Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Kanker Uterin - Intervensi

Kanker uterin atau kanker di endometrium adalah kanker reproduktif wanita yang paling sering muncul. Biasanya, kanker ini menyerang wanita postmenopausal yang berusia 50 sampai 60 tahun. 

Kanker ini tidak sering terjadi pada wanita berusia 30 sampai 40 tahun dan jarang terjadi pada wanita berusia kurang dari 30 tahun. Sebagian besar wanita premenopausal yang mengalami kanker uterin memiliki riwayat siklus menstrual anovulatori atau ketidakseimbangan hormonal lain. 

Umumnya, kanker uterin merupakan adenokarsinoma yang terlambat bermetastatis, biasanya dari endometrium ke serviks, ovarium, tuba falopi, dan struktur peritoneal lainnya. Kanker ini bisa menyebar sampai organ yang jauh, misalnya paru-paru dan otak, melalui darah atau sistem limfatik. 

Image by Cancer Research UK on wikimedia.org

Kanker ini juga bisa melibatkan nodus limfa. Bentuk tumor uterin yang  tidak sering muncul adalah adenoakantoma, sarkoma stromal endometrial, limfosarkoma, tumor mesodermal campuran (termasuk karsinosarkoma) dan leiomiosarkoma. 

Penyebab dan Faktor predisposisi 

  • Pendarahan uterin abnormal 
  • Kecenderungan keluarga 
  • Riwayat hiperplasia endometrial atipikal 
  • Indeks fertilitas rendah dan anovulasi 

Tanda dan gejala 

  • Keluaran: awalnya berair dan berlapis-darah; perlahan-lahan menjadi lebih berdarah 
  • Nyeri dan berat badan turun (di kanker tingkat atas) 
  • Pendarahan premenopausal yang persisten dan tidak biasa 
  • Pendarahan postmenopausal 
  • Pembesaran uterin 

Uji diagnostik 

Hasil biopsi endometrial, servikal, dan endoservikal memastikan adanya sel kanker. Dilatasi dan kuretase fraksional digunakan untuk mengidentifikasi masalah jika diduga ada penyakit namun hasil biopsi endometrikal negatif. 

Uji berikut ini dilakukan untuk memperoleh data mendasar dan stadium penyakit: 

  • Studi darah, urinanalisis, dan elektrokardiografi 
  • Sinar-X pada dada atau computed tomography scan 
  • Proktoskopi pemeriksaan fisik lengkap atau studi enema barium (jika kandung kemih dan ginjal diduga terlibat) 
  • Uji Schiller: pemberian noda pada serviks dan vagina 

Penanganan 

  • Umumnya, operasi bedah melibatkan histerektomi abdominal total, salpingo-ooforektomi bilateral atau mungkin omentektomi dengan atau tanpa limfadenektomi pelvis atau para-aortik. 
  • Jika tumor tidak bisa terdiferensiasikan dengan baik, radiasi intrakavitari atau eksternal (atau keduanya), yang diberikan 6 minggu sebelum bedah, bisa menghalangi rekurensi dan memperpanjang waktu bertahan hidup. 
  • Terapi hormonal yang menggunakan tamoxifen (Nonvaldex) menghasilkan tingkat respons sebesar 20% sampai 40%, dan bisa diberikan sebagai penanganan sekunder. 
  • Kemoterapi, termasuk cisplatin maupun doxorubicin, dan juga yang lain biasanya dilakukan jika penanganan lainnya gagal. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

Pre Op 

  • Perkuat pengetahuan sebelumnya mengenai operasi bedah pada pasien dan jelaskan mengenai uji-uji rutin, seperti uji darah berulang di pagi hari setelah operasi, dan perawatan setelah operasi. 
  • Jika pasien berada pada periode premenopausal, beritahu ia bahwa pengambilan ovariumnya akan mempercepat menopause. 

