Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Penyakit Tirotoksikosis - Intervensi

Tirotoksikosis merupakan ketidakseimbangan metabolis yang disebabkan oleh produksi hormon tiroid yang berlebihan atau pelepasan hormon tiroid yang berlebihan dari kelenjar. Bentuk tirotoksikosis yang paling umum adalah penyakit Graves, yang meningkatkan produksi tiroksin (T4), memperbesar kelenjar tiroid (gondok), dan menyebabkan perubahan sistem multipel.

Jika ditangani, pasien bisa menjalani kehidupan normal. Pada pasien yang tirotoksikosisnya tidak ditangani dengan baik, stres termasuk yang dipicu oleh pembedahan, infeksi, toksemia kehamilan, dan ketoasidosis diabetik, bisa mempercepat serangan tiroid (thyroid storm). 

Thyroid storm adalah eksaserbasi tirotoksikosis akut dan parah yang merupakan keadaan darurat medis yang bisa menimbulkan konsekuensi kardiak, hepatik, atau renal yang bisa membahayakan nyawa. 

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Penyakit Tirotoksikosis - Intervensi
Image by Petros Perros on wikimedia.org

Penyebab 

  • Keabnormalan endokrin (muncul bersama diabetes melitus, tiroiditis, dan hiperparatiroidisme) 
  • Terlalu banyak asupan yodium 
  • Faktor genetik (resesif autosomal) 
  • Faktor imunologis (produksi autoantibodi) 
  • Stres 

Tanda dan gejala 

a. Penyakit Graves 

  • Tiroid membesar (gondok) 
  • Eksoftalmos 
  • Usus sering bergerak 
  • Intoleransi terhadap panas 
  • Gugup 
  • Palpitasi 
  • Berkeringat 
  • Gemetar 
  • Berat badan turun walaupun nafsu makan meningkat 

b. Tanda dan gejala sistemik 

  • Sistem kardiovaskular: takikardia, tekanan denyut nadi melebar, kardiomegali, output kardiak dan volume darah meningkat, titik yang bisa dilihat pada impuls maksimal, takikardia supraventrikular paroksismal dan fibrilasi atrial, desir sistolik di batas sternal kiri, dan denyut nadi penuh dan meloncat-loncat
  • Sistem saraf pusat: kesulitan berkonsentrasi, eksitabilitas atau rasa gugup, ketidakstabilan emosional dan ayunan mood (mood swing), dan gemetar hebat, tulisan tangan bergoyang, dan canggung 
  • Mata: eksoftalmos, diplopia, semakin banyak menangis, dan kadang-kadang inflamasi di konjungtiva, kornea, atau otot mata 
  • Sistem GI: makan berlebihan secara oral namun berat badan turun, mual dan muntah, semakin banyak defekasi, tinja lunak atau diare, dan pembesaran hati 
  • Sistem muskuloskeletal: lemah (terutama pada otot proksimal), letih, dan atrofi otot; paralisis; dan akropasi (pembengkakan jaringan lunak, disertai perubahan tulang mendasar di tempat terjadinya pembentukan tulang baru) 
  • Sistem reproduksi: wanita mengalami oligomenorea atau amenorea, kesuburan menurun, dan insidensi aborsi spontan meningkat; sedangkan pria mengalami ginekomastia. Wanita maupun pria bisa mengalami penurunan libido. 
  • Sistem respiratorik: dispnea saat mengerahkan tenaga dan saat beristirahat
  • Kulit, rambut, dan kuku: kulit licin, hangat, dan berwarna merah; rambut keras dan lembut; rambut beruban dan semakin rontok secara prematur; kuku rapuh dan onikolisis (kuku distal yang terpisah dari palungan kuku); kulit menebal; dan folikel rambut menonjol, ada petak-petak timbul di kulit yang terasa gatal dan kadang-kadang terasa sakit, kadang-kadang disertai pembentukan nodulus. 

c. Thyroid storm 

  • Koma 
  • Delirium 
  • Iritabilitas ekstrem 
  • Takikardia 
  • Demam, Suhu mencapai 106° F (41,1° C) 
  • Muntah 

Uji diagnostik 

  • Radioimmunoassay menunjukkan kenaikan kadar (T4) dan triiodotironin (T3).
  • Scan tiroid memperlihatkan kenaikan ambilan yodium radioaktif 131 (1311). Uji ini tidak dianjurkan bagi pasien yang sedang hamil. 
  • Uji stimulasi hormon pelepas-tirotropin (thyrotropin-releasing hormone — TRH) mengindikasikan tirotoksikosis jika kadar hormon penstimulasi-tiroid (thyroid-stimulating hormone) tidak bisa naik dalam waktu 30 menit setelah pemberian TRH. Pengujian TRH jarang diperlukan karena tinKanya sensitivitas pengujian TSH. 
  • Ultrasonografi memastikan oftalmopati subklinis. 

