Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV)

Subkelompok miksovirus yang mirip dengan paramiksovirus menyebabkan infeksi virus sinsisial respiratorik (respiratory syncytial virus - RSV). RSV merupakan penyebab utama dari infeksi traktus respiratorik bawah pada bayi dan anak kecil. RSV juga merupakan penyebab utama dari pneumonia, trakeobronkitis, dan bronkitis pada kelompok usia ini dan diduga menjadi penyebab banyak penyakit respiratorik fatal pada bayi. 

Tingkat penyakit paling tinggi pada bayi berusia 1 sampai 6 bulan, dan insidensinya memuncak antara usia 2 dan 3 bulan. RSV juga menyebabkan infeksi berulang seumur hidup, yang biasanya berkaitan dengan gejala mirip pilek sedang sampai berat, dan bisa menyebabkan anak mudah mengalami asma. Penyakit traktus respiratorik bawah yang parah bisa muncul, terutama pada lansia dan penderita gangguan kardiak, pulmoner, atau sistem imun. Virus ini menciptakan epidemik tahunan saat musim dingin dan musim semi. 

Bayi dan anak, terutama yang memiliki riwayat sindrom distres respiratorik neonatal, berisiko sama tinggi dengan yang terpapar asap rokok yang datang ke pusat perawatan, yang tinggal dalam tingkat kepadatan tinggi, atau yang memiliki saudara kandung berusia sekolah untuk mengalami infeksi RSV. 

Asuhan Keperawatan Infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV)
Human Respiratory Syncytial Virus (RSV) by NIAID on wikimedia.org

Titer antibodi tampak mengindikasikan bahwa sedikit anak yang berusia kurang dari 4 tahun terhindar dari beberapa bentuk RSV, bahkan yang ringan sekalipun. Pada kenyataannya, RSV merupakan satu-satunya penyakit akibat virus yang memiliki dampak maksimum saat penderita berusia beberapa bulan.

RSV juga diidentifikasi pada pasien yang mengalami berbagai gangguan sistem saraf pusat. misalnya meningitis dan mielitis. 

Penyebab 

Virus yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui sekresi respiratorik 

Tanda dan gejala 

  • Bronkiolitis atau bronkopneumonia 
  • Selaput lendir di hidung dan tenggorokan mengalami inflamasi 
  • Tidak enak badan 
  • Otitis media (komplikasi umum pada bayi) 
  • Faringitis 
  • Infeksi traktus respiratorik bawah yang parah dan membahayakan nyawa (jarang terjadi) 
  • Bunyi menciut 

Uji diagnostik 

  • Kultur sekresi nasal dan faringeal bisa menunjukkan RSV. Akan tetapi, virus sangat labil, sehingga kultur tidak selalu bisa dipercaya. 
  • Titer antibodi serum bisa naik, tetapi sebelum pasien berusia 4 bulan, antibodi maternal bisa memengaruhi hasil. 
  • Hasil serologi (dari uji imunofluoresen "dan imunosorben terkait-enzim secara tidak langsung) positif untuk RSV.
  • Sinar-X dada membantu mendeteksi pneumonia atau bronkiolitis.

Penanganan 

  • Penyakit ringan bisa sembuh tanpa penanganan.
  • Infeksi berat mengharuskan pasien dirawat inap agar bisa diberi suplemen oksigen, udara yang dilembabkan, dan hidrasi dengan cairan I.V. 
  • Bantuan respiratorik yang menggunakan ventilasi mekanis bisa diperlukan.
  • Aerosol ribavirin (Virazole) bisa diberikan pada pasien yang mengalami infeksi RSV berat atau gangguan imun. Akan tetapi, banyak studi menunjukkan tidak ada kaitan antara peningkatan hasil klinis dengan penggunaan agens ini. 
  • Palivizumab (Synagis), yaitu sediaan antibodi monoklonal, bisa diberikan secara profilaktik pada bayi dan anak yang berisiko tinggi terkena infeksi RSV. Imun globulin 1.V. RSV juga bjsa diberikan saat musim RSV, tetapi biasanya yang dipilih adalah palivizumab karena rute pemberian I.M.-nya mudah.

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Pantau status respiratorik pasien. Periksa tingkat dan polanya; lihat adakah pengembangan atau retraksi nasal, sianosis, pucat, dan dispnea; dan lakukan auskultasi untuk memeriksa adakah bunyi menciut, ronki, atau tanda lain dari distres respiratorik. Pantau nilai gas darah arterial., 
  • Pertahankan kepatenan jalan napas, dan waspadalah terutama jika pasien mengalami periode dispnea akut. Lakukan perkusi, pengisapan, dan drainase jika perlu. Beri atmosfer kelembaban-tinggi. Posisi semi-Fowler bisa membantu mencegah aspirasi sekresi. 
  • Pantau asupan dan output secara saksama. Lihat adakah tanda dehidrasi, misalnya kekencangan kulit berkurang. Minta pasien minum banyak cairan kaya-kalori, dan beri cairan I.V. seperlunya.
  • Tambah waktu istirahat di ranjang, sehingga pasien bisa beristirahat sebanyak mungkin tanpa interupsi. 
  • Gendong dan timang bayi, serta bicara dan bermainlah dengan anak. Beri aktivitas hiburan yang sesuai dengan kondisi dan usia anak. Minta orang tua membesuk dan menimang anaknya. Tahan tubuh anak hanya bila perlu.
  • Lakukan tindakan isolasi terhadap tetesan kecil. Pasien yang dirawat inap akibat infeksi RSV sebaiknya ditempatkan di kamar dengan ventilasi tekanan-negatif. Terapkan aturan mencuci tangan dengan ketat dan minta anggota keluarga melakukan hal yang sama.

Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks.

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV)"