosinya berkisar dari cukup baik sampai baik, tergantung pada tingkat penyebaran tumor di luar sella turcica.

Asuhan Keperawatan Tumor Pituitari
Image by BruceBlaus on wikimedia.org

Penyebab 

  • Tidak diketahui 
  • Berkaitan dengan gangguan herediter, misalnya neoplasia endokrin multipel 
  • Sifat dominan autosomal. Adenoma kromofobus bisa berkaitan dengan: 
  • Hormon pertumbuhan 
  • Hormon penstimulasi-melanosit 
  • Produksi kortikotropin 
  • Prolaktin 

Adenoma basofil bisa berkaitan dengan: 

  • Produksi kortikotropin berlebihan 
  • Tanda sindrom Cushing 

Adenoma eosinofil 

  • Hormon pertumbuhan berlebihan 

Tanda dan gejala 

  • Amenorea 
  • Pandangan kabur 
  • Penyimpangan tatapan konjugat 
  • Konstipasi 
  • Libido menurun dan DE pada pria 
  • Pusing 
  • Pandangan ganda 
  • Kepala miring 
  • Letih yang semakin menjadi 
  • Intoleransi pada dingin atau panas 
  • Letargi 
  • Ptosis kelopak mata 
  • Gerakan mata terbatas 
  • Nistagmus 
  • Perubahan kepribadian atau demensia 
  • Rambut pubis dan aksilari rontok 
  • Rinorea 
  • Sawan 
  • Perubahan kulit (tampak berminyak, kerut lebih sedikit) 
  • Strabismus 
  • Kebutaan unilateral 
  • Lemah 

Uji diagnostik 

  • Magnetic resonance imaging (MRI), computed tomography (CT) scan, atau sinar-X tengkorak disertai tomografi menunjukkan pembesaran sella turcica atau erosi lantainya jika sekresi hormon pertumbuhan meningkat melebihi hormon lain. 
  • Sinar-X menunjukkan pembesaran sinus paranasal mandibula, penebalan tulang kranial, dan gigi terpisah.
  • MRI dan CT scan menunjukkan lokasi dan ukuran adenoma. 
  • Angiografi karotid menunjukkan perpindahan arteri karotid serebral anterior dan internal jika gumpalan tumor membesar.Uji ini juga menyingkirkan aneurisma intraserebral.
  • Analisis cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid — CSF) bisa menunjukkan kenaikan kadar protein. 
  • Uji fungsi endokrin bisa menyumbang informasi yang berguna, tetapi hasilnya seringkali rancu dan tidak memberikan kesimpulan. 

Penanganan 

  • Pilihan pembedahan meliputi pembuangan transfrontal tumor besar yang menimpa aparatus optik dan reseksi transfenoidal untuk tumor yang lebih kecil dan hanya ada di fossa pituitari.
  • Radiasi merupakan penanganan utama bagi tumor kecil dan nonsekretorik yang tidak meluas ke luar sella turcica dan bagi pasien yang memiliki risiko buruk setelah operasi; kecuali itu, radiasi merupakan pelengkap pembedahan.
  • Penanganan postoperatif meliputi penggantian hormon dengan kortikosteroid, hormon tiroid dan seks; koreksi ketidakseimbangan elektrolit; dan terapi insulin seperlunya. 
  • Terapi obat lain bisa meliputi bromocriptine (Parlodel), yaitu derivatif ergot yang menyusutkan tumor pensekresi protaktin dan tumor pensekresi hormon pertumbuhan. 
  • Obat anatiserotonin bisa menurunkan kenaikan kadar kortikosteroid pada pasien yang menderita sindrom Cushing. 
  • Radioterapi adjuvan digunakan jika pasien hanya bisa menjalani pembuangan tumor secara parsial.
  • Kriohipofisektomi (membekukan area dengan pemeriksa yang dilakukan melalui rute transfenoidal) merupakan alternatif pembedahan diseksi tumor yang menjanjikan. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Dapatkan riwayat kesehatan komprehensif dan kajian fisik untuk menentukan serangan disfungsi neurologis dan endokrin dan sediakan data mendasar untuk perbandingan selanjutnya. 
  • Pastikan pasien dan keluarganya paham bahwa pasien memerlukan evaluasi dan mungkin penggantian hormon seumur hidup. 
  • Yakinkan pasien bahwa beberapa tanda dan gejala fisik dan tingkah laku yang membuat stres dan disebabkan oleh disfungsi pituitari (misalnya  DE, infertilitas, rambut rontok, dan kelabilan emosional) akan hilang jika ditangani. 
  • Sediakan lingkungan yang aman dan bebas kekacauan bagi pasien yang mengalami kerusakan visual atau menderita akromegali. Yakinkan ia bahwa penglihatannya bisa sembuh. 
  • Tempatkan pasien yang telah menjalani hipofisektomi supratentorial atau transsfenoidal pada ranjang yang kepalanya dinaikkan sekitar 30 derajat untuk membantu drainase venosa dari kepala dan mengurangi edema serebral. 
  • Tempatkan pasien di sisi tubuhnya untuk mengalirkan drainase dan mencegah aspirasi. 
  • Pasien yang telah menjalani pembedahan trassferoidal tidak boleh membuang ingus dari hidungnya. 
  • Lihat adakah drainase CSF dari hidung. Pantau adakah tanda dan gejala infeksi dari traktus respiratorik atas yang terkontaminasi. 
  • Pastikan pasien paham bahwa ia akan kehilangan indera penciumannya.
  • Secara teratur, bandingkan status postoperatif pasien dengan kajian mendasar Anda.
  • Pantau asupan dan output untuk mendeteksi ketidakseimbangan cairan. 
  • Sebelum pasien pulang, minta ia memakai gelang atau kalung identifikasi medis yang mengidentifikasi defisiensi hormon dan penanganannya yang tepat. 


Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Tumor Pituitari - Intervensi"