Penanganan 

  • Terapi dengan obat antitiroid digunakan untuk anak-anak, pemuda, wanita hamil, dan pasien yang menolak menjalani pembedahan atau penanganan. Obat antitiroid juga digunakan untuk mengoreksi keadaan tirotoksik dalam sediaan untuk penanganan atau pembedahan. Antagonis hormon tiroid meliputi propylthiouracil dan methimazole (Tapazole), yang merintangi sintesis hormon tiroid. 
  • Walaupun gejala hipermetabolik reda dalam waktu 4 sampai 8 minggu setelah terapi obat antitiroid dimulai, pasien harus melanjutkan medikasi ini selama 6 bulan sampai 2 tahun. 
  • Propanolol (Inderal) diberikan untuk mengelola takikardia dan efek periferal lainnya akibat aktiyitas hipersimpatetik berlebihan. 
  • Saat kehamilan, medikasi antitiroid sebaiknya tetap diberikan dalam dosis minimum yang dibutuhkan untuk menjaga fungsi maternal di dalam jangkauan tinggi-normal sampai kelahiran dan untuk meminimalkan risiko hipotiroidisme fetal. Propylthiouracil merupakan agens pilihan untuk pasien yang sedang hamil. 
  • Pilihan penanganan bagi pasien yang tidak ingin mempunyai anak adalah radioterapi. Pada sebagian besar pasien, gejala hipermetabolik akan berkurang 6 sampai 8 minggu setelah penanganan semacam ini. Akan tetapi, beberapa pasien bisa membutuhkan radioterapi dosis kedua. 
  • Tiroidektomi subtotal (parsial), yang menurunkan kapasitas kelenjar tiroid dalam memproduksi hormon, diindikasikan bagi pasien yang kembali mengalami tirotoksikosis berulang kali setelah menjalani terapi obat atau bagi pasien yang menolak atau tidak memenuhi syarat untuk menjalani penanganan radioterapi. 
  • Sebelum operasi, pasien bisa diberi iodida (larutan Lugol atau larutan jenuh kalium iodida), obat antitiroid, dan propranolol dosis tinggi untuk membantu mencegah thyroid storm. jika eutiroidisme tidak bisa dicapai, pembedahan sebaiknya ditunda, dan obat antitiroid dan propranolol sebaiknya diberikan untuk mengurangi risiko efek samping sistemik, misalnya aritmia kardiak yang disebabkan oleh tirotoksikosis. Setelah pembedahan, pasien membutuhkan pengawasan medis teratur selama sisa hidupnya karena biasanya mereka mengalami hipertiroidisme, kadang-kadang selama beberapa tahun setelah menjalani pengobatan. 
  • Penanganan oftalmopati meliputl medikasi topikal yang diberikan secara lokal namun bisa membutuhkan kortikosteroid dosis Pasien penderita eksoftalmos parah yang menimbulkan tekanan di saraf optik bisa membutuhkan terapi radiasi sorot-eksternal atau dekompresi pembedahan untuk mengurangi tekanan di konten orbital. 
  • Penanganan thyroid storm meliputi pemberian obat antitiroid, misalnya PTU, propranolol I.V. untuk merintangi efek simpatetik, kortikosteroid untuk menghambat produksi T3 dan T4 , dan iodida untuk merintangi pelepasan hormon tiroid. 
  • Tindakan penunjang meliputi pemberian nutrien, vitamin, cairan, dan sedatif. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Pantau elektrolit serum, dan periksa adakah hiperglikemia dan glikosuria secara periodik. 
  • Secara saksama, pantau fungsi kardiak jika pasien berusia lanjut atau menderita penyakit arteri koroner. Jika detak jantung lebih dari I00 kali/menit, seringkali periksalah tekanan darah dan denyut nadinya. 
  • Jika pasien sedang hamil, minta ia melihat adakah tanda aborsi spontan dengan saksama selama trimester pertama (kram yang muncul dan hilang, kadang-kadang ringan) dan segera melaporkannya jika ada. 
  • Pasien yang mengalami dispnea paling merasa nyaman duduk tegak-lurus atau dalam posisi Fowler tinggi.
  • Ingat, tirotoksikosis parah bisa menyebabkan tingkah laku ganjil, misalnya gugup ekstrem, ketidakstabilan emosional, dan mood swing yang berkisar dari meledak kadang-kadang sampai psikosis yang terlihat jelas. Yakinkan pasien dan keluarganya bahwa tingkah laku ini bisa hilang jika ditangani. Beri sedatif seperlunya, dan minta pasien mengungkapkan perasaannya mengenai perubahan citra tubuhnya. 
  • Beri sediaan yang hanya mengandung yodium setelah obat antitiroid mulai diberikan. Jika tidak, yodium digunakan oleh kelenjar yang sudah terlalu aktif untuk membuat hormon tiroid lebih banyak dan memperburuk keadaan toksik. 
  • Jika iodida merupakan bagian penanganan, campur dengan susu, jus, atau air untuk mencegah distres GI, dan berikan melalui sedotan untuk mencegah diskolorasi gigi. 
  • Lihat adakah tanda thyroid storm (takikardia, hiperkinesis, demam, muntah, dan hipertensi). 
  • Secara saltsatha, periksa asupan dan output pasien untuk memastikan kecukupan hidrasi dan keseimbangan cairan. 
  • Pantau suhu pasien. Jika ia demam tinggi, redakan dengan tindakan hipotermik yang tepat. 
  • Jika pasien mengalami eksoftalmos atau oftalmopati lain, anjurkan ia memakai pelindung mata agar matanya tidak kering di malam hari. Seringkali lembabkan konjungtiva dengan tetes mata isotonik. Minta ia melaporkan gejala akuitas visual menurun.
  • Jangan melakukan palpasi berlebihan di tiroid agar thyroid storm bisa dicegah. 