Post Op 

  • Ukur konten cairan dalam sistem drainase darah tiap 8 jam. Waspadai drainase yang lebih dari 400 ml dalam 8 jam. 
  • Jika pasien sudah diberi heparin subkutaneus, lanjutkan pemberiannya sampai ia bisa berjalan dengan baik 
  • Periksa tanda vital pasien tiap 4 jam. Lihat adakah tanda komplikasi, misalnya pendarahan, distensi abdominal, nyeri yang hebat, bunyi menciut, atau kesulitan bernafas lain. Berikan analgesik. 
  • Secara teratur, minta pasien bernafas dalam dan batuk untuk membantu mencegah komplikasi. Lakukan spirometer insentif satu kali tiap jam bangun tidur untuk membantu ekspansi paru-paru. 

Terapi Radiasi internal 

  • Jelaskan pada pasien bahwa radiasi internal biasanya mengharuskan ia dirawat di rumah sakit selama 2 sampai 3 hari, sediaan usus, douche vaginal povidone-yodium, makanan cair-jernih, dan tidak memakan apapun dengan mulut sebelum implantasi, sesuai perintah. Tunjukkan bahwa radiasi internal juga membutuhkan kateter tertanam untuk kencing. 
  • Beri tahu pasien bahwa jika prosedur dilakukan di kamar operasi, ia akan diberi anestetik umum. Ia akan ditempatkan dalam posjsi dorsal, lutut dan pinggulnya dilenturkan dan tumitnya terletak di ganjal kaki. Jika tidak diimplan di kamar operasi, sumber radiasi bisa diimplan oleh anggota tim radiasi saat pasien berada di kamarnya. Ia akan membutuhkan kamar pribadi. 
  • Minta pasien membatasi gerakan saat sumber radiasi ditempatkan. Bila perlu, beri ia sedatif, misalnya diazepam (Valium), untuk membantunya rileks dan tenang. Jika ia mau, naikkan kepala ranjangnya sedikit. Pastikan ia bisa menjangkau apapun yang ia perlukan (bel pemanggil, telepon, air) tanpa meregangkan tubuh atau bersusah payah. 
  • Bantu pasien melakukan latihan jangkauan-pergerakan untuk lengannya (latihan kaki atas dan pergerakan tubuh lain bisa mencabut sumber radiasi yang telah diimplan.) Atur waktu yang akan Anda habiskan dengan pasien untuk meminimalkan paparan radiasi ke diri Anda. 
  • Periksa tanda vital pasien tiap 4 jam. Lihat adakah reaksi kulit, pendarahan vaginal, ketidaknyamanan di abdomen, atau dehidrasi. 
  • Beritahu pembesuk mengenai langkah-langkah pencegahan yang aman dan gantungkan tanda yang berisi daftar langkah-langkah tersebut di pintu kamar pasien. 

Terapi radiasi eksternal 

  • Beri pengertian pada pasien dan keluarganya mengenai terapi sebelum dimulai. Beri tahu pasien bahwa penanganan biasanya diberikan 5 hari per minggu selama 6 minggu. Ingatkan ia untuk tidak menggosok area tubuhnya yang ditandai dengan tinta yang tidak bisa dihapus untuk penanganan karena tanda ini penting agar perawatan selanjutnya bisa diberikan di tempat yang sama persis sesuai tanda.
  • Beri rnedikasi antidiareal untuk mentinimalkan diare, yang merupakan efek merugikan dari radiasi pelvis. 
  • Untuk meminimalkan kulit pecah-pecah dan mengurangi risiko infeksi kulit, minta pasien menjaga area penanganan agar tetap kering, tidak memakai pakaian yang bergesekan dengan area itu, dan tidak menggunakan alas pemanas, alkohol gosok, atau krim kulit apapun. 
  • Ajari pasien cara menggunakan dilator vaginal untuk mencegah stenosis dan mempermudah pemeriksaan vaginal.


Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Pada Pasien Kanker Uterin - Intervensi"