Setelah tiroidektomi 

  • Periksa apakah pasien mengalami distres respiratorik, dan selalu sediakan penampan trakeotomi di sebelah ranjang pasien. 
  • Lihat apakah pasien mengalami hemoragi ke dalam leher, misalnya pembalut ketat namun tidak terlihat adanya darah. Ganti pembalut dan lakukan perawatan luka; periksa bagian belakang pembalut untuk melihat adakah drainase. Posisikan pasien secara semi-Fowler, dan topang kepala dan lehernya dengan kantung pasir untuk meringankan tensi di insisi. 
  • Periksa apakah pasien mengalami disfagia atau suara parau, yang bisa disebabkan oleh cedera saraf laringeal. 
  • Lihat adakah tanda hipoparatiroidisme (tetani, mati rasa), yaitu komplikasi akibat pembuangan kelenjar paratiroid secara tidak disengaja saat pembedahan. 
  • Tekankan pentingnya pengobatan lanjutan teratur setelah pasien pulang karena hipotiroidisme bisa muncul 2 sampai 4 minggu setelah operasi. 
  • Obat dan terapi 1311 membutuhkan pemantauan secara saksama dan pengajaran pasien secara komprehensif. Setelah terapi 1311, minta pasien tidak meludah atau batuk dengan sembarangan karena salivanya mengandung radioaktif selama 24 jam. Tekankan pentingnya mengukur kadar TQ serum secara berulangkali. Pastikan pasien paham bahwa ia tidak boleh melanjutkan terapi obat antitiroid. 
  • Minta pasien meminum medikasi saat ia makan untuk meminimalkan distres GI dan larang ia minum sediaan obat yang dijual-bebas karena banyak yang mengandung yodium. 
  • Lihat adakah tanda hipotensi (pusing dan output utin berkurang) pada pasien yang menggunakan propranolol. Minta ia bangkit pelan-pelan setelah duduk atau berbaring untuk mencegah hipotensi ortostatik. 
  • Minta pasien yang diberi obat antitiroid atau menjalani terapi 1311 melaporkan gejala hipotiroidisme.


Sumber:

Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Penyakit Tirotoksikosis - Intervensi"